Selasa, November 16, 2010

Kenapa tidak berkurban di iedul kurban ?

Iedul Adha tahun ini serasa berbeda. Setelah 8 tahun saya beriedul adha di Mesir, baru kali ini saya merasakan perbedaan dalam pelaksaan hari raya yang sedihnya karena perbedaan itu ada di negeri tercintaku Indonesia. Tepatnya ada yang merayakan pada hari selasa 16 November 2010 tapi ada juga yang melaksanakannya pada hari rabu 17 November 2010.

Saya tidak mau mempermasalahkan masalah ijtihadi yang sering terjadi di negeriku itu. Namun yang lebih menjadi fokus saya adalah keengganan masing-masing pihak untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan umat. Memang dalam masalah ijtihad tidak ada yang salah, selama ijtihad itu berdasarkan metode yang mu'tamad dan mu'tabar dalam keilmuan islam sehingga yang salah mendapat satu pahala dan yang benar mendapat dua pahala.

Tapi alangkah indahnya jika masing-masing pengambil kebijakan ijtihad untuk lebih mendahulukan persatuan umat dengan melakukan tanazul dalam ijtihadnya. Hal ini tentunya sudah dicontohkan oleh para salaf kita. Dan yang paling tampak adalah apa yang dilakukan oleh Sayyiduna Hasan ra. yang memilih tanazul dalam ijtihad beliau untuk memimpin umat islam dan menyerahkan kepemimpinan umat islam kepada Muawiyah demi menjaga persatuan dan kesatuan umat islam.

Contoh teladan yang dilakukan oleh Sayyiduna Hasan ra. ini selaiknya dijadikan sebagai rujukan dalam permasalahan-permasalahan ijtihadi. Padahal kalau kita mau berfikir secara kasat mata, apa yang dilakukan Sayyiduna Hasan ra. itu lebih besar dampaknya karena itu adalah permasalahan kepemimpinan, nah bagaimana jika perkara yang diperselisihkan itu hanya penentuan awal bulan ? Bukankah alangkah lebih baik jika para pengambil ijtihad di negeri kita itu mengedepankan kesatuan umat dari pada mempertahankan hasil ijtihadnya yang sifatnya dhanny ?

Tentunya sifat 'demi umat' yang dimiliki oleh Sayyiduna Hasan ra. sangat sulit untuk diaplikasikan di negeri kita itu. Mungkin karena setiap pengambil kebijakan ijtihad menginginkan agar hasil ijtihadnya yang dipakai walaupun itu akan menyebabkan perpecahan dan ketidak kompakan dalam tubuh umat. Atau karena keinginan mereka untuk mempertahankan apa yang ada dan sudah menjadi warisan turun temurun yaitu perselisihan ?

Padahal Allah lebih suka melihat umat islam seperti benteng yang kokoh, karena benteng yang kokoh itu tidaklah mudah untuk roboh ketika diterpa oleh badai. Lalu kemudian jika keadaan yang dihadapi umat islam di Indonesia seperti sekarang ini, tercerai berai tak jelas bentuknya, maka jangan heran jika umat ini benar-benar seperti buih-buih yang banyak jumlahnya tetapi ringan dan kosong isinya sehingga mudah saja angin sepoi menerbangkannya jauh entah kemana. Pula jangan salahkan juga jika umat ini menjadi seperti makanan di meja yang siap disantap oleh siapa saja yang melihatnya.

Maka merupakan tugas para pengambil ijtihad itu untuk mengokohkan umat ini seperti benteng yang kuat. Bukankah inti dari iedul adha adalah pengorbanan ? Lalu kenapa para pengambil ijtihad negeri kita itu seakan enggan untuk mengorbankan hasil ijtihadnya demi persatuan umat islam dalam penentuan awal bulan qurban ? Jika keadaannya seperti ini, lalu apakah iedul qurban itu masihkan berarti ?

Selasa, November 02, 2010

Dilarang Merokok !!!

Sangat susah untuk merubah kebiasaan masyarakat yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun. Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat kita yang suka merokok sembarangan. Saya sama sekali tidak mau mempermasalahkan apakah rokok itu boleh atau tidak, karena hemat saya setiap dari kita sudah tahu apa untung-ruginya merokok.

Merokok seperti pekerjaan manusia yang lain tentunya harus memiki aturan-aturan, salah satunya adalah tidak mengganggu orang lain. Betapa banyak kita lihat disekitar kita orang-orang yang merokok di tempat umum, di kendaraan umum, bahkan di ruang yang ber-ac pun ada yang tega untuk merokok. Hal ini tentunya sangat mengganggu orang-orang yang tidak merokok, termasuk saya pribadi.

Padahal jika mau jujur, perokok pasif sangat lebih berbahaya daripada perokok aktif. Namun herannya, jika kita hendak menegur orang-orang yang merokok sembarangan itu, bukannya permintaan maaf yang kita dapatkan, beruntung kalau si perokok hanya mengumpat atau mencaci, bahkan mungkin sampe adu otot. Memang penulis tidak bisa mengeneralisir semua perokok seperti itu, meskipun oknum-oknum perokok sembarangan bisa kita dapatkan dimana-mana.

Herannya, meski pemerintah sudah mengeluarkan undang-undang kawasan tanpa rokok, masyarakat seperti acuh tak acuh dan tetap merokok di tempat-tempat umum. Jika pemerintah sebagai pemegang otoritas kekuasaan saja sudah diacuhkan, maka bagaimana dengan masyarakat biasa ? Tentunya akan sangat sulit menegur dan mengubah kebiasaan masyarakat itu.

Maka hemat penulis, diperlukan cara yang tepat untuk dapat merubah kebiasaan merokok sembarangan itu. Karena tidaklah cukup dengan sebuah undang-undang tanpa ada sanksi yang jelas dalam hal ini. Karena kebanyakan masyarakat kita adalah masyarakat yang berpendidikan rendah. Pola fikir masyarakat kita yang kebanyakan berpendidikan rendah itu tentunya akan mudah diarahakan dengan adanya sanksi yang tegas dari pemerintah, contohnya saja sanksi finansial yang contohnya dapat kita lihat di singapura yang memberikan sanksi finansial bagi pembuang sampah sembarangan.

Sanksi finansial nyatanya akan sangat ampuh untuk menjalankan sebuah undang-undang yang kebanyakan akan dilaksanakan oleh masyakarat kita yang mayoritas berpendidikan rendah itu. Seperti apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta tentang sanksi bagi perokok sembarangan yang tertuang  dalam Peraturan Daerah No.2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, maka sebaiknya Pemerintah Daerah yang lain bersegera untuk mengeluarkan PP yang sama.