Selasa, Oktober 09, 2012

Lebur

Begitu jauh perasaan ini terhalangi
Namun inikah yang dinamakan getaran itu
Semakin jauh ku merasa semakin berdebar

Perasaan aneh yang tak sembarang mewujud
Hanya kecemasan sementara
Lalu timbul harapan-harapan baru

Ketika kau katakan lepaskan aku
Justru ketika itu tanganku akan menggenggam erat
Mencengkram bahkan meleburkan dirimu pada diriku

Ku tak sadar dengan apa yang sedang terjadi
Namun yang ku tahu pasti
Alam telah menuntunku kepada kisah suci yang hakiki

Prenduan, 09/10/2012

Minggu, Agustus 12, 2012

Bagiku

Bagiku, cinta hanyalah perasaan semu. Ia datang tiba-tiba membawa jutaan angan dan khayal tiada tara. Cinta, sebuah misteri yang sampai kapanpun akan tetap terselubung dalam katup kehidupan. Cinta, candu yang dapat menutup mata. Ia pun kadang menjadi sumber dari inspirasi agung hingga melahirkan karya-karya fenomenal tak tertandingi. 

Cinta bagai dua mata pisau, sesuci-sucinya cinta akan menjadi malapetaka jika dipergunakan dengan penuh nafsu angkara. Begitupun sebaliknya, ia akan menjadi energi yang dapat menerangi kegelapan, seperti lentera yang menyinari jalan pengembara.

Cinta, lima susunan huruf yang filosufpun tak akan mampu mendefinisikannya. Karena cinta adalah perasaan jiwa, dimana getarannya bersumber dari denyut jantung dan hembusan nafas. Cinta adalah sebaik-baik pertanda bagi kekuasaan Tuhan, karena cintalah yang akhirnya menumpahkan darah manusia yang pertama.

Aku dan cinta seperti jiwa dan raga. Aku ada karena cinta. Maka, ajarilah aku jalan-jalan cintamu, hingga aku, kamu, dan mereka mengerti apa itu hakikat cinta yang abadi.

Jumat, Juli 27, 2012

Muslim Rohingnya dan James Holmes

Ketika masyarakat muslim Rohingnya dibantai bak binatang
Dunia tercengang oleh aksi James Holmes di Colorado
Ia ibarat Joker bertopeng dengan sadis memberondong para penonton kala itu
Korbanpun berjatuhan, belasan mati dan puluhan luka-luka

Hampir semua media meliput aksi sadis Holmes tersebut
Berbagai macam analisa diberikan hanya untuk tahu
Apa yang menyebabkan Holmes seperti itu
Ketenarannya bahkan melebihi Batman yang ia tonton tersebut

Dunia seperti tak percaya dengan kegilaan yang sudah terulang terjadi di negeri paman Sam itu
Kegilaan yang sepertinya menjadi trend
Dan itu ternyata bukan terorisme
Itu hanya kejahatan biasa yang dilakukan orang yang stress dan setengah gila

Muslim Rohingnya tetap saja dibantai bak binatang
Sayangnya tak ada analisa dan gerakan kongkret dunia
Hanya celaan, kecaman, bahkan himbauan untuk menghormati HAM
Namun muslim Rohingnya tetap saja dibantai habis-habisan

Aung San Suu Kyi si penerima nobel perdamaian itu hanya terdiam saja
Melihat kekejaman junta militer laknat itu
Nobel perdamaian ternyata hanya jadi senjata politik baginya
Realitanya tak ada kedamaian bagi warganya yang katanya imigran gelap selama berabad-abad itu


Duniapun masih tertegun dengan aksi James Holmes
Joker bertopeng yang memberondongkan senjata
Si teroris yang bukan teroris itu
Padahal muslim Rohingnya sedang dibantai habis-habisan bak binatang


Tanjung, 07/27/2012



Sabtu, Juli 14, 2012

Bekas-bekas yang terhormat

Tujuan manusia ada di muka bumi ini adalah untuk memikirkan hal-hal yang besar. Dalam istilah al-Qur'an disebut dengan khalifah, pewaris, pemimpin, wakil Allah. Namun kadang hal-hal yang kecil dapat melupakan manusia dari tujuan utamanya tersebut. Di dalam al-Qur'an, Allah selalu menyuruh kita semua untuk melihat, menalar, dan merenungi segala sesuatu yang ada, dari yang seberat atom sampai tujuh lapis langit bahkan 'arsh, singgasana Allah yang merupakan makhluk terbesarNya itu. Allah menginginkan manusia untuk berfikir luas.

