Minggu, Februari 27, 2011

Pare, Singing at Bali House

Cerita saya kali ini adalah tentang Pare, kota yang terkenal dengan kampoeng inggrisnya. Ya, sudah hampir dua bulan saya menghabiskan waktu di Pare untuk belajar bahasa Inggris. Meski agak terlambat, tapi better late than none kan ? Ilmu itu tidak mengenal usia katanya. Sebenarnya saya mau bercerita tentang rumah kos saya yang kebetulan bersebelahan dengan tempat kursus bahasa arab, namun sepertinya cerita tentang tempat kos saya itu lebih bagus jika ditulis di judul yang berbeda.

Sebenarnya rencana saya ke Pare ini sudah agak lama, tapi baru terlaksana di awal Januari 2011 lalu. Setelah bertanya kesana-kemari mencari informasi tentang Pare, akhirnya saya memutuskan untuk datang ke Pare. Pada umumnya, semua kursusan di Pare ini membuka programnya dua kali sebulan antara tanggal 10 dan 25. Jadi orang-orang yang berminat untuk kursus di pare lebih baik datang sebelum dua tanggal itu agar tidak kehabisan kuota. Pernah kejadian seorang bapak dengan anak gadisnya yang terpaksa harus kembali lagi ke rumahnya gara-gara terlambat satu hari dari masa pendaftaran itu.

Untungnya bapak itu bertemu saya yang akhirnya menunjukkan satu tempat kursus yang masih ada kuotanya. Namun sayangnya setelah berkeliling berapa jam bapak itu tidak menemukan rumah kos buat sang putri. Akhirnya sang bapak yang malang memutuskan untuk pulang saja. Padahal bulan-bulan Januari-Februari bukan bulan liburan panjang, tapi seperti kata teman-teman Pare never end, soalnya setiap bulannya pasti banyak pendatang baru yang mengunjungi Pare untuk sekedar kursus beberapa minggu.

Selama di Pare saya baru mengambil 4 program. Terakhir saya masuk program Grammar Speaking. Awalnya saya tidak menyangka kalau tutornya baru lulus sma, tapi saya agak lega karena sang tutor ternyata pernah satu tahun di USA untuk mengikuti pertukaran pelajar. Bagus juga diajar anak yang umurnya jauh di atas kita. Agak lucu tapi menarik juga. Untungnya teman-teman yang lain enjoy dan menikmati pelajaran yang diberikan sang tutor cilik. 
Foto bersama di kelas Grammar Speaking.

Program Grammar Speaking itu untuk memperbaiki grammar kita dalam percakapan. Meski sang tutor selalu mengkritik saya tentang prononciation yang selalu kurang tepat, namun keadaan kelas selalu ceria dan sesekali diiringi canda tawa. Progam ini hanya berdurasi 2 minggu. Hari aktif sebanyak 8 hari dengan dua kali pertemuan setiap harinya. Setiap pertemuan berdurasi 1,5 jam sudah cukup membuat kepala kita senat senut karena kecapaian.
Sebelum program selesai, kita mengadakan farewell party di Bali House, sebuah cafe yang menyediakan fasilitas karaoke di Jl. Anyelir. Lumayan juga untuk menumpahkan segala macam ketegangan syaraf akibat terlalu banyak progam kursusan. Waktu itu kita menyewa untuk 1 jam khusus bernyanyi dengan bahasa Inggris, jadi sekalian refreshing juga plus kelas tambahan.


Singing at Bali House
Meski lagu-lagu yang tersedia sangat lawas plus kuno, namun kita sangat menikmati malam itu. Saya sendiri sempat menyanyikan beberapa lagu seperti lagu Please Forgive Me-nya Bryan Adams dan lagu lainnya milik Weslife dan Backstreet Boys. Tapi meski lagu lawas, lagu-lagu itu ternyata sangat mudah dinyanyikan karena sudah lama dikenal dan didengar, apalagi sambil menghayati arti dari setiap lirik yang sangat dahsyat.

Akhirnya kita akhiri farewell party malam itu dengan berfoto ria untuk mengabadikan kenangan yang tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya, karena setelah malam itu, kita akan berpisah dan kembali pada aktivitas masing-masing di cerita kehidupannya masing-masing. Thanks guys ...

At Bali House.

Kamis, Februari 24, 2011

Ahmadiyah Dalam Sorotan


Kekerasan dalam bentuk apapun merupakan suatu hal yang sangat tercela. Apalagi jika bentuk kekerasannya adalah kekerasan karena latar belakang agama. Tentunya jika kita menelaah setiap ajaran dari agama, pastilah tidak akan ditemukan titah-titah tentang kekerasan. Namun kenapa kenyataannya banyak pemeluk agama yang melakukan kekerasan ?

Meski realita terakhir yang hadir di depan mata kita adalah kekerasan yang dilakukan umat beragama, tepatnya kasus pembunuhan 3 jemaat Ahmadiyah di Pandeglang Banten dan kasus pembakaran 3 gereja di Temanggung, namun alangkah bijaknya jika kita tidak langsung mengambil kesimpulan bahwa pemeluk agama adalah makhluk brutal dan sadis, atau bahkan menyimpulkan bahwa agama adalah biang keladi dari semua kekacauan tersebut.

