Minggu, Desember 25, 2011

Muka Tak Berdosa ...

Mengapa saya sangat membenci orang-orang yang merokok di kendaraan umum ? Mungkin jawaban yang paling tepat adalah karena saya sangat tidak tahan dengan bau rokok, apalagi katanya perokok pasif itu lebih berbahaya daripada perokok aktif. Namun saya heran, kenapa bapak-bapak dengan muka tak berdosa itu sepertinya tidak mau tahu dengan keadaan orang-orang disekitarnya ? Apa karena merokok di kendaraan umum adalah suatu hal yang biasa ? Ataukah mereka sudah tidak memiliki kepekaan sosial sehingga apa yang mereka lakukan adalah apa yang mereka fikir itu menguntungkan buat mereka sendiri walaupun keuntungan itu di atas penderitaan orang lain.

Tentunya bapak-bapak bermuka tak berdosa itu tidak mungkin membaca tulisan ini karena mereka saya kira bukan orang-orang yang memiliki akses untuk membaca tulisan ini. Mungkin pagi yang cerah ini mereka masih tidur atau sudah bekerja keras untuk survive dalam kehidupan ini. Mereka adalah orang-orang yang biasa kita temukan di bis-bis umum. Mereka biasanya berpenghasilan standar, namun meski begitu mereka tidak dapat melepaskan kebiasaan mereka untuk merokok. Mungkin saja merokok bagi mereka memiliki kenikmatan tersendiri. Bahkan menurut beberapa orang yang sudah kecanduan, lebih baik tidak makan nasi dari pada satu hari tidak merokok !

Logika berfikir orang-orang yang sudah kecanduan merokok memang aneh. Padahal sudah jelas dituliskan dengan huruf yang jelas dan terang bahwa merokok itu dapat menyebabkan banyak sekali penyakit yang sangat mematikan seperti kangker, impotensi dan lain sebagainya. Namun tampaknya para perokok sudah tidak peduli lagi dengan peringatan itu, toh sampai sekarang mereka masih sehat-sehat saja. Toh walaupun sudah puluhan tahun mereka merokok tidak ada tanda-tanda impotensi, bahkan mereka terlihat lebih laki dan jantan.

Sayangnya saya tidak butuh segala macam urusan para perokok itu. Saya tidak peduli apakah mereka paham atau tidak dengan bahaya rokok. Saya benar-benar tidak peduli karena saya yakin mereka sudah tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Yang menjadi urusan saya disini adalah ketika mereka yang merokok tidak mau mengerti keadaan orang-orang yang tidak merokok. Saya tidak peduli berapapun mereka mau menghabiskan puntung rokok, namun -meminjam bahasa dosen saya- maaf saja, jangan libatkan orang-orang yang tidak merokok dalam kepulan asap rokok itu. Orang-orang yang tidak merokok tentunya memiliki hak untuk dapat menghirup udara yang segar dan tak terkontaminasi zat-zat adiktif yang terkandung dalam rokok.

Jadi - meminjam bahasa dosen saya- maaf saja, bagi bapak-bapak bermuka tak berdosa tolong pengertiannya. Janganlah merokok di tempat-tempat umum, kendaraan-kendaraan umum dan fasilitas-fasilitas umum. Silahkan jika tidak ada smoking area, bapak-bapak liat kanan kiri dulu sebelum merokok, apa ada orang yang tidak merokok atau tidak. Jika ada, ya tolong tahan dulu nafsunya untuk merokok, kalau tidak ada, ya silahkan merokok sepuas mungkin ...

Senin, Desember 05, 2011

Entahlah

Aku hanya melihatmu sekilas, dari jauh dan tak sering. Kau tampak menikmati waktumu bersama teman-temanmu menikmati kuliner seluruh tempat itu. Aku hanya bisa mendengar tentang cerita keparipurnaan wujudmu. Dari orang-orang aku tahu jika kamu merupakan penjelmaan bidadari yang mungkin enggan kembali ke syurga. Ku pikir kau akan sangat jauh kugapai. Kesempurnaamu seakan mengajariku arti ketidakberdayaan. Kumbang bersayap patah tak mungkin dapat menghisap madu dari bunga paling indah di syurga.

Namun ku coba tuk tegarkan hati dan pancangkan keinginan yang lahir dari keputusasaan. Tak ada yang tak mungkin bukan ? Meski aku tak pernah tahu harus memetikmu dimana, atau sudahkah ada kumbang yang memilikimu ? Entahlah, mungkin kumbang bersayap patah tak punya keberanian meski hanya sekedar memandang keindahanmu.
Kumbangpun harus sadar dengan keadaan. Alam adalah milik yang kuat. Tak ada tempat bagi yang lemah. Kumbang adalah makhluk yang berjuta jumlahnya, maka tak mungkin kumbang bersayap patah bisa menjadi raja bagi kumbang lainnya dan mengalahkan mereka sehingga ia dapat memperoleh madu dari bunga terindah di syurga. 

Namun herannya, sang kumbang celaka tak pernah kehilangan kepercayaannya terhadap konsep kemungkinan. Boleh ia seekor cacat dengan sayap tercabik-cabik, namun ia masih belum menjadi seonggok bangkai kan ? Bukankah segala sesuatu bukan hanya karena faktor usaha dari diri, ada faktor lain yang lebih menentukan, dan ia sangat percaya dengan itu.

Aku ingin memetik bunga itu, apapun resikonya. Bukankah kehidupan itu akan berarti jika kita bisa mengatasi berbagai macam permasalahan yang ada ? Pun juga tidak ada salahnya kan orang mencoba ? Toh tidak ada cela bagi kumbang yang dengan sopan ingin meminta izin sang pemilik taman dimana bunga itu ada untuk ia petik ? Sekarang masalahnya, apakah sang bunga mengizinkan si kumbang memintanya ? Ataukah sang kumbang merana harus kembali kehabitatnya dan sadar dengan posisi diri dengan hanya memimpikan sang bunga ... entahlah ...

Minggu, November 20, 2011

Rasa Yang Nyata

Kamu begitu dekat dan nyata
Ada dan duduk di depanku ternyata
Aku tak sedang bermimpi kan ?

Keberadaan dirimu benar-benar menyapa
Sebuah eksistensi tentang kesucian sebuah rasa
Benar-benar membuatku tak percaya

Inilah kenyataan sebenarnya lirihku padanya
Bahwa senyum dan tatapan itu membuatku terlena
Kenyataan yang benar nyata sedang ku rasa

Keinginan yang bukan hanya sebuah insting hewani semata
Atau sekedar mengisi kekosongan hati dan jiwa
Apalagi bermain-main dengan perasaan sucinya

Semuanya bermuara pada sebuah kesadaran
Bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna
Jika kelemahannya tak ditutupi dan dibiarkan saja

Bukankah ketidaklengkapan itu harus dilengkapi
Untuk menuju kesempurnaan hidup yang tak kekal ini
Agar menjadi sebuah harmoni indah bermakna suci


Dan aku melihat kesempurnaan diriku ada pada senyummu
Juga spirit dan semangat tanpa menyerahmu itu
Membuat egoku tenggelam begitu saja

Dalam samudera tak berujung
Membawaku ke palung rasa paling dalam
Dan menghempaskan segala kepenatan dalam jiwa

Inilah puisi yang kau pinta itu
Kutuliskan dengan tinta yang kau torehkan
Di atas prasasti sebuah keabadian.

Selasa, November 15, 2011

Wanita Yang Mempercantik Wanita

Aku heran dengan wanita itu
Ia senang sekali mempercantik wanita lain
Katanya hal itu adalah kepuasan baginya

Ia tak cantik, tapi manis
Senyumnya madu, tatapannya elang
Ku suka melihat parasnya yang sendu

Ia suka melihatku malu
Begitupun aku, ragu
Apakah ia melihatku atau aku melihatnya

Katanya ia suka bermimpi
Mimpi yang tinggi setinggi-tingginya
Toh jatuhpun tak begitu sakit

Satu perkataannya buatku terinspirasi
Tuk tuliskan bait-bait ini
"Ansuran motor tak dapat dicicil orang yang hanya tidur"

Ia pun bergumam
Jangan kau tulis puisi-puisi itu
Karena tak baik buat hari nanti

Namun akhirnya ia dapat mengerti
Tuk biarkan aku berpuisi
Katanya lagi : Sepakat ... keren. Alhamdulillah.

Selasa, November 08, 2011

You are My Brother

you are my brother and i love you.
both of us are sons of single, universal, and sacred spirit.
for we are prisoners of the same body, fashioned from the same clay.
you are my companion on the byways of life.
i love you when you bow in your mosque.
kneel in your temple.
pray in your church.
you and i are sons of one religion, and it is the spirit.
love is the justice in its highest manifestations.
you are a human being and i am in love with you brother.

by : Gibran Khalil

Rabu, Oktober 19, 2011

Pepesan Kosong

Anggap saja ini sebuah pepesan kosong. Pesan tak bermakna yang tak kan membuatmu sirna. Dengan kepalan tanganmu yang sudah lama kamu genggam, hentakkanlah dunia. Jangan pernah takut karena takut hanyalah milik si kerdil celaka. Tataplah ke depan, jangan pernah kau menoleh. Bukankah siang tak pernah terulang ? Siang selalu memperbaharui dirinya, pun begitu malam. 

Keberadaan manusia tak pernah sama. Setiap hilangnya nafas adalah bentuk perubahan mini dalam diri manusia. Setiap elektron dan proton yang musnah tak mungkin tergantikan oleh proton dan elektron yang sama. Semua bekerja untuk memperbaharui diri tapi dengan konsekuensi, rapuhnya badan, dan jiwapun sebentar lagi akan melayang.

Hukum alam yang tak mungkin salah ! katamu angkuh membara. Ya, aku suka fikiranmu itu. Meletup-letup tapi terkendali. Tajam tapi tak melukai. Ku suka gayamu itu. Seperti waktu itu ketika kau menatap mataku erat, lalu kau bisikkan padaku tentang alam yang katanya " Selalu berputar meski manusia tak pernah berputar ".

Jumat, Oktober 07, 2011

Bangunlah Kawan !!!

