Selasa, Desember 31, 2013

Penghujung Malam

Ketika dunia tertawa kepadamu
Maka ingatlah bahwa tawa tidak akan kekal
Ia hanya singgah sebentar saja
Lalu berubah menjadi kepedihan dan kesedihan

Tawa dan sedih
Ibarat siang dan malam
Datang silih berganti
Tanpa ada celah dan lelah

Semakin tua manusia
Semakin ia sadari bahwa
Hidup benar-benar hanya
Tempat hura-hura dan sandiwara

Beruntunglah engkau yang tak pernah tertipu
Dengan kesenangan dan kemegahan dunia
Karena kau tahu dengan yakin
Dunia akan berakhir seperti fajar yang membuyarkan malam

Jombang, 31 Desember 2013

Rabu, September 18, 2013

Ilmu Mengamalkan Ilmu

Sebenarnya, melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang katanya terpelajar akan membuat kita bertabrakan dengan sebuah dinding bernama ironi. Ironi masyarakat terpelajar kita adalah bahwa pengetahuan yang seharusnya menjadikan mereka seorang insan yang mulia ternyata tidak dapat menghentikan laju realita berupa kebobrokan moral dan spiritual.

Ilmu seharusnya menjadikan manusia menjadi tahu apa yang baik dan benar. Ketika ilmu sudah kehilangan fungsi dan tujuannya tersebut, maka siapapun yang mengaku memiliki ilmu, hakikatnya adalah sama dengan orang yang tidak berilmu. Anehnya, orang-orang yang mengaku berilmu tersebut malah berperilaku lebih buruk dari orang yang dianggap tidak mempunyai ilmu secara formal.

Hakikat dari ilmu adalah amal. Tanpa amal maka ilmu diibaratkan seperti pohon yang tidak berbuah. Namun pohon lebih mulia karena meski ia tidak berbuah, ia masih dapat memberikan kemanfaatan yang lain seperti tempat berteduh, bahkan kayu dan daunnya dapat menjadi kemanfaatan bagi yang lain. Adapun orang yang tidak mengamalkan ilmunya, maka ia adalah bencana bagi yang lain.

Jika ada orang tahu bahwa api itu sangat panas, namun pengetahuan tersebut tidak ia gunakan, maka boleh jadi ia akan menggunakan api tersebut untuk membakar orang lain bahkan dirinya sendiri. Maka orang yang tahu bahwa kemaksiatan itu dapat menjatuhkannya ke dalam api neraka, namun ia tetap melaksanakan kemaksiatan tersebut, maka sama saja ia melemparkan dirinya sendiri pada kobaran api neraka yang sangat panas. Apalagi jika kemaksiatan itu dilakukan dengan mengajak orang lain. Sungguh, bencana yang ditimbulkan oleh orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya tersebut teramat luar biasa.

Sungguh sangat membanggakan dan menyenangkan hati melihat ribuan orang berbondong-bondong keluar dari rumahnya menuju tempat yang jauh hanya untuk menuntut ilmu. Rasulullah saw. bahkan memberi gelar orang-orang yang seperti itu dengan mujahid di jalan Allah swt., sebuah title yang sangat agung dan mulia di sisi Allah swt. Namun sayangnya, setelah mereka jauh dari rumah dan pengawasan orang tua, mereka kemudian diibaratkan seperti singa yang baru keluar dari kandangnya, amat sangat ganas dan trengginas.

Norma-norma yang selama ini ditanamkan oleh orang tua dan guru-guru mereka seakan-akan hilang dibawa semilir angin. Tak tersisa lagi nasihat-nasihat yang keluar bak mutiara dari mulut orang tua dan guru-guru mereka. Semua seperti tanpa bekas, tak tersisa sedikitpun. Yang tersisa adalah bagaimana melampiaskan nafsu yang sedang bergejolak menyambar-nyambar ibarat api yang mencari kayu kering hendak dibakar menjadi arang.

Maka, jadilah mereka para penuntut ilmu tapi tidak mendapatkan manfaat dari ilmu mereka. Bahkan kelak mereka akan mendapatkan laknat dari ilmu tersebut ketika Allah swt. bertanya kepada mereka tentang amalan dari ilmu yang mereka dapatkan. Ilmu yang seharusnya dapat mengangkat beberapa derajat kedudukan mereka di sisi Allah swt. malah akan menghinakan mereka di hadapan Allah swt. dan sekalian makhluk-Nya.