Lalu apa gunanya jika kita terjebak dengan sebuah permasalahan yang begitu sepele. Permasalahan yang mungkin hanya bertahan sesaat selama masa hidup yang sangat singkat ini. Rata-rata manusia hidup sampai umur 60-an, jika ada yang beruntung mungkin sampai berumur lebih dari itu. Maka begitu rugi jika waktu yang sangat sangat terbatas tersebut hanya habis sia-sia karena memikirkan hal yang sebenarnya tidak perlu difikirkan.

Kenapa kita harus berpusing ria dengan sesuatu yang sudah Allah janjikan berupa rezeki dan lain sebagainya, padahal Ia meminta kita untuk melakukan pekerjaan yang telah Ia titahkan ? Alangkah rugi seseorang yang di dalam hidupnya yang begitu limited tersebut hanya disibukkan dengan dirinya sendiri tanpa mengoptimalkan 'pengajaran' yang telah Allah berikan kepada Adam. Ya, Allah mengajarkan Adam semua nama-nama. Allah sendiri yang mengajarkan Adam untuk menjadi seorang yang tahu, mengerti, dan Ia juga yang kemudian menundukkan semuanya kepada Adam dan anak cucunya untuk dipergunakan sebaik mungkin untuk kemaslahatan kemanusiaan.

Maka manusia harus memikirkan kemanusiaan, kebebasan, perdamaian, agama, cinta, dan hal-hal besar lainnya. Memanusiakan manusia dengan kemanusiaannya, memperjuangkan kebebasan dan perdamaian antar manusia, agama yang memanusiakan manusia, dan menyebarkan cinta di antara manusia. Bagi yang membaca sejarah kemanusiaan, maka akan menemukan manusia-manusia besar yang memperjuangkan hal-hal besar tersebut. Mereka tetaplah hidup sampai sekarang, terkenang harum namanya karena mereka meninggalkan bekas-bekas agung dan terhormat. Mereka meninggalkan warisan yang begitu luar biasa. Ide-ide dan ajaran yang semuanya memiliki satu tujuan, yaitu agar manusia menjadi manusia yang berprikemanusiaan.

Kamis, Juni 07, 2012

Madura dan Stigma

Jika Anda adalah orang Madura, maka Anda harus bersabar dengan berbagai macam stigma negatif tentang orang Madura. Sejatinya, menjadi bagian dari suku atau etnis tertentu bukan merupakan sebuah dosa, namun stigma akan menjadi label dari sebuah suku tertentu jika ada beberapa oknum dari suku tersebut yang melakukan perbuatan yang kurang disenangi orang lain.

Kesalahan fatal masyarakat Indonesia pada umumnya adalah generalisasi dari stigma. Menjadi orang Madura tentunya merupakan kebanggaan bagi penulis sendiri dan bagi masyarakat Madura secara umum, tapi kadang stigma negatif tentang masyarakat Madura yang digeneralisir membuat emosi penulis tersulut. Generalisasi merupakan kejahatan paling biadab di atas muka bumi ini.

Setiap manusia, berasal dari suku dan etnis apapun ia, memiliki dua peluang yang sama; menjadi baik atau menjadi jahat. Maka manusia dari suku atau etnis apapun yang melakukan kejahatan atau kebaikan, hasilnya adalah untuk individu yang melakukan sendiri (Jika kamu berbuat baik, maka kamu telah berbuat baik terhadap dirimu sendiri, begitupun sebaliknya). Maka tidak ada dasar sama sekali bagi generalisasi durjana itu. 