Belumkah lelah kau dengan keterpurukan
Atau kau sudah tak peduli lagi dengan keadaan
Entah apa yang sedang kau fikirkan kawan
Semoga bukan hanya mimpi dan angan-angan

Lihatlah dunia terus berkembang
Sedang kau tak sadar-sadar
Padahal hanya kenginan saja
Lalu kau usahakan benar-benar

Namun harapan tinggal kenangan
Tak satupun kau kerjakan
Waktumu hilang tanpa kau rasa
Tiba-tiba saja ajal menyapa

Hey kawan duduklah disini sebentar
Mari kita bicarakan solusi keadaan
Agar tak kau siakan nafasmu itu
Lalu kau bilang, siaaaaaal !!!

Selasa, September 20, 2011

Wartawan Vs Pelajar, salah siapa ?

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan bentrok yang terjadi antara wartawan dan siswa SMA 6 Mahakam (19/09/2011). Bentrok terjadi karena ketidakpuasan diantara kedua belah pihak seperti yang dilaporkan Kompas . Sebelumnya siswa SMA 6 Mahakam diberitakan telah mengeroyok dan merampas kaset wartawan Trans 7 , Oktaviardi, yang sedang meliput tawuran antar siswa SMA 6 Mahakam dan SMA 70 Bulungan.


Tawuran  antar pelajar adalah fenomena yang terus menerus terjadi di negara tercinta ini. Betapa sering kita membaca di koran-koran bahwa sekolah A tawuran dengan sekolah B. Sekolah sepertinya sudah tidak mampu lagi mencetak generasi yang memiliki kesantunan dan moral yang baik. Tentunya degradasi peran sekolah dalam membentuk karakter generasi tunas bangsa ini menjadi sebuah hal yang sangat disayangkan dan seharusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah.

Akar dari fenomena ini kemungkinan besar terletak pada kurikulum sekolah yang sangat sedikit sekali memberikan porsi dalam pelajaran agama dan moral sehingga banyak dari siswa yang tidak paham atau tidak tahu tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dan apa yang seharusnya mereka tinggalkan. Kebingungan dalam menentukan baik dan buruk inilah yang menjadi penyebab banyaknya siswa yang melakukan hal-hal yang kontraproduktif seperti tawuran dan lain sebagainya.

Herannya meski sudah banyak opini-opini yang berkembang seperti yang penulis paparkan di atas, namun sepertinya pemerintah sampai saat ini belum bisa mengambil sikap dengan kebijakan-kebijakan produktif dan menyelesaikan masalah. Dana APBN 20 % untuk pendidikan nyatanya tidak juga mampu memberikan solusi konkrit terhadap permasalahan kenakalan pelajar. Bahkan yang terjadi dana yang sangat besar itu menjadi ladang korupsi baru, bukan hanya di elit pemerintah saja, bahkan beberapa oknum guru sudah ada yang pandai untuk menggelapkan dana BOS.

Pendidikan itu bukan hanya diukur dengan kemapanan suatu sekolah, keprofesionalan guru-guru pengajarnya, atau bahkan tingginya tingkat keintelektualan siswa. Hasih nyata dari pendidikan adalah tingkah laku yang tercermin dari gerak-gerik siswa di dunia nyata. Bagaimana seorang siswa memperlakukan diri, orang lain, alam sekitar, dan Tuhannya adalah ukuran yang sesungguhnya dari pendidikan itu. Maka seyogyanya pemerintah atau departemen terkait memberikan perhatian yang lebih untuk hal tersebut dengan mencanangkan program-program yang dapat meningkatkan moralitas dan kesantunan siswa.

Jumat, September 16, 2011

Ku Pinang Kau dengan Bismillah, Sebuah Kritik

Akhir-akhir ini banyak sinetron yang memberikan contoh islam kulit saja. Meskipun dialog-dialog yang ditampilkan banyak yang menyebut kata-kata 'Allah', 'Astaghfirullah', dan kata-kata berbau islam lainnya namun substansi dari sinetron itu sendiri sangat bertolak belakang dengan lafadz-lafadz agung tadi. Contohnya saja sinetron 'ku pinang kau dengan bismillah' yang sedang digandrungi banyak orang itu, jika melihat secara sepintas dari judul dan setting tempat yang berada di di Turki maka asumsi penonton akan menuju kepada sinetron yang sarat dengan nilai keislaman, namun setelah diperhatikan dengan seksama sinetron tersebut ternyata sangatlah tidak islami.

Tokoh utama Amar yang digambarkan sebagai seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Turki sangatlah kontradiktif. Di lain sisi ia digambarkan sebagai seorang yang lugu dan memegang teguh kepada ajaran agama walaupun dengan pandangannya yang modern dan substantif, namun disisi lain ia sangatlah rapuh dan mudah tergoda dengan wanita. Hanya dalam satu episode saja Amar sudah menuliskan puisi dan memberikan bunga sebagai tanda cintanya kepada Nirvana. Hal ini merupakan sebuah bukti bahwa tokoh Amar sangatlah lemah dan tidak kuat secara penokohan.

Sinetron Ku Pinang Kau dengan Bismillah juga hanya menjadikan setting Turki semata-mata hanya untuk menarik rating penonton saja tanpa ada eksplorasi yang kuat terhadap bagaimana islam di Turki itu sebenarnya. Padahal jika memang ingin serius, konflik sekularisasi vis a vis islamisasi yang sekarang sedang terjadi di Turki merupakan sebuah hal yang memiliki keunikan dan magnet tersendiri bagi umat islam di Indonesia. Ku Pinang Kau dengan Bismillah hanya menampilkan cerita cinta yang biasa diangkat oleh sinetron pop indonesia lainnya.

Judul sinetron ini pun sangatlah kontradiktif jika melihat bagaimana kehidupan yang lebih dan berkecukupan dari seorang Amar. Hidup berdua dengan Nurdin disebuah apartemen yang bagus sangatlah tidak masuk akal bagi seorang mahasiswa beasiswa. Juga kalimat ku pinang kau dengan bismillah menyiratkan bahwa tokoh Amar seharusnya memiliki keadaan yang tidak begitu baik disana sehingga ia hanya bisa meminang Nirvana dengan semangat bismillah saja.

Penokohan Nurdin juga tidak lepas dari problem. Nurdin yang ditokohkan sebagai seorang fundamentalis terkesan sangat berlebihan. Tidak mungkin ada seorang fundamentalis seperti tokoh nurdin tersebut. Bahkan orang yang bodoh pun tidak akan secara terang-terangan mengatakan hal-hal yang dapat menyakiti orang lain, seperti kata-kata 'perempuan laknat' dan sebagainya, apalagi bagi seorang fundamentalis dalam artian orang yang memegang teguh agama secara tekstual.

Sinetron Ku Pinang Kau dengan Bismillah seakan-akan ingin menyampaikan bahwa seorang muslim ideal itu adalah sosok Amar yang sekuler dan substantif, padahal jika melihat perkembangan yang sedang terjadi di Turki, sebagai setting tempat dari sinetron tersebut, yang terjadi malah sebaliknya. Betapa keinginan kebanyakan rakyat Turki yang menginginkan keluar dari kediktatoran penguasa yang sekuler begitu kuatnya sehingga pada 2003 AK Party sebagai partai yang berhaluan islam dapat memenangkan pemilu sehingga Recep Tayyib Erdogan dapat menjadi perdana menteri Turki hingga saat ini.

Seharusnya tokoh Amar adalah tokoh yang menggambarkan bagaimana seorang mahasiswa Indonesia yang melihat perubahan pandangan masyarakat Turki dari sekuler ke islam sebagai sebuah spirit keislaman yang bisa ia bawa ke Indonesia, bukannya menampilkan sinetron pop bertemakan cinta yang sudah banyak membuang waktu masyarakat Indonesia dengan tontotan yang tidak mendidik dan sia-sia.

Rabu, September 14, 2011

aku, kamu, dan Dia

Memimpikanmu itu mungkin saja, namun tampaknya tak semudah mengedipkan mata. Mungkin Tuhan masih menginginkan untuk mendengar keluh kesahku hanya padaNya, ya kepadaNya saja. Maka tak heran kamu masih saja terselubung pekat yang tak kian memudar. Atau malah karena dosa lakuku sehingga kamu semakin menjauh dari indera rasaku. Ah, aku, kamu, dan Dia sepertinya susah berpadu.

Keinginan tiga dzat yang berbeda. Tapi bukankah seluruh keinginanNya tak akan pernah luput ? Entahlah, yang ku harap keinginanNya adalah kebaikan menurut pendapatku dan pendapatNya. Atau haruskah kuserahkan hanya padaNya saja ? Tanpa mengikutsertakan keinginanku yang selalu ku pesan melalui do'a-do'a ? Atau malah aku terus saja melantunkan permintaan-permintaan yang sejatinya Ia sudah ketahui karena Ia Maha Tahu ?

Lalu kamu. Walaupun sampai detik ini aku tak pernah mengenalmu atau tahu siapa itu kamu, namun aku tahu kamu itu ada. Karena aku mendengar detak jantungmu yang berdegup ketika kau pinta aku melalui munajatmu. Aku hanya selalu bertanya dalam lubuk hatiku : Apakah kamu selalu meminta kepadaNya ataukah kau serahkan saja semua padaNya ?

Minggu, Agustus 14, 2011

UL-DAUL

UL-DAUL
UL-DAUL sebenarnya adalah budaya religius sebagian masyarakat madura untuk membangunkan orang-orang untuk meramaikan malam-malam Romadhon. Awalnya sebagian masyarakat menggunakan kentongan yang ditabuh keliling kampung, namun seiring dengan berjalannya zaman, kentongan digantikan dengan alat-alat musik sehingga UL-DAUL sekarang terkenal dengan musik khas asal madura.

UL-DAUL kentongan masih bisa saya dengarkan. Biasanya yang memainkannya adalah sekumpulan anak-anak kecil yang sepertinya tidak mau kalah dengan orang dewasa. Mereka biasanya memainkan musik UL-DAUL kentongannya dari jam 1-3 malam. Jarang saya temukan musik UL-DAUL yang terus main sampai para pendzikir di masjid-masjid mengalunkan sholawat dan ajakan mereka untuk sahur. 


UL-DAUL SARONEN. Sumber : Sampang.web.id
Sayangnya sekarang UL-DAUL hampir tidak bisa dibedakan dengan budaya musik lain yaitu SARONEN yang biasanya dilakukan menjelang pertunjukan kontes SAPEH SONOK (Miss SAPI) atau KARAPAN SAPI. UL-DAUL yang pada awalnya tidak memiliki penari wanita untuk mengiringinya, akhir-akhir ini dalam kontes-kontes yang diadakan pemerintah kabupaten setempat tidak bisa dilepaskan dari para penari wanita yang sejatinya adalah budanya SARONEN yang khas. Akhirnya dalam kontes-kontes tersebut UL-DAUL bukanlah UL-DAUL yang awalnya sangat relegius.

