Sabtu, Juni 26, 2010

Lidah Sembilu

Lihatlah orang-orang berlidah sembilu itu
Ia selalu datang memberikan luka menganga
Sekali lagi lihatlah lidah itu
Ia menetes-neteskan racun angkara murka

Setiap huruf dari lidah itu adalah luka
Setiap getaran suara dari lidah itu adalah racun
Setiap kata dari lidah itu adalah sindiran
Setiap kalimat dari lidah itu adalah kematian

Dunia ini baginya hanyalah sakit hati dan permusuhan
Tidak ada rasa aman dari perselisihan
Yang ada hanya saling serang dan tikam
Bungkam-membungkam sudah menjadi hal yang biasa

Ingin rasanya berkata : Hei si lidah sembilu
Berhentilah kau melukai dan mengadu-ngadu
Jangan kamu sebar racun ganasmu
Cukup sudah tipu dayamu itu

Kamis, Juni 24, 2010

Sebuah Ketulusan

Mengingatmu mengajarkanku arti dari sebuah ketulusan. Perasaan dimana aku dan kamu berevolusi menjadi sepasang makhluk yang unik. Saling melengkapi satu dengan lainnya. Seperti kupu-kupu yang berterbangan mengitari mekar bunga di tengah rerimbunan di tepian pegununungan kerinduan.

Baunya semerbak. Tercium hingga ribuan mil harapan dan impian. Dan engkaupun selalu melantunkan lagu-lagu hasrat seorang kelana yang sedang termangu di sebalik rerumputan. Engkau lalu hulurkan telapak tanganmu yang penuh kasih sayang dan pengertian. Walaupun kadang angin malam menampar pipi merahmu hingga membakar api cemburumu.

Namun herannya, engkau tahu bagaimana bersikap. Herannya, segala sesuatu akan terasa menjadi mudah. Kau tak pedulikan hal-hal sepele itu. Hal-hal remeh temeh yang bagi sebagian orang akan menguras fikiran dan tenaga untuk menstabilkannya. Bagimu hal itu ibarat pelengkap senyum hatimu yang selalu berkembang mengikuti irama senyum manis bibirmu itu.

Ah, senyum yang bisa membuat hatiku selalu teringat aroma teh di pagi hari. Begitu nikmat dan penuh gairah. Aroma yang begitu khas dengan bau pekatnya yang begitu dalam. Sehingga kadang membuat tubuh yang letih itu seperti tersengat jutaan watt semangat perjuangan. Akupun tak dapat lagi memejamkan mata yang berat dengan kantuk kemalasan itu.

Akhirnya aku hanya bisa pasrah menerima dan menikmati aroma teh yang semakin hari semakin pekat. Hingga aku lupa, apakah itu teh atau kopi ? Hingga aku tak sadar apakah aku sedang bermimpi ataukah itu adalah sebuah anugerah ilahi yang begitu nyata ? Mimpikah aku dengan semua itu ? Coba kau cubit pipiku !!! Namun ternyata aku menemukan bahwa aku benar-benar merasakannya.

Aku benar-benar sadar dengan perasaan ini. Aku benar-benar tak dapat membohongi diri lagi jika keinginan hatiku hanyalah untuk membaui aroma pekatmu itu.

Qatamea, 24 Juni 2010

Selasa, Juni 22, 2010

Memburu Waktu

Kawan, aku diburu waktu
Atau waktu yang ku buru ?
Entahlah kawan

Aku tak mengerti
Kenapa waktu terus berjalan
Sedangkan aku tetap diam

Waktu benar-benar pedang
Begitu tajamnya
Begitu cepatnya

Melibas yang lemah
Diam, putus asa
Kecewa dan malas

Akupun harus lebih tajam dari pedang
Agar ia tak memburuku
Tapi aku yang memburunya

Agar aku tidak dilibas
Tapi aku yang melibas
Akulah sang pemenang ...