Generalisasi hemat penulis hanya dilakukan oleh dua macam manusia : Orang bodoh yang hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang subyektifnya, atau orang dengki yang selalu memandang obyek yang ia benci dengan mata negatif. 

Orang bodoh adalah orang yang terisolasi oleh pandangannya yang subyektif. Ia hanya meyakini apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan lalu ia dengan semena-mena menghukumi dan memberi penilaian final. Contoh, jika si bodoh melihat di televisi sebuah berita yang terus menerus diulang-ulang dengan isi berita yang menyudutkan pihak tertentu, si bodoh dengan lugunya akan langsung memberi vonis bahwa pihak yang disudutkan itu adalah pihak yang salah.

Ada pun orang benci adalah orang yang pernah menjadi korban kejahatan dari salah satu oknum anggota suku tertentu yang akhirnya menjeneralisir semua suku tersebut berkelakuan dan bersifat sama dengan si oknum. Contoh, jika seseorang pernah ditipu seseorang bersuku A, maka otomatis semua suku A adalah penipu. Sebenarnya si benci tahu bahwa logika yang ia pakai adalah salah, namun karena kebencian telah merasuki hati, si benci tetap saja akan melakukan generalisasi sebagai 'hasil dari pengalaman' yang pernah ia lalui.

Stigma negatif terhadap suku tertentu akhirnya menyebabkan kedzaliman tanpa batas. Jika ada orang yang ditolak calon mertua karena ia tidak kaya, tidak mapan, tidak ganteng, tidak dari keturunan orang baik, itu sudah biasa dan lumrah. Namun jika ada seseorang ditolak calon mertua karena dia berasal dari suku A, maka itu merupakan sebuah kejahatan paling biadab yang pernah ada di muka bumi ini. 

Menjadi bagian dari suku tertentu merupakan kehendak Allah. Maka, jika ada seseorang yang mempersoalkan orang lain karena sukunya, sama saja ia menentang kemauan Allah, kenapa orang ini dilahirkan di suku A ? Padahal Allah tidak pernah ditanya kenapa karena kitalah yang akan ditanya kenapa. Maka sangat tidak layak bagi orang berakal jika ia memandang seseorang dari sukunya, bukan dari agamanya.

Minggu, Juni 03, 2012

Rute Bis dan Kritik Budaya

Sudah hampir satu tahun saya menjalani hidup yang penuh dengan mobilitas. Setiap minggu saya harus bolak-balik Madura-Surabaya untuk menyelesaikan kuliah yang harus secepatnya saya selesaikan. Proses berfikir pun seakan terbatasi oleh aktivitas yang begitu padat. Tugas kuliah yang datang silih berganti mengharuskan saya untuk memfokuskan seluruh daya upaya fikiran untuk menyelesaikannya.

Namun inspirasi itu datangnya tiba-tiba dan tak terencana. Alam realita yang selalu berubah disekitar kita merupakan obyek inspirasi yang tak akan habis. Dan bis kota ternyata menjadi salah satu media bagi saya untuk mendapatkan banyak inspirasi. 

Ada dua rute pulang dari kampus saya kuliah, pertama adalah langsung menuju terminal bungurasih dengan jarak yang begitu dekat, kedua menuju ujung perak dengan jarak tempuh yang lumayan panjang. Awal-awal saya kuliah di IAIN Sunan Ampel, saya lebih sering menggunakan rute pertama. Disamping dekat, di terminal bungur saya bisa memilih bus sesuai keadaan. Kalau lagi capek dan kondisi kantong masih tebal, saya lebih memilih naik bus patas Akas karena ber-ac juga lebih cepat sampai rumah kira-kira 2 jam setengah. Namun jika kondisi badan saya fit dan kantong sudah la yahya wa la yamut (g' hidup g' mati alis pas-pasan) saya memilih menggunakan jasa bus ekonomi meski kadang harus berdiri selama 4 jam perjalanan plus gratis menghirup asap rokok.

