Jumat, September 16, 2011

Ku Pinang Kau dengan Bismillah, Sebuah Kritik

Akhir-akhir ini banyak sinetron yang memberikan contoh islam kulit saja. Meskipun dialog-dialog yang ditampilkan banyak yang menyebut kata-kata 'Allah', 'Astaghfirullah', dan kata-kata berbau islam lainnya namun substansi dari sinetron itu sendiri sangat bertolak belakang dengan lafadz-lafadz agung tadi. Contohnya saja sinetron 'ku pinang kau dengan bismillah' yang sedang digandrungi banyak orang itu, jika melihat secara sepintas dari judul dan setting tempat yang berada di di Turki maka asumsi penonton akan menuju kepada sinetron yang sarat dengan nilai keislaman, namun setelah diperhatikan dengan seksama sinetron tersebut ternyata sangatlah tidak islami.

Tokoh utama Amar yang digambarkan sebagai seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Turki sangatlah kontradiktif. Di lain sisi ia digambarkan sebagai seorang yang lugu dan memegang teguh kepada ajaran agama walaupun dengan pandangannya yang modern dan substantif, namun disisi lain ia sangatlah rapuh dan mudah tergoda dengan wanita. Hanya dalam satu episode saja Amar sudah menuliskan puisi dan memberikan bunga sebagai tanda cintanya kepada Nirvana. Hal ini merupakan sebuah bukti bahwa tokoh Amar sangatlah lemah dan tidak kuat secara penokohan.

Sinetron Ku Pinang Kau dengan Bismillah juga hanya menjadikan setting Turki semata-mata hanya untuk menarik rating penonton saja tanpa ada eksplorasi yang kuat terhadap bagaimana islam di Turki itu sebenarnya. Padahal jika memang ingin serius, konflik sekularisasi vis a vis islamisasi yang sekarang sedang terjadi di Turki merupakan sebuah hal yang memiliki keunikan dan magnet tersendiri bagi umat islam di Indonesia. Ku Pinang Kau dengan Bismillah hanya menampilkan cerita cinta yang biasa diangkat oleh sinetron pop indonesia lainnya.

Judul sinetron ini pun sangatlah kontradiktif jika melihat bagaimana kehidupan yang lebih dan berkecukupan dari seorang Amar. Hidup berdua dengan Nurdin disebuah apartemen yang bagus sangatlah tidak masuk akal bagi seorang mahasiswa beasiswa. Juga kalimat ku pinang kau dengan bismillah menyiratkan bahwa tokoh Amar seharusnya memiliki keadaan yang tidak begitu baik disana sehingga ia hanya bisa meminang Nirvana dengan semangat bismillah saja.

Penokohan Nurdin juga tidak lepas dari problem. Nurdin yang ditokohkan sebagai seorang fundamentalis terkesan sangat berlebihan. Tidak mungkin ada seorang fundamentalis seperti tokoh nurdin tersebut. Bahkan orang yang bodoh pun tidak akan secara terang-terangan mengatakan hal-hal yang dapat menyakiti orang lain, seperti kata-kata 'perempuan laknat' dan sebagainya, apalagi bagi seorang fundamentalis dalam artian orang yang memegang teguh agama secara tekstual.

Sinetron Ku Pinang Kau dengan Bismillah seakan-akan ingin menyampaikan bahwa seorang muslim ideal itu adalah sosok Amar yang sekuler dan substantif, padahal jika melihat perkembangan yang sedang terjadi di Turki, sebagai setting tempat dari sinetron tersebut, yang terjadi malah sebaliknya. Betapa keinginan kebanyakan rakyat Turki yang menginginkan keluar dari kediktatoran penguasa yang sekuler begitu kuatnya sehingga pada 2003 AK Party sebagai partai yang berhaluan islam dapat memenangkan pemilu sehingga Recep Tayyib Erdogan dapat menjadi perdana menteri Turki hingga saat ini.