Jumat, Agustus 12, 2011

Da'i Tontonan atau Tuntunan ?



Akhir-akhir ini kita sering melihat dai-dai di berbagai siaran televisi. Berbagai macam gaya mereka lakukan untuk terlihat menarik. Dari yang terlihat kebencong-bencongan sampai berpolah gaya dalang. Pada prinsipnya tidak masalah apapun model para dai itu dalam berdakwah, yang penting materi dan isi dakwahnya harus dapat diterima dan memberikan pencerahan kepada masyarakat luas.

Dakwah adalah salah satu cara untuk menyampaikan ajaran islam. Ia adalah implementasi dari sabda Rasulullah saw. yang menyuruh umatnya untuk menyampaikan ajaran beliau walaupun satu ayat. Namun tentunya pelaku dakwah atau yang selama ini kita kenal dengan istilah dai memerlukan kecakapan khusus. Dari cara orasi sampai isi dan jawaban yang tepat dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pendengar.

Ironisnya, dibalik banyaknya para dai yang kini sering menghiasi acara-acara ditelevisi, tidak semuanya masuk dalam kriteria diatas. Bahkan ada beberapa yang lebih mementingkan intertainmentnya daripada sisi dakwahnya sehingga para dai itu tak ubahnya seperti artis-artis baru namun dengan dilapisi nuasa religius saja. Yang penting mereka berpenampilan ibarat seorang pen-dai ulung, maka seakan-akan mereka adalah dai yang benar-benar dai. padahal ketika telisik isi dari dakwahnya ternyata begitu dangkal dan ketepatan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang diberikan masyarakat sangatlah jauh panggang dari apinya.

Aktivitas dakwah tidak hanya terpaku kepada bagaimana seorang dai itu berorasi di depan audiennya. Lebih dari itu, dakwah adalah proses penyampaian ajaran islam. Maka mutlak adanya kemampuan dai dalam penguasaan ajaran-ajaran islam yang lebih mendalam. Karena dai bukanlah tontonan, ia adalah tuntunan umat dalam pemahaman dan pengamalan ajaran agama islam.

Kesalahan dai sekecil apapun sangat besar dampaknya kepada umat, maka hendaklah orang-orang yang berkeinginan kuat untuk menjadi dai agar selalu berhati-hati dalam menyampaikan fatwanya. Pastikan bahwa apa yang disampaikan adalah kebenaran yang datang dari Allah dan RasulNya sehingga masyarakat dapat berjalan sesuai dengan tuntunan agama yang mulia ini.

Senin, Juli 18, 2011

Aku dan Kamu

Bukankah sudah ku katakan
Jangan pernah pejamkan matamu
Agar dengan nanar kau saksikan
Jutaan keperihan mendalam di mataku

Namun kau tak juga faham apa maksudku
Ditutuplah mata indahmu itu
Padahal tak lebih sedetik aku berseru
Lihatlah ! Perhatikanlah ! Fikirkanlah !

Sepertinya kau tak lagi mendengar
Entah kau tutup dengan apa mata hatimu itu
Hingga telingamu pun tak lagi berfungsi
Perasaanmu juga seakan tumpul mati

Kasih sayangku kau anggap angin belaka
Tak pernah lagi kau pedulikan aku
Baiklah sekarang tunggu pembalasanku
Kehancuran sudah di depan matamu itu.

Senin, Juli 04, 2011

Keseimbangan Alam

Ketika dunia tidak lagi bersahabat, maka kemanusiaan akan terancam. Kepunahan adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi. Ketika tidak ada lagi keperdulian terhadap nilai, maka dunia akan menagih hak-haknya yang telah diabaikan manusia. Dunia ini terdiri dari materi dan ruh. Materi yang diwakili oleh badan dan benda membutuhkan haknya. Begitu juga ruh, haknya adalah nilai-nilai yang ditunaikan.

Keseimbangan antara materi dan ruh akan memperlambat jalan kehancuran. Namun anehnya keseimbangan tidak pernah menjadi prioritas manusia dalam bertingkah laku. Maka tidak heran kenapa terjadi banyak ketimpangan baik itu dalam alam materi ataupun alam ruh. Ketimpangan alam materi bisa kita lihat dari banyaknya kemarahan alam kepada manusia. Longsor, banjir, pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim yang sangat ekstrim terjadi karena alam sudah kehilangan keseimbangannya. Rantai ekosistem yang terputus mengakibatkan beberapa proses hilang sehingga mengakibatkan bencana-bencana tersebut.

Kerusakan alam ruh begitu terasa sehingga manusia sudah tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Timbangan baik buruk yang kini sudah menjadi relatif mengakibatkan manusia berbondong-bondong melegalkan nafsu ambisinya walaupun dengan menganiaya manusia lainnya. Jalan agama yang selama ini menjadi pengawal alam ruh mengalami perusakan dari dalam sehingga bangunannya kini hanya tinggal bungkusnya saja. Ia kini seperti buih di tengah hempasan ombak yang setiap saat bisa menghilangkannya sekejap mata.

Hilangnya keseimbangan adalah bentuk awal dari kehancuran total yang sudah diberitakan oleh para utusan beribu-ribu tahun yang lalu. Herannya manusia seperti tidak perduli dengan apa yang sudah menjadi hakikat ilmiah tersebut. Walaupun dalam banyak kesempatan para ilmuan meramalkan bahwa kehancuran total tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini, namun bukankah seharusnya sejak sekarang kita mencoba untuk memperlambat proses kehancuran total tersebut dengan memberikan alam haknya yang sudah lama kita abaikan.

Minggu, Juni 19, 2011

Rakyat 50 Ribu

Kita ini sedang dipimpin oleh orang-orang buta
Hasil pemilihan umum seharga lima puluh ribu saja
Hingga siapa pun asal berduit pasti jadi raja

Inilah demokrasi gila gaya awut-awutan
Maunya meniru style Amrik
Eh malah lebih parah dari negara-negara Afrika

Akhirnya negara ini tidak jelas juntrungnya mau kemana
Kapitalis setengah-setengah, sosialis pun pura-pura ogah
Apalagi islam, sana-sini banyak yang marah

Makanya negara ini menjadi negara setengah-setengah
Semuanya serba tidak jelas juntrungnya
Karena orang-orangnya pun pada mencla mencle

Kalau ada kasus, baru rame-rame 'sok paling benar' plus ngotot
Padahal rakyatnya sendiri memang murah meriah
Bisa dibeli hanya dengan Rp. 50 ribu , 5 Riyal Saudi, dan 1 Ringgit Malaysia

Jika ada yang mengingatkan pasti jawabannya ini " SOK SUCI LO "
Atau paling banter kena bogem mentah di wajah
Bahkan paling apes bisa mengisi daftar aduan di KONTRAS

Inti puisi ini hanya satu sebenar
Demokrasi itu butuh rakyat yang pintar, bermartabat, dan sadar akan hak dan kewajibannya
Bukan rakyat yang di malay di bilang 'indon', di saudi dianggap 'budak', dan di Indonesia sendiri dianggap '=50 ribu'

Sabtu, Juni 04, 2011

Cinta Selaksa

Entahlah dirimu datang ketika segala sesuatu terasa hampa. Entahlah mungkin ini hanya sekedar luapan hati semata. Namun ketahuilah darah ini seperti mengalir tidak biasa ketika kamu ada. Begitulah aku merasa keberadaanmu ahsa.

Semuanya serba tiba-tiba. Kau datang tanpa ku sangka. Menyapaku mesra dengan senyum merona. Lalu kau anugerahi aku rasa, rasa tak biasa. Meski misteri selalu menyelimuti dada. Walaupun aku selalu bertanya apakah kau juga cinta. Akupun bertanya kepada langit kenapa tak sedari dulu aku yang menyapa.

Manusia hanya bisa berusaha. Ia selalu berucap begitu saja. Yah, Tuhanlah yang mengirimkan cinta, kataku padanya mesra. Aku hanya bisa berdo'a, semoga kita kelak dipertemukan cinta. Ketahuilah wahai ahsa, rasa ini sudah selaksa.

Rabu, Mei 25, 2011

Arti Ketidakberdayaan

Mungkin sekarang saatnya aku harus melepaskan segala perasaan dan kenangan yang dulu pernah kau torehkan. Karena aku sudah lelah menapakkan kakiku yang mulai merasakan kelumpuhan ini. Sudah beberapa musim aku mencoba untuk berlari dari bayangan rembulan, namun ternyata bulan pun menjelma menjadi mentari yang tak mau melepaskanku barang sekejap.

Sudah lama aku bersembunyi dari kenyataan pahit bahwa engkau sudah menemukan peraduanmu. Namun kau benar-benar membuatku mabuk. Kau menutupi logikaku seperti bulan yang menutupi matahari kala gerhana datang. Kau tak membiarkanku tuk sekedar bertanya mengapa. Aku benar-benar dibuat gila olehmu. Entahlah, apakah kau adalah kemalanganku yang mengantarkanku kepada para penyamun ganas ? Atau malah sebaliknya, engkau adalah malaikat yang menuntunku menuju keabadian cinta ?

Terlepas dari segala macam tafsiran dalam benakku, kau bukanlah orang yang paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa diriku sekarang. Aku pun sudah tidak lagi mempersalahkanmu atau Tuhan karena nasib yang mempertemukan kita. Yang ku sesalkan adalah kenyataan bahwa ketidakberdayaan itu benar-benar ada. Ketidakberdayaan untuk memiliki seseorang  yang dicinta ternyata bukan hanya cerita novel atau roman yang sering kita dengar menjelang tidur. Ketidakberdayaan adalah sebuah kenyataan yang paling nyata.

Kau begitu luar biasa mengajariku arti ketidakberdayaan. Kau seakan membangunkanku dari mimpi-mimpi indah yang telah membuat ku buta dan tuli. Jika boleh aku ibaratkan, kau seperti geledek yang mengejutkanku dengan bunyi keras memekakkan telinga itu. Sayangnya, kau tidak hanya membangunkanku tapi juga membuatku terserang penyakit lupa. Aku benar-benar lupa bahwa manusia itu tidak pernah memiliki sayap. Manusia mustahil terbang tanpa sayap kan !!!

