Selasa, September 20, 2011

Wartawan Vs Pelajar, salah siapa ?

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan bentrok yang terjadi antara wartawan dan siswa SMA 6 Mahakam (19/09/2011). Bentrok terjadi karena ketidakpuasan diantara kedua belah pihak seperti yang dilaporkan Kompas . Sebelumnya siswa SMA 6 Mahakam diberitakan telah mengeroyok dan merampas kaset wartawan Trans 7 , Oktaviardi, yang sedang meliput tawuran antar siswa SMA 6 Mahakam dan SMA 70 Bulungan.


Tawuran  antar pelajar adalah fenomena yang terus menerus terjadi di negara tercinta ini. Betapa sering kita membaca di koran-koran bahwa sekolah A tawuran dengan sekolah B. Sekolah sepertinya sudah tidak mampu lagi mencetak generasi yang memiliki kesantunan dan moral yang baik. Tentunya degradasi peran sekolah dalam membentuk karakter generasi tunas bangsa ini menjadi sebuah hal yang sangat disayangkan dan seharusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah.

Akar dari fenomena ini kemungkinan besar terletak pada kurikulum sekolah yang sangat sedikit sekali memberikan porsi dalam pelajaran agama dan moral sehingga banyak dari siswa yang tidak paham atau tidak tahu tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dan apa yang seharusnya mereka tinggalkan. Kebingungan dalam menentukan baik dan buruk inilah yang menjadi penyebab banyaknya siswa yang melakukan hal-hal yang kontraproduktif seperti tawuran dan lain sebagainya.

Herannya meski sudah banyak opini-opini yang berkembang seperti yang penulis paparkan di atas, namun sepertinya pemerintah sampai saat ini belum bisa mengambil sikap dengan kebijakan-kebijakan produktif dan menyelesaikan masalah. Dana APBN 20 % untuk pendidikan nyatanya tidak juga mampu memberikan solusi konkrit terhadap permasalahan kenakalan pelajar. Bahkan yang terjadi dana yang sangat besar itu menjadi ladang korupsi baru, bukan hanya di elit pemerintah saja, bahkan beberapa oknum guru sudah ada yang pandai untuk menggelapkan dana BOS.

Pendidikan itu bukan hanya diukur dengan kemapanan suatu sekolah, keprofesionalan guru-guru pengajarnya, atau bahkan tingginya tingkat keintelektualan siswa. Hasih nyata dari pendidikan adalah tingkah laku yang tercermin dari gerak-gerik siswa di dunia nyata. Bagaimana seorang siswa memperlakukan diri, orang lain, alam sekitar, dan Tuhannya adalah ukuran yang sesungguhnya dari pendidikan itu. Maka seyogyanya pemerintah atau departemen terkait memberikan perhatian yang lebih untuk hal tersebut dengan mencanangkan program-program yang dapat meningkatkan moralitas dan kesantunan siswa.

Jumat, September 16, 2011

Ku Pinang Kau dengan Bismillah, Sebuah Kritik

Akhir-akhir ini banyak sinetron yang memberikan contoh islam kulit saja. Meskipun dialog-dialog yang ditampilkan banyak yang menyebut kata-kata 'Allah', 'Astaghfirullah', dan kata-kata berbau islam lainnya namun substansi dari sinetron itu sendiri sangat bertolak belakang dengan lafadz-lafadz agung tadi. Contohnya saja sinetron 'ku pinang kau dengan bismillah' yang sedang digandrungi banyak orang itu, jika melihat secara sepintas dari judul dan setting tempat yang berada di di Turki maka asumsi penonton akan menuju kepada sinetron yang sarat dengan nilai keislaman, namun setelah diperhatikan dengan seksama sinetron tersebut ternyata sangatlah tidak islami.

Tokoh utama Amar yang digambarkan sebagai seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Turki sangatlah kontradiktif. Di lain sisi ia digambarkan sebagai seorang yang lugu dan memegang teguh kepada ajaran agama walaupun dengan pandangannya yang modern dan substantif, namun disisi lain ia sangatlah rapuh dan mudah tergoda dengan wanita. Hanya dalam satu episode saja Amar sudah menuliskan puisi dan memberikan bunga sebagai tanda cintanya kepada Nirvana. Hal ini merupakan sebuah bukti bahwa tokoh Amar sangatlah lemah dan tidak kuat secara penokohan.

