Rabu, Mei 25, 2011

Arti Ketidakberdayaan

Mungkin sekarang saatnya aku harus melepaskan segala perasaan dan kenangan yang dulu pernah kau torehkan. Karena aku sudah lelah menapakkan kakiku yang mulai merasakan kelumpuhan ini. Sudah beberapa musim aku mencoba untuk berlari dari bayangan rembulan, namun ternyata bulan pun menjelma menjadi mentari yang tak mau melepaskanku barang sekejap.

Sudah lama aku bersembunyi dari kenyataan pahit bahwa engkau sudah menemukan peraduanmu. Namun kau benar-benar membuatku mabuk. Kau menutupi logikaku seperti bulan yang menutupi matahari kala gerhana datang. Kau tak membiarkanku tuk sekedar bertanya mengapa. Aku benar-benar dibuat gila olehmu. Entahlah, apakah kau adalah kemalanganku yang mengantarkanku kepada para penyamun ganas ? Atau malah sebaliknya, engkau adalah malaikat yang menuntunku menuju keabadian cinta ?

Terlepas dari segala macam tafsiran dalam benakku, kau bukanlah orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa diriku sekarang. Aku pun sudah tidak lagi mempersalahkanmu atau Tuhan karena nasib yang mempertemukan kita. Yang ku sesalkan adalah kenyataan bahwa ketidakberdayaan itu benar-benar ada. Ketidakberdayaan untuk memiliki seseorang  yang dicinta ternyata bukan hanya cerita novel atau roman yang sering kita dengar menjelang tidur. Ketidakberdayaan adalah sebuah kenyataan yang paling nyata.

Kau begitu luar biasa mengajariku arti ketidakberdayaan. Kau seakan membangunkanku dari mimpi-mimpi indah yang telah membuat ku buta dan tuli. Jika boleh aku ibaratkan, kau seperti geledek yang mengejutkanku dengan bunyi keras memekakkan telinga itu. Sayangnya, kau tidak hanya membangunkanku tapi juga membuatku terserang penyakit lupa. Aku benar-benar lupa bahwa manusia itu tidak pernah memiliki sayap. Manusia mustahil terbang tanpa sayap kan !!!

Jumat, Mei 20, 2011

Sajak Tak Bertemu

Langitku lautku pekat
Senjaku fajarku merah kehitaman

Kita tak pernah tahu apa arti warna sebenar
Namun tahukah kau yang aku fikirkan ?

Langitmu lautmu bening
Senjamu fajarmu terang berkilauan

Kita sebenarnya tahu apa maksudnya
Namun kau tak pernah mau tahu apa yang ku fikir

Sabtu, Mei 14, 2011

Kompas berbayar menyusul Jawapos

Sebenarnya bacaan rutin saya setiap hari adalah jawapos, namun karena beberapa bulan lalu jawapos digital berubah menjadi berbayar, maka saya putuskan untuk pindah ke kompas. Kebetulan kompas memiliki banyak pilihan, mulai dari kompas Web, kompas Cetak, sampai kompas ePaper, semuanya gratis. Namun akhirnya satu mei 2011 kompas menyusul jawapos dan memasang harga langganan bagi para pembaca setianya untuk dapat menikmati kompas digital.

Sebenarnya sah-sah saja bagi kompas dan jawapos untuk memasang harga bagi layanannya tersebut. Apalagi kedua koran tersebut adalah koran besar di Indonesia. Apalagi dengan berkembangnya teknologi sehingga orang-orang sudah tidak perlu lagi untuk membeli koran kertas. Bahkan kompas sudah menyediakan fitur khusus untuk iPad dan aplikasi dekstop. Namun jawapon dan kompas sepertinya kurang jeli dalam menilai karakter pembaca internet.

Menurut pengalaman saya sebagai pembaca koran internet, koran digital berbayar seperti kompas dan jawapos sangatlah memberatkan. Pertama karena pelanggan bukan semuanya memiliki profesi dan tentunya memiliki kondisi ekonomi yang beragam, bahkan hemat saya yang lebih banyak mengakses adalah para mahasiswa yang notabene lebih mencari segala hal yang berbau free. Kedua saya melihat bahwa setelah beberapa bulan jawapos menerapkan langganan berbayar, jumlah pelanggannya pun tidak begitu signifikan. Sampai tulisan ini ditulis masih berjumlah 176.315 pelanggan saja.

Dari sini saya mengusulkan kepada jawapos dan kompas agar kembali mengratiskan layanan digitalnya. Bukankah dengan banyaknya kunjungan juga akan menghasilkan keuntungan yang saya kira jauh lebih besar daripada beberapa ribu pelanggan itu. Saya sebagai penikmati koran digital free akan sangat berterimakasih jika hal itu bisa direalisasikan oleh kompas dan jawapos.

