Minggu, Desember 25, 2011

Muka Tak Berdosa ...

Mengapa saya sangat membenci orang-orang yang merokok di kendaraan umum ? Mungkin jawaban yang paling tepat adalah karena saya sangat tidak tahan dengan bau rokok, apalagi katanya perokok pasif itu lebih berbahaya daripada perokok aktif. Namun saya heran, kenapa bapak-bapak dengan muka tak berdosa itu sepertinya tidak mau tahu dengan keadaan orang-orang disekitarnya ? Apa karena merokok di kendaraan umum adalah suatu hal yang biasa ? Ataukah mereka sudah tidak memiliki kepekaan sosial sehingga apa yang mereka lakukan adalah apa yang mereka fikir itu menguntungkan buat mereka sendiri walaupun keuntungan itu di atas penderitaan orang lain.

Tentunya bapak-bapak bermuka tak berdosa itu tidak mungkin membaca tulisan ini karena mereka saya kira bukan orang-orang yang memiliki akses untuk membaca tulisan ini. Mungkin pagi yang cerah ini mereka masih tidur atau sudah bekerja keras untuk survive dalam kehidupan ini. Mereka adalah orang-orang yang biasa kita temukan di bis-bis umum. Mereka biasanya berpenghasilan standar, namun meski begitu mereka tidak dapat melepaskan kebiasaan mereka untuk merokok. Mungkin saja merokok bagi mereka memiliki kenikmatan tersendiri. Bahkan menurut beberapa orang yang sudah kecanduan, lebih baik tidak makan nasi dari pada satu hari tidak merokok !

Logika berfikir orang-orang yang sudah kecanduan merokok memang aneh. Padahal sudah jelas dituliskan dengan huruf yang jelas dan terang bahwa merokok itu dapat menyebabkan banyak sekali penyakit yang sangat mematikan seperti kangker, impotensi dan lain sebagainya. Namun tampaknya para perokok sudah tidak peduli lagi dengan peringatan itu, toh sampai sekarang mereka masih sehat-sehat saja. Toh walaupun sudah puluhan tahun mereka merokok tidak ada tanda-tanda impotensi, bahkan mereka terlihat lebih laki dan jantan.

Sayangnya saya tidak butuh segala macam urusan para perokok itu. Saya tidak peduli apakah mereka paham atau tidak dengan bahaya rokok. Saya benar-benar tidak peduli karena saya yakin mereka sudah tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Yang menjadi urusan saya disini adalah ketika mereka yang merokok tidak mau mengerti keadaan orang-orang yang tidak merokok. Saya tidak peduli berapapun mereka mau menghabiskan puntung rokok, namun -meminjam bahasa dosen saya- maaf saja, jangan libatkan orang-orang yang tidak merokok dalam kepulan asap rokok itu. Orang-orang yang tidak merokok tentunya memiliki hak untuk dapat menghirup udara yang segar dan tak terkontaminasi zat-zat adiktif yang terkandung dalam rokok.

Jadi - meminjam bahasa dosen saya- maaf saja, bagi bapak-bapak bermuka tak berdosa tolong pengertiannya. Janganlah merokok di tempat-tempat umum, kendaraan-kendaraan umum dan fasilitas-fasilitas umum. Silahkan jika tidak ada smoking area, bapak-bapak liat kanan kiri dulu sebelum merokok, apa ada orang yang tidak merokok atau tidak. Jika ada, ya tolong tahan dulu nafsunya untuk merokok, kalau tidak ada, ya silahkan merokok sepuas mungkin ...

Senin, Desember 05, 2011

Entahlah

Aku hanya melihatmu sekilas, dari jauh dan tak sering. Kau tampak menikmati waktumu bersama teman-temanmu menikmati kuliner seluruh tempat itu. Aku hanya bisa mendengar tentang cerita keparipurnaan wujudmu. Dari orang-orang aku tahu jika kamu merupakan penjelmaan bidadari yang mungkin enggan kembali ke syurga. Ku pikir kau akan sangat jauh kugapai. Kesempurnaamu seakan mengajariku arti ketidakberdayaan. Kumbang bersayap patah tak mungkin dapat menghisap madu dari bunga paling indah di syurga.

Namun ku coba tuk tegarkan hati dan pancangkan keinginan yang lahir dari keputusasaan. Tak ada yang tak mungkin bukan ? Meski aku tak pernah tahu harus memetikmu dimana, atau sudahkah ada kumbang yang memilikimu ? Entahlah, mungkin kumbang bersayap patah tak punya keberanian meski hanya sekedar memandang keindahanmu.
Kumbangpun harus sadar dengan keadaan. Alam adalah milik yang kuat. Tak ada tempat bagi yang lemah. Kumbang adalah makhluk yang berjuta jumlahnya, maka tak mungkin kumbang bersayap patah bisa menjadi raja bagi kumbang lainnya dan mengalahkan mereka sehingga ia dapat memperoleh madu dari bunga terindah di syurga. 

Namun herannya, sang kumbang celaka tak pernah kehilangan kepercayaannya terhadap konsep kemungkinan. Boleh ia seekor cacat dengan sayap tercabik-cabik, namun ia masih belum menjadi seonggok bangkai kan ? Bukankah segala sesuatu bukan hanya karena faktor usaha dari diri, ada faktor lain yang lebih menentukan, dan ia sangat percaya dengan itu.

Aku ingin memetik bunga itu, apapun resikonya. Bukankah kehidupan itu akan berarti jika kita bisa mengatasi berbagai macam permasalahan yang ada ? Pun juga tidak ada salahnya kan orang mencoba ? Toh tidak ada cela bagi kumbang yang dengan sopan ingin meminta izin sang pemilik taman dimana bunga itu ada untuk ia petik ? Sekarang masalahnya, apakah sang bunga mengizinkan si kumbang memintanya ? Ataukah sang kumbang merana harus kembali kehabitatnya dan sadar dengan posisi diri dengan hanya memimpikan sang bunga ... entahlah ...