Selasa, April 06, 2010

Syamun-Nasim

Syammun-Nasim tahun ini akhirnya saya putuskan untuk dinikmati di dalam rumah saja. Padahal udara di luar sana cukup segar untuk berjalan-jalan bersama keluarga besar qotomea. Namun sayangnya, rencana untuk merayakan Syamun-nasim di qonatir terpaksa harus dibatalkan. Pertama karena satu anggota keluarga yaitu saudara Fawaid berhalangan karena dia ada tugas piket jaga di mat'am Malaysia.

Padahal tadi malam kita sudah berencana untuk menghabiskan liburan syamun-nasim ini dengan berfoto ria sambil menikmati apa yang orang-orang Mesir Nikmati. Namun disamping berhalangannya si Fawaid, tadi malam Kadar memberikan sebuah buku tipis, buku yang ditulis oleh seorang fakih masa kini yang beberapa bulan lalu meninggal, buku itu adalah beberapa fatwa syekh 'Athiyah Saqar tentang beberapa permasalahan, termasuk di dalamnya adalah fatwa tentang perayaan Syamun-Nasim.

Di dalam buku tersebut, syekh 'Atiyah menyertakan dengan ringkas sejarah dari Syamun-Nasim itu, baik di masa Fir'aun, Yahudi dan Masehi. Dimana pada masa fi'aun ia adalah sebuah adat kemudian ditambah dengan ritual keagamaan pada masa yahudi dan masehi.

Akhirnya sang syekh menyatakan di akhir tulisannya bahwa beliau menasihati kita untuk tidak ikut serta dalam perayaan tersebut karena merupakan salah satu ritual keagamaan dari agama yang lain. Sebelum membaca buku itu, saya juga sempat browsing di youtube dan menemukan sebuah video milik Syekh Abu Ishaq Al-Huwainy, seorang muhaddist asal Mesir yang merupakan syekh jamaah salafi 'Ansharush -Sunnah' di Mesir. Dalam video yang berdurasi tidak lebih dari 5 menit itu, beliau dengan keras melarang bahkan menyatakan bahwa orang-orang yang menjual ikan asin, telur dan makanan-makanan untuk syamun-nasim adalah orang yang berdosa.

Hal ini mengingatkan saya kepada kejadian yang terjadi di Indonesia yaitu apakah boleh mengucapkan selamat natal ? Nah, sepertinya hal ini menjadi sangat rumit ketika ada yang mengatakan bahwa agama islam itu intoleran dan tidak menghargai perbedaan. Syekh 'Athiyah dalam bukunya tersebut menegaskan bahwa tidak ada mujamalah dalam masalah prinsip agama. Mungkin prinsip yang dipakai oleh syekh 'Athiyah adalah firman Allah dalam Al-Quran : Untukmu agamamu dan untukku agamaku.

Apalagi kalau ritual yang dilaksanakan sangat bertolakbelakang dengan akidah kepercayaan dalam agama islam. Menurut syekh Atiyah, perayaan Syamun-Nasim sudah tercampuri dengan ritual keagamaan yang dilaksanakan kaum masehi yaitu hari paskah, kebangkitan yesus. Padahal, dalam Al-Quran disebutkan bahwa Yesus tidaklah dibunuh ataupun disalib, tapi beliau diangkat oleh Allah.

Jadi, hemat penulis masalahnya bukan dalam tataran toleran-intoleran, tapi lebih kepada masalah agamamu agamaku, agamaku agamaku. Jika kamu ingin melaksanakan ritual keagamaanmu maka laksanakanlah, aku tidak akan menghalang-halangi apalagi ikut campur bahkan menyertai.

Menjadi toleran bukan berarti ikut-ikutan dan taklid saja kepada orang lain walaupun keyakinannya bertolak belakang dengan apa yang ia lakukan. Menjadi toleran sejatinya adalah menerima dan menghormati pilihan orang lain.

Memang tidaklah salah ketika seseorang ingin berkumpul bersama keluarganya dengan memakan ikan asin, telor berwarna dan sayur mayur untuk memperingati datangnya musim semi. Namun, ketika sejarah menyatakan bahwa tradisi itu sudah terserap menjadi riual dari agama tertentu, maka sebaiknyalah orang-orang yang tidak berkeyakinan yang sama dengan agama tersebut untuk tidak merayakannya.

1 komentar:

cemomoi mengatakan...

assalamualaikum,

baik juga jika diterangkan bagaimana perayaaan tersebut sebagai maklumat tambahan bagi kami yang tak pernah melihat dan mendengar tentang perayaan tersebut