Sabtu, Juli 31, 2010

Nur Allah

Aku tak lagi dapat melihat nur Allah. Seakan hijab-hijab dosa telah menutup mata hatiku hingga yang tersisa hanyalah debu-debu dosa. Nur Allah sekali-kali tidak akan diberikan kepada orang yang selalu bermaksiat. Karena maksiat itu ibarat nuktah hitam di atas kertas yang putih, semakin banyak nuktah-nuktah itu maka semakin hitamlah kertas itu.

Menurut Al-Qazwainy dalam kitabnya 'Ajaibul Makhluqot wa Gharaibul Maujudat' (Keajaiban dan Keanehan Makhluk Hidup) Manusia itu adalah sari pati dari alam. Ia bisa dikatakan sebagai tumbuhan karena ia tumbuh, ia juga bisa disebut hewan karena bergerak dan ia bisa dikatakan malaikat karena ia bisa mengetahui hakikat kehidupan.

Jika manusia condong kepada salah satu hal di atas maka, jika ia condong kepada ketumbuh-tumbuhannya maka kehidupannya hanya akan akan diisi dengan makan dan membuang sisa makanan saja, jika ia condong kepada kehewan-hewanannya, maka ia bisa buas sebuas singa, licik selicik ular atau dungu sedungu keledai, juga jika ia lebih condong kepada kemalaikatannya maka ia akan lebih memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan akhirat sehingga dengan itu dia bisa menjadi makhluk Allah yang paling mulia.

Maka, jika manusia lebih condong kepada kehewan-hewanannya atau ketumbuh-tumbuhannya saja ia akan akan terhalang dari nur kemalaikatan sehingga ia akan jauh dari nur Allah yang disebuatkan dalam Al-Quran dengan sebutan Sesungguhnya mereka seperti binatang bahkan lebih rendah derajatnya ...

3 komentar:

agus mengatakan...

hemmm jadi takut mau nengok saudara kita si ariel di internet hahaha

Falikh mengatakan...

mantap gan! ntar mo beli juga ach kitab itu biar lebih mantap lagi :D

SBY mengatakan...

Ralat: Yg bnr bukan al-Qazwayni, tp al-Qazwînî. Thank you.