Sabtu, April 30, 2011

Manusia dalam Realita Kita

Sebuah pemikiran seharusnya tidak boleh jauh dari realita. Karena alam realita adalah sebuah ukuran apakah pemikiran itu membumi atau melangit. Kadang kita terlalu banyak menghafalkan banyak teori yang ternyata jika dibenturkan pada kehidupan nyata akan membuat sebuah kerusakan yang sangat dahsyat.

Contohnya saja jika kita berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu akan berjalan sesuai dengan jalannya masing-masing tanpa melihat realita yang berbicara bahwa banyak sekali penyimpangan yang sudah berlaku. Keyakinan akan kebenaran asumsi tersebut akan membutakan mata kita untuk merubahnya karena kita hanya berfikir secara "murni/pure".

Berfikir secara idealis tanpa melihat kenyataan adalah sebuah kekalahan getir yang begitu menyakitkan. Karena mungkin dilihat dari bungkus, apa yang kita fikirkan itu adalah sesuatu yang bagus dan bermanfaat meskipun sebenarnya itu adalah bom waktu yang setiap saat dapat mengantarkan jutaan manusia pada kerusakan.

Maka seharusnya kita dapat mengambil sebuah manfaat dari kejadian-kejadian yang sudah berlalu sehingga kekalahan-kekalahan pahit tersebut tidak terulang untuk kesekian kalinya. Alam dan fenomena-fenomena kejadian yang sudah terekam dalam sejarah umat manusia seharusnya menjadi tolak ukur fikir, laku dan sikap setiap dari kita.

Sejarah tentunya akan kembali berulang karena manusia tidak pernah berubah. Sifat dan cara manusia hidup adalah sifat dan cara manusia hidup beberapa ribu tahun yang lalu. Secara dzat manusia adalah manusia yang sama. Maka sejarah bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya seharusnya menjadi perhatian serius setiap dari kita. 

Secara naluriah manusia akan mempertahankan eksistensi dirinya. Tentunya sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain, manusia akan mengambil langkah aman dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan melakukan praktek-praktek kelenturan agar dia dapat melakukan apa yang dia inginkan tanpa ada orang merasa terganggu, ataupun jika ada yang merasa terganggu akan dapat memaklumi apa yang ia lakukan.

Inilah realita manusia yang sedang kita hadapi. Maka nampaknya kecurigaan tidak akan dapat dipisahkan dari asumsi karena realita tak semanis apa yang kita pelajari dulu di kuliah. Maka sangatlah salah jika sekonyong-konyong kita lantas menyimpulkan jika manusia-manusia yang kita lihat sekarang adalah manusia yang masih memiliki rasa kemanusiaan. Karena pergerakan zaman ternyata mewartakan bahwa manusia-manusia yang sedang berada diskeliling kita adalah manusia-manusia yang liar. Lalu apakah kita masih berfikir bahwa kehidupan akan berjalan seperti apa yang kita fikirkan?

Rabu, April 27, 2011

Our Leisure Class


There is a profession which hasn't the meaning of work, the celebrity. "My dream is being a celebrity." A beautiful young lady said. The television always tells that she is a celebrity so that she is being a celebrity.

The case is same as to be a humanist. That term is rather more aimed to describe the unreal world which is ideal, has everything, and no need to work. It is different for example from being a designer which means to make designs, being an insurance officer which has to serve clients who sometimes annoy, being a sweeper which means to sweep, and the others. Being a celebrity or other types of works which haven't work connotation is more dreamed.

Especially for a nation which skipped development phases of civilizations. You can imagine that without ushering in the enlightenment demonstrating intelligences and thought, and continued by industrial revolution promoting efficiency and utility, suddenly the nation enters the consumption era. So, who has opportunities to have everything without working can show off their wealth.

