Minggu, Juli 21, 2013

Titik Balik

Manusia adalah sumber kelemahan
Itulah diri yang penuh salah ini
Tanpa tahu bahwa lukamu telah
Buatmu rapuh tanpa arah pasti lagi

Aku sadar bahwa lakuku telah lukaimu
Bahkan maaf dariku sudah tak layak lagi kau terima
Aku hanya tersedu dengan penyesalan
Tak tahu harus buat apa tuk buatmu tertawa

Aku ingin sekali buatmu bahagia
Mengarungi hidup bersama sampai kelak meregang nyawa
Tanpamu aku ibarat buih di lautan
Ada tapi tak ada, bahkan lebih baik tidak ada

Ini adalah titik balik dari jiwa penuh salah
Mengharap kemurahan hatimu tuk ulurkan tangan lembutmu
Dekap aku dengan cintamu lalu katakan :
"Inilah cinta, lupakan duka, dan bersamalah denganku selamanya".

Selasa, Juli 16, 2013

Kenangan

Ada perkara-perkara yang tidak akan hilang meski pun kita berusaha untuk menghapusnya. Itu adalah kenangan, harapan, dan impian yang tidak tercapai. Memang terkadang sakit ketika kita menengok ke belakang mengingat-ngingat kembali apa yang sudah terjadi. Masa dimana sebuah harapan dan impian menjadi sesuatu yang sangat berharga. Masa dimana luka pertama kali menyapa. Dan masa ketika kita tahu bahwa manusia dibatasi oleh kelemahannya.

Dahulu ketika kita masih menjadi seorang anak kecil yang lugu, kita selalu mengira bahwa apa yang kita inginkan harus menjadi kenyataan apapun resikonya. Waktu itu kita masih belum tahu apa itu hidup, apa itu kecewa, dan apa itu menjadi orang yang terbatas. Anak kecil hanya tahu bahwa apa yang ia inginkan adalah sebuah kesenangan dan kebutuhan yang harus ia dapatkan. Namun setelah ia menjadi dewasa, dan ia menemukan bahwa hidup tidak selalu tertawa, ia pun melakukan sebuah penyesuaian.

Banyak hal yang akhirnya ia tinggalkan, atau lebih tepatnya ia sengaja tinggalkan. Bukan karena ia tidak membutuhkan, namun karena ia harus seperti itu. Melepas apa yang seharusnya ia lepas meskipun harus diiringi dengan tangisan darah. Maka sejak itu ia menjadi manusia yang sempurna. Manusia yang tidak hanya tertawa, namun juga menangis bahkan meratap dan putus asa.

Kesempurnaan menjadi manusia menjadikan dia menjadi lebih kuat dan dewasa dalam menghadapi kehidupan yang begitu liar. Tawa membuatnya paham bahwa dunia ini penuh dengan keindahan dan kebahagiaan, adapun tangis mengingatkan dia bahwa keindahan dan kebahagiaan itu tidak kekal. Maka, apa gunanya mengingat-ngingat kenangan padahal kenangan itu tidak akan kembali lagi. Sekarang ia hanya rangkaian kejadian di masa lalu yang bisa kita ambil pelajaran. Mengingat, melupakan, dan mengambil pelajaran itu adalah hal yang lumrah bagi manusia yang sempurna, karena tangis adalah awal dari tawa yang lebih keras lagi.