Awalnya rute pertama ini menjadi rute favorit saya, namun setelah beberapa bulan, saya mencanangkan program hemat yang akhirnya menemukan rute alternatif yaitu langsung menuju perak dengan bus kota, lalu naik kapal feri menyeberangi selat madura, kemudian naik bis mini elf dari terminal kamal menuju rumah saya di Tanjung. Sebenarnya dari IAIN Sunan Ampel hanya butuh tak kurang dari 10 menit untuk sampai ke terminal Bungurasih, namun jika mengambil rute Perak, saya harus menempuh minimal 1 jam perjalanan. Dari segi pengeluaran duit, rute ke Perak lebih murah daripada saya menggunakan bus ekonomi dari bungurasih. Jika ditotal minimal penghematan saya bisa 10 ribu sekali jalan, cukup lumayan kan jika dikalikan 4.

Bukan hanya dari segi penghematan duit, rute kedua ternyata memberikan saya banyak sekali inspirasi. Di bus kota damri ac, saya dapat melewati beberapa mall dan pusat perbelanjaan di kota Surabaya, sebut saja Royal Mall, Matos, Tunjungan Plaza, THR, JMP (Jembatan Merah Plaza), Giant dan lain sebagainya. Bahkan beberapa kali saya sempat melakukan penelitian kecil-kecilan di Royal dan Matos dan beberapa tempat lain yang saya sudah lupa namanya. Di tempat-tempat tersebut saya menemukan sebuah dunia yang sangat 'berbeda', dunia kapitalis yang sangat akut.

Kemewahan dan ke'wah'an yang ditampilkan mall dan pusat perbelanjaan itu ternyata dapat merubah masyarakat kita yang menjadi masyarakat konsumtif dan hedonis. Mall merupakan ajang untuk pamer diri, sehingga orang-orang yang ingin pergi ke mall harus bersolek terlebih dahulu, menggunakan pakaian dan asesoris yang paling bagus. Bahkan kalau perlu orang-orang yang ke mall itu harus mempertontonkan aurat mereka dengan menggunakan celana pendek di atas paha dan kaus singlet you can see. Semua itu ditampakkan untuk mengesankan kesan wah, mewah, dan modern.

Celakanya, kondisi pakaian yang biasanya saya lihat dipakai oleh orang-orang non muslim itu kemudian ditiru-tiru oleh orang-orang muslim. Entah apakah mereka-mereka yang muslim itu merasa tidak pede dengan budaya dan adat mereka, ataukah sudah tidak ada batasan lagi mana yang non muslim dan mana yang muslim ? Orang-orang muslim itu benar menggunakan jilbab, namun pakaian mereka sangatlah ketat dengan celana levis yang tak kalah ketat. 

Melihat fenomena tersebut saya menjadi bertanya-tanya, apakah ukuran kemodernan itu ? Apakah modern itu identik dengan meminimalkan pakaian ? Apakah orang modern itu harus bercelana pendek di atas paha dan berkaus singlet you can see ? Kalau berpakaian seperti itu tidak ada hubungannya dengan kemodernan, lalu kenapa mereka berpakaian seperti itu ? Apa tujuannya ? Hasil apa yang diharapkan dari itu ? Bukankah kita masyarakat yang beragama dan berbudaya ? Lalu kemanakah adat, budaya, dan ajaran agama itu ?

Selasa, Mei 01, 2012

Berbagi Untuk Akhirat

Akhirnya setelah lebih dari 20 tahun musholla samping rumah sebentar lagi akan direnovasi atau dibangun ulang. Musholla bersejarah yang sudah berdiri sejak saya kecil itu keadaannya sekarang memang agak menyedihkan. Genteng yang bocor sana sini dan kondisi tiang yang sudah hampir roboh mengharuskan perbaikan musholla tersebut secepatnya.

Tampak Musholla Dari Depan.