Whereas who hasn't opportunities only can sit down in front of the television, be stunned by highlights of the material objects, and wait for miracle to be rich unexpectedly. Everything must be glorious inasmuch as poor quality one will be liked. These are what should make critics accept the reason why almost our TV programs are crash.

The critique for that banal culture had long existed. Thorstein Veblen wrote a book, The Theory of the Leisure Class (First published in 1953), which became a reference to all who interested in educated class behaviors. In that book Veblen confirmed that his hidden meaning of the word leisure class is to waste time.

He tracked to the roots. As from ancient time, the birth of leisure class was coincided with the matter of the ownership in economic history. In the Dark Age, the ownership was begun with women, who generally were war booty. From the ownership of women, gradual evolution happened until the ownership of industrial productions.

We should see within contexts when Veblen wrote his book in that time. He was attracting his attention to the appearance of a new class in America, nouveau riche, which he thought that was not consistent in the need of modern society productivities. The new social class was the predator of luxurious things, and the high life style. So he used the term conspicuous leisure –low productivity–.

Those mentioned above are happening around us. The ruling class, whom we strongly doubt that they have high productivity, are showing off bluntly their worth. They have elegant clothes, dinner jackets notwithstanding in the tropical country, self-winding watches, and diamond rings. From whom we suspected strongly that he is a corruptor up to who was exposed as a corruptor, all of them show up on the television in luxury.

All of those are the very antithesis of productivities. The more you see the elegance of the leisure class; actually it means the more difficult life to people. As you know that bumpy roads are everywhere, schools are dilapidated, and the poverty of little people is reflected badly on their ghosts who appear in movie theaters. Kuntilanak lives in trees, pocong hides behind the hospital, jelangkung walks around everywhere because he hasn't enough costs.


Written by : Bre Redana
Source : Kompas
Edition : Minggu, 24 April 2011
Transtalor : HFZ

Jumat, April 22, 2011

Committing Suicide is Far From Islam

 
General Head of Muhammadiyah Headquarters, Din Syamsuddin, suggested Moslems not to be influenced in ideologies which deviated, especially to commit suicide with the motivation to enter paradise, as happened in Cirebon West Java, last week.

According to Din, to Commit Suicide is only a clear manifestation from losing hope, and being far away from Islamic teachings.

"Islam forbids its believers to commit suicide because it is only a clear manifestation from losing hope in dialogues with Allah. Were it to happen like this, the paradise wouldn't be gotten, but hell would," Said Din on Thursday (19/4) in Yogyakarta.

Suicide committed at Adz-dzikro mosque at Cirebon police headquarters, according to him, was a rash action. Moreover, that also harmed others having jum'at prayer.

Therefore, Muhammadiyah as a socio-religious organization puts pressures on the government and state police to investigate the case completely.

At Bogor Palace, the Coordinator Minister of Security, Law, and Politic, Djoko Suyanto, Said that although mentioned as a new player, Muhammad Syarif Astanagarif (32) was impossible to take his action alone.

"The Government strongly believes that there is a network behind him. Now, Police are working hard on finding relations, what is his network, who is his friends, and how the link with others is" he said.

In Jakarta, The Leader of Polri General Information Bureau, Brigjen (Pol) Ketut Untung Yoga Ana, said that police find a handwriting which is expectedly written by syarif. it states that he wants to die heroically. " Insya Allah under Allah's permission, I really really want to die in action, not because i want to be called as an islamic fighter, but the shahid noble adheres closely in my hearth." That writing was found at the back cover of book Jihad di Asia Tengah, Perang Akhir Jaman--which is confiscated from police raid at Syarif's wife's home-- written by Sheikh Abu Mus'ab As-Suri. 

Being Searched

The day before In Cirebon, police searched Basuki's home, Syarif's little brother, in Trusmi Wetan Village. From that home, police successfully gathered some evidences connected to a suicide bomber done by Syarif. Those proofs, such as fragments of digital video disks, sheets of copied speech documents, some books about Jihad, and photos of jihad trainings, were saved in six brown envelopes.