Sabtu, Juni 19, 2010

Hei, Namaku Permisi

Hei bung, namaku permisi
Aku ini sudah dilupakan
Tapi aku sebenarnya tak pernah lupa

Aku ini permisi, hei bung
Kau tahu kan artinya ?
Iya, pemisi bung ...

Permisi dong bung
Jangan main senggol saja
Eh bung, cepet permisi

Kalau tidak
Aku kasih misil
Permisi itu baik bung

Untuk kesehatan
Untuk kesejahteraan
dan utamanya untuk bilang 'permisi...'

Orang-orang Yang Kecewa

Orang-orang yang kecewa itu setengah gila
Tak ada logika yang ada hanya amarah
Tapi mereka tak salah

Orang-orang yang kecewa itu berbahaya
Seperti percikan api yang akan membara
Membakar yang hidup dan mati

Orang-orang yang kecewa itu harus dihentikan
Sumpal mulut mereka dengan roti dan daging
Atau cincang berkeping-keping seperti kambing

Kalau tidak, keamanan akan kocar-kacir
Kebisingan akan berdesing-desing
Menancap tepat di jantung kedamaian tak terusik

Biarlah orang-orang yang kecewa itu tersingkirkan
Agar tak lebih banyak orang seperti mereka
Yang hanya merusak ketentraman dunia

Singkirkan, singkirkanlah mereka
Bumi hanguskan, bumi hanguskanlah tempat pijaknya
Agar kedamaian abadi sentosa selamanya.

Jumat, Juni 18, 2010

Untukmu Bapakku

Masalahnya bukan karena aku tak dapat pak
Masalahnya adalah bapak seperti kentut
Tapi Dihirup sendiri

Atau seperti meludah
Lalu bapak jilat ludah itu lagi
Huh, Itu masalahnya pak

Aku ini sudah tak punya kepentingan pak
Aku sudah mendapatkannya
Sudah dulu di penghujung 2007

Tapi, aku juga manusia pak
Tak tahan melihat kawan sendiri dipermainkan
Bahkan dihina mentah-mentah

Kalau bapak tahu wajah mereka waktu itu
Bapakpun akan mengelus dada
Bahkan permintaan maafpun tak cukup

Bapak berikan kesempatan
Tapi di satu waktu
Bapak memberangus kemungkinannya

Lalu apa maksud bapak ?
Ingat pak, kami ini juga manusia
Punya perasaan dan harga diri

Tapi sampai sekarang bapak masih diam
Tak ada permintaan maaf
Atau minimal menjawab kebingungan-kebingungan

Atau ini bukan tugas bapak ?
Pak, pak ... menjadikan bangsa terhormat seperti ini ya ?
Aku sangat heran cara berfikirmu pak

Sudahlah pak, teruskan saja
Nanti kalau kekuasaan itu sudah lepas dari bapak
Ludah-ludah yang akan mengiringi kepergian bapak

Menjelang Prancis vs Mexico.
Qatamea, 17 Juni 2010

Rabu, Juni 16, 2010

Renungan Pagi

Keluh kesah tak akan ada artinya
Menyerah dengan keadaan juga sama
Atau diam saja, apalagi ...

Teori tanpa aplikasi ?
Apa jadinya ?
Huh, kestagnanan yang membosankan

Benar kata temanku
Duduk-duduk tanpa hasil
Itulah kerugian terbesar

Detikpun terus berjalan
Dan kau tak bergerak
Sungguh kebodohan yang sangat nyata

Kau inginkan keberhasilan
Tapi tak kau jalani aturan-aturannya
Sungguh T.E.R.L.A.L.U

Kau tahu kapal itu ?
Ia tidak akan berjalan
Jika kau letakkan ia di daratan ...

