Minggu, April 17, 2011

4 Bentuk Penyelewengan Dalam Islam

Jika kita menelusur macam penyelewengan dalam ajaran islam, maka kita akan dipertemukan dengan 4 peristilahan yang sangat populer di dalam sejarah agama islam. 4 peristilahan itu adalah Bid'ah, Zindik, Ghuluw dan Murtad. Dalam tulisan ini penulis hendak memaparkan secara singkat namun padat tentang gambaran umum dari keempat peristilahan tersebut.

1. Bid'ah

Bid'ah dalam kamus Al-Muhith didefinisikan dengan Mengadakan (sesuatu yang baru) di dalam agama yang telah sempurna atau Apa yang diadakan setelah (wafatnya) Nabi Muhammad Saw baik itu berupa hal-hal yang (didasarkan pada) hawa nafsu dan perbuat-perbuatan (baru). Kata bid'ah digunakan dengan berbagai macam peristilihan yang berbeda hingga cenderung bertolakbelakang. Maka dari itu Bid'ah tidak bisa disamakan dengan Heresy dalam peristilahan gereja yang dalam Bahasa Indonesia juga diartikan dengan bidaah.

Bid'ah dibagi menjadi 2, Baik dan buruk. Bid'ah yang buruk adalah segala sesuatu keburukan yang baru. Maka berdasarkan pembagian diatas dapat disimpulkan bahwa Bid'ah yang baik adalah apa yang sesuai dengan dengan sunnah atau paling tidak, tidak bertentangan dengan sunnah. Adapun Bid'ah yang buruk adalah yang berlawanan dan bertentangan dengan sunnah.

Namun beberapa kelompok aliran dalam islam ada yang menentang segala macam bentuk bid'ah dan menganggap sebagai Bid'ah segala sesuatu yang tidak dapat ditunjukkan dalilnya bahwa itu adalah pendapat atau pekerjaaan yang ada dan dilakukan pada masa Rasulullah Saw. Namun kelompok ini masih membedakan antara Bid'ah dan kekafiran. Bid'ah menurut mereka bukan sebuah keingkaran yang disengaja dan bertentangan dengan pokok ajaran islam.

Hanabilah, pengikut Imam Ahmad bin Hanbal (W. 855 M) merupakan penentang utama segala macam bentuk Bid'ah. Mereka juga menentang segala macam bentuk penyucian berlebihan terhadap para Nabi dan Wali dan menganggap hal itu bertentangan dengan islam. Namun realitanya, umat islam secara umum menerima bentuk pemahaman itu ( menyucikan para Nabi dan Wali ) walaupun dengan penuh kehati-hatian.

Pada abad 14 M. seorang Ibnu Taimiyah (W. 1328 M) menentang dengan keras ajaran filsafat dan tasawuf. Ajaran ini kemudian semakin berkembang di abad 18 yang dipelopori oleh gerakan wahaby yang sampai sekarang masih menjadi kekuatan besar di Semenanjung Arabia.

2. Zindik

Definisi Zindik hampir menyerupai arti Heresy dalam pemahaman Nashrani. Berbeda dengan Bid'ah, Zindik merupakan bentuk keberagamaan yang tidak dapat diterima. Namun, tidak sepenuhnya benar jika kita menganggap kata Zindik merupakan padanan dari Heresy. Karena kadang kata zindik disematkan bagi orang-orang yang memiliki pemikiran bebas.

Zindik juga dialamatkan kepada orang-orang yang keluar dari jalur agama karena penafsiran mereka terhadap agama dapat membahayakan pemerintahan (islam). Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa definisi Zindik sendiri, sama seperti Bid'ah, memiliki banyak perbedaan arti.

Dalam Turast sastra disebutkan tiga orang ahli Zindik yaitu : Ibnu Ruwandy ( W. 860 M ), Abu Hayyan At-Tauhidy (W. 1010 M), dan Abul Ala' Al-Ma'arry (W. 1058 M ). Pembagian ini merujuk kepada seorang sejarawan pada awal masa islam yaitu Ibnul Jauzy (W. 1200 M ) yang menambahkan di dalam pendefinisiannya bahwa yang paling jelek di antara ketiganya adalah Abu hayyan At-Tauhidy karena dia tidak mengungkapkan maksudnya secara jelas/gambang. Namun, definisi Ibnul Jauzi tentang zindik tersebut akhir-akhir ini mendapat kritikan yang sangat keras.

Para Ahli Fiqh memaknai zindik adalah mencela dan mengejek Nabi Saw. Akhir-akhir ini para ahli tasawuf muslim dianggap sebagai para zindik karena beberapa sebab diantaranya adalah racauan mereka yang mengindikasikan hulul, atau wahdat al-wujud, juga karena beberapa ajaran mereka yang bertentangan dengan ajaran islam.

Abu Hamid Al-Ghazali memasukkan golongan Dahriyyah sebagai golongan zindik. Dalam hal ini beliau berkata di dalam bukunya Al-Munqiz Minadh-Dholal : Dahriyyah adalah golongan terdahulu yang mengingkari Sang Pencipta dan Pengatur, Yang Maha mengetahui dan Berkuasa, Mereka beranggapan bahwa alam ada dengan sendirinya tanpa adanya seorang pencipta, hewanpun dari dulu terbuat dari air mani, dan air mani itu dari hewan, begitulah sejak dahulu dan yang akan datang selamanya. Mereka itulah para ahli Zindik.

Dini kita dapat menambahkan bahwa kritik yang ditudingkan kepada ahli Zindik adalah lebih kepada cara fikir dan ungkap mereka yang tidak jelas dari pada kepada maksud tujuan mereka sebenarnya. Maka tidak heran jika kita jarang menemukan mereka yang secara jelas menafikan ketuhanan.

Oleh karena itu defisini Zindik dianggap sebagai 'mantel longgar' yang dipakaikan kepada 'seluruh pemikiran-pemikiran bebas orang-orang yang tidak mengikuti arus besar pemikiran umum". Maka dari itu Junaid, Seorang sufi yang moderat, berkata bahwa tidak ada seorang manusiapun yang sudah mencapai derajat hakikat kecuali seribu temannya akan menganggapnya sebagai zinndik.

3. Ghuluw

Ghuluw dapat didefinisikan sebagai berlebih-lebihan. Orang-orang yang melakukannya disebut Ghulat yaitu orang-orang yang berlebih-lebihan dan melewati batas logika, khususnya dalam pengkultusan orang-orang tertentu. Juga dapat dianggap sebagai Ghulat orang-orang yang memiliki keyakinan tentang hulul dan reingkarnasi yang sama sekali tidak dikenal di dalam islam.

Secara khusus, dapat juga dimasukkan dalam golongan Ghulat, sebagian golongan syi'ah yang menuhankan imam-imam mereka dan menafsirkan Al-Qur'an dengan tafsiran batiny. Golongan ekstrim ini, menurut syi'ah mayoritas, termasuk ahli Zindik.

4. Murtad (Riddah)

Murtad (Riddah) dalam Mu'jam Al-Wasith diartikan dengan : Kafir setelah Islam. Kata itu disematkan juga kepada sebagian kabilah Arab yang keluar dari islam setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Murtad dapat terjadi dengan perkataan, contohnya jika ada seseorang yang mengingkari salah satu pokok akidah islam. Atau dapat terjadi dengan perbuatan, seperti seseorang yang dengan sengaja menghina al-Quran.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

membaca seluruh blog, cukup bagus