Kamis, Juni 07, 2012

Madura dan Stigma

Jika Anda adalah orang Madura, maka Anda harus bersabar dengan berbagai macam stigma negatif tentang orang Madura. Sejatinya, menjadi bagian dari suku atau etnis tertentu bukan merupakan sebuah dosa, namun stigma akan menjadi label dari sebuah suku tertentu jika ada beberapa oknum dari suku tersebut yang melakukan perbuatan yang kurang disenangi orang lain.

Kesalahan fatal masyarakat Indonesia pada umumnya adalah generalisasi dari stigma. Menjadi orang Madura tentunya merupakan kebanggaan bagi penulis sendiri dan bagi masyarakat Madura secara umum, tapi kadang stigma negatif tentang masyarakat Madura yang digeneralisir membuat emosi penulis tersulut. Generalisasi merupakan kejahatan paling biadab di atas muka bumi ini.

Setiap manusia, berasal dari suku dan etnis apapun ia, memiliki dua peluang yang sama; menjadi baik atau menjadi jahat. Maka manusia dari suku atau etnis apapun yang melakukan kejahatan atau kebaikan, hasilnya adalah untuk individu yang melakukan sendiri (Jika kamu berbuat baik, maka kamu telah berbuat baik terhadap dirimu sendiri, begitupun sebaliknya). Maka tidak ada dasar sama sekali bagi generalisasi durjana itu. 

Generalisasi hemat penulis hanya dilakukan oleh dua macam manusia : Orang bodoh yang hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang subyektifnya, atau orang dengki yang selalu memandang obyek yang ia benci dengan mata negatif. 

Orang bodoh adalah orang yang terisolasi oleh pandangannya yang subyektif. Ia hanya meyakini apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan lalu ia dengan semena-mena menghukumi dan memberi penilaian final. Contoh, jika si bodoh melihat di televisi sebuah berita yang terus menerus diulang-ulang dengan isi berita yang menyudutkan pihak tertentu, si bodoh dengan lugunya akan langsung memberi vonis bahwa pihak yang disudutkan itu adalah pihak yang salah.

Ada pun orang benci adalah orang yang pernah menjadi korban kejahatan dari salah satu oknum anggota suku tertentu yang akhirnya menjeneralisir semua suku tersebut berkelakuan dan bersifat sama dengan si oknum. Contoh, jika seseorang pernah ditipu seseorang bersuku A, maka otomatis semua suku A adalah penipu. Sebenarnya si benci tahu bahwa logika yang ia pakai adalah salah, namun karena kebencian telah merasuki hati, si benci tetap saja akan melakukan generalisasi sebagai 'hasil dari pengalaman' yang pernah ia lalui.

Stigma negatif terhadap suku tertentu akhirnya menyebabkan kedzaliman tanpa batas. Jika ada orang yang ditolak calon mertua karena ia tidak kaya, tidak mapan, tidak ganteng, tidak dari keturunan orang baik, itu sudah biasa dan lumrah. Namun jika ada seseorang ditolak calon mertua karena dia berasal dari suku A, maka itu merupakan sebuah kejahatan paling biadab yang pernah ada di muka bumi ini. 

Menjadi bagian dari suku tertentu merupakan kehendak Allah. Maka, jika ada seseorang yang mempersoalkan orang lain karena sukunya, sama saja ia menentang kemauan Allah, kenapa orang ini dilahirkan di suku A ? Padahal Allah tidak pernah ditanya kenapa karena kitalah yang akan ditanya kenapa. Maka sangat tidak layak bagi orang berakal jika ia memandang seseorang dari sukunya, bukan dari agamanya.

Minggu, Juni 03, 2012

Rute Bis dan Kritik Budaya

Sudah hampir satu tahun saya menjalani hidup yang penuh dengan mobilitas. Setiap minggu saya harus bolak-balik Madura-Surabaya untuk menyelesaikan kuliah yang harus secepatnya saya selesaikan. Proses berfikir pun seakan terbatasi oleh aktivitas yang begitu padat. Tugas kuliah yang datang silih berganti mengharuskan saya untuk memfokuskan seluruh daya upaya fikiran untuk menyelesaikannya.

Namun inspirasi itu datangnya tiba-tiba dan tak terencana. Alam realita yang selalu berubah disekitar kita merupakan obyek inspirasi yang tak akan habis. Dan bis kota ternyata menjadi salah satu media bagi saya untuk mendapatkan banyak inspirasi. 