Jumat, Mei 20, 2011

Sajak Tak Bertemu

Langitku lautku pekat
Senjaku fajarku merah kehitaman

Kita tak pernah tahu apa arti warna sebenar
Namun tahukah kau yang aku fikirkan ?

Langitmu lautmu bening
Senjamu fajarmu terang berkilauan

Kita sebenarnya tahu apa maksudnya
Namun kau tak pernah mau tahu apa yang ku fikir

Sabtu, Mei 14, 2011

Kompas berbayar menyusul Jawapos

Sebenarnya bacaan rutin saya setiap hari adalah jawapos, namun karena beberapa bulan lalu jawapos digital berubah menjadi berbayar, maka saya putuskan untuk pindah ke kompas. Kebetulan kompas memiliki banyak pilihan, mulai dari kompas Web, kompas Cetak, sampai kompas ePaper, semuanya gratis. Namun akhirnya satu mei 2011 kompas menyusul jawapos dan memasang harga langganan bagi para pembaca setianya untuk dapat menikmati kompas digital.

Sebenarnya sah-sah saja bagi kompas dan jawapos untuk memasang harga bagi layanannya tersebut. Apalagi kedua koran tersebut adalah koran besar di Indonesia. Apalagi dengan berkembangnya teknologi sehingga orang-orang sudah tidak perlu lagi untuk membeli koran kertas. Bahkan kompas sudah menyediakan fitur khusus untuk iPad dan aplikasi dekstop. Namun jawapon dan kompas sepertinya kurang jeli dalam menilai karakter pembaca internet.

Menurut pengalaman saya sebagai pembaca koran internet, koran digital berbayar seperti kompas dan jawapos sangatlah memberatkan. Pertama karena pelanggan bukan semuanya memiliki profesi dan tentunya memiliki kondisi ekonomi yang beragam, bahkan hemat saya yang lebih banyak mengakses adalah para mahasiswa yang notabene lebih mencari segala hal yang berbau free. Kedua saya melihat bahwa setelah beberapa bulan jawapos menerapkan langganan berbayar, jumlah pelanggannya pun tidak begitu signifikan. Sampai tulisan ini ditulis masih berjumlah 176.315 pelanggan saja.

Dari sini saya mengusulkan kepada jawapos dan kompas agar kembali mengratiskan layanan digitalnya. Bukankah dengan banyaknya kunjungan juga akan menghasilkan keuntungan yang saya kira jauh lebih besar daripada beberapa ribu pelanggan itu. Saya sebagai penikmati koran digital free akan sangat berterimakasih jika hal itu bisa direalisasikan oleh kompas dan jawapos.

Jumat, Mei 06, 2011

Umat Islam Indonesia dan Isu Terorisme

Film Hanung Tanda Tanya menjadi bukti kuat bahwa ternyata umat islam Indonesia selalu menjadi tersangka di rumahnya sendiri. Berbagai macam tudingan miring terhadap umat islam seakan tidak berujung. Isu-isu seperti terorisme, intoleransi dan kekerasan selalu dilekatkan kepada umat islam Indonesia.

Terakhir kasus Ahmadiyah dan pengeboman gereja menjadi saksi bisu bagaimana umat islam menjadi bulan-bulanan opini publik. Seakan seluruh umat islam adalah para manusia yang sadis, opini-opini publik tersebut selalu saja mengkambinghitamkan umat islam. Padahal sejarah umat islam Indonesia menceritakan perjuangan heroik dalam kemerdekaan dan pembentukan NKRI ini.

Umat Islam Indonesia dan Isu Terorisme

Isu terorisme di Indonesia tidak akan pernah lepas dari dua tragedi menyedihkan, tepatnya Bom Bali satu di tahun 2002 dan Bom Bali dua di tahun 2005. Dua tragedi terorisme yang sampai saat ini masih misterius karena menyimpan berbagai macam misteri yang belum terungkap sampai sekarang, salah satunya adalah bagaimana seorang teroris bisa mendapat bahan peledak berdaya ledak kuat seperti itu ?

Seharusnya yang paling harus menjadi titik fokus adalah menelisik tentang bagaimana seorang muslim yang seharusnya menjadi rahmat bagi sekalian alam tiba-tiba melakukan hal yang dilarang agama, meledakkan bom bunuh diri sehingga membunuh warga sipil dan muslim. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim bukanlah negara yang dilanda peperangan sehingga konsep jihad dengan melakukan aksi militer yang dielukan para pelaku teror tidak menemukan pembenarannya.

Indonesia bukanlah Irak ataupun Afganistan yang warga negaranya tengah berjuang untuk kemerdekaannya melawan neo imperialisme barat. Indonesia adalah darul islam. Menurut As-Syaukani dalam nailul awtar bahwa darul islam tidak dapat berubah menjadi darul harb hanya karena adanya kemaksiatan-kemaksiatan disana karena itu tidak sesuai dengan ilmu naql dan akal. Rasulullah pun menegaskan bahwa darah dan harta seorang muslim itu diharamkan untuk ditumpahkan. Islam juga sangat melindungi Ahli Dzimmah.

Dalam Hasyiyahnya, Ad-Dasuqi menyatakan bahwa walaupun sebuah negeri islam dikuasai kaum kuffar dengan kekuatan militer, namun ia tetaplah dar islam sampai syariat islam tidak dilaksanakan di dalamnya. Adapun jika syariat islam dilaksanakan atau mayoritas melaksanakannya maka tidak termasuk dar harb.

Disini peran pemerintah sangat diperlukan untuk menyebarkan pemahaman islam yang sesuai dengan tuntunan rasulullah yang mengajarkan bahwa umat islam adalah rahmat bagi sekalian alam. Negara harus mengadakan gerakan islam rahmat bagi sekalian alam karena tentunya sebagai pemegang otoritas negara memiliki kekuataan dan dana untuk hal itu. 

Proyek ini tentunya dengan mengadakan bacaan-bacaan murah namun berkualitas. Karena radikalisme itu muncul karena ketidaktahuan atau kesalahan dalam menerima informasi yang kadang hanya copy paste. Umat islam khususnya pemuda yang memiliki keinginan untuk mendalami agamanya ternyata kebanyakan menjadi sasaran empuk dari radikalisme. Hal ini karena mereka tidak memiliki akses yang baik terhadap informasi yang dapat menuntun mereka menuju sebuah pemahaman yang universal dari islam.

Jadinya informasi-informasi yang kebanyakan mereka dapatkan di internet menjadi bibit radikalisme dalam pemahaman mereka. Karena mereka hanya belajar dari copy paste tanpa ada seorang guru ataupun metode pengajaran yang baik, maka pemahaman mereka rentan salah baik itu karena salah paham atau karena informasi yang terlalu dangkal.

Proyek ini bukanlah proyek baru. Lebih satu dekade ini Mesir sudah melakukan proyek buku murah setiap tahunnya dalam rangka pastisipasi negara untuk mengurangi radikalisasi yang sangat mengakar di Mesir. Proyek buku murah yang dipelopori Suzan Mubarak ini tampaknya membuahkan hasilnya karena semakin sedikit aksi-aksi teror yang terjadi di negeri piramida tersebut.

Maka pemerintah seharusnya cepat dan tanggap dalam menyikapi isu-isu radikalisme, terorisme, dan ekstrimisme ini. Karena hal ini ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak dan berbahaya bagi kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Minggu, Mei 01, 2011

Masyarakat yang Mengambang

Masyarakat yang mengambang adalah cerminan dari sebuah tatanan masyarakat yang tidak mempunyai identitas. Masyarakat yang mudah sekali terombang ambing dalam suasana gemerlap dan gelamour. Masyarakat semacam ini adalah korban dari globalisasi. Masyarakat yang katanya mudah dibeli karena setiap individunya selalu menginginkan keuntungan pribadi.

Berbeda dengan masyarakat yang sudah memiliki akar budaya dan peradaban yang kokoh, masyarakat yang mengambang adalah masyarakat yang sudah kehilangan sejarahnya. Bukan karena tidak memiliki sejarah yang besar namun karena sejarah kebesarannya sudah dilupakan bahkan dijual dengan alasan keuntungan sementara. Masyarakat semacam ini sangatlah malas dan acuh tak acuh untuk menggali dan meneliti sejarah yang pernah dilaluinya.

Jadinya masyarakat semacam ini sangat mudah untuk dikuasai asing. Dengan ketidakacuhannya terhadap sejarahnya, ia telah menempatkan dirinya sendiri pada posisi inferior, lemah dan tidak berdaya terhadap masyarakat lain yang sudah memiliki peradaban maju. Ia akan selalu melihat dirinya sebagai kemunduran dan keterbelakangan. Namun ketika ia melihat masyarakat maju, ia akan menggosok sepatu mereka seakan mereka adalah raja yang pantas dipertuankan.

Lihat saja bagaimana masyarakat maju mempermainkan masyarakat yang mengambang. Bahkan anak cucu masyarakat yang mengambang kelak tidak akan tahu betapa kakek neneknya begitu tidak sadar dengan keadaan yang menimpa mereka. Dengan tanpa disadari, masyarakat maju menguasai sedikit demi sedikit semua sumber kekayaan alam yang seharusnya menjadi warisan turun temurun masyarakat yang mengambang. Namun, kontrak sudah ditandatangani sehingga sampai beberapa dekade, masyarakat mengambang hanya berhak menikmati beberapa persen dari kekayaannya sendiri.

Jika ada isu yang mengganggu proses privatisasi yang sedang atau sudah dilakukan masyarakat maju, sekoyong-koyong media-media dalam masyarakat mengambang akan memblow up isu-isu pengalihan seperti isu terorisme, olahraga, bahkan pernikahan raja dari masyarakat maju. Atau jika perlu, masyarakat maju akan mempromosikan dirinya sebagai pahlawan karena sudah memberikan beasiswa, ikut melestarikan lingkungan dan memberikan lapangan pekerjaan kepada segelintir orang dari ratusan juta orang masyarakat mengambang yang menderita karena pencemaran lingkungan, dan pengangguran.

Namun sayangnya, tidak ada yang peduli dengan masyarakat yang mengambang. Mungkin karena keadaan seperti itu sangat menguntungkan. Bagi penguasa untuk terus mempertahankan kekuasaannya, juga bagi masyarakat maju yang tidak pernah puas kecuali sudah menghisap habis madu dari perut bumi masyarakat mengambang.