Malang, 18 September 2013.

Minggu, Juli 21, 2013

Titik Balik

Manusia adalah sumber kelemahan
Itulah diri yang penuh salah ini
Tanpa tahu bahwa lukamu telah
Buatmu rapuh tanpa arah pasti lagi

Aku sadar bahwa lakuku telah lukaimu
Bahkan maaf dariku sudah tak layak lagi kau terima
Aku hanya tersedu dengan penyesalan
Tak tahu harus buat apa tuk buatmu tertawa

Aku ingin sekali buatmu bahagia
Mengarungi hidup bersama sampai kelak meregang nyawa
Tanpamu aku ibarat buih di lautan
Ada tapi tak ada, bahkan lebih baik tidak ada

Ini adalah titik balik dari jiwa penuh salah
Mengharap kemurahan hatimu tuk ulurkan tangan lembutmu
Dekap aku dengan cintamu lalu katakan :
"Inilah cinta, lupakan duka, dan bersamalah denganku selamanya".

Selasa, Juli 16, 2013

Kenangan

Ada perkara-perkara yang tidak akan hilang meski pun kita berusaha untuk menghapusnya. Itu adalah kenangan, harapan, dan impian yang tidak tercapai. Memang terkadang sakit ketika kita menengok ke belakang mengingat-ngingat kembali apa yang sudah terjadi. Masa dimana sebuah harapan dan impian menjadi sesuatu yang sangat berharga. Masa dimana luka pertama kali menyapa. Dan masa ketika kita tahu bahwa manusia dibatasi oleh kelemahannya.

Dahulu ketika kita masih menjadi seorang anak kecil yang lugu, kita selalu mengira bahwa apa yang kita inginkan harus menjadi kenyataan apapun resikonya. Waktu itu kita masih belum tahu apa itu hidup, apa itu kecewa, dan apa itu menjadi orang yang terbatas. Anak kecil hanya tahu bahwa apa yang ia inginkan adalah sebuah kesenangan dan kebutuhan yang harus ia dapatkan. Namun setelah ia menjadi dewasa, dan ia menemukan bahwa hidup tidak selalu tertawa, ia pun melakukan sebuah penyesuaian.

Banyak hal yang akhirnya ia tinggalkan, atau lebih tepatnya ia sengaja tinggalkan. Bukan karena ia tidak membutuhkan, namun karena ia harus seperti itu. Melepas apa yang seharusnya ia lepas meskipun harus diiringi dengan tangisan darah. Maka sejak itu ia menjadi manusia yang sempurna. Manusia yang tidak hanya tertawa, namun juga menangis bahkan meratap dan putus asa.

Kesempurnaan menjadi manusia menjadikan dia menjadi lebih kuat dan dewasa dalam menghadapi kehidupan yang begitu liar. Tawa membuatnya paham bahwa dunia ini penuh dengan keindahan dan kebahagiaan, adapun tangis mengingatkan dia bahwa keindahan dan kebahagiaan itu tidak kekal. Maka, apa gunanya mengingat-ngingat kenangan padahal kenangan itu tidak akan kembali lagi. Sekarang ia hanya rangkaian kejadian di masa lalu yang bisa kita ambil pelajaran. Mengingat, melupakan, dan mengambil pelajaran itu adalah hal yang lumrah bagi manusia yang sempurna, karena tangis adalah awal dari tawa yang lebih keras lagi.

Selasa, Juni 04, 2013

Terjepit

Kadang manusia tidak sadar jika waktu begitu cepat
Bahkan waktu menggilasmu
Maka berlarilah secepat waktu atau lebih
Agar hidupmu berarti dan bermakna sebelum ajalmu tiba

Jumat, Mei 17, 2013

Akankah ...

gelap tak berujung
hilang tak kembali
kau begitu jauh ku gapai

semakin ku elukamu
semakin cepat langkahmu
kau tak terbaca logikaku

anganku kembali melayang
pada masa dimana rasa tak pernah ada
di waktu itu kau peluknya mesra

bisakah aku menjadinya
berikanmu kehangatan cinta
atau senyum manja mempesona

atau ku tak akan pernah merasa
karena kau tak lagi ada rasa
jika rasamu hanya padanya saja

Surabaya, 17 Mei 2013.

