Selasa, Juni 08, 2010

Jiwa Yang Mencela

Ku rengkuh hari ini dengan dosa. Dosa yang selalu membuatku semakin terpuruk. Terus menerus ku bertanya mengapa ? Namun sepertinya pintu jawaban sudah tiada. Mungkinkah jiwa ini akan kembali mencapai fitrah ? Ataukah akan terus tergenang di dalam keruhnya nafsu yang serakah ?

Nafsu yang terus menerus membelengguku dengan kata-kata 'sudahlah-sudahlah, menyerah saja dengan gejolakmu'. Namun hati ini serasa berkobar-kobar tersulut amarah, ketika tahu itu hanyalah tipuan murah. Huh taukah kau siapakah tuan dan budak ? Aku ini tuanmu, seharusnya akulah yang mengendalikanmu, bukan malah sebaliknya.

Namun gejolak-gejolak nafsu semakin meliar saja. Kulihat ia meliuk-liuk bagai puting beliung yang menghempaskan semua yang berada di hadapannya. Tak terasa amalan demi amalan telah hancur luluh dimakan nafsu durja.

Perih rasanya hati ini dengan ketidakberdayaan yang sangat nyata. Tak mungkin aku terlepas jika aku lari dan mengelak. Bukankah setiap kemenangan itu dimulai dari kekakalan-kekalahan ? Bagaimana mungkin kemenangan akan dicapai begitu mudah ? Padahal sudah jelas nafsu adalah musuh di atas musuh.

Sungguh sangat bodoh jika suara-suara musuh selalu didengarkan. Sungguh sangat picik orang-orang yang menjadikan musuhnya sebagai penolong. Sungguh seharusnya musuh itu harus dimusuhi karena musuh selalu mencari cara untuk menjatuhkan dan menguasai. Tapi sungguh sangat indah jita musuh bisa menjadi teman. Teman yang selalu mengatakan 'kenapa dan kenapa'.

Kenapa dirimu melakukan kejahatan itu ? Sungguh celakalah jika engkau mengabaikan kebaikan itu. Sudah, hentikan segala macam tingkah lakumu yang tercela itu, hentikanlah sekarang juga karena ajal selalu menantimu.

Ah, ini bukan keluhan bung, kau saja yang tak paham apa yang ku rasakan. Ataukah kau sendiri sudah melepaskan dirimu dari pelukan nafsu ? Atau kau merasa kau tak perlu berbicara tentang nafsu karena dirimu adalah nafsu itu sendiri ?

Marilah bung, kita duduk bersama-sama tuk sekedar mencari jalan keluar untuk lepas dari rongrongan nafsu angkara murka. Cukupkanlah kata-kata sinismu itu bung, karena dengan kata-kata itu terlihat jika kau adalah orang yang menuankan nafsumu. Bukankah orang bijak itu adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya dengan baik ? Atau jangan-jangan engkau memiliki pengertian yang tidak sama dengan itu ?

2 komentar:

agus mengatakan...

hemmm ada anu ya bung azhar :D

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

ha ha ha :D gimana kabar damardasy ? :D