Pintu Masuk Musholla.

Mihrab Musholla.

Sisi Kiri Musholla.

Sisi Kanan Musholla.

Tiang Penyangga dan Genteng yang Bocor.

Batu dan Pasir Untuk Renovasi.
Aktivitas musholla ini begitu padat. Banyak anak-anak kecil yang belajar mengaji di musholla ini. Dari pagi sebelum berangkat sekolah 5-10 anak datang untuk mengaji, selanjutnya setelah dhuhur 10-15 anak satu persatu datang untuk belajar al-Qur'an, dan intinya setelah maghrib sekitar 30-40 anak belajar bersama-sama mulai dari belajar iqra' sampai anak-anak yang sudah lancar dan mencoba mengkhatamkan al-Qur'an beberapa kali. Kecuali malam jum'at dan hari jum'at, aktivitas di musholla ini begitu padat.

Walaupun dengan fasilitas yang seadaanya, anak-anak kampung tersebut tetap semangat untuk belajar. Meskipun kadang ada beberapa anak yang nakal, namun itu semuanya akan terasa nikmat dan indah ketika dihadapi dengan senyum dan kesabaran tanpa batas. Sampai tulisan ini ditulis, penggalangan dana untuk meringankan beban pembiayaan renovasi ini masih terus dilakukan. Mulai dari menggalang dana dari para alumni dan para dermawan yang biasanya bergelar haji di desa.

Semoga renovasi yang rencananya akan dimulai hari jum'at ini berjalan lancar dan aliran dana pembiayaan untuk musholla ini semakin mengalir deras. Bagi pembaca tulisan ini yang berminat untuk menyumbangkan sedikit hartanya untuk musholla kecil ini bisa menghubungi penulis via email : hafiz.forever@gmail.com 

Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 2 : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Jumat, Februari 24, 2012

Kuatkan Aku

Kuatkan aku wahai dzat yang selalu memberi kekuatan bagi mereka yang mengharap. Kuatkanlah agar aku dapat mengarungi alur hidupku dengan lurus dan mudah. Alur hidup yang mungkin selama ini membuat aku lupa bahkan tak sadar akan keberadaanMu yang Maha Agung. Hingga ketika aku di dalam titik kritis kehidupan ini, Engkau datang sambil membuka tanganMu yang Maha Suci. Lalu kau berikan kasih sayang luhurMu hanya kepadaku. Padahal ketika itu aku masih lupa akan hadir sayangMu padaku. 

Namun mengapa kasih sayangMu itu begitu dalam lebih dari palung di samudera ? Bahkan Engkau sangat dekat denganku melebihi nyawaku sendiri. Aku lalu bingung mencariMu dimana. Ku telusuri sejumlah lembah dalam kehidupan ini, namun tetap saja tak kutemukan diriMu. Yang ku temukan hanyalah cermin diriku yang sekotor debu berterbangan entah darimana. Sedikit-demi sedikit debu-debu itu aku bersihkan sehingga dalam sepintas aku pernah melihatMu. Meski malu-malu, ku akui aku tak sanggup melihatMu melihatku dengan keadaan begini.

Karena Engkau Maha Tahu apa yang ada di diriku sedangkan aku tak mungkin tahu apa yang di diriMu. Akhirnya ku buang saja cermin durjana itu. Lalu ku pergi begitu saja dengan membawa keraguan laknat. Pernah aku ragu apakah benar diriMu memiliki wujud dalam diriku ini ? Secepatnya aku tepis anggapan dosa yang tak pernah diketahui berapa beban dosanya itu. Lalu ku kembali berujar, kuatkanlah aku wahai dzat yang memiliki jiwa ragu ini. Kuatkanlah bahwa Engkau benar dan kebenaran dirimu telah Kau titiskan kepada beberapa golonganku. Kuatkanlah aku agar tak lagi fikiran liarku membinasakanku ke dalam jurang kehidupan yang begitu kejam.

