Minggu, Juni 03, 2012

Rute Bis dan Kritik Budaya

Sudah hampir satu tahun saya menjalani hidup yang penuh dengan mobilitas. Setiap minggu saya harus bolak-balik Madura-Surabaya untuk menyelesaikan kuliah yang harus secepatnya saya selesaikan. Proses berfikir pun seakan terbatasi oleh aktivitas yang begitu padat. Tugas kuliah yang datang silih berganti mengharuskan saya untuk memfokuskan seluruh daya upaya fikiran untuk menyelesaikannya.

Namun inspirasi itu datangnya tiba-tiba dan tak terencana. Alam realita yang selalu berubah disekitar kita merupakan obyek inspirasi yang tak akan habis. Dan bis kota ternyata menjadi salah satu media bagi saya untuk mendapatkan banyak inspirasi. 

Ada dua rute pulang dari kampus saya kuliah, pertama adalah langsung menuju terminal bungurasih dengan jarak yang begitu dekat, kedua menuju ujung perak dengan jarak tempuh yang lumayan panjang. Awal-awal saya kuliah di IAIN Sunan Ampel, saya lebih sering menggunakan rute pertama. Disamping dekat, di terminal bungur saya bisa memilih bus sesuai keadaan. Kalau lagi capek dan kondisi kantong masih tebal, saya lebih memilih naik bus patas Akas karena ber-ac juga lebih cepat sampai rumah kira-kira 2 jam setengah. Namun jika kondisi badan saya fit dan kantong sudah la yahya wa la yamut (g' hidup g' mati alis pas-pasan) saya memilih menggunakan jasa bus ekonomi meski kadang harus berdiri selama 4 jam perjalanan plus gratis menghirup asap rokok.

Awalnya rute pertama ini menjadi rute favorit saya, namun setelah beberapa bulan, saya mencanangkan program hemat yang akhirnya menemukan rute alternatif yaitu langsung menuju perak dengan bus kota, lalu naik kapal feri menyeberangi selat madura, kemudian naik bis mini elf dari terminal kamal menuju rumah saya di Tanjung. Sebenarnya dari IAIN Sunan Ampel hanya butuh tak kurang dari 10 menit untuk sampai ke terminal Bungurasih, namun jika mengambil rute Perak, saya harus menempuh minimal 1 jam perjalanan. Dari segi pengeluaran duit, rute ke Perak lebih murah daripada saya menggunakan bus ekonomi dari bungurasih. Jika ditotal minimal penghematan saya bisa 10 ribu sekali jalan, cukup lumayan kan jika dikalikan 4.

Bukan hanya dari segi penghematan duit, rute kedua ternyata memberikan saya banyak sekali inspirasi. Di bus kota damri ac, saya dapat melewati beberapa mall dan pusat perbelanjaan di kota Surabaya, sebut saja Royal Mall, Matos, Tunjungan Plaza, THR, JMP (Jembatan Merah Plaza), Giant dan lain sebagainya. Bahkan beberapa kali saya sempat melakukan penelitian kecil-kecilan di Royal dan Matos dan beberapa tempat lain yang saya sudah lupa namanya. Di tempat-tempat tersebut saya menemukan sebuah dunia yang sangat 'berbeda', dunia kapitalis yang sangat akut.

Kemewahan dan ke'wah'an yang ditampilkan mall dan pusat perbelanjaan itu ternyata dapat merubah masyarakat kita yang menjadi masyarakat konsumtif dan hedonis. Mall merupakan ajang untuk pamer diri, sehingga orang-orang yang ingin pergi ke mall harus bersolek terlebih dahulu, menggunakan pakaian dan asesoris yang paling bagus. Bahkan kalau perlu orang-orang yang ke mall itu harus mempertontonkan aurat mereka dengan menggunakan celana pendek di atas paha dan kaus singlet you can see. Semua itu ditampakkan untuk mengesankan kesan wah, mewah, dan modern.

Celakanya, kondisi pakaian yang biasanya saya lihat dipakai oleh orang-orang non muslim itu kemudian ditiru-tiru oleh orang-orang muslim. Entah apakah mereka-mereka yang muslim itu merasa tidak pede dengan budaya dan adat mereka, ataukah sudah tidak ada batasan lagi mana yang non muslim dan mana yang muslim ? Orang-orang muslim itu benar menggunakan jilbab, namun pakaian mereka sangatlah ketat dengan celana levis yang tak kalah ketat. 

Melihat fenomena tersebut saya menjadi bertanya-tanya, apakah ukuran kemodernan itu ? Apakah modern itu identik dengan meminimalkan pakaian ? Apakah orang modern itu harus bercelana pendek di atas paha dan berkaus singlet you can see ? Kalau berpakaian seperti itu tidak ada hubungannya dengan kemodernan, lalu kenapa mereka berpakaian seperti itu ? Apa tujuannya ? Hasil apa yang diharapkan dari itu ? Bukankah kita masyarakat yang beragama dan berbudaya ? Lalu kemanakah adat, budaya, dan ajaran agama itu ?

6 komentar:

M. Faizi mengatakan...

Kalau dipeljari, rute bis ke Madura sangat unik, sekaligus aneh.


