Rabu, Agustus 04, 2010

Realitas Terbalik

Tertawa membuat kita bisa melupakan semua keluh kesah yang sedang menghimpit dada. Tertawa juga akan meringankan beban fikiran kita yang semakin menumpuk dan menyesakkan dada. Ada kalanya manusia harus tertawa ketika ia sedang bersedih. Bukan karena ia tidak menghayati kesedihannya, namun adakalanya tawa itu akan sedikit mengobati kekesalannya kepada dirinya sendiri.

Inilah realita kehidupan yang harus kita hadapi. Barang siapa yang menanam dia pasti akan menuai. Tak ada sesuatupun yang terjadi kebetulan di alam ini. Setiap kejadian pasti tidak akan pernah keluar dari hukum sebab akibat. Tidak ada asap tanpa api, semuanya berputar menjadi harmoni yang begitu indah.

Walaupun sebagian dari kita ada yang tidak mengerti arti simfoni kehidupan itu. Sehingga ia merasa bahwa kehidupan ini begitu tidak adil. Kenapa harus ada kaya miskin, bahagia sengsara bahkan mukmin kafir ? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak realitis, karena kehidupan adalah kumpulan realita yang saling bertolak belakang. Siang malam, matahari bulan, hidup mati, bahagia sengsara, semua itu adalah realita kehidupan yang harus kita sadari.

Kumpulan realita itu adalah realita yang hakiki, ia ada selama manusia itu ada di muka bumi ini. Maka sangat konyol jika kita hanya ingin menerima salah satu dari realita itu, kehidupan itu bukan hanya satu macam realita, ia adalah realita yang selalu bertolak belakang. Maka, dalam setiap bagian realita itu manusia harus siap dan sadar. Siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang lain, dan sadar bahwa realita itu adalah sebuah realita yang lain dari realita hakiki.

Namun yang harus di garis bawahi adalah bahwa apapun realita yang sedang kita alami, hendaklah kita senantiasa berbaik sangka kepada Pembuat realita. Karena Allah-lah yang paling tahu apa realita yang terbaik buat kita. Manusia hanya bisa berusaha Tuhan yang menentukan. Man proposes God disproses. Toh tak ada salahnya ketika kita sedang ditimpa realita yang tidak kita harapkan, kita tersenyum.

Karena inilah realita terbaik untuk kita menurut Allah berdasarkan hukum sebab akibat. Allah pastinya selalu menginginkan kebaikan kepada hamba-hambanya, maka dari itu Ia memberikan pilihan, ia lalu tunjukkan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Hal ini nantinya yang akan menuntun kita kepada realita ideal, yaitu realitas yang sesuai dengan tuntunan dan pengetahuan Allah.

Realita ideal inilah yang akhirnya harus menjadi tolak ukur setiap manusia. Bahwa apapun realitas yang menimpa, baik ataupun buruk maka hanya dua pilihan yang mungkin dilakukan yaitu bersabar dan beryukur ... tidak ada yang ketiga.

2 komentar:

Madda Illiyyin mengatakan...

Bagus..:D
"Man proposes God disproses"
bersabar dan bersyukur...

Anonim mengatakan...

whatever will be, will be,,,
keep smileee.... ^_^