Rasionalkah ?

Nyatanya bahwa masyarakat yang mengambang adalah masyarakat rasional yang irasional. Karena mereka hanya memandang sesuatu bukan dari fungsinya tapi dari gaya dan ke pop-annya. Segala sesuatu yang sedang trend adalah alasan untuk mengkonsumsinya walaupun sesuatu itu jauh dari kualitas yang sebenarnya. Kata-kata gaul, mode, trend dan style tidak pernah terlepas dari masyarakat mengambang.

Sebenarnya mereka tahu bahwa apa yang mereka beli di mall tidak lebih bagus dari apa yang mereka temukan di pasar-pasar tradisional, namun anehnya karena gengsi mereka lebih memilih untuk menghabiskan uangnya di mall. Bahkan bila perlu mereka rela untuk membayar sepuluh kali harga kopi warkop untuk secangkir kopi yang katanya berbrand.

Iklan adalah sarana paling ampuh untuk menggiring masyarakat yang mengambang pada budaya konsumtif. Namun karena masyarakat yang mengambang tidak pernah sadar dengan keadaan yang sedang menimpanya, maka mereka tidak tahu apa yang memang kebutuhannya dan apa yang bukan. Akhirnya apa yang tidak diperlukan diada-adakan untuk menjadi keperluan sehingga keuntungan semakin berlipat-lipat dan masyarakat maju dengan senang berlari kencang meninggalkan masyarakat yang mengambang sedang bingung tak tahu arah.

Sabtu, April 30, 2011

Manusia dalam Realita Kita

Sebuah pemikiran seharusnya tidak boleh jauh dari realita. Karena alam realita adalah sebuah ukuran apakah pemikiran itu membumi atau melangit. Kadang kita terlalu banyak menghafalkan banyak teori yang ternyata jika dibenturkan pada kehidupan nyata akan membuat sebuah kerusakan yang sangat dahsyat.

Contohnya saja jika kita berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu akan berjalan sesuai dengan jalannya masing-masing tanpa melihat realita yang berbicara bahwa banyak sekali penyimpangan yang sudah berlaku. Keyakinan akan kebenaran asumsi tersebut akan membutakan mata kita untuk merubahnya karena kita hanya berfikir secara "murni/pure".

Berfikir secara idealis tanpa melihat kenyataan adalah sebuah kekalahan getir yang begitu menyakitkan. Karena mungkin dilihat dari bungkus, apa yang kita fikirkan itu adalah sesuatu yang bagus dan bermanfaat meskipun sebenarnya itu adalah bom waktu yang setiap saat dapat mengantarkan jutaan manusia pada kerusakan.

Maka seharusnya kita dapat mengambil sebuah manfaat dari kejadian-kejadian yang sudah berlalu sehingga kekalahan-kekalahan pahit tersebut tidak terulang untuk kesekian kalinya. Alam dan fenomena-fenomena kejadian yang sudah terekam dalam sejarah umat manusia seharusnya menjadi tolak ukur fikir, laku dan sikap setiap dari kita.

Sejarah tentunya akan kembali berulang karena manusia tidak pernah berubah. Sifat dan cara manusia hidup adalah sifat dan cara manusia hidup beberapa ribu tahun yang lalu. Secara dzat manusia adalah manusia yang sama. Maka sejarah bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya seharusnya menjadi perhatian serius setiap dari kita. 

Secara naluriah manusia akan mempertahankan eksistensi dirinya. Tentunya sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain, manusia akan mengambil langkah aman dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan melakukan praktek-praktek kelenturan agar dia dapat melakukan apa yang dia inginkan tanpa ada orang merasa terganggu, ataupun jika ada yang merasa terganggu akan dapat memaklumi apa yang ia lakukan.

Inilah realita manusia yang sedang kita hadapi. Maka nampaknya kecurigaan tidak akan dapat dipisahkan dari asumsi karena realita tak semanis apa yang kita pelajari dulu di kuliah. Maka sangatlah salah jika sekonyong-konyong kita lantas menyimpulkan jika manusia-manusia yang kita lihat sekarang adalah manusia yang masih memiliki rasa kemanusiaan. Karena pergerakan zaman ternyata mewartakan bahwa manusia-manusia yang sedang berada diskeliling kita adalah manusia-manusia yang liar. Lalu apakah kita masih berfikir bahwa kehidupan akan berjalan seperti apa yang kita fikirkan?

Rabu, April 27, 2011

Our Leisure Class


There is a profession which hasn't the meaning of work, the celebrity. "My dream is being a celebrity." A beautiful young lady said. The television always tells that she is a celebrity so that she is being a celebrity.

The case is same as to be a humanist. That term is rather more aimed to describe the unreal world which is ideal, has everything, and no need to work. It is different for example from being a designer which means to make designs, being an insurance officer which has to serve clients who sometimes annoy, being a sweeper which means to sweep, and the others. Being a celebrity or other types of works which haven't work connotation is more dreamed.

Especially for a nation which skipped development phases of civilizations. You can imagine that without ushering in the enlightenment demonstrating intelligences and thought, and continued by industrial revolution promoting efficiency and utility, suddenly the nation enters the consumption era. So, who has opportunities to have everything without working can show off their wealth.

Whereas who hasn't opportunities only can sit down in front of the television, be stunned by highlights of the material objects, and wait for miracle to be rich unexpectedly. Everything must be glorious inasmuch as poor quality one will be liked. These are what should make critics accept the reason why almost our TV programs are crash.

The critique for that banal culture had long existed. Thorstein Veblen wrote a book, The Theory of the Leisure Class (First published in 1953), which became a reference to all who interested in educated class behaviors. In that book Veblen confirmed that his hidden meaning of the word leisure class is to waste time.

He tracked to the roots. As from ancient time, the birth of leisure class was coincided with the matter of the ownership in economic history. In the Dark Age, the ownership was begun with women, who generally were war booty. From the ownership of women, gradual evolution happened until the ownership of industrial productions.

We should see within contexts when Veblen wrote his book in that time. He was attracting his attention to the appearance of a new class in America, nouveau riche, which he thought that was not consistent in the need of modern society productivities. The new social class was the predator of luxurious things, and the high life style. So he used the term conspicuous leisure –low productivity–.

Those mentioned above are happening around us. The ruling class, whom we strongly doubt that they have high productivity, are showing off bluntly their worth. They have elegant clothes, dinner jackets notwithstanding in the tropical country, self-winding watches, and diamond rings. From whom we suspected strongly that he is a corruptor up to who was exposed as a corruptor, all of them show up on the television in luxury.

All of those are the very antithesis of productivities. The more you see the elegance of the leisure class; actually it means the more difficult life to people. As you know that bumpy roads are everywhere, schools are dilapidated, and the poverty of little people is reflected badly on their ghosts who appear in movie theaters. Kuntilanak lives in trees, pocong hides behind the hospital, jelangkung walks around everywhere because he hasn't enough costs.


Written by : Bre Redana
Source : Kompas
Edition : Minggu, 24 April 2011
Transtalor : HFZ

Jumat, April 22, 2011

Committing Suicide is Far From Islam

 
General Head of Muhammadiyah Headquarters, Din Syamsuddin, suggested Moslems not to be influenced in ideologies which deviated, especially to commit suicide with the motivation to enter paradise, as happened in Cirebon West Java, last week.

According to Din, to Commit Suicide is only a clear manifestation from losing hope, and being far away from Islamic teachings.

"Islam forbids its believers to commit suicide because it is only a clear manifestation from losing hope in dialogues with Allah. Were it to happen like this, the paradise wouldn't be gotten, but hell would," Said Din on Thursday (19/4) in Yogyakarta.

Suicide committed at Adz-dzikro mosque at Cirebon police headquarters, according to him, was a rash action. Moreover, that also harmed others having jum'at prayer.

Therefore, Muhammadiyah as a socio-religious organization puts pressures on the government and state police to investigate the case completely.

At Bogor Palace, the Coordinator Minister of Security, Law, and Politic, Djoko Suyanto, Said that although mentioned as a new player, Muhammad Syarif Astanagarif (32) was impossible to take his action alone.

"The Government strongly believes that there is a network behind him. Now, Police are working hard on finding relations, what is his network, who is his friends, and how the link with others is" he said.

In Jakarta, The Leader of Polri General Information Bureau, Brigjen (Pol) Ketut Untung Yoga Ana, said that police find a handwriting which is expectedly written by syarif. it states that he wants to die heroically. " Insya Allah under Allah's permission, I really really want to die in action, not because i want to be called as an islamic fighter, but the shahid noble adheres closely in my hearth." That writing was found at the back cover of book Jihad di Asia Tengah, Perang Akhir Jaman--which is confiscated from police raid at Syarif's wife's home-- written by Sheikh Abu Mus'ab As-Suri. 

Being Searched

The day before In Cirebon, police searched Basuki's home, Syarif's little brother, in Trusmi Wetan Village. From that home, police successfully gathered some evidences connected to a suicide bomber done by Syarif. Those proofs, such as fragments of digital video disks, sheets of copied speech documents, some books about Jihad, and photos of jihad trainings, were saved in six brown envelopes.

The Chief of RT 13 RW 4 Trusmi Wetan, Siti Tutasih (36), said that police did not collect explosive materials.


Source:http://nasional.kompas.com/read/2011/04/20/04542153/Bunuh.Diri.Jauh.dari.Nilai.Islam
Translator: HFZ

Minggu, April 17, 2011

4 Bentuk Penyelewengan Dalam Islam

Jika kita menelusur macam penyelewengan dalam ajaran islam, maka kita akan dipertemukan dengan 4 peristilahan yang sangat populer di dalam sejarah agama islam. 4 peristilahan itu adalah Bid'ah, Zindik, Ghuluw dan Murtad. Dalam tulisan ini penulis hendak memaparkan secara singkat namun padat tentang gambaran umum dari keempat peristilahan tersebut.

1. Bid'ah

Bid'ah dalam kamus Al-Muhith didefinisikan dengan Mengadakan (sesuatu yang baru) di dalam agama yang telah sempurna atau Apa yang diadakan setelah (wafatnya) Nabi Muhammad Saw baik itu berupa hal-hal yang (didasarkan pada) hawa nafsu dan perbuat-perbuatan (baru). Kata bid'ah digunakan dengan berbagai macam peristilihan yang berbeda hingga cenderung bertolakbelakang. Maka dari itu Bid'ah tidak bisa disamakan dengan Heresy dalam peristilahan gereja yang dalam Bahasa Indonesia juga diartikan dengan bidaah.