Ada dua rute pulang dari kampus saya kuliah, pertama adalah langsung menuju terminal bungurasih dengan jarak yang begitu dekat, kedua menuju ujung perak dengan jarak tempuh yang lumayan panjang. Awal-awal saya kuliah di IAIN Sunan Ampel, saya lebih sering menggunakan rute pertama. Disamping dekat, di terminal bungur saya bisa memilih bus sesuai keadaan. Kalau lagi capek dan kondisi kantong masih tebal, saya lebih memilih naik bus patas Akas karena ber-ac juga lebih cepat sampai rumah kira-kira 2 jam setengah. Namun jika kondisi badan saya fit dan kantong sudah la yahya wa la yamut (g' hidup g' mati alis pas-pasan) saya memilih menggunakan jasa bus ekonomi meski kadang harus berdiri selama 4 jam perjalanan plus gratis menghirup asap rokok.

Awalnya rute pertama ini menjadi rute favorit saya, namun setelah beberapa bulan, saya mencanangkan program hemat yang akhirnya menemukan rute alternatif yaitu langsung menuju perak dengan bus kota, lalu naik kapal feri menyeberangi selat madura, kemudian naik bis mini elf dari terminal kamal menuju rumah saya di Tanjung. Sebenarnya dari IAIN Sunan Ampel hanya butuh tak kurang dari 10 menit untuk sampai ke terminal Bungurasih, namun jika mengambil rute Perak, saya harus menempuh minimal 1 jam perjalanan. Dari segi pengeluaran duit, rute ke Perak lebih murah daripada saya menggunakan bus ekonomi dari bungurasih. Jika ditotal minimal penghematan saya bisa 10 ribu sekali jalan, cukup lumayan kan jika dikalikan 4.

Bukan hanya dari segi penghematan duit, rute kedua ternyata memberikan saya banyak sekali inspirasi. Di bus kota damri ac, saya dapat melewati beberapa mall dan pusat perbelanjaan di kota Surabaya, sebut saja Royal Mall, Matos, Tunjungan Plaza, THR, JMP (Jembatan Merah Plaza), Giant dan lain sebagainya. Bahkan beberapa kali saya sempat melakukan penelitian kecil-kecilan di Royal dan Matos dan beberapa tempat lain yang saya sudah lupa namanya. Di tempat-tempat tersebut saya menemukan sebuah dunia yang sangat 'berbeda', dunia kapitalis yang sangat akut.

Kemewahan dan ke'wah'an yang ditampilkan mall dan pusat perbelanjaan itu ternyata dapat merubah masyarakat kita yang menjadi masyarakat konsumtif dan hedonis. Mall merupakan ajang untuk pamer diri, sehingga orang-orang yang ingin pergi ke mall harus bersolek terlebih dahulu, menggunakan pakaian dan asesoris yang paling bagus. Bahkan kalau perlu orang-orang yang ke mall itu harus mempertontonkan aurat mereka dengan menggunakan celana pendek di atas paha dan kaus singlet you can see. Semua itu ditampakkan untuk mengesankan kesan wah, mewah, dan modern.

Celakanya, kondisi pakaian yang biasanya saya lihat dipakai oleh orang-orang non muslim itu kemudian ditiru-tiru oleh orang-orang muslim. Entah apakah mereka-mereka yang muslim itu merasa tidak pede dengan budaya dan adat mereka, ataukah sudah tidak ada batasan lagi mana yang non muslim dan mana yang muslim ? Orang-orang muslim itu benar menggunakan jilbab, namun pakaian mereka sangatlah ketat dengan celana levis yang tak kalah ketat. 

Melihat fenomena tersebut saya menjadi bertanya-tanya, apakah ukuran kemodernan itu ? Apakah modern itu identik dengan meminimalkan pakaian ? Apakah orang modern itu harus bercelana pendek di atas paha dan berkaus singlet you can see ? Kalau berpakaian seperti itu tidak ada hubungannya dengan kemodernan, lalu kenapa mereka berpakaian seperti itu ? Apa tujuannya ? Hasil apa yang diharapkan dari itu ? Bukankah kita masyarakat yang beragama dan berbudaya ? Lalu kemanakah adat, budaya, dan ajaran agama itu ?