Kamis, Januari 19, 2012

Bangsa Lisan

Yang dicatat akan abadi, yang diucap akan sirna. Sebuah ungkapan yang singkat namun sarat makna. Menurut teman saya ungkapan tersebut adalah ungkapan Pram.

Jika kita melihat keadaan sekitar kita maka kita akan dibenturkan dengan budaya ucapan yang masih kental. Masyarakat kita adalah masyarakat ucapan. Masyarakat yang lebih mengedepankan buah bibir. Kebenaran adalah apa yang selalu menjadi buah bibir. Pantas saja banyak acara infotainment yang laku keras.

Gaya hidup pun adalah apa yang sedang banyak diperbincangkan orang banyak. Maka tak heran jika banyak kita temukan orang biasa yang kemudian secara mendadak menjadi populer, kaya mendadak, dan menjadi superstar meski itu hanya sesaat. Sinta-Jojo, Norman, Ayu Tingting merupakan contoh kecil dari budaya 'hangat-hangat tai ayam' bangsa kita tersebut.

Dan budaya tersebut akhirnya digunakan segelintir orang untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Mumpung lagi menjadi tren, akhirnya setiap hari, setiap jam dan setiap detik, berita-berita yang berkenaan dengan objek yang sedang ngetren itu disiarkan, digosipkan bahkan dipaksakan untuk menjadi tren of the day.
Bukan hanya dalam dunia infotainment, dalam budaya politik juga begitu. Sayangnya, budaya ini menjadi sebuah kelemahan yang dapat dipergunakan para politisi busuk untuk terus menerus membodohi bangsa ini. Kasus-kasus besar memang awalnya menjadi pemberitaan yang begitu hangat ditelinga kita. Detik perdetik perkembangan sebuah kasus akan terus menjadi sorotan.

Akhirnya para politisi busuk mempergunakan taktik mengulur waktu agar masyarakat menjadi bosan, atau malah lupa. Bahkan kalau perlu, ada pengalihan isu. Itulah realita bangsa kita. Bangsa yang masih kuat memegang budaya lisan sehingga mudah untuk diombang ambingkan sebuah informasi tidak jelas.

Rabu, Januari 11, 2012

Klarifikasi Prasangka

Hal yang paling berat dalam hidup adalah menghindari prasangka-prasangka. Setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing. Satu objek tidak akan memiliki penilaian yang sama. Semakin banyak subjek yang melihatnya, maka semakin banyak pula tafsiran dan prasangka yang melingkupinya. Herannya, keterbatasan pancaindera dalam memahami hakikat sesuatu kadang tidak pernah kita sadari.

Kesalahan yang paling fatal adalah jika pemahaman kita terhadap sesuatu dianggap sebagai sebuah kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat. Ego semacam ini akhirnya membuat manusia menjadi eksklusif dan ingin menang sendiri. Padahal pancaindera bisa saja tertipu. Boleh jadi kita melihat sesuatu objek dari sudut pandang tertentu dan kita anggap itu adalah sebuah kesalahan, namun ternyata jika ditelisik dari sudut pandang yang lain akan tampak jika pandangan awal tersebut adalah sebuah kekeliruan yang sangat fatal.

Perlu adanya kesadaran diri untuk tidak mengganggap semua persepsi yang dibangun di atas informasi pancaindera terhadap sesuatu merupakan sebuah kebenaran yang mutlak. Disini kemudian yang diperlukan adalah kelapangan dada untuk menerima kritik dan evaluasi dari segala macam prasangka agar tidak terjadi saling ngotot dan saling mengklaim benar. 

Dari titik ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada objektivitas dari informasi yang diberikan pancaindera, yang ada hanyalah intersubjektivitas yang diusahakan untuk lebih adil dalam menilai dan memahami segala sesuatu agar terlihat lebih objektif dan tidak berat sebelah, walaupun pada hakikatnya tidak ada manusia pun di dunia ini yang dapat melepaskan diri dari keterpengaruhannya terhadap pendapat dan pengalaman pribadi.

Klarifikasi

Klarifikasi adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menemukan titik temu setiap prasangka manusia. Dalam al-Quran diistilahkan dengan kata "fatabayyanu". Kata tabayyun merupakan turunan dari kata baana yang berarti jelas, terang, dengan menambahkan kata ta' dan ya' sehingga memiliki makna mengklarifikasi sehingga jelas dan terang. Ditambah lagi dengan huruf fa' di awal kata yang memiliki makna secepatnya dan langsung. Jadi makna dari kata tersebut adalah langsung mengklarifikasi sehingga jelas dan terang permasalahannya agar tidak terjadi salah paham.

Prasangka sangat dekat dengan kesalahfahaman, apalagi jika reaksi yang timbul dari salah faham tersebut begitu reaktif dan tidak difikirkan akibatnya sehingga kadang akan menimbulkan sebuah penyesalan di akhir perbuatan. Klarifikasi tentunya dilakukan dengan hati yang dingin dan bahasa yang sesopan mungkin. Husnudzan atau berbaik sangka adalah asasnya, sehingga jalan dialog akan terasa nyaman. Setiap pihak mengemukakan pandangannya terhadap objek yang dipermasalahkan sehingga dapat ditemukan jalan keluar dari seluruh prasangka-prasangka tersebut.

Namun yang perlu kita garis bawahi adalah kenyataan bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari prasangka baik itu buruk atau baik di dalam hidupnya. Solusi yang ditawarkan al-Quran di atas akan terasa baik jika semua pihak yang bermasalah tidak reaktif dan cepat mengambil kesimpulan dalam usaha penyelesaian masalah yang sedang dihadapi. Toh walaupun setelah usaha tersebut tetap ada prasangka-prasangka, Allah pun tidak akan marah karena yang Ia lihat adalah usaha, bukan hasil.