Senin, Juli 18, 2011

Aku dan Kamu

Bukankah sudah ku katakan
Jangan pernah pejamkan matamu
Agar dengan nanar kau saksikan
Jutaan keperihan mendalam di mataku

Namun kau tak juga faham apa maksudku
Ditutuplah mata indahmu itu
Padahal tak lebih sedetik aku berseru
Lihatlah ! Perhatikanlah ! Fikirkanlah !

Sepertinya kau tak lagi mendengar
Entah kau tutup dengan apa mata hatimu itu
Hingga telingamu pun tak lagi berfungsi
Perasaanmu juga seakan tumpul mati

Kasih sayangku kau anggap angin belaka
Tak pernah lagi kau pedulikan aku
Baiklah sekarang tunggu pembalasanku
Kehancuran sudah di depan matamu itu.

Senin, Juli 04, 2011

Keseimbangan Alam

Ketika dunia tidak lagi bersahabat, maka kemanusiaan akan terancam. Kepunahan adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi. Ketika tidak ada lagi keperdulian terhadap nilai, maka dunia akan menagih hak-haknya yang telah diabaikan manusia. Dunia ini terdiri dari materi dan ruh. Materi yang diwakili oleh badan dan benda membutuhkan haknya. Begitu juga ruh, haknya adalah nilai-nilai yang ditunaikan.

Keseimbangan antara materi dan ruh akan memperlambat jalan kehancuran. Namun anehnya keseimbangan tidak pernah menjadi prioritas manusia dalam bertingkah laku. Maka tidak heran kenapa terjadi banyak ketimpangan baik itu dalam alam materi ataupun alam ruh. Ketimpangan alam materi bisa kita lihat dari banyaknya kemarahan alam kepada manusia. Longsor, banjir, pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim yang sangat ekstrim terjadi karena alam sudah kehilangan keseimbangannya. Rantai ekosistem yang terputus mengakibatkan beberapa proses hilang sehingga mengakibatkan bencana-bencana tersebut.

Kerusakan alam ruh begitu terasa sehingga manusia sudah tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Timbangan baik buruk yang kini sudah menjadi relatif mengakibatkan manusia berbondong-bondong melegalkan nafsu ambisinya walaupun dengan menganiaya manusia lainnya. Jalan agama yang selama ini menjadi pengawal alam ruh mengalami perusakan dari dalam sehingga bangunannya kini hanya tinggal bungkusnya saja. Ia kini seperti buih di tengah hempasan ombak yang setiap saat bisa menghilangkannya sekejap mata.

Hilangnya keseimbangan adalah bentuk awal dari kehancuran total yang sudah diberitakan oleh para utusan beribu-ribu tahun yang lalu. Herannya manusia seperti tidak perduli dengan apa yang sudah menjadi hakikat ilmiah tersebut. Walaupun dalam banyak kesempatan para ilmuan meramalkan bahwa kehancuran total tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini, namun bukankah seharusnya sejak sekarang kita mencoba untuk memperlambat proses kehancuran total tersebut dengan memberikan alam haknya yang sudah lama kita abaikan.