Lalu ku lihat diriMu datang padaku dengan segala kasih dan sayangMu. Kau lalu firmankan bahwa itulah karuniaku yang diberikan bagi siapa yang Kau pilih dari hamba-hambaMu. Dan aku termasuk yang kau pilih itu kan ? Atau aku hanya mengklaim kasih sayangMu saja ? Maka kuatkanlah aku dengan segenap ke Maha Murahan diriMu wahai dzat pemilik segala sesuatu, agar diriku dapat membacaMu di dalam bacaan yang telah Kau turunkan, agar aku termasuk hamba-hamba yang Kau pilih itu.

Dharma Tanjung, 24 Februari 2012

Selasa, Februari 21, 2012

Arah dan Tujuan Hidup

Suatu ketika manusia akan dihadapkan dengan keadaan dimana dia tidak bisa menentukan arah dalam kehidupannya. Ia bingung tentang tujuan dari kehidupan yang ia lakukan. Ia bahkan hanya bisa menangis karena tak mampu memberikan jawaban yang membuat hatinya tenang. Jawaban yang seharusnya membuat kehidupannya berarti dan berkontribusi.

Hidup pasti memiliki tujuan, apa pun itu. Tujuan hidup manusia adalah beribadah, itu kata agamawan. Ada juga yang berpendapat jika manusia hidup di dunia ini seperti binatang sehingga jika ia mati, maka hilanglah ia dari eksistensi kehidupan ini dan ia tidak akan pernah ada lagi. Pandangan terakhir ini merupakan pandangan yang menafikan adanya kehidupan sesudah kematian, jadi manusia tidak bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan di dalam hidupnya.

Kedua pandangan di atas sangat bertolak belakang. Pandangan pertama menekankan adanya sebuah tanggung jawab kehidupan yang manusia emban. Selama ia hidup di dunia ini maka ia harus melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan agar nanti ketika ia kembali hidup sesudah mati ia akan mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara yang bahkan tidak dapat dibayangkan oleh panca indera. Kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, bahkan tidak pernah terdetik di dalam hati manusia.

Pandangan kedua akan menjadikan manusia seperti hewan yang berada di alam buas. Siapa yang kuat dia lah yang akan menguasai dunia. Yang lemah akan tersingkir bahkan tereliminasi dari kehidupan ini. Sehingga perang merupakan sebuah keharusan yang harus terjadi di dunia ini. Tanpa perang, tidak akan diketahui siapa yang menjadi penguasa di dunia ini. Maka tak heran, kenapa dalam sejarah manusia tidak pernah luput dari peperangan yang semuanya itu hanya memiliki satu tujuan, menguasai dan memerintah !

Setiap manusia pastinya memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Baik itu berdasarkan pandangan pertama atau kedua, semua pilihan pasti memiliki konsekuensi logis. Orang yang memilih pandangan pertama dalam mengarungi kehidupannya akan senantiasa berusaha untuk mengejawantahkan seluruh ajaran dari agama yang ia peluk. ada pun orang yang menjadikan pandangan kedua sebagai pegangan hidupnya akan melakukan apa yang menurut ia benar. 

Maka arah tujuan yang selama ini samar-samar insya allah akan sedikit demi sedikit terkuak dan memancarkan sinarnya. Qul amantu billah thummastaqim, dalam bahasa agama yang mengisyaratkan kepastian sebuah pilihan dalam kehidupan dan konsistensi terhadap pilihan itu. Jika kita memilih jalan agama, maka konsisten lah dengan pilihan itu. Namun jika sebaliknya, maka setiap jalan dan pilihan tentunya bukanlah jalan final dalam kehidupan ini.

Minggu, Februari 05, 2012

Fase Kehidupan Manusia

Hidup manusia itu memiliki fase. Sejak dia lahir, kemudian menjadi dewasa, menikah, punya anak, dan terakhir meninggal. Sebagian besar manusia memiliki itu semua. Seorang anak kecil tidak pernah tahu kalau dia nanti akan menjadi dewasa dan harus menghadapi hidupnya sendiri. Orang dewasa juga kadang melihat masa kanak-kanak sebagai sebuah masa yang sangat indah dan kalau bisa, ia ingin kembali ke masa-masa dimana ia bermain tertawa-tawa bersama ayah dan ibunya.

