Minggu, September 26, 2010

Senja

Senja ini tak seperti biasa
Ku lihat matahari tersenyum padaku malu-malu
Entah apa yang hendak ia katakan
Tapi ku tahu ia mengintipku sedari tadi
Senja ini begitu istimewa
Karena sepoi angin dengan lembut menampar wajahku
Entah apa yang hendak ia bisikkan
Tapi ku tahu ia mendekapku sedari tadi
Senja ini begitu membahagiakan
Lihatlah ombak-ombak kecil berdatangan silih berganti
Entah apa yang hendak ia kabarkan
Tapi ku tahu ia mencariku sedari tadi
Senja oh senja ...
Kau pancarkan sejuta asa
Padaku disini yang meretas rasa
Senja oh senja ...
Ajarkan aku tuk mencinta
Ciptaan ilahi berjuta-juta ...

Sabtu, September 11, 2010

Hakikat 'Ied

'Ied sa'id ... 'ied mubarak ... hari raya iedul fitri yang begitu semarak. Banyak kita lihat orang-orang saling bermaaf-maafan, bersilaturahmi dan saling tukar makanan. Suasana yang begitu indah dilihat, membuat hati semakin bahagia dan fikiran tentram.

Setelah satu bulan penuh umat islam mengerjakan ibadah puasa, di hari yang penuh barokah ini semuanya bertakbir bersaut-sautan. Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... La ilaha illallahu Allahu Akbar ... Allahu Akbar wa Lillahil Hamd ... Allah Maha Besar ... Allah Maha Besar .... Allah Maha Besar ... Tidak ada Tuhan selain Allah ... Allah Maha Besar  dan segala Puji bagi Allah ... Gema takbir itu bertalu-talu menandakan datangnya hari kemenangan. Ya, kemenangan setelah satu bulan menempa hawa nafsu, kemenangan yang menyebabkan manusia kembali lagi menjadi fitrah ... seperti bayi yang baru lahir ...

Betapa rona kebahagiaan begitu tampak, tua-muda, miskin-kaya, semuanya bersama-sama merayakan hari kemenangan ini dengan riang gembira. Masing-masing mempersiapkan baju baru untuk hari raya. Mungkin baju baru itu merupakan sebuah kiasan yang menyatakan bahwa jiwa mereka sebaru baju yang mereka pakai. Kini, jiwa-jiwa itu sudah menjadi jiwa yang lebih fitrah. Jiwa yang selalu mengajak manusia menjadi orang yang lebih baik.

Namun, hakikat dari 'ied bukan pada siapa yang memakai pakaian baru saja, namun lebih dari itu, 'ied adalah sebuah proklamasi kemenangan terhadap hawa nafsu, 'ied adalah sebuah pencapaian dari pertarungan yang dilakukan manusia ketika ia berpuasa di bulan ramadhan, sehingga iman yang berada di dadanya semakin tebal dan bertambah.

Maka merupakan sebuah ironi jika ied diisi dengan hal-hal yang bertentangan dengan semangat ramadhan. Ramadhan telah mengajarkan kepada kita untuk menahan hawa nafsu, baik itu nafsu perut, kemaluan dan nafsu-nafsu yang lain. Lalu ketika pada hari raya iedul fitri kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan semangat ramadhan, tentunya itu bukanlah hakikat dari ied itu sendiri. Karena ied adalah hasil, maka tentunya sangat tergantung kepada bagaimana di bulan ramadhan kita melakukan amalan-amalan yang dilipat gandakan itu.

Jika di bulan ramadhan kita lalui dengan ibadah dan hal-hal positif lainnya, maka label minal aidzin wal faizin sangat layak kita sandang. Namun apabila sebaliknya, maka mari kita jadikan ied ini sebagai salah satu cara untuk kembali muhasabah diri. Karena 'ied bukan selamanya harus diisi dengan kesenangan dan kebahagiaan, ia juga bisa diisi dengan tangisan dan perenungan.

Ada kalanya manusia harus tertawa-tawa dan merasa bahagia dengan kemenangannya, namun ada pula orang yang merasa takut itu adalah kemenangannya yang terakhir, atau ia takut di masa-masa yang akan datang kemenangan itu akan susah ia dapatkan. Sungguh berbahagialah orang-orang yang benar-benar merasakan kemenangan di ied tahun ini lahir dan batin. Semoga mereka-mereka itu dapat mempertahankan prestasi tersebut, atau bahkan bisa meningkatkannya.

Saya ingat betul kata-kata kiayi saya dulu :
العيد ليس لمن لبس الجديد
لكن العيد من إيمانه يزيد
(Ied itu bukan milik orang-orang yang berpakaian baru, namun ia milik orang yang imannya bertambah) ....

Selasa, September 07, 2010

Berdakwah ala Blogger

Ngeblog di zaman sekarang itu sudah merupakan kebutuhan. Bahasa gaulnya bisa disebut dengan citizen journalism, jadi bagaimana setiap warga dari sebuah komunitas menjadi jurnalis-jurnalis handal yang dapat mengumpulkan, menuliskan dan memberitakan kejadian-kejadian yang terjadi disekitar mereka dalam sebuah tulisan yang tidak didapatkan di media-media besar. Tentunya independensi dari setiap masyarakat jurnalis sangat dibutuhkan, meskipun subyektifitas dari setiap penulis tidak dapat disangkal lagi, namun setidaknya ada upaya-upaya untuk mencapai obyektivitas yang kita dambakan bersama.