Qatamea, 16 Juni 2010

Selasa, Juni 15, 2010

Ego

Mengalah ? Jangan harap ...
Aku punya ego, engkaupun pula
Aku mengalah itu kalah
Sama sepertimu tak mau kalah

Kau bilang aku egois ?
Akupun bilang kau egois
Kau bilang aku tak mau mengerti
Akupun bilang kau tak mau mengerti

Tak ada pengertian sebenarnya di dunia ini
Yang ada hanyalah sebentuk ketidakenakan semata
Perasaan menghormati itu kesemuan belaka
Yang sebenarnya hanya ketakutan kepada 'katanya-katanya'

Benar orang lain itu cermin dirimu
Tapi tak selamanya cermin itu jujur kan ?
Cermin hanyalah pantulan semu
Kadang kala debu-debu tipis menghalang-halangi banyangan dirimu

Ya benar, yang kau lihat itu hanyalah banyangan saja
Sama sekali bukan hakikat yang benar-benar hakikat
Karena yang tahu 'aku' itu hanya aku dan Tuhanku
Yang kau tahu itu hanyalah tafsiran-tafsiranmu tentang suatu hal yang semu

Sudahlah, tak ada gunanya kau mengadu-ngadu
Kepada kesemuan tentang kesemuan
Yang hanya akan menambah keburaman semakin kelam

Baiknya kita duduk bersama-sama
Sembari menikmati teh hangat dan sekerat roti bakar
Bercanda tawa tertawa-tawa

Tak usah kau fikirkan ego-ego itu
Karena kita diciptakan sama
Dengan ego dan cara berfikir yang berbeda ...

Sabtu, Juni 12, 2010

Hanyut

Kadang, hidup tak harus mengerti arti kehidupan
Biar seperti binatang jalang
Tak ada norma dan kesopanan

Kadang, hidup tak perlu mendapat penghargaan
Biar mati sejuta jiwa
Tak ada kepedulian dan tengggang rasa

Diripun kini hanyut bersama arus kehidupan
Berputar bak beliuang meraung-raung
Tak henti-henti menghancurkan dan meratakan

Tak ada kasih sayang
Tak ada penghargaan
Tak ada kemanusiaan

Namun kehidupan akan terus berjalan
Melindas dilindas dan terlindas
Apa yang tak sejalan dengan dirinya

Qatamea, Menjelang Sholat Jum'at 11 JUNI 2010

Selasa, Juni 08, 2010

Jiwa Yang Mencela

Ku rengkuh hari ini dengan dosa. Dosa yang selalu membuatku semakin terpuruk. Terus menerus ku bertanya mengapa ? Namun sepertinya pintu jawaban sudah tiada. Mungkinkah jiwa ini akan kembali mencapai fitrah ? Ataukah akan terus tergenang di dalam keruhnya nafsu yang serakah ?

Nafsu yang terus menerus membelengguku dengan kata-kata 'sudahlah-sudahlah, menyerah saja dengan gejolakmu'. Namun hati ini serasa berkobar-kobar tersulut amarah, ketika tahu itu hanyalah tipuan murah. Huh taukah kau siapakah tuan dan budak ? Aku ini tuanmu, seharusnya akulah yang mengendalikanmu, bukan malah sebaliknya.

Namun gejolak-gejolak nafsu semakin meliar saja. Kulihat ia meliuk-liuk bagai puting beliung yang menghempaskan semua yang berada di hadapannya. Tak terasa amalan demi amalan telah hancur luluh dimakan nafsu durja.

Perih rasanya hati ini dengan ketidakberdayaan yang sangat nyata. Tak mungkin aku terlepas jika aku lari dan mengelak. Bukankah setiap kemenangan itu dimulai dari kekakalan-kekalahan ? Bagaimana mungkin kemenangan akan dicapai begitu mudah ? Padahal sudah jelas nafsu adalah musuh di atas musuh.

Sungguh sangat bodoh jika suara-suara musuh selalu didengarkan. Sungguh sangat picik orang-orang yang menjadikan musuhnya sebagai penolong. Sungguh seharusnya musuh itu harus dimusuhi karena musuh selalu mencari cara untuk menjatuhkan dan menguasai. Tapi sungguh sangat indah jita musuh bisa menjadi teman. Teman yang selalu mengatakan 'kenapa dan kenapa'.

Kenapa dirimu melakukan kejahatan itu ? Sungguh celakalah jika engkau mengabaikan kebaikan itu. Sudah, hentikan segala macam tingkah lakumu yang tercela itu, hentikanlah sekarang juga karena ajal selalu menantimu.