Bid'ah dibagi menjadi 2, Baik dan buruk. Bid'ah yang buruk adalah segala sesuatu keburukan yang baru. Maka berdasarkan pembagian diatas dapat disimpulkan bahwa Bid'ah yang baik adalah apa yang sesuai dengan dengan sunnah atau paling tidak, tidak bertentangan dengan sunnah. Adapun Bid'ah yang buruk adalah yang berlawanan dan bertentangan dengan sunnah.

Namun beberapa kelompok aliran dalam islam ada yang menentang segala macam bentuk bid'ah dan menganggap sebagai Bid'ah segala sesuatu yang tidak dapat ditunjukkan dalilnya bahwa itu adalah pendapat atau pekerjaaan yang ada dan dilakukan pada masa Rasulullah Saw. Namun kelompok ini masih membedakan antara Bid'ah dan kekafiran. Bid'ah menurut mereka bukan sebuah keingkaran yang disengaja dan bertentangan dengan pokok ajaran islam.

Hanabilah, pengikut Imam Ahmad bin Hanbal (W. 855 M) merupakan penentang utama segala macam bentuk Bid'ah. Mereka juga menentang segala macam bentuk penyucian berlebihan terhadap para Nabi dan Wali dan menganggap hal itu bertentangan dengan islam. Namun realitanya, umat islam secara umum menerima bentuk pemahaman itu ( menyucikan para Nabi dan Wali ) walaupun dengan penuh kehati-hatian.

Pada abad 14 M. seorang Ibnu Taimiyah (W. 1328 M) menentang dengan keras ajaran filsafat dan tasawuf. Ajaran ini kemudian semakin berkembang di abad 18 yang dipelopori oleh gerakan wahaby yang sampai sekarang masih menjadi kekuatan besar di Semenanjung Arabia.

2. Zindik

Definisi Zindik hampir menyerupai arti Heresy dalam pemahaman Nashrani. Berbeda dengan Bid'ah, Zindik merupakan bentuk keberagamaan yang tidak dapat diterima. Namun, tidak sepenuhnya benar jika kita menganggap kata Zindik merupakan padanan dari Heresy. Karena kadang kata zindik disematkan bagi orang-orang yang memiliki pemikiran bebas.

Zindik juga dialamatkan kepada orang-orang yang keluar dari jalur agama karena penafsiran mereka terhadap agama dapat membahayakan pemerintahan (islam). Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa definisi Zindik sendiri, sama seperti Bid'ah, memiliki banyak perbedaan arti.

Dalam Turast sastra disebutkan tiga orang ahli Zindik yaitu : Ibnu Ruwandy ( W. 860 M ), Abu Hayyan At-Tauhidy (W. 1010 M), dan Abul Ala' Al-Ma'arry (W. 1058 M ). Pembagian ini merujuk kepada seorang sejarawan pada awal masa islam yaitu Ibnul Jauzy (W. 1200 M ) yang menambahkan di dalam pendefinisiannya bahwa yang paling jelek di antara ketiganya adalah Abu hayyan At-Tauhidy karena dia tidak mengungkapkan maksudnya secara jelas/gambang. Namun, definisi Ibnul Jauzi tentang zindik tersebut akhir-akhir ini mendapat kritikan yang sangat keras.

Para Ahli Fiqh memaknai zindik adalah mencela dan mengejek Nabi Saw. Akhir-akhir ini para ahli tasawuf muslim dianggap sebagai para zindik karena beberapa sebab diantaranya adalah racauan mereka yang mengindikasikan hulul, atau wahdat al-wujud, juga karena beberapa ajaran mereka yang bertentangan dengan ajaran islam.

Abu Hamid Al-Ghazali memasukkan golongan Dahriyyah sebagai golongan zindik. Dalam hal ini beliau berkata di dalam bukunya Al-Munqiz Minadh-Dholal : Dahriyyah adalah golongan terdahulu yang mengingkari Sang Pencipta dan Pengatur, Yang Maha mengetahui dan Berkuasa, Mereka beranggapan bahwa alam ada dengan sendirinya tanpa adanya seorang pencipta, hewanpun dari dulu terbuat dari air mani, dan air mani itu dari hewan, begitulah sejak dahulu dan yang akan datang selamanya. Mereka itulah para ahli Zindik.

Dini kita dapat menambahkan bahwa kritik yang ditudingkan kepada ahli Zindik adalah lebih kepada cara fikir dan ungkap mereka yang tidak jelas dari pada kepada maksud tujuan mereka sebenarnya. Maka tidak heran jika kita jarang menemukan mereka yang secara jelas menafikan ketuhanan.

Oleh karena itu defisini Zindik dianggap sebagai 'mantel longgar' yang dipakaikan kepada 'seluruh pemikiran-pemikiran bebas orang-orang yang tidak mengikuti arus besar pemikiran umum". Maka dari itu Junaid, Seorang sufi yang moderat, berkata bahwa tidak ada seorang manusiapun yang sudah mencapai derajat hakikat kecuali seribu temannya akan menganggapnya sebagai zinndik.

3. Ghuluw

Ghuluw dapat didefinisikan sebagai berlebih-lebihan. Orang-orang yang melakukannya disebut Ghulat yaitu orang-orang yang berlebih-lebihan dan melewati batas logika, khususnya dalam pengkultusan orang-orang tertentu. Juga dapat dianggap sebagai Ghulat orang-orang yang memiliki keyakinan tentang hulul dan reingkarnasi yang sama sekali tidak dikenal di dalam islam.

Secara khusus, dapat juga dimasukkan dalam golongan Ghulat, sebagian golongan syi'ah yang menuhankan imam-imam mereka dan menafsirkan Al-Qur'an dengan tafsiran batiny. Golongan ekstrim ini, menurut syi'ah mayoritas, termasuk ahli Zindik.

4. Murtad (Riddah)

Murtad (Riddah) dalam Mu'jam Al-Wasith diartikan dengan : Kafir setelah Islam. Kata itu disematkan juga kepada sebagian kabilah Arab yang keluar dari islam setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Murtad dapat terjadi dengan perkataan, contohnya jika ada seseorang yang mengingkari salah satu pokok akidah islam. Atau dapat terjadi dengan perbuatan, seperti seseorang yang dengan sengaja menghina al-Quran.

Rabu, Maret 30, 2011

Dosa Menyebarkan Aib

Aib adalah sesuatu yang harus ditutupi. Tentunya semua orang akan sepakat dengan pernyataan awal saya tersebut. Aib adalah sebuah cela. Cela bagi manusia adalah kekurangan yang harus ditutupi, bukan lantas disebarluaskan atau malah disiarkan dalam bentuk acara televisi yang menjadi tontonan orang banyak. Anehnya, si empunya aib malah setuju untuk menanyangkan cela dirinya di hadapan jutaan pemirsa televisi.

Sungguh sebuah fenomena yang sangat menyayat-nyayat kemanusiaan kita. Apa yang seharusnya tidak dilakukan malah menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan. Apa yang tidak pantas ditayangkan berubah menjadi kepantasan yang harus dipertontonkan. Ironi sebuah masyarakat yang katanya mayoritas beragama islam. Agama yang sama sekali mencela habis-habisan pertunjukan pamer aib.

Seharusnya masyarakat paham bahwa menyebarluaskan aib adalah dosa yang sangat tercela. Al-Quran Surat An-Nur ayat 19 dengan tegas menyatakan bahwa balasan yang sangat pedih baik itu di dunia maupun di akhirat kelak teruntuk orang-orang yang suka menyebarluaskan aib di komunitas muslim khususnya dan komunitas manusia secara umum. Di dunia dengan balasan celaan manusia dan di akhirat berupa adzab pedih di neraka.

Aib-aib itu bisa berupa dugaan perzinahan, perzinahan, dan cela-cela lainnya yang jika tersebar maka akan menjadi penyakit masyarakat. Masih segar di memori kita kasus video porno Ariel dan dua orang artis yang tersebar luas sehingga menimbulkan dampak yang berkepanjangan. Beberapa kali kita membaca di koran-koran ataupun televisi berita tentang kejadian serupa yang dilakukan masyarakat hanya karena ingin meniru sang idola !

Syekh Sha'rawi dalam tafsirnya menyatakan bahwa tujuan ayat di atas sangat jelas yaitu agar aib itu tidak disebarluaskan dan menjadi contoh tidak baik bagi masyarakat. Apalagi jika aib itu berkenaan dengan aib seorang ulama, yang jika aib itu tersebar maka orang-orang akan enggan untuk mendengarkan apa yang ulama tersebut katakan. Alih-alih jika berita tentang aib itu benar, bagaimana jika ternyata itu hanya isu semata, maka hilanglah kebaikan yang banyak akibat isu tersebut.

Dengan terang benderang Rasulullah bersabda dalam sebuah hadist shoheh : barang siapa yang menutupi aib saudaranya sesama muslim di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Namun pertanyaannya adalah apakah kita mau untuk melaksanakan sabda baginda Nabi ini ? Hanya nurani dari setiap kita yang bisa menjawab pernyataan tadi.

Jumat, Maret 11, 2011

Dari Odong-odong menuju Gumul

Odong-odong adalah salah satu alat transportasi yang paling favorit di Pare. Bahkan sampai ada ucapan yang menyatakan bahwa jika belum naik odong-odong maka belum sah menjadi pendatang di Pare. Odong-odong umumnya berupa kendaraan yang mirip kereta mini. biasanya memiliki dua sampai tiga gerbong dengan empat baris tempat duduk di setiap gerbongnya dan dua sampai tiga kursi di setiap barisnya.

Biasanya teman-teman menyarter odong-odong untuk jalan-jalan bersama menuju satu tujuan wisata. Contohnya kemaren ketika rombongan teman-teman saya menuju Gumul, maskot kota Kediri. Kurang lebih 17-an orang yang ikut serta dalam perjalanan tersebut dengan mengendarai odong-odong. Agak seru karena perjalanan dari tempat kursus ke Gumul kurang lebih 45 menit perjalanan dengan menggunakan odong-odong. Selama perjalanan kita sempatkan diri untuk mengabadikan moment tersebut dengan berfoto ria.