Jumat, Mei 06, 2011

Umat Islam Indonesia dan Isu Terorisme

Film Hanung Tanda Tanya menjadi bukti kuat bahwa ternyata umat islam Indonesia selalu menjadi tersangka di rumahnya sendiri. Berbagai macam tudingan miring terhadap umat islam seakan tidak berujung. Isu-isu seperti terorisme, intoleransi dan kekerasan selalu dilekatkan kepada umat islam Indonesia.

Terakhir kasus Ahmadiyah dan pengeboman gereja menjadi saksi bisu bagaimana umat islam menjadi bulan-bulanan opini publik. Seakan seluruh umat islam adalah para manusia yang sadis, opini-opini publik tersebut selalu saja mengkambinghitamkan umat islam. Padahal sejarah umat islam Indonesia menceritakan perjuangan heroik dalam kemerdekaan dan pembentukan NKRI ini.

Umat Islam Indonesia dan Isu Terorisme

Isu terorisme di Indonesia tidak akan pernah lepas dari dua tragedi menyedihkan, tepatnya Bom Bali satu di tahun 2002 dan Bom Bali dua di tahun 2005. Dua tragedi terorisme yang sampai saat ini masih misterius karena menyimpan berbagai macam misteri yang belum terungkap sampai sekarang, salah satunya adalah bagaimana seorang teroris bisa mendapat bahan peledak berdaya ledak kuat seperti itu ?

Seharusnya yang paling harus menjadi titik fokus adalah menelisik tentang bagaimana seorang muslim yang seharusnya menjadi rahmat bagi sekalian alam tiba-tiba melakukan hal yang dilarang agama, meledakkan bom bunuh diri sehingga membunuh warga sipil dan muslim. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim bukanlah negara yang dilanda peperangan sehingga konsep jihad dengan melakukan aksi militer yang dielukan para pelaku teror tidak menemukan pembenarannya.

Indonesia bukanlah Irak ataupun Afganistan yang warga negaranya tengah berjuang untuk kemerdekaannya melawan neo imperialisme barat. Indonesia adalah darul islam. Menurut As-Syaukani dalam nailul awtar bahwa darul islam tidak dapat berubah menjadi darul harb hanya karena adanya kemaksiatan-kemaksiatan disana karena itu tidak sesuai dengan ilmu naql dan akal. Rasulullah pun menegaskan bahwa darah dan harta seorang muslim itu diharamkan untuk ditumpahkan. Islam juga sangat melindungi Ahli Dzimmah.

Dalam Hasyiyahnya, Ad-Dasuqi menyatakan bahwa walaupun sebuah negeri islam dikuasai kaum kuffar dengan kekuatan militer, namun ia tetaplah dar islam sampai syariat islam tidak dilaksanakan di dalamnya. Adapun jika syariat islam dilaksanakan atau mayoritas melaksanakannya maka tidak termasuk dar harb.

Disini peran pemerintah sangat diperlukan untuk menyebarkan pemahaman islam yang sesuai dengan tuntunan rasulullah yang mengajarkan bahwa umat islam adalah rahmat bagi sekalian alam. Negara harus mengadakan gerakan islam rahmat bagi sekalian alam karena tentunya sebagai pemegang otoritas negara memiliki kekuataan dan dana untuk hal itu. 

Proyek ini tentunya dengan mengadakan bacaan-bacaan murah namun berkualitas. Karena radikalisme itu muncul karena ketidaktahuan atau kesalahan dalam menerima informasi yang kadang hanya copy paste. Umat islam khususnya pemuda yang memiliki keinginan untuk mendalami agamanya ternyata kebanyakan menjadi sasaran empuk dari radikalisme. Hal ini karena mereka tidak memiliki akses yang baik terhadap informasi yang dapat menuntun mereka menuju sebuah pemahaman yang universal dari islam.

Jadinya informasi-informasi yang kebanyakan mereka dapatkan di internet menjadi bibit radikalisme dalam pemahaman mereka. Karena mereka hanya belajar dari copy paste tanpa ada seorang guru ataupun metode pengajaran yang baik, maka pemahaman mereka rentan salah baik itu karena salah paham atau karena informasi yang terlalu dangkal.

Proyek ini bukanlah proyek baru. Lebih satu dekade ini Mesir sudah melakukan proyek buku murah setiap tahunnya dalam rangka pastisipasi negara untuk mengurangi radikalisasi yang sangat mengakar di Mesir. Proyek buku murah yang dipelopori Suzan Mubarak ini tampaknya membuahkan hasilnya karena semakin sedikit aksi-aksi teror yang terjadi di negeri piramida tersebut.