The Chief of RT 13 RW 4 Trusmi Wetan, Siti Tutasih (36), said that police did not collect explosive materials.


Source:http://nasional.kompas.com/read/2011/04/20/04542153/Bunuh.Diri.Jauh.dari.Nilai.Islam
Translator: HFZ

Minggu, April 17, 2011

4 Bentuk Penyelewengan Dalam Islam

Jika kita menelusur macam penyelewengan dalam ajaran islam, maka kita akan dipertemukan dengan 4 peristilahan yang sangat populer di dalam sejarah agama islam. 4 peristilahan itu adalah Bid'ah, Zindik, Ghuluw dan Murtad. Dalam tulisan ini penulis hendak memaparkan secara singkat namun padat tentang gambaran umum dari keempat peristilahan tersebut.

1. Bid'ah

Bid'ah dalam kamus Al-Muhith didefinisikan dengan Mengadakan (sesuatu yang baru) di dalam agama yang telah sempurna atau Apa yang diadakan setelah (wafatnya) Nabi Muhammad Saw baik itu berupa hal-hal yang (didasarkan pada) hawa nafsu dan perbuat-perbuatan (baru). Kata bid'ah digunakan dengan berbagai macam peristilihan yang berbeda hingga cenderung bertolakbelakang. Maka dari itu Bid'ah tidak bisa disamakan dengan Heresy dalam peristilahan gereja yang dalam Bahasa Indonesia juga diartikan dengan bidaah.

Bid'ah dibagi menjadi 2, Baik dan buruk. Bid'ah yang buruk adalah segala sesuatu keburukan yang baru. Maka berdasarkan pembagian diatas dapat disimpulkan bahwa Bid'ah yang baik adalah apa yang sesuai dengan dengan sunnah atau paling tidak, tidak bertentangan dengan sunnah. Adapun Bid'ah yang buruk adalah yang berlawanan dan bertentangan dengan sunnah.

Namun beberapa kelompok aliran dalam islam ada yang menentang segala macam bentuk bid'ah dan menganggap sebagai Bid'ah segala sesuatu yang tidak dapat ditunjukkan dalilnya bahwa itu adalah pendapat atau pekerjaaan yang ada dan dilakukan pada masa Rasulullah Saw. Namun kelompok ini masih membedakan antara Bid'ah dan kekafiran. Bid'ah menurut mereka bukan sebuah keingkaran yang disengaja dan bertentangan dengan pokok ajaran islam.

Hanabilah, pengikut Imam Ahmad bin Hanbal (W. 855 M) merupakan penentang utama segala macam bentuk Bid'ah. Mereka juga menentang segala macam bentuk penyucian berlebihan terhadap para Nabi dan Wali dan menganggap hal itu bertentangan dengan islam. Namun realitanya, umat islam secara umum menerima bentuk pemahaman itu ( menyucikan para Nabi dan Wali ) walaupun dengan penuh kehati-hatian.

Pada abad 14 M. seorang Ibnu Taimiyah (W. 1328 M) menentang dengan keras ajaran filsafat dan tasawuf. Ajaran ini kemudian semakin berkembang di abad 18 yang dipelopori oleh gerakan wahaby yang sampai sekarang masih menjadi kekuatan besar di Semenanjung Arabia.

2. Zindik

Definisi Zindik hampir menyerupai arti Heresy dalam pemahaman Nashrani. Berbeda dengan Bid'ah, Zindik merupakan bentuk keberagamaan yang tidak dapat diterima. Namun, tidak sepenuhnya benar jika kita menganggap kata Zindik merupakan padanan dari Heresy. Karena kadang kata zindik disematkan bagi orang-orang yang memiliki pemikiran bebas.

Zindik juga dialamatkan kepada orang-orang yang keluar dari jalur agama karena penafsiran mereka terhadap agama dapat membahayakan pemerintahan (islam). Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa definisi Zindik sendiri, sama seperti Bid'ah, memiliki banyak perbedaan arti.

