Minggu, Agustus 14, 2011

UL-DAUL

UL-DAUL
UL-DAUL sebenarnya adalah budaya religius sebagian masyarakat madura untuk membangunkan orang-orang untuk meramaikan malam-malam Romadhon. Awalnya sebagian masyarakat menggunakan kentongan yang ditabuh keliling kampung, namun seiring dengan berjalannya zaman, kentongan digantikan dengan alat-alat musik sehingga UL-DAUL sekarang terkenal dengan musik khas asal madura.

UL-DAUL kentongan masih bisa saya dengarkan. Biasanya yang memainkannya adalah sekumpulan anak-anak kecil yang sepertinya tidak mau kalah dengan orang dewasa. Mereka biasanya memainkan musik UL-DAUL kentongannya dari jam 1-3 malam. Jarang saya temukan musik UL-DAUL yang terus main sampai para pendzikir di masjid-masjid mengalunkan sholawat dan ajakan mereka untuk sahur. 


UL-DAUL SARONEN. Sumber : Sampang.web.id
Sayangnya sekarang UL-DAUL hampir tidak bisa dibedakan dengan budaya musik lain yaitu SARONEN yang biasanya dilakukan menjelang pertunjukan kontes SAPEH SONOK (Miss SAPI) atau KARAPAN SAPI. UL-DAUL yang pada awalnya tidak memiliki penari wanita untuk mengiringinya, akhir-akhir ini dalam kontes-kontes yang diadakan pemerintah kabupaten setempat tidak bisa dilepaskan dari para penari wanita yang sejatinya adalah budanya SARONEN yang khas. Akhirnya dalam kontes-kontes tersebut UL-DAUL bukanlah UL-DAUL yang awalnya sangat relegius.

Jumat, Agustus 12, 2011

Da'i Tontonan atau Tuntunan ?



Akhir-akhir ini kita sering melihat dai-dai di berbagai siaran televisi. Berbagai macam gaya mereka lakukan untuk terlihat menarik. Dari yang terlihat kebencong-bencongan sampai berpolah gaya dalang. Pada prinsipnya tidak masalah apapun model para dai itu dalam berdakwah, yang penting materi dan isi dakwahnya harus dapat diterima dan memberikan pencerahan kepada masyarakat luas.

Dakwah adalah salah satu cara untuk menyampaikan ajaran islam. Ia adalah implementasi dari sabda Rasulullah saw. yang menyuruh umatnya untuk menyampaikan ajaran beliau walaupun satu ayat. Namun tentunya pelaku dakwah atau yang selama ini kita kenal dengan istilah dai memerlukan kecakapan khusus. Dari cara orasi sampai isi dan jawaban yang tepat dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pendengar.

Ironisnya, dibalik banyaknya para dai yang kini sering menghiasi acara-acara ditelevisi, tidak semuanya masuk dalam kriteria diatas. Bahkan ada beberapa yang lebih mementingkan intertainmentnya daripada sisi dakwahnya sehingga para dai itu tak ubahnya seperti artis-artis baru namun dengan dilapisi nuasa religius saja. Yang penting mereka berpenampilan ibarat seorang pen-dai ulung, maka seakan-akan mereka adalah dai yang benar-benar dai. padahal ketika telisik isi dari dakwahnya ternyata begitu dangkal dan ketepatan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang diberikan masyarakat sangatlah jauh panggang dari apinya.

Aktivitas dakwah tidak hanya terpaku kepada bagaimana seorang dai itu berorasi di depan audiennya. Lebih dari itu, dakwah adalah proses penyampaian ajaran islam. Maka mutlak adanya kemampuan dai dalam penguasaan ajaran-ajaran islam yang lebih mendalam. Karena dai bukanlah tontonan, ia adalah tuntunan umat dalam pemahaman dan pengamalan ajaran agama islam.

Kesalahan dai sekecil apapun sangat besar dampaknya kepada umat, maka hendaklah orang-orang yang berkeinginan kuat untuk menjadi dai agar selalu berhati-hati dalam menyampaikan fatwanya. Pastikan bahwa apa yang disampaikan adalah kebenaran yang datang dari Allah dan RasulNya sehingga masyarakat dapat berjalan sesuai dengan tuntunan agama yang mulia ini.