Minggu, Juni 19, 2011

Rakyat 50 Ribu

Kita ini sedang dipimpin oleh orang-orang buta
Hasil pemilihan umum seharga lima puluh ribu saja
Hingga siapa pun asal berduit pasti jadi raja

Inilah demokrasi gila gaya awut-awutan
Maunya meniru style Amrik
Eh malah lebih parah dari negara-negara Afrika

Akhirnya negara ini tidak jelas juntrungnya mau kemana
Kapitalis setengah-setengah, sosialis pun pura-pura ogah
Apalagi islam, sana-sini banyak yang marah

Makanya negara ini menjadi negara setengah-setengah
Semuanya serba tidak jelas juntrungnya
Karena orang-orangnya pun pada mencla mencle

Kalau ada kasus, baru rame-rame 'sok paling benar' plus ngotot
Padahal rakyatnya sendiri memang murah meriah
Bisa dibeli hanya dengan Rp. 50 ribu , 5 Riyal Saudi, dan 1 Ringgit Malaysia

Jika ada yang mengingatkan pasti jawabannya ini " SOK SUCI LO "
Atau paling banter kena bogem mentah di wajah
Bahkan paling apes bisa mengisi daftar aduan di KONTRAS

Inti puisi ini hanya satu sebenar
Demokrasi itu butuh rakyat yang pintar, bermartabat, dan sadar akan hak dan kewajibannya
Bukan rakyat yang di malay di bilang 'indon', di saudi dianggap 'budak', dan di Indonesia sendiri dianggap '=50 ribu'

Sabtu, Juni 04, 2011

Cinta Selaksa

Entahlah dirimu datang ketika segala sesuatu terasa hampa. Entahlah mungkin ini hanya sekedar luapan hati semata. Namun ketahuilah darah ini seperti mengalir tidak biasa ketika kamu ada. Begitulah aku merasa keberadaanmu ahsa.

Semuanya serba tiba-tiba. Kau datang tanpa ku sangka. Menyapaku mesra dengan senyum merona. Lalu kau anugerahi aku rasa, rasa tak biasa. Meski misteri selalu menyelimuti dada. Walaupun aku selalu bertanya apakah kau juga cinta. Akupun bertanya kepada langit kenapa tak sedari dulu aku yang menyapa.

Manusia hanya bisa berusaha. Ia selalu berucap begitu saja. Yah, Tuhanlah yang mengirimkan cinta, kataku padanya mesra. Aku hanya bisa berdo'a, semoga kita kelak dipertemukan cinta. Ketahuilah wahai ahsa, rasa ini sudah selaksa.