Bagi warga Kedinging/Kedung Cowek (kaki selatan Suramadu) yang ingin ke Sukolilo (kaki utara Suramadu) dan dia tidak punya sepeda motor, maka dia harus rela berputar ke Ujung, lalu ke Kamal, lalu ke Bangkalan, lalu ke Tangkel, lalu… nah.. tidak ada angkutan umum yang lewat jalan akses Suramadu, kan?

Kalau siang, bis ekonomi/bumel tidak boleh lewat Suramadu. Kalau PATAS, tidak bisa mencegat di situ. Lalu mau apa? Sarana dan prasarana serta sistem transportasi yang tidak dibangun secara bersamaan akan berdampak banyak pada sektor kehidupan. Pembangunan sarana fisik demi mamajukan ekonomi malah bisa jadi justru memperlambat lajunya.

Berharap adanya sistem transportasi yang terintegrasi…Kapan? Mari dimulai dari Tanjung: dari pelabuhan, terminal, dan stasiun. Wow… keren.

Hahahaha... curhat tengah malam nih Mas....

Anonim mengatakan...

busana muslim sekarang hanya sekedar mode fashion saja, bukan busana muslim yang sesungguhnya dan mereka memakai bukan karena mereka sadar untuk menutup auratnya tapi sekedar trend jadi jangan heran kalau jaman sekarang ini banyak para remaja dan mahasiswa yng atasnya pake jilbab terjuntai manis tp bawahnya model ketat seperti yg anda sebutkan,pertanyaannya, salah siapakah ini???jangan terburu-buru menyalahkan sang pemakai karena semuanya terkait dg peran keluarga dalam hal ini didikan ortu dan juga lingkungan sekitar ,sekolah dls, bahkan dg kemajuan tekhnologi yg semakin menggila justru banyak pengaruh negatifnya buat generasi muda selain pengaruh positif, marilah kita jangan hanya pandai menyalahkan dan mengkritik tp mari kita bersama-sama membenahi dengan cara kita masing-masing sesuai profesi kita karena berdakwah bukan hanya tugas para da'i tapi tugas kita semua. oke!

Anonim mengatakan...

busana muslim sekarang hanya sekedar mode fashion saja, bukan busana muslim yang sesungguhnya dan mereka memakai bukan karena mereka sadar untuk menutup auratnya tapi sekedar trend jadi jangan heran kalau jaman sekarang ini banyak para remaja dan mahasiswa yng atasnya pake jilbab terjuntai manis tp bawahnya model ketat seperti yg anda sebutkan,pertanyaannya, salah siapakah ini???jangan terburu-buru menyalahkan sang pemakai karena semuanya terkait dg peran keluarga dalam hal ini didikan ortu dan juga lingkungan sekitar ,sekolah dls, bahkan dg kemajuan tekhnologi yg semakin menggila justru banyak pengaruh negatifnya buat generasi muda selain pengaruh positif, marilah kita jangan hanya pandai menyalahkan dan mengkritik tp mari kita bersama-sama membenahi dengan cara kita masing-masing sesuai profesi kita karena berdakwah bukan hanya tugas para da'i tapi tugas kita semua. oke!

Anonim mengatakan...

busana muslim sekarang hanya sekedar mode fashion saja, bukan busana muslim yang sesungguhnya dan mereka memakai bukan karena mereka sadar untuk menutup auratnya tapi sekedar trend jadi jangan heran kalau jaman sekarang ini banyak para remaja dan mahasiswa yng atasnya pake jilbab terjuntai manis tp bawahnya model ketat seperti yg anda sebutkan,pertanyaannya, salah siapakah ini???jangan terburu-buru menyalahkan sang pemakai karena semuanya terkait dg peran keluarga dalam hal ini didikan ortu dan juga lingkungan sekitar ,sekolah dls, bahkan dg kemajuan tekhnologi yg semakin menggila justru banyak pengaruh negatifnya buat generasi muda selain pengaruh positif, marilah kita jangan hanya pandai menyalahkan dan mengkritik tp mari kita bersama-sama membenahi dengan cara kita masing-masing sesuai profesi kita karena berdakwah bukan hanya tugas para da'i tapi tugas kita semua. oke!

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

@M.Faizi : Tanjung sekarang sedang membangun pasarnya biar orang jualan ikan g' di tengah jalan :D

@anonim : oke, mari kita benahi ...

Anonim mengatakan...

Ukuran modern menurut saya bukan dipandang dr cara berpakaian tp dari cara pandang seseorang,
Cara pandang tentu dipengaruhi dg tingkat pendidikan seseorang, bisa jadi semaki tinggi pendidikannya maka akan semakin luas dan bijak dlam memandang sesuatu(kata syahrini).
Sedangkan cara berpakaian seseorang lebih ditentukan oleh pengaruh global mode barat yg tidak terbendung, yg gampang meniru justru masyarakat yg berpendidikan rendah terutama di pedesaan. lihat aja sekarang bagaimana para remaja didesa memakai baju yg lagi ngetren saat ini bahkan para pembantu lebih heboh lagi cara berpakaiannya celana ketat kaos oblong yg rendah sehingga bagian dada terlihat sedikit, maka tidak salah jika si juragan laki2 tergoda untuk menggodanya