Minggu, Mei 30, 2010

Apa yang kau banggakan

Tak ada yang tersisa
Hanya tulang belulang saja
Itulah kamu, wahai manusia

Tapi herannya, kenapa kamu congkak
Membusungkan dada seraya berkata
Aku lebih darimu wahai manusia

Lalu apa bedanya dengan Fir'au
Si laknat yang mengaku-ngaku Tuhan
Yang akhirnya tewas sambil menyebut-nyebut Tuhan

Hanya saja kau tak mau mengakui kesombonganmu
Bukan hanya berbagai macam alasan kau buat
Bahkan kau coba mengesahkan perbuatanmu itu dengan alasan 'ajaran'

Ah, padahal syaitan telah menipumu mentah-mentah
Kau kira itu ibadah kan ?
Padahal itulah kemaksiatan yang sangat besar

Sudahlah, wahai manusia
Berkacalah dirimu pada cermin retak
Niscaya disana kamu akan temukan siapakah sebenarnya dirimu itu ...

Jumat, Mei 21, 2010

Kembali Berfikir

Banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita fahami. Walaupun dengan susah payah kita memikirkannya kenapa, namun jawabannya tetap saja majhul alias buram. Contoh yang paling simpel adalah kenapa manusia itu selalu teringat dengan kenangan-kenangan masa lalunya ? Atau kenapa masa lalu yang dialami setiap orang bisa berbeda-beda ? Tentunya untuk menemukan jawaban yang tepat sangatlah sulit bahkan bisa dikatakan tidak mungkin. Yang paling mungkin adalah mengutarakan kemungkinan-kemungkinan yang sangat bersifat subyektif dari berbagai sudut pandang.

Hal ini karena pertanyaan-pertanyaan itu juga mengandung banyak persoalan. Dari kelegalan kita untuk bertanya tentang hal-hal yang tidak mungkin tersebut sampai apakah secara teknis pertanyaan-pertanyaan itu bisa dianggap sebagai pertanyaan ? Namun yang paling penting adalah bagaimana seharusnya kita memahami kehidupan yang 'mungkin' bisa dipahami ini ?

Dengan kata lain, marilah kita menuju dunia yang sedang ada di hadapan kita terlebih dahulu sebelum memikirkan hal-hal yang tidak mungkin atau susah untuk difikirkan. Banyak orang yang menyusahkan dirinya sendiri dengan menyibukkan dirinya dengan hal-hal parsial dan tidak substansial yang berkenaan dengan dirinya sendiri. Dengan eksistensinya sebagai manusia yang limited secara keberwujudan, hal itu akan menghabiskan banyak waktu kehidupannya. Bahkan bisa saja seseorang itu akan meninggalkan eksistensinya di dunia ini tanpa sama sekali menyentuh dan bergelut dengan substansi keberadaannya yang sebenarnya.

Maka yang paling diperlukan adalah 'kembali berfikir' tentang apa yang seharusnya kita lakukan ? Dan kembali mengarahkan arah kehidupan kita kepada poros substansi keberadaan kita di dunia ini. Tentunya akan sangat membingungkan untuk menentukan arah substansi kehidupan itu, dan hemat penulis tidak setiap orang bisa untuk berbuat seperti itu. Diperlukan keberadaan orang-orang spesial yang mampu untuk merumuskan apa yang laik bagi jalannya kemanusiaan sehingga tidak keluar dari koridor substansi keberadaannya di dunia ini.

Akan sangat konyol jika masing-masing orang yang dengan fikiran dan kecenderungan masing-masing menentukan 'jalan kehidupannya'. Hal ini akan semakin konyol jika hal itu dilalukan dengan alasan kebebasan pribadi masing-masing individu. Karena tentunya keinginan masing-masing individu dan kecenderungannya begitu kompleks. Tidak ada yang mampu menyatukan pendapat sepuluh kepala 100% dalam sebuah forum.

Tentunya hal ini akan menghambat kemanusiaan untuk menemukan jalan kehidupan substansialnya dan hal ini akan mendatangkan bencana kemanusiaan yang akan membuat kehidupan di dunia ini layaknya hutan belantara yang diatur oleh kekuatan dan kepicikan 'siapa kuat dia berkuasa'.

Tentunya manusia-manusia spesial itu adalah seorang nabi ataupun rasul. Dari akar bahasanya lafadz nabi berasal dari kata naba-a yang berarti memberi berita, baik itu berita gembira ataupun berita kesedihan, berita terdahulu ataupun berita yang akan datang. Adapun kata rasul biasanya diartikan dengan pembawa risalah dan ajaran.