Naik odong-odong

Setelah sampai ke Gumul, kita langsung menuju tugu maskot kota Kediri itu. Simpang lima, kebanyakan warga sekitar memberi nama tempat tersebut yang ternyata sangat ramai dengan berbagai macam penjual makanan dan minuman. Keadaannya mirip pasar malam yang penuh sesak dengan manusia. Akhirnya setelah melewati terowongan bawah tanah, kita sampai ke tugu simpang lima.

Meskipun secara historis saya masih belum menemukan asal muasal pembangunan tugu tersebut, namun secara simbolik menurut teman saya yang kebetulan orang Kediri aseli, tugu tersebut adalah maskot kota Kediri. Maka tidak heran jika bukan hanya warga pendatang seperti kami saja yang mendatangi tempat ini, warga sekitarpun tidak segan-segan untuk sekadar berfoto ria di depan maskot kota Kediri itu.

Gaya Anak Muda Jaman Sekarang



Rabu, Maret 02, 2011

Wanita Bermata Dua

Aku sering melihat wanita
Namun baru ku temukan wanita bermata dua
Matanya indah melingkar bulat tak bercela

Ia tak hanya melirikku
Namun sempat menyapaku lirih
Suaranya datar tanpa ekspresi

Ku lihat matanya yang dua
Tak kutemukan yang kucari
Ia benar-benar wanita itu, bermata dua

Lalu ku lihat penampilannya
Ia sangat apa adanya
Begitu sederhana memandang dunia

Temanku pernah berkata,
'jika kau bertemu wanita bermata dua,
cepatlah kau tangkap dia'.

Sayangnya aku bukan seorang pemburu
Aku hanya bisa melihat wanita itu
Dengan dua matanya yang sangat indah.

Minggu, Februari 27, 2011

Pare, Singing at Bali House

Cerita saya kali ini adalah tentang Pare, kota yang terkenal dengan kampoeng inggrisnya. Ya, sudah hampir dua bulan saya menghabiskan waktu di Pare untuk belajar bahasa Inggris. Meski agak terlambat, tapi better late than none kan ? Ilmu itu tidak mengenal usia katanya. Sebenarnya saya mau bercerita tentang rumah kos saya yang kebetulan bersebelahan dengan tempat kursus bahasa arab, namun sepertinya cerita tentang tempat kos saya itu lebih bagus jika ditulis di judul yang berbeda.

Sebenarnya rencana saya ke Pare ini sudah agak lama, tapi baru terlaksana di awal Januari 2011 lalu. Setelah bertanya kesana-kemari mencari informasi tentang Pare, akhirnya saya memutuskan untuk datang ke Pare. Pada umumnya, semua kursusan di Pare ini membuka programnya dua kali sebulan antara tanggal 10 dan 25. Jadi orang-orang yang berminat untuk kursus di pare lebih baik datang sebelum dua tanggal itu agar tidak kehabisan kuota. Pernah kejadian seorang bapak dengan anak gadisnya yang terpaksa harus kembali lagi ke rumahnya gara-gara terlambat satu hari dari masa pendaftaran itu.

Untungnya bapak itu bertemu saya yang akhirnya menunjukkan satu tempat kursus yang masih ada kuotanya. Namun sayangnya setelah berkeliling berapa jam bapak itu tidak menemukan rumah kos buat sang putri. Akhirnya sang bapak yang malang memutuskan untuk pulang saja. Padahal bulan-bulan Januari-Februari bukan bulan liburan panjang, tapi seperti kata teman-teman Pare never end, soalnya setiap bulannya pasti banyak pendatang baru yang mengunjungi Pare untuk sekedar kursus beberapa minggu.

Selama di Pare saya baru mengambil 4 program. Terakhir saya masuk program Grammar Speaking. Awalnya saya tidak menyangka kalau tutornya baru lulus sma, tapi saya agak lega karena sang tutor ternyata pernah satu tahun di USA untuk mengikuti pertukaran pelajar. Bagus juga diajar anak yang umurnya jauh di atas kita. Agak lucu tapi menarik juga. Untungnya teman-teman yang lain enjoy dan menikmati pelajaran yang diberikan sang tutor cilik. 
Foto bersama di kelas Grammar Speaking.

Program Grammar Speaking itu untuk memperbaiki grammar kita dalam percakapan. Meski sang tutor selalu mengkritik saya tentang prononciation yang selalu kurang tepat, namun keadaan kelas selalu ceria dan sesekali diiringi canda tawa. Progam ini hanya berdurasi 2 minggu. Hari aktif sebanyak 8 hari dengan dua kali pertemuan setiap harinya. Setiap pertemuan berdurasi 1,5 jam sudah cukup membuat kepala kita senat senut karena kecapaian.
Sebelum program selesai, kita mengadakan farewell party di Bali House, sebuah cafe yang menyediakan fasilitas karaoke di Jl. Anyelir. Lumayan juga untuk menumpahkan segala macam ketegangan syaraf akibat terlalu banyak progam kursusan. Waktu itu kita menyewa untuk 1 jam khusus bernyanyi dengan bahasa Inggris, jadi sekalian refreshing juga plus kelas tambahan.


Singing at Bali House
Meski lagu-lagu yang tersedia sangat lawas plus kuno, namun kita sangat menikmati malam itu. Saya sendiri sempat menyanyikan beberapa lagu seperti lagu Please Forgive Me-nya Bryan Adams dan lagu lainnya milik Weslife dan Backstreet Boys. Tapi meski lagu lawas, lagu-lagu itu ternyata sangat mudah dinyanyikan karena sudah lama dikenal dan didengar, apalagi sambil menghayati arti dari setiap lirik yang sangat dahsyat.

Akhirnya kita akhiri farewell party malam itu dengan berfoto ria untuk mengabadikan kenangan yang tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya, karena setelah malam itu, kita akan berpisah dan kembali pada aktivitas masing-masing di cerita kehidupannya masing-masing. Thanks guys ...

At Bali House.

Kamis, Februari 24, 2011

Ahmadiyah Dalam Sorotan


Kekerasan dalam bentuk apapun merupakan suatu hal yang sangat tercela. Apalagi jika bentuk kekerasannya adalah kekerasan karena latar belakang agama. Tentunya jika kita menelaah setiap ajaran dari agama, pastilah tidak akan ditemukan titah-titah tentang kekerasan. Namun kenapa kenyataannya banyak pemeluk agama yang melakukan kekerasan ?

Meski realita terakhir yang hadir di depan mata kita adalah kekerasan yang dilakukan umat beragama, tepatnya kasus pembunuhan 3 jemaat Ahmadiyah di Pandeglang Banten dan kasus pembakaran 3 gereja di Temanggung, namun alangkah bijaknya jika kita tidak langsung mengambil kesimpulan bahwa pemeluk agama adalah makhluk brutal dan sadis, atau bahkan menyimpulkan bahwa agama adalah biang keladi dari semua kekacauan tersebut.

Teori yang paling mudah untuk memahami setiap kejadian adalah teori sebab akibat. Tidak ada asap tanpa ada api, tidak ada hujan tanpa awan, begitu kira-kira deskripsi logisnya tentang teori tersebut. Nah, jika kita coba untuk menghubungkan antara dua kejadian di atas dengan teori tersebut maka sudah pasti kita dipertemukan dengan sebuah kesimpulan bahwa kekerasan yang telah terjadi tersebut tentu saja memiliki latar belakang permasalahan.

Maka tidak adil jika selalu hasil yang digembar-gemborkan tanpa menyertakan proses dan sebab dari hasil tersebut. Semua agama tentunya selalu mengajarkan toleransi, kasih sayang dan anti kekerasan kepada seluruh pemeluknya. Maka perlu dibedakan antara para pemeluk agama yang melakukan penyimpangan terhadap ajaran agamanya dan ajaran agama itu sendiri. Tentunya perilaku oknum dari pemeluk agama tidak dapat digeneralisasikan menjadi laku seluruh pemeluk agama tertentu.

Ahmadiyah Sebagai Agama ?

Banyak opsi yang sudah ditawarkan untuk meredam konfik Ahmadiyah. Salah satunya adalah opsi memposisikan Ahmadiyah sebagai agama baru di Indonesia. Opsi ini sepintas terlihat sangat tidak masuk akal, namun ketika kita mencoba kembali meneliti inti dari ajaran Ahmadiyah yang jelas-jelas mendeklarasikan seorang nabi yaitu Mirza Ghulam Ahmad dan sebuah kitab suci yang bernama tadzkirah sebagai dua 'pembeda' mereka dengan umat islam, maka hemat penulis opsi tersebut sangatlah tepat.

Permasalahannya adalah Jemaat Ahmadiyah masih bersikukuh menganggap ajarannya tersebut adalah bagian dari islam. Padahal sudah menjadi kesepakatan para ulama sejak munculnya Ahmadiyah yang kemudian ditegaskan lagi oleh fatwa MUI terkait Ahmadiyah bahwa ajaran Ahmadiyah adalah ajaran yang melenceng dari pokok ajaran Islam plus SKB menteri terkait Ahmadiyah yang melarang Ahmadiyah untuk beribadah dihadapan publik dan menyebarkan ajarannya.

Lalu ketika Jemaat Ahmadiyah masih keras kepala dan mencoba memprovokasi masyarakat dengan tetap melakukan aktivitasnya di hadapan publik, maka konflik horizontal antara Jemaat Ahmadiyah dan para penentangnya tak bisa terhindarkan. Dalam posisi ini kedua belah pihak dapat dipersalahkan. Bagi Jemaat Ahmadiyah, adalah kesalahan melakukan provokasi, bagi kelompok penyerang adalah kesalahan menggunakan kekerasan yang sangat dicela oleh ajaran agama.

Satu hal yang harus menjadi kesepakatan umum bahwa para Jemaat Ahmadiyah adalah salah satu dari unsur bangsa Indonesia yang harus mendapat perlakuan yang sama dengan unsur-unsur masyarakat lainnya. Nah, perlakuan yang sama tersebut termasuk hak berkeyakinan yang diatur oleh UUD 45 pasal 29.

Kebebasan berkeyakinan tersebut tentunya tidak bebas begitu saja. Karena kebebasan satu pihak pasti dibatasi oleh kebebasan pihak lainnya. Dalam hal ini kebebasan Ahmadiyah dalam memeluk keyakinannya dibatasi oleh kebebasan berkeyakinan yang dipeluk oleh para penentangnya.

