Selasa, Agustus 31, 2010

Cinta Dunia

Menjadi seorang yang bebas dari kungkungan segala macam perangkap dunia begitu susah. Karena hampir diseluruh lini kehidupan, manusia modern tidak bisa lepas dari tuntutan-tuntunan keduniaan. Apa yang disebutkan sebagai Wahn ini sudah menjadi penyakit akut yang sangat berbahaya. Bentuk-bentuk cinta dunia ini bisa berupa cinta materi (materialistik) sehingga ia akan lupa pada kematian sampai pada tahap seakan-akan manusia ini hidup selamanya di dunia ini.

Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat melemahkan umat, karena sebuah umat yang sudah terjangkit penyakit ini, maka kehidupannya terasa sempit karena yang ia fikirkan adalah apa yang ia terima. Semua pekerjaan yang ia lakukan, ia lakukan dengan pamrih dan dengan mengharap imbalan materi. Maka, apa yang ia hasilkan adalah apa yang ia harapkan itu. Ia hanya akan menghasilkan produk-produk wah tanpa ber-ruh. Produk-produk yang hanya mengutamakan sampul dan penampilan, bukan esensi dan substansi. Maka jadilah umat itu, umat yang berpenampilan raja tapi bermental budak. Umat semacam ini akan mudah dikendalikan dan diatur, cukup dengan menguasai apa yang ia harapkan (materi) maka umat ini akan menjadi budak.

Dunia modern yang sudah dikuasai oleh kapitalisme ini telah menarik manusia dari jalur kefitrahannya menuju apa yang kita sebut sebagai money oriented atau orientasi keuangan. Manusia yang diciptakan untuk menjadi khalifah dengan keikhlasan sebagai modal utamanya kini sudah sangat jarang kita temukan. Semuanya akan berujung kepada materi, materi dan materi. Sungguh sebuah fenomena yang begitu mengiris hati dan menyesakkan dada sebagai seorang muslim yang telah diwanti-wanti oleh Rasulullah saw. untuk menjauhi penyakit ini.

Bukan berarti seorang muslim tidak boleh untuk mengambil hak dunianya lalu ia menjadi seorang yang terisolasi dari dunia, bukan seperti itu, namun ajaran untuk menjauhi cinta dunia itu lebih kepada apa yang di dalam hati manusia itu sendiri. Karena manusia itu akan bekerja sesuai dengan apa yang ia yakini, maka pekerjaan hati begitu penting sehingga Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap pekerjaan itu tergantung kepada niatannya. Jika niatannya ikhlash karena Allah, maka ia akan mendapatkan apa yang tidak ia prediksikan, namun jika niatannya adalah karena keduniaan, maka ia akan mendapatkan apa yang ia niatkan itu saja.

Islam itu adalah ajaran yang mengutamakan keseimbangan dalam segala lini, begitu juga dalam masalah dunia dan akhirat, karena kesuksesan akhirat dapat diraih ketika manusia sukses menjalankan ajaran agama di dunia ini. Maka dunia dan akhirat ibarat dua mata koin yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa kehidupan dunia, manusia tidak bisa mencapai akhirat karena ia adalah sebuah ketidakberadaan. Begitupun sebaliknya, dunia tanpa akhirat ibarat jasad tanpa ruh, ia akan kehilangan arah tujuan bahkan tidak lebih baik dari binatang. Maka islam mengajarkan manusia untuk menjadi manusia yang orientasinya adalah akhirat namun ia tidak melupakan bagian rezekinya di dunia.

Manusia yang seperti itu akan terbebas dari kungkungan keduniaan karena ia akan menjadikan dunia sebagai alat dan jalan menuju akhirat, bukan tujuan dan akhir dari perjalanannya. Ia tahu bahwa keberadaannya di dunia ini hanya sementara saja, ia akan mati dan nanti semua pekerjaannya akan diperhitungkan di akhirat. Maka, ia sama sekali tidak akan terperangkap oleh dunia. Ia akan selalu bersabar dan bersyukur. Jika dunia datang kepadanya dengan melimpah ruah maka ia akan bersyukur dengan mempergunakan kenikmatan itu untuk kebaikan dan memberikan bagian orang-orang miskin yang ada di dalam hartanya itu. Begitupun jika dunia datang kepadanya dengan susah dan malu-malu, maka ia akan bersabar dengan semua ketentuan Allah sembari tidak berputus asa akan rezeki dan rahmat dariNya.

Maka disinilah kekuatan umat akan muncul dengan gagahnya. Ketika semua elemen umat sudah terbebas dari penyakit wahn tersebut, maka setiap individu akan memikirkan apa yang ia berikan, bukan apa yang ia terima. Karena orang-orang yang sudah terbebas dari wahn ini akan mengerjakan setiap pekerjaannya secara maksimal dan tanpa pamrih. Yang ia harapkan hanyalah keridhaan Allah semata, sehingga seluruh daya upaya yang terpendam di dalam dirinya akan keluar begitu saja. Ia akan do the best and give the best, bekerja yang terbaik dan memberikan yang terbaik. Lalu ia akan menjadi motor pembaharuan bagi komunitas disekitarnya, karena ia ikhlash karena Allah swt.

8 komentar:

Anonim mengatakan...

Udah cocok jadi Da'i, SEMANGATTT... ^_^

agus mengatakan...

membaca terasa seperti membaca ayat2 cinta sangat menggugah jiwa dan raga :))

Pangapora mengatakan...

KUTIP: ...cukup dengan menguasai apa yang ia harapkan (materi) maka umat ini akan menjadi budak.

Kerreeennn!!! Berarti kabar Anda sehat ya? Hihi

MiSs Muna mengatakan...

nice post.. :)

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

@^_^ : insya allah :)
@Agus : oh ya ? segera berarti ...
@Pangapora : Alhamdulillah sehat Kiyai :D
@Muna : Thanks ... ;)

Nita mengatakan...

hmhmmm...
Innamal 'amalu bin niat

Ga ada yg sempurna dlm Hiduo ini.
Kita yg sadar yg waraslah yg musti Paham,mana yg Baik dan mana yg Benar

iLLiyyin mengatakan...

Nice note..^^

Roz mengatakan...

LIKE THIS........