Dalam Turast sastra disebutkan tiga orang ahli Zindik yaitu : Ibnu Ruwandy ( W. 860 M ), Abu Hayyan At-Tauhidy (W. 1010 M), dan Abul Ala' Al-Ma'arry (W. 1058 M ). Pembagian ini merujuk kepada seorang sejarawan pada awal masa islam yaitu Ibnul Jauzy (W. 1200 M ) yang menambahkan di dalam pendefinisiannya bahwa yang paling jelek di antara ketiganya adalah Abu hayyan At-Tauhidy karena dia tidak mengungkapkan maksudnya secara jelas/gambang. Namun, definisi Ibnul Jauzi tentang zindik tersebut akhir-akhir ini mendapat kritikan yang sangat keras.

Para Ahli Fiqh memaknai zindik adalah mencela dan mengejek Nabi Saw. Akhir-akhir ini para ahli tasawuf muslim dianggap sebagai para zindik karena beberapa sebab diantaranya adalah racauan mereka yang mengindikasikan hulul, atau wahdat al-wujud, juga karena beberapa ajaran mereka yang bertentangan dengan ajaran islam.

Abu Hamid Al-Ghazali memasukkan golongan Dahriyyah sebagai golongan zindik. Dalam hal ini beliau berkata di dalam bukunya Al-Munqiz Minadh-Dholal : Dahriyyah adalah golongan terdahulu yang mengingkari Sang Pencipta dan Pengatur, Yang Maha mengetahui dan Berkuasa, Mereka beranggapan bahwa alam ada dengan sendirinya tanpa adanya seorang pencipta, hewanpun dari dulu terbuat dari air mani, dan air mani itu dari hewan, begitulah sejak dahulu dan yang akan datang selamanya. Mereka itulah para ahli Zindik.

Dini kita dapat menambahkan bahwa kritik yang ditudingkan kepada ahli Zindik adalah lebih kepada cara fikir dan ungkap mereka yang tidak jelas dari pada kepada maksud tujuan mereka sebenarnya. Maka tidak heran jika kita jarang menemukan mereka yang secara jelas menafikan ketuhanan.

Oleh karena itu defisini Zindik dianggap sebagai 'mantel longgar' yang dipakaikan kepada 'seluruh pemikiran-pemikiran bebas orang-orang yang tidak mengikuti arus besar pemikiran umum". Maka dari itu Junaid, Seorang sufi yang moderat, berkata bahwa tidak ada seorang manusiapun yang sudah mencapai derajat hakikat kecuali seribu temannya akan menganggapnya sebagai zinndik.

3. Ghuluw

Ghuluw dapat didefinisikan sebagai berlebih-lebihan. Orang-orang yang melakukannya disebut Ghulat yaitu orang-orang yang berlebih-lebihan dan melewati batas logika, khususnya dalam pengkultusan orang-orang tertentu. Juga dapat dianggap sebagai Ghulat orang-orang yang memiliki keyakinan tentang hulul dan reingkarnasi yang sama sekali tidak dikenal di dalam islam.

Secara khusus, dapat juga dimasukkan dalam golongan Ghulat, sebagian golongan syi'ah yang menuhankan imam-imam mereka dan menafsirkan Al-Qur'an dengan tafsiran batiny. Golongan ekstrim ini, menurut syi'ah mayoritas, termasuk ahli Zindik.

4. Murtad (Riddah)

Murtad (Riddah) dalam Mu'jam Al-Wasith diartikan dengan : Kafir setelah Islam. Kata itu disematkan juga kepada sebagian kabilah Arab yang keluar dari islam setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Murtad dapat terjadi dengan perkataan, contohnya jika ada seseorang yang mengingkari salah satu pokok akidah islam. Atau dapat terjadi dengan perbuatan, seperti seseorang yang dengan sengaja menghina al-Quran.