Ngeblog juga bisa menjadi balance berita dari media-media mainstream, karena tentunya media-media mainstream itu tidak lepas dari kepentingan pemilik saham terbesarnya. Bisa jadi propaganda-propaganda untuk kepentingan pribadi diputar balikkan menjadi fakta-fakta yang absolut. Karena tentunya tanyangan atau berita yang diulang-ulang dan disertai dengan tambahan-tambahan akan menambah keyakinan pembaca ataupun pemirsa akan kebenaran berita tersebut. Nah, disinilah masyarakat jurnalis menjadi penting posisinya karena dapat menawarkan berita lain yang tentunya lebih akurat karena dialami langsung oleh sang pembuat berita.

Serangan 11 September 2001 adalah salah satu contoh dimana masyarakat dunia digiring kepada sebuah fakta palsu tentang siapa dibalik serangan maut tersebut. Tentunya media-media mainstream sangat berperan dalam penggiringan tersebut, walaupun sampai sekarangpun fakta sebenarnya dari kejadian tersebut belum terungkap secara pasti. Akhirnya banyak warga yang mencoba untuk mencaritahu fakta tersebut dengan menganalisa video, foto, dan kejadian-kejadian sebelum tragedi tersebut sebagai informasi 'lain' dan berbeda dari informasi yang diberitakan media-media mainstream.

Dalam lingkup masisir, tentunya blogging merupakan suatu hal yang sudah tidak asing lagi. Karena tuntutan zaman yang mengakibatkan apa saja yang kita alami dapat dibuat menjadi cerita yang menarik. Tetapi sayangnya, budaya ngeblog sepertinya tidak begitu populer di kalangan masisir. Hal ini dapat di lihat dari minimnya masisir yang memiliki blog aktiv. Padahal, media blog dapat dijadikan latihan untuk menulis. Bahkan bisa dibuat sebagai media untuk berdakwah dan menyebarkan pemikiran islam yang moderat.

Berdakwah ala blogger tentunya sangat menarik dan lebih obyektif. Menarik karena tentunya banyak hal yang bisa dituangkan baik itu dalam bentuk tulisan ataupun audio visual yang tidak didapatkan dari media-media mainstream. Obyektif karena bebas dari tekanan dan permintaan (standarisasi)  yang biasanya ditetapkan oleh media-media mainstream. Semakin dekat sebuah tulisan dengan agenda dan ideologi media tersebut maka tulisan itu akan layak cetak/terbit. Berbeda dengan menulis di blog yang lebih bebas dan independen karena penulis bisa bebas mengekspresikan semua pemikirannya tanpa ada ketakukan tulisan itu tidak layak terbit ataupun kegamangan karena tulisannya tidak sesuai dengan idiologi orang lain.

Lebih dari itu, berdakwah ala blogger tentunya akan lebih efektif karena perkembangan dunia modern yang cenderung menuju kepada internetisasi dalam segala bidang kehidupan. Berdakwah ala bloger akan sangat efektif karena betapa banyak pengguna media online saat ini, maka akan sangat tepat jika arah dakwah dibelokkan menjadi Edakwah sehingga dakwah menjadi tepat sasaran. Maka, tentunya dengan pergeseran kecenderungan tersebut menjadikan dakwah ala blogger akan lebih efesien, baik itu secara materi, waktu ataupun tenaga. Karena cukup dengan menulis beberapa waktu di depan komputer dan memposting tulisan itu maka tulisan kita akan dapat dibaca banyak orang. Jadi kalau mau kita bandingkan efesiensi dan efektivitas antara berdakwah secara cetak dan online, maka berdasar pekembangan zaman berdakwah secara online akan lebih efektif dan efisien.

Tentunya peluang ini seharusnya dipergunakan sebaik mungkin oleh masisir. Karena, masisir harus bisa mencari celah-celah peluang yang dapat memberikan kemanfaatan kepada khalayak ramai. Betapa banyak kita lihat orang-orang yang hendak mencari informasi lalu kemudian dia mendapatkan informasi yang salah dari internet. Hal ini tentunya menjadi kewajiban masisir sebagai ujung tanduk dakwah dalam menyebarkan paham-paham yang toleran dan moderat yang sedang masisir gali di negeri para nabi ini.

Kalau boleh saya memberikan istilah, maka saya akan mengistilahkan masyarakat indonesia sebagai masyarakat copy paste. Ya, karena banyak dari masyarakat kita yang langsung menelan mentah-mentah informasi yang dia dapatkan di internet tanpa ada proses filter terlebih dahulu, khususnya artikel-artikel tentang keislaman yang biasanya ditulis di blog, sehingga kebanyakan masyarakat kita gampang terbawa paham-paham yang tidak moderat dan cenderung ekstrim. Hal ini tentunya merupakan PR kita bersama sebagai bagian dari komunitas masisir yang sedang menuntut ilmu agama yang moderat.

Namun ternyata tantangan yang paling besar bukan pada fasilitas, karena fasilitas untuk menjadi jurnalis-jurnalis warga sudah dapat dengan mudah kita temukan di website-website blogging, ambil saja contoh www.blogger.com, www.wordpress.com, atau media blogging lokal seperti kompasiana. Akan tetapi lebih kepada kemauan masisir itu sendiri untuk membuat sebuah gerakan dan kontribusi nyata untuk bangsa dan negara kita. Jika tidak dari sekarang kita mulai untuk memberikan informasi yang baik dan benar kepada masyarakat kita yang copy-paste itu, maka kapan lagi kita akan bersumbangsih kepada bangsa dan negara tercinta kita itu ?