Namun hari demi hari, sang anak akhirnya tahu bahwa waktu itu selalu meluncur ke depan, tak pernah ada reply apalagi pause dalam kehidupan ini. Semuanya ibarat air yang mengalir dari hulu ke hilir, air yang mengalir di hulu bukanlah air yang berada dihilir. Begitu pun orang dewasa tersebut, ia pasti yakin bahwa masa kecil adalah masa lalu yang tak mungkin terulang, di depannya ia masih memiliki banyak pr yang harus ia lakukan.

Perubahan dari satu fase ke fase berikutnya nyatanya tidaklah mudah. Butuh proses yang harus dilalui, langkah demi langkah untuk sampai kepada fase berikutnya. Dimulai dari seorang bayi yang hendak disapih sang ibu, terasa berat bagi sang bayi, bahkan sampai ada yang sakit, namun akhirnya ia akan terbiasa jua. Begitu pun seorang dewasa yang hendak menuju jenjang kemandirian yang sesungguhnya, sungguh awalnya pasti akan terasa berat, namun jika ia yakin bahwa Allah pasti akan mempermudahkan segala yang sulit, maka ia nantinya akan dapat menghadapi semuanya. 

Semua proses tersebut membutuhkan tekad yang kuat, usaha yang maksimal, dan do'a yang tak pernah putus. Tiga hal tersebut merupakan sebuah proses ikhtiyar yang dapat dilakukan oleh seorang makhluk yang sangat lemah. Adapun hasil akhir dari semuanya, pastinya merupakan qadha' dan qadar Allah yang harus kita terima baik itu pahit atau pun manis. Karena disinilah letak ketundukan seorang hamba kepada sang khaliknya, maka tetaplah tersenyum walaupun banyak rintangan yang akan kita hadapi untuk menuju kesempurnaan fase-fase kita sebagai manusia, yaitu kematian.


Kamis, Januari 19, 2012

Bangsa Lisan

Yang dicatat akan abadi, yang diucap akan sirna. Sebuah ungkapan yang singkat namun sarat makna. Menurut teman saya ungkapan tersebut adalah ungkapan Pram.

Jika kita melihat keadaan sekitar kita maka kita akan dibenturkan dengan budaya ucapan yang masih kental. Masyarakat kita adalah masyarakat ucapan. Masyarakat yang lebih mengedepankan buah bibir. Kebenaran adalah apa yang selalu menjadi buah bibir. Pantas saja banyak acara infotainment yang laku keras.

Gaya hidup pun adalah apa yang sedang banyak diperbincangkan orang banyak. Maka tak heran jika banyak kita temukan orang biasa yang kemudian secara mendadak menjadi populer, kaya mendadak, dan menjadi superstar meski itu hanya sesaat. Sinta-Jojo, Norman, Ayu Tingting merupakan contoh kecil dari budaya 'hangat-hangat tai ayam' bangsa kita tersebut.

Dan budaya tersebut akhirnya digunakan segelintir orang untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Mumpung lagi menjadi tren, akhirnya setiap hari, setiap jam dan setiap detik, berita-berita yang berkenaan dengan objek yang sedang ngetren itu disiarkan, digosipkan bahkan dipaksakan untuk menjadi tren of the day.
Bukan hanya dalam dunia infotainment, dalam budaya politik juga begitu. Sayangnya, budaya ini menjadi sebuah kelemahan yang dapat dipergunakan para politisi busuk untuk terus menerus membodohi bangsa ini. Kasus-kasus besar memang awalnya menjadi pemberitaan yang begitu hangat ditelinga kita. Detik perdetik perkembangan sebuah kasus akan terus menjadi sorotan.