Seharusnya tokoh Amar adalah tokoh yang menggambarkan bagaimana seorang mahasiswa Indonesia yang melihat perubahan pandangan masyarakat Turki dari sekuler ke islam sebagai sebuah spirit keislaman yang bisa ia bawa ke Indonesia, bukannya menampilkan sinetron pop bertemakan cinta yang sudah banyak membuang waktu masyarakat Indonesia dengan tontotan yang tidak mendidik dan sia-sia.

12 komentar:

M. Faizi mengatakan...

Semoga kiai-kiai dan tokoh-tokoh agama yagn kharismatik lainnya tidak difilmkan/disinetronkan oleh sutradara-sutradara seperti itu. Kalau beliau jadinya. Kiranya, sinetron yang Anda contohkan tersebut gagal bukan hanya karena kejar tayang, tapi juga karena memang kurang ada niat meneliti, mengamat, memperhatikan secara seksama.

Hebat dan salut atas usaha Anda mempehatikan sinetron ini untuk tulisan di blog.

A.A.Hafizh mengatakan...

trima kasih komentarnya mantep banget :D ...

-akhmad siddiq- mengatakan...

tulisan ini layak dipublish di kompas. bukan karena penulisnya yang keren, tetapi memang isinya juga keren. bravovendus! :)

A.A.Hafizh mengatakan...

Komen di atas saya keren banget ,,, apalagi foto n klop sklokopnya ... tambah keren lagi :D

Anonim mengatakan...

wah....saya mah dari dulu paling ogah nonton sinetron, biarpun settingnya di Arab... atau pakai istilah2 keislaman, tetap saja S-I-N-E-T-R-O-N . tau sendirilah seperti apa "kualitas" sinetron Indonesia... don't waste your time by watching something useless...

Anonim mengatakan...

saya suka tulisan ini, sinetron seperti ini sebenarnya akan mengaburkan pandangan masyarakat awam tentang esensi islam itu sendiri, enaknya ni diganti judul pa ya??

A.A.Hafizh mengatakan...

sinetron emang dari dulu g' ada yang bener. wah klo diganti judulnya agak susah ... tapi apa ya yang cocok ? any idea ?

Anonim mengatakan...

salam ukhwah.. saya berasal dari malaysia dan meminati filem2 islami terutamanya dari indonesia.

saya sudah menonton 'ku pinang kau dengan bismillah' dan saya setuju dengan pendapat penulis mengenai watak amar yang 'sangatlah rapuh dan mudah tergoda dengan wanita'. saya lebih meminati watak seperti abdullah khaerul azzam dalam filem ketika cinta bertasbih 1. saat dia teringatkan ana altahfunnisa, beliau terus beristighfar..

maaf jika ada terkasar bahasa. hanya sekadar pendapat. salam..

Anonim mengatakan...

sinetron Indonesia jangan tidak dilihat, kalau tidak dilihat siapa yg mau mengkritisi? kita yg peduli ini harus selalu memberi masukan,pendapat agar sinetron di Indonesia semakin berbobot dan berkwalitas sehingga menjadikan sinetron Indonesia yg bisa ditonton sebagai tuntunan bagi pemirsanya.salam oke untuk penulis.

Anonim mengatakan...

sinetron Indonesia jangan tidak dilihat, kalau tidak dilihat siapa yg mau mengkritisi? kita yg peduli ini harus selalu memberi masukan,pendapat agar sinetron di Indonesia semakin berbobot dan berkwalitas sehingga menjadikan sinetron Indonesia yg bisa ditonton sebagai tuntunan bagi pemirsanya.salam oke untuk penulis.

Anonim mengatakan...

yang namanya sinetro memang ga ada yg benar bung karena emang fiktif, jadi ga usah diganti judulnya karena judulnya memang dibuat begitu untuk menarik perhatian pemirsanya makanya jadilah pemirsa yang cerdas,

Anonim mengatakan...

yang namanya sinetro memang ga ada yg benar bung karena emang fiktif, jadi ga usah diganti judulnya karena judulnya memang dibuat begitu untuk menarik perhatian pemirsanya makanya jadilah pemirsa yang cerdas,