Sabtu, Mei 14, 2011

Kompas berbayar menyusul Jawapos

Sebenarnya bacaan rutin saya setiap hari adalah jawapos, namun karena beberapa bulan lalu jawapos digital berubah menjadi berbayar, maka saya putuskan untuk pindah ke kompas. Kebetulan kompas memiliki banyak pilihan, mulai dari kompas Web, kompas Cetak, sampai kompas ePaper, semuanya gratis. Namun akhirnya satu mei 2011 kompas menyusul jawapos dan memasang harga langganan bagi para pembaca setianya untuk dapat menikmati kompas digital.

Sebenarnya sah-sah saja bagi kompas dan jawapos untuk memasang harga bagi layanannya tersebut. Apalagi kedua koran tersebut adalah koran besar di Indonesia. Apalagi dengan berkembangnya teknologi sehingga orang-orang sudah tidak perlu lagi untuk membeli koran kertas. Bahkan kompas sudah menyediakan fitur khusus untuk iPad dan aplikasi dekstop. Namun jawapon dan kompas sepertinya kurang jeli dalam menilai karakter pembaca internet.

Menurut pengalaman saya sebagai pembaca koran internet, koran digital berbayar seperti kompas dan jawapos sangatlah memberatkan. Pertama karena pelanggan bukan semuanya memiliki profesi dan tentunya memiliki kondisi ekonomi yang beragam, bahkan hemat saya yang lebih banyak mengakses adalah para mahasiswa yang notabene lebih mencari segala hal yang berbau free. Kedua saya melihat bahwa setelah beberapa bulan jawapos menerapkan langganan berbayar, jumlah pelanggannya pun tidak begitu signifikan. Sampai tulisan ini ditulis masih berjumlah 176.315 pelanggan saja.

Dari sini saya mengusulkan kepada jawapos dan kompas agar kembali mengratiskan layanan digitalnya. Bukankah dengan banyaknya kunjungan juga akan menghasilkan keuntungan yang saya kira jauh lebih besar daripada beberapa ribu pelanggan itu. Saya sebagai penikmati koran digital free akan sangat berterimakasih jika hal itu bisa direalisasikan oleh kompas dan jawapos.

Tidak ada komentar: