Rabu, Januari 26, 2011

Negeri Tanpa Partai Politik

Tentunya yang diharapkan semua generasi muda saat ini adalah perubahan yang nyata. Bukan hanya omong kosong dan janji-janji palsu yang mungkin dahulu bisa dengan mudah memperdaya generasi-generasi di atas kita. Namun zaman sekarang sudah berubah. Era keterbukaan sudah menjadi type generasi muda saat ini. Lalu kenapa sampai tulisan ini ditorehkan, masih saja keadaan bangsa ini tidak berinjak dari keterpurukan ?

Mungkin saya termasuk generasi muda yang sangat marah dengan keadaan yang sedang terjadi sekarang. Nyatanya, krisis multi dimensi masih melanda negeri tercinta ini. Pasca reformasi, KKN  masih saja menggurita dan tetap tak tergoyahkan sehingga masih menjadi ‘budaya’ yang sulit dihilangkan. Kalau di rezim orde baru cara yang digunakan untuk melanggengkan kekuasaan adalah dengan kediktatoran, di rezim sekarang ini yang terjadi adalah soft diktator yaitu dengan membagi-bagikan kekuasaan kepada lawan politik. Istilah politik ‘bagi kue’ yang terkesan menjijikkan itu sudah dianggap sebuah cara final untuk melanggengkan kekuasaan.

Bahkan bukan di dalam lembaga eksekutif saja, di lembaga legislatif malah lebih parah lagi dengan banyaknya kompromi-kompromi politik sehingga kasus-kasus besar seperti Century dan lain-lain akhirnya tenggelam entah kemana. Hal ini mengindikasikan sebuah kesimpulan final bahwa anggota-anggota dewan yang sedang duduk manis disana bukanlah representasi dari suara rakyat, karena mereka tidak lebih hanya representasi dari kepentingan partai yang mengusungnya.

Lalu ketika kita beralih untuk membicarakan satu elemen lagi dari trias politica yaitu yudikatif, maka kita sekali lagi harus menerima kenyataan bahwa penegakan hukum di negeri ini  belum bisa berjalan dengan baik. Mulai dari diobok-oboknya KPK , kasus-kasus yang melibatkan hakim, jaksa dan petinggi polri membuat kita sebagai generasi muda semakin pesimis bahkan apatis dengan masa depan bangsa ini. Lalu siapakah yang untung dan siapakah yang rugi ? Jelas bahwa yang paling dirugikan adalah generasi muda saat ini yang harus menanggung dosa-dosa politik para pemimpin kita saat ini.

Lalu bagaimana solusinya ? Nyatanya kita tidak bisa terlepas dari partai politik yang identik dengan uang itu. Namun bukan sebuah kemustahilan jika nanti Indonesia adalah negara pertama sebagai negara tanpa pemimpin dari partai politik karena kita sebagai generasi masa depan Indonesia sudah merasa muak dengan tingkah laku para pelaku politik saat ini. Kita sudah tidak percaya lagi dengan janji-janji yang diiming-imingi oleh para politikus. Kita ingin perubahan yang benar-benar perubahan. Kita tidak ingin perubahan hanya sekedar lipstik saja, manis di bibir tapi pahit dirasa.

Lalu apakah mungkin kemuakan kita dengan partai politik menghasilkan sebuah solusi baru ? Jawabannya tentu mungkin yaitu dengan memunculkan nama besar dari kubu independen. Ya, sudah saatnya kita beralih kepada orang-orang yang kita percaya sendiri. Karena merekalah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin kita kelak. Mereka pula yang akan membawa nahkoda negara dan bangsa ini menuju sebuah era baru, tatanan baru dan masa depan baru. Tentunya kita tidak akan rela jika pemimpin-pemimpin kita adalah produk dari politik busuk era ini. Kita mengingankan perubahan yang dilakukan oleh orang-orang baru. Yaitu orang-orang hebat yang masih memiki hati nurani di negeri ini. Dan kita harus meyakini, orang-orang itu ADA.

Karena kita harus menyakini, sehabis gelap terbitlah terang. Dan sekaranglah perubahan itu harus kita mulai. Sekaranglah kita sebagai generasi muda Indonesia harus mempersiapkan diri untuk memunculkan nama-nama calon pemimpin kita kelak. Sehingga keterpurukan yang kita rasakan ini tidak terus menerus bergelayut di kehidupan kita. KITA HARUS BERUBAH.