Jumat, April 19, 2013

Cinta R@s@ Kopi

Sudah lama saya minum kopi, namun baru beberapa bulan ini saya belajar untuk menikmati seni berkopi. Ya, semua orang mungkin sudah biasa bahkan terbiasa untuk meminum kopi, secangkir, dua cangkir, bahkan lebih setiap harinya. Apalagi bagi para perokok berat, kopi ibarat pelengkap yang apabila tidak ada maka akan mengurangi cita rasa dari rokok yang ia hisap.

Meminum kopi sudah menjadi suatu pekerjaan yang 'biasa' karena  semua orang melakukannya. Meski belum tentu para peminum kopi tersebut dapat menikmati setiap tegukan dari kopi yang ia minum. Awalnya saya mengira bahwa semua kopi itu hitam, pahit dan efek sampingnya adalah kehilangan kenikmatan tidur. Pertama kali. saya merasakan rasa kopi yang pahit ketika bapak saya bertamu ke rumah orang kampung. Biasanya yang menjadi suguhan adalah kopi panas hitam yang agak pahit dan banyak ampasnya.Setelah meminum kopi tersebut kadang saya merasa sakit perut. Kata bapak saya, mungkin perut saya yang masih belum bisa beradaptasi dengan kopi.

Kopi Hitam Tradisional
Akhirnya saya agak kurang nyaman untuk ngopi. Sampai akhirnya saya berada di sebuah negeri empat musim. Jika musim dingin, udara terasa amat dingin. Karena saya berasal dari negara tropis, akhirnya saya mencari cara untuk menghangatkan tubuh. Saya tiba-tiba teringat dengan pengalaman masuk salah satu restoran kapal yang menyuguhkan kopi cappucino. Tidak perlu saya ceritakan bagaimana proses saya masuk ke restoran kapal tersebut, yang menjadi poin disini adalah rasa cappucino yang begitu luar biasa.
Cappucino

Sejak saat itu perspektif saya terhadap kopi berubah seratus delapan puluh derajat. Kopi ternyata nikmat, renyah, luar biasa. Akhirnya ketika musim dingin saya selalu minum cappucino atau coffemix. Meskipun veda kualitas rasa antara cappucino resto dan sachet-an sangat besar, namun fikiran saya sudah tercuci bahwa cappucino itu sangat maknyus, disamping menjadi penghangat badan di kala dingin mendekap.

Akhirnya aktivitas meminum kopi menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Pagi hari seperti ada yang kurang jika belum meminum kopi. Jika sedang ngidam kopi, satu hari bisa dua sampai tiga cangkir cappucino  habis. Namun aktivitas minum kopi hanya sekedar kebiasaan, sampai saya kenal dengan seseorang yang memperkenalkan saya dengan macam-macam olahan kopi. Ternyata cappucino itu hanya salah satu dari olahan kopi. Masih banyak lagi kreasi lain yang ternyata lebih lebih nikmat dari cappucino. Sebut saja coffee latte, ice blended coffee, mocha caffee, dan lain sebagainya banyak.
Mocha Coffee
Akhirnya, kopi sekarang bukan hanya menjadi minuman pahit dan pengusir kantuk, namun lebih dari itu. Kopi adalah minuman yang menciptakan banyak kreasi sehingga rasa awalnya yang pahit kini berubah menjadi  bermacam-macam rasa yang sungguh begitu super sekali. Maka tak heran jika banyak orang mengubah orientasinya, dari hanya sekedar menjadikan kopi sebagai minuman biasa menjadi kopi sebagai minuman yang menawarkan kenikmatan lidah dengan berbagai rasa dan aneka jenis olahan.
Love Coffe


Jumat, April 05, 2013

Sang Bidadari

Telah ku temukan kelembutan hati
Dari seorang bidadari
Mendekapku setiap hari berseri

Lelah hatiku kini
Telah hilang pasti
Karena engkau sang bidadari

Surabaya, 05/04/2013