Jumat, Oktober 08, 2010

Kontemplasi

Akupun terdiam terhenyak tak bisa berkata apa-apa
Udara seakan ingin menterjemahkan segala pilu di dada
Akupun berlirih, biarlah aku pergi ke tempat persembunyian

Di sebuah gubuk tua hampir roboh
Akupun menangis sejadi-jadinya
Mengingat semua yang tak bisa terulang kembali

Benarlah jika kerugian itu
Milik mereka yang tak mengerti arti kesempatan
Lalu ketika semua sudah berlalu

Hanya sesal dan asa tak menentu
Tapi inilah hidup dan realita
Penuh duri, luka dan tawa

Tub Romli, 08 Oktober 2010

3 komentar:

M. Faizi mengatakan...

betul, inilah realita. bertemu, minum kopi, bersama-sama :-)

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

wah ... kapan2 bisa kembali minum kopi bersama pak kiyai sastrawan ini :D

Anonim mengatakan...

semua yang telah terjadi bukanlah sesuatu yang harus terus-menerus ditangisi, tapi jadikan semua yang pernah terjadi sebagai pelajaran hidup agar kita dapat menjadi manusia yang lebih bberarti ^_^