Sinetron Ku Pinang Kau dengan Bismillah juga hanya menjadikan setting Turki semata-mata hanya untuk menarik rating penonton saja tanpa ada eksplorasi yang kuat terhadap bagaimana islam di Turki itu sebenarnya. Padahal jika memang ingin serius, konflik sekularisasi vis a vis islamisasi yang sekarang sedang terjadi di Turki merupakan sebuah hal yang memiliki keunikan dan magnet tersendiri bagi umat islam di Indonesia. Ku Pinang Kau dengan Bismillah hanya menampilkan cerita cinta yang biasa diangkat oleh sinetron pop indonesia lainnya.

Judul sinetron ini pun sangatlah kontradiktif jika melihat bagaimana kehidupan yang lebih dan berkecukupan dari seorang Amar. Hidup berdua dengan Nurdin disebuah apartemen yang bagus sangatlah tidak masuk akal bagi seorang mahasiswa beasiswa. Juga kalimat ku pinang kau dengan bismillah menyiratkan bahwa tokoh Amar seharusnya memiliki keadaan yang tidak begitu baik disana sehingga ia hanya bisa meminang Nirvana dengan semangat bismillah saja.

Penokohan Nurdin juga tidak lepas dari problem. Nurdin yang ditokohkan sebagai seorang fundamentalis terkesan sangat berlebihan. Tidak mungkin ada seorang fundamentalis seperti tokoh nurdin tersebut. Bahkan orang yang bodoh pun tidak akan secara terang-terangan mengatakan hal-hal yang dapat menyakiti orang lain, seperti kata-kata 'perempuan laknat' dan sebagainya, apalagi bagi seorang fundamentalis dalam artian orang yang memegang teguh agama secara tekstual.

Sinetron Ku Pinang Kau dengan Bismillah seakan-akan ingin menyampaikan bahwa seorang muslim ideal itu adalah sosok Amar yang sekuler dan substantif, padahal jika melihat perkembangan yang sedang terjadi di Turki, sebagai setting tempat dari sinetron tersebut, yang terjadi malah sebaliknya. Betapa keinginan kebanyakan rakyat Turki yang menginginkan keluar dari kediktatoran penguasa yang sekuler begitu kuatnya sehingga pada 2003 AK Party sebagai partai yang berhaluan islam dapat memenangkan pemilu sehingga Recep Tayyib Erdogan dapat menjadi perdana menteri Turki hingga saat ini.

Seharusnya tokoh Amar adalah tokoh yang menggambarkan bagaimana seorang mahasiswa Indonesia yang melihat perubahan pandangan masyarakat Turki dari sekuler ke islam sebagai sebuah spirit keislaman yang bisa ia bawa ke Indonesia, bukannya menampilkan sinetron pop bertemakan cinta yang sudah banyak membuang waktu masyarakat Indonesia dengan tontotan yang tidak mendidik dan sia-sia.

Rabu, September 14, 2011

aku, kamu, dan Dia

Memimpikanmu itu mungkin saja, namun tampaknya tak semudah mengedipkan mata. Mungkin Tuhan masih menginginkan untuk mendengar keluh kesahku hanya padaNya, ya kepadaNya saja. Maka tak heran kamu masih saja terselubung pekat yang tak kian memudar. Atau malah karena dosa lakuku sehingga kamu semakin menjauh dari indera rasaku. Ah, aku, kamu, dan Dia sepertinya susah berpadu.

Keinginan tiga dzat yang berbeda. Tapi bukankah seluruh keinginanNya tak akan pernah luput ? Entahlah, yang ku harap keinginanNya adalah kebaikan menurut pendapatku dan pendapatNya. Atau haruskah kuserahkan hanya padaNya saja ? Tanpa mengikutsertakan keinginanku yang selalu ku pesan melalui do'a-do'a ? Atau malah aku terus saja melantunkan permintaan-permintaan yang sejatinya Ia sudah ketahui karena Ia Maha Tahu ?

Lalu kamu. Walaupun sampai detik ini aku tak pernah mengenalmu atau tahu siapa itu kamu, namun aku tahu kamu itu ada. Karena aku mendengar detak jantungmu yang berdegup ketika kau pinta aku melalui munajatmu. Aku hanya selalu bertanya dalam lubuk hatiku : Apakah kamu selalu meminta kepadaNya ataukah kau serahkan saja semua padaNya ?