Konflik utama dalam kasus Ahmadiyah adalah anggapan penentang Ahmadiyah bahwa ajaran Ahmadiyah bukan hanya sesat namun lebih dari itu, bahwa Ajaran Ahmadiyah sangat menodai ajaran islam secara benderang dan lucunya mereka masih mengaku sebagai bagian dari umat islam. Hal itu sama halnya dengan seorang atheis yang mengatakan ia bertuhan dihadapan khalayak ramai yang sudah tahu kalau dia adalah seorang atheis.

Keadaan semacam ini diperburuk lagi dengan sokongan beberapa aktivis liberal-pluraris yang memancing di air keruh. Jika saja para aktivis itu tidak memanas-manasi Jemaat Ahmadiyah untuk tetap kukuh dengan anggapan mereka bahwa meraka adalah muslim, tentunya keadaan tidak akan serumit ini.

Perlu adanya kelapangan dada dari Jemaat Ahmadiyah dan para penyokongnya untuk mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai agama baru di Indonesia. Jika melihat posisi Ahmadiyah yang semakin terpojokkan, maka opsi tersebut seharusnya menjadi opsi utama agar konflik horizontal yang kerap terjadi dapat diminimalisir. Nah, sekarang yang menjadi tanda tanya besar adalah apakah Ahmadiyah dan para penyokongnya dapat menerima itu semua ?

Pastinya apa yang sudah diterapkan di Pakistan sebagai induk dari Ahmadiyah harus dipertimbangkan dan dijadikan tolak ukur. Sejak 1974 Ahmadiyah sudah dideklarasikan sebagai minoritas non-muslim di Pakistan. Jika memang Ahmadiyah dan para penyokongnya memiliki itikad yang baik, sebaiknya langkah Ahmadiyah Pakistan secepatnya ditiru sebelum konflik semakin membesar dan melebar.

Pare, 24 Februari 2011

Rabu, Januari 26, 2011

Negeri Tanpa Partai Politik

Tentunya yang diharapkan semua generasi muda saat ini adalah perubahan yang nyata. Bukan hanya omong kosong dan janji-janji palsu yang mungkin dahulu bisa dengan mudah memperdaya generasi-generasi di atas kita. Namun zaman sekarang sudah berubah. Era keterbukaan sudah menjadi type generasi muda saat ini. Lalu kenapa sampai tulisan ini ditorehkan, masih saja keadaan bangsa ini tidak berinjak dari keterpurukan ?

Mungkin saya termasuk generasi muda yang sangat marah dengan keadaan yang sedang terjadi sekarang. Nyatanya, krisis multi dimensi masih melanda negeri tercinta ini. Pasca reformasi, KKN  masih saja menggurita dan tetap tak tergoyahkan sehingga masih menjadi ‘budaya’ yang sulit dihilangkan. Kalau di rezim orde baru cara yang digunakan untuk melanggengkan kekuasaan adalah dengan kediktatoran, di rezim sekarang ini yang terjadi adalah soft diktator yaitu dengan membagi-bagikan kekuasaan kepada lawan politik. Istilah politik ‘bagi kue’ yang terkesan menjijikkan itu sudah dianggap sebuah cara final untuk melanggengkan kekuasaan.

Bahkan bukan di dalam lembaga eksekutif saja, di lembaga legislatif malah lebih parah lagi dengan banyaknya kompromi-kompromi politik sehingga kasus-kasus besar seperti Century dan lain-lain akhirnya tenggelam entah kemana. Hal ini mengindikasikan sebuah kesimpulan final bahwa anggota-anggota dewan yang sedang duduk manis disana bukanlah representasi dari suara rakyat, karena mereka tidak lebih hanya representasi dari kepentingan partai yang mengusungnya.

Lalu ketika kita beralih untuk membicarakan satu elemen lagi dari trias politica yaitu yudikatif, maka kita sekali lagi harus menerima kenyataan bahwa penegakan hukum di negeri ini  belum bisa berjalan dengan baik. Mulai dari diobok-oboknya KPK , kasus-kasus yang melibatkan hakim, jaksa dan petinggi polri membuat kita sebagai generasi muda semakin pesimis bahkan apatis dengan masa depan bangsa ini. Lalu siapakah yang untung dan siapakah yang rugi ? Jelas bahwa yang paling dirugikan adalah generasi muda saat ini yang harus menanggung dosa-dosa politik para pemimpin kita saat ini.

Lalu bagaimana solusinya ? Nyatanya kita tidak bisa terlepas dari partai politik yang identik dengan uang itu. Namun bukan sebuah kemustahilan jika nanti Indonesia adalah negara pertama sebagai negara tanpa pemimpin dari partai politik karena kita sebagai generasi masa depan Indonesia sudah merasa muak dengan tingkah laku para pelaku politik saat ini. Kita sudah tidak percaya lagi dengan janji-janji yang diiming-imingi oleh para politikus. Kita ingin perubahan yang benar-benar perubahan. Kita tidak ingin perubahan hanya sekedar lipstik saja, manis di bibir tapi pahit dirasa.

Lalu apakah mungkin kemuakan kita dengan partai politik menghasilkan sebuah solusi baru ? Jawabannya tentu mungkin yaitu dengan memunculkan nama besar dari kubu independen. Ya, sudah saatnya kita beralih kepada orang-orang yang kita percaya sendiri. Karena merekalah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin kita kelak. Mereka pula yang akan membawa nahkoda negara dan bangsa ini menuju sebuah era baru, tatanan baru dan masa depan baru. Tentunya kita tidak akan rela jika pemimpin-pemimpin kita adalah produk dari politik busuk era ini. Kita mengingankan perubahan yang dilakukan oleh orang-orang baru. Yaitu orang-orang hebat yang masih memiki hati nurani di negeri ini. Dan kita harus meyakini, orang-orang itu ADA.

Karena kita harus menyakini, sehabis gelap terbitlah terang. Dan sekaranglah perubahan itu harus kita mulai. Sekaranglah kita sebagai generasi muda Indonesia harus mempersiapkan diri untuk memunculkan nama-nama calon pemimpin kita kelak. Sehingga keterpurukan yang kita rasakan ini tidak terus menerus bergelayut di kehidupan kita. KITA HARUS BERUBAH.

Rabu, Januari 19, 2011

Misteri Sakti

Misteri akan selalu membuatmu selalu bertanyata-tanya. Ia datang tanpa kamu pinta dan ia pergi tanpa mengucap kata perpisahan. Itulah misteri yang cukup membuat seluruh energimu terbuang sia-sia hanya untuk sekadar mengetahui kenapa ? Namun diam mungkin yang hanya akan menyapamu ketika rasa keingintahuan memuncak sambil memukul-mukul wajahmu. Kenapa oh kenapa ?

Sebenarnya sangat mudah bagimu untuk mengetahui kenapa, karena jawabannya semua ada pada apa yang telah kau tanyakan itu. Lalu misteri seakan mengusik kepalamu yang semakin hari semakin berkerut tanpa kau sadari sedikitpun kalau pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebuah kesia-siaan. Seiring dengan perjalanan waktu toh pertanyaan-pertanyaan itu akan tergilas dan kamu pasti akan dilupakan dengan hal-hal remeh temeh yang sudah misteri persiapkan untuk menghapus seluruh memori di kepalamu.

Kehebatan misteri tentu saja bukan sampai disitu, bahkan bisa-bisa kamu kamu yang banyak bertanya kenapa akan dibalikkan menjadi objek pertanyaan kenapa ? Semua bisa dilakukan oleh si misteri yang selalu diam saja dengan berjuta skenario di kepalanya. Misteri yang benar-benar sakti. Ia dapat memperdaya kebanyakan manusia dengan kata-kata madu yang ternyata hanya berupa janji-janji kosong yang katanya tidak pernah berbohong. Namun misteri lupa jika mentari masih memancarkan terangnya dan mata masih belum kehilangan cahayanya.

Lalu ketika orang-orang beramai-ramai mencemooh dan melabelkan kata ketidaksamaan janji dan perbuatan, si misteri seakan tak kehilangan akal bulus. Ia tentunya akan menggunakan segala macam cara untuk melupakan orang-orang dengan kata-kata manis dan tentunya orang-orang itu bukan orang-orang bodoh yang selalu misteri tipu dengan janji semu atau uang dan kedudukan palsu.

Akhir episode tentunya hanya jalan buntu karena kita akan kembali dipertontonkan dengan sinetron tanpa akhir episode. Ini hanya salah satu kehebatan si misteri sakti. Mungkin sampai nanti, misterilah yang akan menjadi pemenang sejati dari seluruh pergolakan hati. Diam adalah emas tentunya tidak selalu pasti, karena berbicara juga akan sia-sia tanpa aksi pasti.

Pare, 19 Januari 2011

Rabu, Januari 05, 2011

Totalitas Menuntut Ilmu

Embun mengiringi kepergianku ke tempat persinggahan sementara itu. Ya, tempat dimana aku mempertaruhkan impian dan harapan ini. Kadang kita harus bersabar dengan proses yang tak mau tergesa-gesa. Proses dimana manusia harus sedikit demi sedikit mempergunakan hari-harinya dengan optimal. Proses yang tak mudah tentunya.

Namun begitulah sunnatullah berjalan. Ia tidak akan pernah berubah. Siapa yang bergiat-giat maka ia akan menuai kebaikan dari tetes-tetes keringatnya itu. Burungpun harus berlelah-lelah mengepakkan sayapnya untuk sekedar menyambung kelangsungan hidupnya. Tentu manusia yang telah dikaruniai akal tidak mau kalah dengan burung tak berakal.

Kata Umar ra. sesungguhnya langit itu tidak menurunkan hujan emas. Pastilah emas itu tidak mungkin turun dari langit begitu saja, emas itu harus dicari karena sesuatu yang berharga dapat kita lihat harganya dari seberapa besar usaha untuk mendapatkannya. Semakin mudah didapatkan maka sesuatu itu akan semakin murah, pun begitu sebaliknya, semakin sulit proses untuk mendapatkannya maka sesuatu itu akan sangat mahal.

Begitupun dengan ilmu. Ia harus dicari dan dipinta, karena ilmu itu tidak akan datang sebagian darinya kepadamu sampai kamu memberikan dirimu kepadanya seutuhnya. Ilmu itu butuh totalitas. Ia didapat dengan jerih payah. Begitulah penjelasan Imam Al-Ghozali dalam Ihya'nya ketika beliau menerangkan tentang ilmu dan adab-adabnya.