Sabtu, Agustus 21, 2010

Puasa dan Amarah

Rasa lapar dan haus seringkali mengakibatkan tensi darah kita cepat naik. Tersinggung sedikit saja sudah bisa membuat amarah berkobar-kobar, apalagi sampai adu mulut secara konfrontatif, tentunya ubun-ubun akan terasa pusing dan mata akan gelap.

Sejatinya puasa itu adalah ajang untuk menempa nafsu kita agar menjadi lebih baik. Puasa merupakan salah satu cara agar liarnya nafsu dapat dikendalikan, minimal dengan mengatakan kepada diri sendiri, saya puasa .. saya puasa. Nah, hal ini yang biasanya kita kenal dengan istilah pengendalian diri, akan memberikan dampak sangat positif kepada kita, baik itu untuk individu ataupun sosial.

Menahan amarah sangat bermanfaat bagi pribadi kita, karena betapa banyak manusia yang akhirnya terjerembab kepada dosa besar, baik itu karena membunuh atau hal lainnya, karena ia tidak dapat menahan amarahnya. Bahkan kadang dosa-dosa besar itu hanya disebabkan oleh hal-hal remeh yang kalau difikirkan dengan jernih dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

Menahan marah juga bermanfaat bagi sosial kita, karena dengan dibudayakannya sifat maaf dan menahan amarah, maka sikap main hakim sendiri ataupun gegabah dalam memberikan kesimpulan akan dapat dihindarkan. Masyarakat yang sudah terbiasa dengan sikap marah yang berlebihkan karena sesuatu yang belum jelas duduk perkaranya akan menjadikan masyarakat itu beringas dan tidak taat hukum. Bahkan dalam beberapa kesempatan, akan sangat merugikan bagi masyarakat itu sendiri secara khusus dan entitas lain yang lebih besar seperti agama, bangsa dan negara.

Menahan amarah dan suka memaafkan bukan berarti kita membiarkan saja hak-hak kita didzalimi begitu saja. Bukan seperti itu, namun sikap menahan marah dan memaafkan itu lebih kepada bagaimana setiap individu mampu menahan dirinya untuk tidak berbuat suatu hal yang gegabah. Adapun hak-hak yang didzalimi, tentunya ada mekanisme yang harus dijalani untuk menuntutnya. Bisa dengan melaporkan kepada yang berwajib, atau kepada pihak-pihak yang dapat menyelesaikan masalah itu dengan baik dan benar.

Tentunya puasa merupakan momen yang tepat untuk melatih diri kita semua untuk membudayakan menahan amarah itu. Puasa itu ibarat benteng yang dapat membentengi manusia dari hal-hal negatif baik itu yang berasal dari dalam dirinya berupa nafsu ataupun yang berasal dari luar berupa godaan syaitan. Benteng itu akan sangat kuat jika yang menjaga juga kuat, apalagi jika bentengnya sudah kuat, sedikit saja pertahan maka akan menambah kekuatan beteng tersebut. Begitu juga dengan puasa, ia adalah benteng yang sangat kuat, dan akan lebih kuat lagi jika kita menjaganya dengan menahan diri kita dari segala macam nafsu, baik itu nafsu perut, nafsu kelamin, nafsu marah dan nafsu-nafsu yang lain.

Tapi benteng yang kuat tanpa penjagaan yang kuat akan membuat benteng itu lemah. Hal ini yang menyebabkan, kenapa orang-orang yang berpuasanya masih saja ada yang berbuat kejahatan dan dosa. Bukankah faktor negatif dari luar yang berupa syaitan sudah dibelenggu ? Namun jangan dilupakan bahwa ada faktor negatif lainnya yang masih aktif yaitu yang berapa di dalam diri manusia. Nafsu ini akan senantiasa membisikkan kejahatan dan dosa ke hati manusia. Baik itu dalam bentuk fikiran, perkataan sampai pada perbuatan.

Nah, jika penjagaan terhadap benteng puasa itu lemah, maka sedikit demi sedikit, nafsu akan menguasai manusia. Ia akan menyeret kita kepada lubang dosa perlahan-lahan. Bahkan tanpa kita sadari, kita telah masuk kepada jurang dosa. Maka, tentunya orang-orang yang mampu melakukan penjagaan yang baik kepada benteng puasa itu yang akan dapat menjadi pemenang nanti diakhir bulan. Dzikir tentunya merupakan penjagaan minimal yang bisa kita lakukan. Apalagi ditambah dengan kebaikan-kebaikan lainnya yang telah dilipat gandakan pahalanya di bulan yang penuh barakah ini.

4 komentar:

agus mengatakan...

temanya sesuai dengan tragedi masisir saat ini. membacanya sungguh menyentuh

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

wah ... padahal itu saya buat karena waktu mau taustik ijazah saya dimarah-marahin sama petugasnya :D ... ha ha ha ...

ILLiyyin mengatakan...

nice note...:D

Anonim mengatakan...

untung inget "kalau lagi puasa", jadinya bisa sabar meski dimarah orang mesir, kalau dimarah yang lain2, bisa sabar nggak ya :D