Rabu, Januari 19, 2011

Misteri Sakti

Misteri akan selalu membuatmu selalu bertanyata-tanya. Ia datang tanpa kamu pinta dan ia pergi tanpa mengucap kata perpisahan. Itulah misteri yang cukup membuat seluruh energimu terbuang sia-sia hanya untuk sekadar mengetahui kenapa ? Namun diam mungkin yang hanya akan menyapamu ketika rasa keingintahuan memuncak sambil memukul-mukul wajahmu. Kenapa oh kenapa ?

Sebenarnya sangat mudah bagimu untuk mengetahui kenapa, karena jawabannya semua ada pada apa yang telah kau tanyakan itu. Lalu misteri seakan mengusik kepalamu yang semakin hari semakin berkerut tanpa kau sadari sedikitpun kalau pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebuah kesia-siaan. Seiring dengan perjalanan waktu toh pertanyaan-pertanyaan itu akan tergilas dan kamu pasti akan dilupakan dengan hal-hal remeh temeh yang sudah misteri persiapkan untuk menghapus seluruh memori di kepalamu.

Kehebatan misteri tentu saja bukan sampai disitu, bahkan bisa-bisa kamu kamu yang banyak bertanya kenapa akan dibalikkan menjadi objek pertanyaan kenapa ? Semua bisa dilakukan oleh si misteri yang selalu diam saja dengan berjuta skenario di kepalanya. Misteri yang benar-benar sakti. Ia dapat memperdaya kebanyakan manusia dengan kata-kata madu yang ternyata hanya berupa janji-janji kosong yang katanya tidak pernah berbohong. Namun misteri lupa jika mentari masih memancarkan terangnya dan mata masih belum kehilangan cahayanya.

Lalu ketika orang-orang beramai-ramai mencemooh dan melabelkan kata ketidaksamaan janji dan perbuatan, si misteri seakan tak kehilangan akal bulus. Ia tentunya akan menggunakan segala macam cara untuk melupakan orang-orang dengan kata-kata manis dan tentunya orang-orang itu bukan orang-orang bodoh yang selalu misteri tipu dengan janji semu atau uang dan kedudukan palsu.

Akhir episode tentunya hanya jalan buntu karena kita akan kembali dipertontonkan dengan sinetron tanpa akhir episode. Ini hanya salah satu kehebatan si misteri sakti. Mungkin sampai nanti, misterilah yang akan menjadi pemenang sejati dari seluruh pergolakan hati. Diam adalah emas tentunya tidak selalu pasti, karena berbicara juga akan sia-sia tanpa aksi pasti.

Pare, 19 Januari 2011

Rabu, Januari 05, 2011

Totalitas Menuntut Ilmu

Embun mengiringi kepergianku ke tempat persinggahan sementara itu. Ya, tempat dimana aku mempertaruhkan impian dan harapan ini. Kadang kita harus bersabar dengan proses yang tak mau tergesa-gesa. Proses dimana manusia harus sedikit demi sedikit mempergunakan hari-harinya dengan optimal. Proses yang tak mudah tentunya.

Namun begitulah sunnatullah berjalan. Ia tidak akan pernah berubah. Siapa yang bergiat-giat maka ia akan menuai kebaikan dari tetes-tetes keringatnya itu. Burungpun harus berlelah-lelah mengepakkan sayapnya untuk sekedar menyambung kelangsungan hidupnya. Tentu manusia yang telah dikaruniai akal tidak mau kalah dengan burung tak berakal.

Kata Umar ra. sesungguhnya langit itu tidak menurunkan hujan emas. Pastilah emas itu tidak mungkin turun dari langit begitu saja, emas itu harus dicari karena sesuatu yang berharga dapat kita lihat harganya dari seberapa besar usaha untuk mendapatkannya. Semakin mudah didapatkan maka sesuatu itu akan semakin murah, pun begitu sebaliknya, semakin sulit proses untuk mendapatkannya maka sesuatu itu akan sangat mahal.

Begitupun dengan ilmu. Ia harus dicari dan dipinta, karena ilmu itu tidak akan datang sebagian darinya kepadamu sampai kamu memberikan dirimu kepadanya seutuhnya. Ilmu itu butuh totalitas. Ia didapat dengan jerih payah. Begitulah penjelasan Imam Al-Ghozali dalam Ihya'nya ketika beliau menerangkan tentang ilmu dan adab-adabnya.