Teori yang paling mudah untuk memahami setiap kejadian adalah teori sebab akibat. Tidak ada asap tanpa ada api, tidak ada hujan tanpa awan, begitu kira-kira deskripsi logisnya tentang teori tersebut. Nah, jika kita coba untuk menghubungkan antara dua kejadian di atas dengan teori tersebut maka sudah pasti kita dipertemukan dengan sebuah kesimpulan bahwa kekerasan yang telah terjadi tersebut tentu saja memiliki latar belakang permasalahan.

Maka tidak adil jika selalu hasil yang digembar-gemborkan tanpa menyertakan proses dan sebab dari hasil tersebut. Semua agama tentunya selalu mengajarkan toleransi, kasih sayang dan anti kekerasan kepada seluruh pemeluknya. Maka perlu dibedakan antara para pemeluk agama yang melakukan penyimpangan terhadap ajaran agamanya dan ajaran agama itu sendiri. Tentunya perilaku oknum dari pemeluk agama tidak dapat digeneralisasikan menjadi laku seluruh pemeluk agama tertentu.

Ahmadiyah Sebagai Agama ?

Banyak opsi yang sudah ditawarkan untuk meredam konfik Ahmadiyah. Salah satunya adalah opsi memposisikan Ahmadiyah sebagai agama baru di Indonesia. Opsi ini sepintas terlihat sangat tidak masuk akal, namun ketika kita mencoba kembali meneliti inti dari ajaran Ahmadiyah yang jelas-jelas mendeklarasikan seorang nabi yaitu Mirza Ghulam Ahmad dan sebuah kitab suci yang bernama tadzkirah sebagai dua 'pembeda' mereka dengan umat islam, maka hemat penulis opsi tersebut sangatlah tepat.

Permasalahannya adalah Jemaat Ahmadiyah masih bersikukuh menganggap ajarannya tersebut adalah bagian dari islam. Padahal sudah menjadi kesepakatan para ulama sejak munculnya Ahmadiyah yang kemudian ditegaskan lagi oleh fatwa MUI terkait Ahmadiyah bahwa ajaran Ahmadiyah adalah ajaran yang melenceng dari pokok ajaran Islam plus SKB menteri terkait Ahmadiyah yang melarang Ahmadiyah untuk beribadah dihadapan publik dan menyebarkan ajarannya.

Lalu ketika Jemaat Ahmadiyah masih keras kepala dan mencoba memprovokasi masyarakat dengan tetap melakukan aktivitasnya di hadapan publik, maka konflik horizontal antara Jemaat Ahmadiyah dan para penentangnya tak bisa terhindarkan. Dalam posisi ini kedua belah pihak dapat dipersalahkan. Bagi Jemaat Ahmadiyah, adalah kesalahan melakukan provokasi, bagi kelompok penyerang adalah kesalahan menggunakan kekerasan yang sangat dicela oleh ajaran agama.

Satu hal yang harus menjadi kesepakatan umum bahwa para Jemaat Ahmadiyah adalah salah satu dari unsur bangsa Indonesia yang harus mendapat perlakuan yang sama dengan unsur-unsur masyarakat lainnya. Nah, perlakuan yang sama tersebut termasuk hak berkeyakinan yang diatur oleh UUD 45 pasal 29.

Kebebasan berkeyakinan tersebut tentunya tidak bebas begitu saja. Karena kebebasan satu pihak pasti dibatasi oleh kebebasan pihak lainnya. Dalam hal ini kebebasan Ahmadiyah dalam memeluk keyakinannya dibatasi oleh kebebasan berkeyakinan yang dipeluk oleh para penentangnya.

Konflik utama dalam kasus Ahmadiyah adalah anggapan penentang Ahmadiyah bahwa ajaran Ahmadiyah bukan hanya sesat namun lebih dari itu, bahwa Ajaran Ahmadiyah sangat menodai ajaran islam secara benderang dan lucunya mereka masih mengaku sebagai bagian dari umat islam. Hal itu sama halnya dengan seorang atheis yang mengatakan ia bertuhan dihadapan khalayak ramai yang sudah tahu kalau dia adalah seorang atheis.

Keadaan semacam ini diperburuk lagi dengan sokongan beberapa aktivis liberal-pluraris yang memancing di air keruh. Jika saja para aktivis itu tidak memanas-manasi Jemaat Ahmadiyah untuk tetap kukuh dengan anggapan mereka bahwa meraka adalah muslim, tentunya keadaan tidak akan serumit ini.

Perlu adanya kelapangan dada dari Jemaat Ahmadiyah dan para penyokongnya untuk mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai agama baru di Indonesia. Jika melihat posisi Ahmadiyah yang semakin terpojokkan, maka opsi tersebut seharusnya menjadi opsi utama agar konflik horizontal yang kerap terjadi dapat diminimalisir. Nah, sekarang yang menjadi tanda tanya besar adalah apakah Ahmadiyah dan para penyokongnya dapat menerima itu semua ?

Pastinya apa yang sudah diterapkan di Pakistan sebagai induk dari Ahmadiyah harus dipertimbangkan dan dijadikan tolak ukur. Sejak 1974 Ahmadiyah sudah dideklarasikan sebagai minoritas non-muslim di Pakistan. Jika memang Ahmadiyah dan para penyokongnya memiliki itikad yang baik, sebaiknya langkah Ahmadiyah Pakistan secepatnya ditiru sebelum konflik semakin membesar dan melebar.

Pare, 24 Februari 2011