Nabi dan rasul adalah orang-orang spesial yang mampu merumuskan jalan hidup kemanusiaan secara substansial. Hal ini dikarenakan mereka adalah orang-orang yang langsung berhubungan dengan ALLAH, Tuhan semesta alam yang mengetahui semua kejadian dimuka bumi ini dan mengetahui apa yang baik dan buruk bagi kemanusiaan itu sendiri.

Maka tidak heran kenapa para nabi dan rasul mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh seorang filosuf sekelas Plato atau Aristoteles. Para nabi dan rasul dengan tegas mengatakan bahwa manusia di dunia ini adalah khalifah yang memiliki Tuhan satu yang nantinya akan meminta pertanggung jawaban semua tindak tanduk manusia nanti di akhirat.

Para nabi dan rasul juga memberikan contoh teladan yang baik bagaimana menjadi seorang manusia yang mampu memaksimalkan eksistensinya secara substansial di muka bumi ini. Baik itu ketika berhubungan dengan Tuhannya ataupun ketika berhubungan dengan manusia yang lain.

Sehingga kemanusiaan akan berjalan sesuai dengan fitrahnya yaitu dengan kebaikan dan untuk kebaikan. Sungguh ironis dan menyesakkan hati ketika tiba-tiba ada beberapa oknum yang menyerang dan melecehkan nabi. Hal itu bukan hanya melukai perasaan pengikut nabi secara khusus namun juga mencederai kemanusiaan secara umum, karena nabi adalah orang-orang yang seharusnya mendapat tempat yang mulia di hati semua orang, baik itu pengikut ataupun bukan. Karena bagaimanapun, nabi adalah orang-orang spesial yang sudah mengangkis manusia dari gelapnya sangkaan-sangkaan menuju cahaya ilmu pengetahuan yang terang benderang.

Rabu, Mei 19, 2010

Al-Qur'an Berjalan

Al-Quran sebagai wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w merupakan petunjuk yang Allah berikan untuk menuntun manusia ke jalan yang lurus, yaitu jalan para nabi, syuhada’ dan orang-orang sholeh. Sejatinya, Al-Quran sebagai kitab petunjuk seharusnya membuat manusia selamat dari ketergelinciran, namun pada kenyataanya, banyak orang yang kemudian salah memahami Al-Quran sehingga mereka terjelembab dalam jurang kenistaan.

Nah, oleh karena itu perlu dicari jalan-jalan untuk memahami Al-Quran sehingga umat islam bisa mengambil mutiara petunjuk dalam Al-Quran secara maksimal. Tentunya, sebagai pembawa risalah yang mendapat wahyu langsung, Nabi Muhammad s.a.w adalah seorang yang memiliki tingkat pemahaman terhadap Al-Quran yang sangat valid, maka tak heran ketika Sayyidah ‘Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah s.a.w beliauwati menjawab bahwa akhlak Rasulullah s.a.w adalah Al-Quran. Maka, tentunya untuk dapat mengetahui pengetrapan Al-Quran dalam kehidupan nyata, kita harus melihat bagaimana Rasulullah dalam setiap tindak tanduk beliau, karena beliau adalah Al-Quran yang berjalan.

Tentunya setelah Rasulullah s.a.w wafat, maka para sahabat sebagai murid pertama serta orang-orang yang secara langsung melihat realita Al-Quran yang Rasulullah terapkan, merupakan sumber kedua dalam memberikan pemahaman Al-Quran yang mendekati kebenaran. Walaupun kenyataannya para shahabat memiliki perbedaan pemahaman, namun setidaknya ke’adilan mereka yang telah dijamin dalam Al-Quran membuat kita yakin bahwa proses pemahaman yang mereka lakukan tidak jauh dari apa yang mereka lihat rasakan ketika rasulullah masih hidup.

Nah, dari sini kemudian kita dapat melihat keagungan ajaran islam dalam dunia realita ketika ia berada dalam keorisinalitasan pemahamannya, sehingga ia benar-benar menjadi petunjuk bagi semua manusia seperti apa yang Rasulullah dan para shabatnya tunjukkan pada kita semua … Selanjutnya, marilah kita menuju ke dunia yang penuh dengan petunjuk dan berada di bawah naungan Al-Quran…