Akhirnya para politisi busuk mempergunakan taktik mengulur waktu agar masyarakat menjadi bosan, atau malah lupa. Bahkan kalau perlu, ada pengalihan isu. Itulah realita bangsa kita. Bangsa yang masih kuat memegang budaya lisan sehingga mudah untuk diombang ambingkan sebuah informasi tidak jelas.

Rabu, Januari 11, 2012

Klarifikasi Prasangka

Hal yang paling berat dalam hidup adalah menghindari prasangka-prasangka. Setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing. Satu objek tidak akan memiliki penilaian yang sama. Semakin banyak subjek yang melihatnya, maka semakin banyak pula tafsiran dan prasangka yang melingkupinya. Herannya, keterbatasan pancaindera dalam memahami hakikat sesuatu kadang tidak pernah kita sadari.

Kesalahan yang paling fatal adalah jika pemahaman kita terhadap sesuatu dianggap sebagai sebuah kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat. Ego semacam ini akhirnya membuat manusia menjadi eksklusif dan ingin menang sendiri. Padahal pancaindera bisa saja tertipu. Boleh jadi kita melihat sesuatu objek dari sudut pandang tertentu dan kita anggap itu adalah sebuah kesalahan, namun ternyata jika ditelisik dari sudut pandang yang lain akan tampak jika pandangan awal tersebut adalah sebuah kekeliruan yang sangat fatal.

Perlu adanya kesadaran diri untuk tidak mengganggap semua persepsi yang dibangun di atas informasi pancaindera terhadap sesuatu merupakan sebuah kebenaran yang mutlak. Disini kemudian yang diperlukan adalah kelapangan dada untuk menerima kritik dan evaluasi dari segala macam prasangka agar tidak terjadi saling ngotot dan saling mengklaim benar. 

Dari titik ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada objektivitas dari informasi yang diberikan pancaindera, yang ada hanyalah intersubjektivitas yang diusahakan untuk lebih adil dalam menilai dan memahami segala sesuatu agar terlihat lebih objektif dan tidak berat sebelah, walaupun pada hakikatnya tidak ada manusia pun di dunia ini yang dapat melepaskan diri dari keterpengaruhannya terhadap pendapat dan pengalaman pribadi.

Klarifikasi

Klarifikasi adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menemukan titik temu setiap prasangka manusia. Dalam al-Quran diistilahkan dengan kata "fatabayyanu". Kata tabayyun merupakan turunan dari kata baana yang berarti jelas, terang, dengan menambahkan kata ta' dan ya' sehingga memiliki makna mengklarifikasi sehingga jelas dan terang. Ditambah lagi dengan huruf fa' di awal kata yang memiliki makna secepatnya dan langsung. Jadi makna dari kata tersebut adalah langsung mengklarifikasi sehingga jelas dan terang permasalahannya agar tidak terjadi salah paham.

Prasangka sangat dekat dengan kesalahfahaman, apalagi jika reaksi yang timbul dari salah faham tersebut begitu reaktif dan tidak difikirkan akibatnya sehingga kadang akan menimbulkan sebuah penyesalan di akhir perbuatan. Klarifikasi tentunya dilakukan dengan hati yang dingin dan bahasa yang sesopan mungkin. Husnudzan atau berbaik sangka adalah asasnya, sehingga jalan dialog akan terasa nyaman. Setiap pihak mengemukakan pandangannya terhadap objek yang dipermasalahkan sehingga dapat ditemukan jalan keluar dari seluruh prasangka-prasangka tersebut.

Namun yang perlu kita garis bawahi adalah kenyataan bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari prasangka baik itu buruk atau baik di dalam hidupnya. Solusi yang ditawarkan al-Quran di atas akan terasa baik jika semua pihak yang bermasalah tidak reaktif dan cepat mengambil kesimpulan dalam usaha penyelesaian masalah yang sedang dihadapi. Toh walaupun setelah usaha tersebut tetap ada prasangka-prasangka, Allah pun tidak akan marah karena yang Ia lihat adalah usaha, bukan hasil.