Ah, ini bukan keluhan bung, kau saja yang tak paham apa yang ku rasakan. Ataukah kau sendiri sudah melepaskan dirimu dari pelukan nafsu ? Atau kau merasa kau tak perlu berbicara tentang nafsu karena dirimu adalah nafsu itu sendiri ?

Marilah bung, kita duduk bersama-sama tuk sekedar mencari jalan keluar untuk lepas dari rongrongan nafsu angkara murka. Cukupkanlah kata-kata sinismu itu bung, karena dengan kata-kata itu terlihat jika kau adalah orang yang menuankan nafsumu. Bukankah orang bijak itu adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya dengan baik ? Atau jangan-jangan engkau memiliki pengertian yang tidak sama dengan itu ?

Kamis, Juni 03, 2010

Dosa dan Taubat

Firmannya " غافر الذنب و قابل التوب " (QS : Ghafir/3) Syekh Al-Gamal dalam Hasyiyah beliau atas Tafsir Jalalain menyatakan bahwa, keberadaan huruf و (Wau) di tengah-tengah ayat tersebut mengindikasikan dua hal bagi orang yang bertaubat dari dosanya : Pertama, Menggabungkan antara penghapusan dosa dan penerimaan taubat. Kedua, Mengindikasikan perbedaan kedua sifat, karena pengampunan terhadap dosa itu berbeda dengan penerimaan terhadap taubat seperti yang disebutkan Baidhowi dalam tafsirnya.

Dalam memahami ayat ini, Syekh Zamakhsyari memberikan tambahan poin yang lain yaitu bahwa Allah akan berbuat dua hal kepada orang yang bertaubat : Pertama, Menghapus seluruh dosanya sama sekali sehingga tidak ada di dalam buku hisabnya. Kedua, Menjadikan taubatnya sebagai sebuah ketaatan yang dapat mengganti dosanya walaupun di dalam kitab hisabnya dosa itu masih tercatat.

Ayat di atas merupakan salah satu ayat yang menunjukkan sifat fi'il (pekerjaan) dari Allah swt. yang berbeda dari sifat dzat yang tidak mungkin terpisah dari dzat Allah swt. maka sifat fi'il ini bisa jadi tidak terdapat di dalam dzat Allah swt. Seperti firman Allah swt. : إن الله يغفر أن يشرك به و يغفر ما دون ذلك لمن يشاء.

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Allah tidak mengampuni dosa syirik. Maka disini sifat fi'il Allah diatas (Pengampun dosa dan penerima taubat) tidaklah ada ketika seseorang menyekutukannya/ berbuat syirik.

Berbeda dengan sifat dzat yang tujuh ('Ilm, Qudrah, Iradah, Hayah, Sama', Bashor, Kalam) yang tidak mungkin berpisah dengan dzat Allah swt.

Wallahu 'Alam Bis-Showab.

Selasa, Juni 01, 2010

Freedom Flotilla Berdarah

Freedom Flotilla untuk Gaza
Membelah ribuan mil kecongkakan
Dan ketidakpedulian dunia
Pada Gaza yang terluka

Freedom Flotilla menjadi saksi
Kebiadaban tanpa akhir
Dan kebohongan anyir tak henti-henti
Pada Gaza yang sendiri

Freedom Flotilla yang berdarah-darah
Pupuskan ribuan anak kelaparan
Serta wanita dan orang tua lemah
Tuk hanya cipi arti sebuah 'kehidupan'

Freedom Flotilla akhirnya gagal
Tuk hancurkan tembok blokade itu
Walaupun atas nama 'Kemanusiaan'
Tapi manusia kini tak lebih hina dari binatang

Akhirnya, tak ada yang dapat berbuat apa-apa
Hanya kecaman tak ada arti
Demostrasi yang tak dihargai
Karena manusia kini tak lebih kejam dari mati itu sendiri ...

Qatamea, 31 Mei 2010