Minggu, April 18, 2010

Sang Petualang

Dulu, ketika aku masih kecil, banyak hal yang ingin aku ketahui. Setiap kali aku berjalan menaiki mobil bersama bapakku, aku selalu bertanya : Pak, nama tempat ini apa ? Tentunya bapakku yang dulu katanya seorang petualang memberitahukan nama tempat-tempat yang ku tanyakan tersebut.

Aku juga heran, kenapa dulu aku selalu ingin tahu. Meskipun pada akhirnya aku tidak bisa mengingat semua apa yang telah bapakku beritahukan itu, namun setidaknya sampai sekarang aku masih bisa mengingat tempat-tempat yang dulu pernah aku tanyakan jika aku kembali melaluinya.

Menjadi anak kecil memang susah, tak semua apa yang aku inginkan dimengerti oleh bapak atau ibuku. Ekspresi yang tepat tentunya dengan menangis. Jika ingin sesuatu yang sulit diminta, aku cukup menangis. Namun tak selamanya tangisanku itu menjadi jurus ampuh untuk mendapatkan semua keinginanku. Kalau sedang untung, aku bisa mendapat apa yang aku inginkan, namun kalau sedang sial, sampai suaraku habispun barang yang aku inginkan tak kesampaian.

Namun jika diingat-ingat lagi, teringin rasanya kembali melalui masa kanak-kanak yang penuh dengan petualangan itu. Aku ingat, dulu aku pernah punya sebuah sepeda yang begitu kuat. Aku sudah lupa merk sepeda tersebut, tapi yang paling aku ingat sampai sekarang adalah bahwa sepeda itu telah mengajariku menjadi seorang petualang. Ketika itu aku masih duduk di sekolah SD, aku sangat senang bersepeda menjelajahi desaku.

Walaupun awalnya aku sangat susah untuk bisa menaiki sepeda. Berapa kali aku terjatuh sehingga kakiku penuh dengan luka-luka yang tidak bisa hilang sampai sekarang. Namun, karena waktu itu aku sangat bertekad untuk bisa menaiki sepeda bagaimanapun resikonya, akhirnya walaupun dengan perjuangan dan tetesan darah yang tidak sedikit, aku bisa menunggangi sepeda itu. Tapi kalau aku ingat-ingat lagi, ternyata motivasiku untuk bisa sepeda bukan hanya itu, tapi yang paling dominan adalah karena waktu itu sepupu-sepupuku sudah dengan senang dan riang gembira menaiki sepeda mereka masing-masing. Waktu itu aku hanya berfikir bahwa ternyata menaiki sepeda itu sangat mengenakkan dan menyenangkan.

Untuk anak seumuranku, sepedaku itu termasuk sangat tinggi dan berat. Namun aku sangat senang dengan sepedaku itu, karena jika ada yang macam-macam, aku tidak takut untuk menabrakkan sepedaku itu. Pernah suatu ketika aku menabrak sepeda temanku yang lebih kecil dan ringan karena hal yang sangat sepele. Waktu itu aku hanya berfikir bahwa sepedaku adalah sepeda paling kuat sedunia :D

Desaku sangat ramai dan tidak begitu luas. Sebagai petualang cilik, aku sudah sering mengelilingi desaku itu bersama adik dan sepupuku serta teman-temanku. Kadang kita bersepeda kadang pula dengan berjalan kaki sehabis sekolah untuk mencari buah-buahan yang sedang ranum-ranumnya.

Biasanya kita mencari buah asam yang sudah masak. Kita tidak mengambil langsung dari atas pohonnya, namun kita memilih buah asam yang sudah jatuh, karena biasanya buah asam yang jatuh itu sudah masak dan siap untuk dimakan. Namun kadang kita coba mencari buah asam di atas pohonnya langsung jika buah yang sudah jatuh itu busuk atau tidak layak makan.

Atau mencari burung dengan ketapel, walaupun sampai sekarang aku belum pernah merasakan nikmatnya mendapatkan burung tangkapan sendiri. Mungkin karena waktu itu aku sering mendengar isu yang dihembuskan orang-orang yang tidak bertanggung jawab kalau banyak anak kecil yang kehilangan matanya karena kena ketapel. Dulu aku percaya-percaya saja, karena memang ada beberapa tetanggaku yang matanya cacat. Anggapanku salah satu mereka itu kena ketapel, namun lama kelamaan setelah aku besar, aku tahu kalau itu adalah cacat sejak lahir. Akhirnya kita hanya main ketapel-ketapelan saja. Sasarannya daun-daun pohon pisang.

Atau ketika musim jangkrik, aku bersama adik dan temanku berjalan menulusuri pedalaman desa untuk membeli jangkrik yang kuat. Harga jangkrik itu bermacam-macam, tergantung warna dan gerakannya. Semakin pirang (blonde) dan gesit maka harganya semakin mahal. Aku masih ingat jangkrik-jangkrik itu aku letakkan di kotak korek api yang sudah habis isinya. Agar jangkrik-jangkrik itu menjadi 'pemberani' aku berikan makanan spesial yaitu nasi plus cabe rawit. Kata teman-temanku, semakin banyak makan cabe maka si jangkrik akan semakin kuat dan ganas.

Setelah itu, dengan senangnya kita mengadu jangkrik-jangkrik itu. Sebelumnya, kita siapkan lapangan tempat aduannya. Ada beberapa temanku mempunyai tempat aduan jangkrik yang terbuat dari susunan kayu dan dibuat persegi empat, ada pula yang hanya tempat seadanya, yang penting dua ekor jangkrik itu bisa bertemu dan bertarung. Agar jangkrik itu berbunyi dan mengeluarkan taringnya, kita memakai bulu jagung yang diikat dengan sapu lidi yang sudah dipotong. Kita memilin-milin sapu lidi itu sampai kedua jangkrik bertemu. Sungguh asik melihat kedua jangkrik itu saling beradu sampai salah satu dari mereka berdua kalah. Biasanya cedera yang dialami jangkrik itu tidak begitu parah, biasanya ia tidak mau menunjukkan taringnya lagi karena giginya ngilu, namun ada juga yang sampai kehilangan satu kakinya sehingga harus bertahan dengan satu kaki saja.

Kita hanya tertawa-tawa saja melihat pertarungan itu. Kita masih kanak-kanak yang tidak tahu apa-apa tentang dosa. Yang ada difikiran kita waktu itu adalah kesenangan. Padahal waktu itu kita sudah mangaji di sebuah surau. Guru ngajiku sudah sering memberitahukan jika kalian suka mengadu binatang maka kelak di neraka, binatang-binatang yang kalian adu itu akan mengadu kalian. BERSAMBUNG

6 komentar:

cemomoi mengatakan...

zaman itu sudah berlalu malangnya anak masa kini tak bisa melaluinya sama... kepngin yang hilang ditelan zaman

Agus mengatakan...

gimana dengan sekarang udah lupa dengn naik sepeda? :D. kalau jangkrik enaknya dulu di adu :)

syifa'ul qolbi mengatakan...

Masa kecil memang indah,,,
ditunggu cerita selanjutnya ^_^

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

@Cemomoi : Iya, Masa kanak-kanak memang selalu indah diingat

@Agus : Kalu sekarang masih tapi g' sepandai dulu :p. Anda juga suka ngadu jangkrik ya ? ha ha ha

@SQ : Ditunggu juga cerita kamu :D

Fa mengatakan...

hihihi... funniest story :p

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

huhuhuh :D masa kecil yang lucu dan bahagia :D