Maka pemerintah seharusnya cepat dan tanggap dalam menyikapi isu-isu radikalisme, terorisme, dan ekstrimisme ini. Karena hal ini ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak dan berbahaya bagi kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Minggu, Mei 01, 2011

Masyarakat yang Mengambang

Masyarakat yang mengambang adalah cerminan dari sebuah tatanan masyarakat yang tidak mempunyai identitas. Masyarakat yang mudah sekali terombang ambing dalam suasana gemerlap dan gelamour. Masyarakat semacam ini adalah korban dari globalisasi. Masyarakat yang katanya mudah dibeli karena setiap individunya selalu menginginkan keuntungan pribadi.

Berbeda dengan masyarakat yang sudah memiliki akar budaya dan peradaban yang kokoh, masyarakat yang mengambang adalah masyarakat yang sudah kehilangan sejarahnya. Bukan karena tidak memiliki sejarah yang besar namun karena sejarah kebesarannya sudah dilupakan bahkan dijual dengan alasan keuntungan sementara. Masyarakat semacam ini sangatlah malas dan acuh tak acuh untuk menggali dan meneliti sejarah yang pernah dilaluinya.

Jadinya masyarakat semacam ini sangat mudah untuk dikuasai asing. Dengan ketidakacuhannya terhadap sejarahnya, ia telah menempatkan dirinya sendiri pada posisi inferior, lemah dan tidak berdaya terhadap masyarakat lain yang sudah memiliki peradaban maju. Ia akan selalu melihat dirinya sebagai kemunduran dan keterbelakangan. Namun ketika ia melihat masyarakat maju, ia akan menggosok sepatu mereka seakan mereka adalah raja yang pantas dipertuankan.

Lihat saja bagaimana masyarakat maju mempermainkan masyarakat yang mengambang. Bahkan anak cucu masyarakat yang mengambang kelak tidak akan tahu betapa kakek neneknya begitu tidak sadar dengan keadaan yang menimpa mereka. Dengan tanpa disadari, masyarakat maju menguasai sedikit demi sedikit semua sumber kekayaan alam yang seharusnya menjadi warisan turun temurun masyarakat yang mengambang. Namun, kontrak sudah ditandatangani sehingga sampai beberapa dekade, masyarakat mengambang hanya berhak menikmati beberapa persen dari kekayaannya sendiri.

Jika ada isu yang mengganggu proses privatisasi yang sedang atau sudah dilakukan masyarakat maju, sekoyong-koyong media-media dalam masyarakat mengambang akan memblow up isu-isu pengalihan seperti isu terorisme, olahraga, bahkan pernikahan raja dari masyarakat maju. Atau jika perlu, masyarakat maju akan mempromosikan dirinya sebagai pahlawan karena sudah memberikan beasiswa, ikut melestarikan lingkungan dan memberikan lapangan pekerjaan kepada segelintir orang dari ratusan juta orang masyarakat mengambang yang menderita karena pencemaran lingkungan, dan pengangguran.

Namun sayangnya, tidak ada yang peduli dengan masyarakat yang mengambang. Mungkin karena keadaan seperti itu sangat menguntungkan. Bagi penguasa untuk terus mempertahankan kekuasaannya, juga bagi masyarakat maju yang tidak pernah puas kecuali sudah menghisap habis madu dari perut bumi masyarakat mengambang.

Rasionalkah ?

Nyatanya bahwa masyarakat yang mengambang adalah masyarakat rasional yang irasional. Karena mereka hanya memandang sesuatu bukan dari fungsinya tapi dari gaya dan ke pop-annya. Segala sesuatu yang sedang trend adalah alasan untuk mengkonsumsinya walaupun sesuatu itu jauh dari kualitas yang sebenarnya. Kata-kata gaul, mode, trend dan style tidak pernah terlepas dari masyarakat mengambang.

Sebenarnya mereka tahu bahwa apa yang mereka beli di mall tidak lebih bagus dari apa yang mereka temukan di pasar-pasar tradisional, namun anehnya karena gengsi mereka lebih memilih untuk menghabiskan uangnya di mall. Bahkan bila perlu mereka rela untuk membayar sepuluh kali harga kopi warkop untuk secangkir kopi yang katanya berbrand.

Iklan adalah sarana paling ampuh untuk menggiring masyarakat yang mengambang pada budaya konsumtif. Namun karena masyarakat yang mengambang tidak pernah sadar dengan keadaan yang sedang menimpanya, maka mereka tidak tahu apa yang memang kebutuhannya dan apa yang bukan. Akhirnya apa yang tidak diperlukan diada-adakan untuk menjadi keperluan sehingga keuntungan semakin berlipat-lipat dan masyarakat maju dengan senang berlari kencang meninggalkan masyarakat yang mengambang sedang bingung tak tahu arah.