Rabu, April 21, 2010

Lampu Teplek

Surau tempatku mengaji tidak begitu besar, namun cukup untuk menampung 25 sampai 30-an anak. Di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, ada beberapa anak yang masih menyempatkan diri untuk mengaji. Aku heran, semangat mereka untuk mengaji begitu kuat.

Setelah pulang sekolah, kira-kira jam setengah satu sampai jam satu, mereka kembali datang ke surau itu. Dengan pakaian yang masih memakai seragam sekolah, mereka terlihat begitu antusias untuk dapat menamatkan buku iqro' yang sudah terlihat lusuh dan sebagian telah sobek. Puncaknya ketika sehabis maghrib, surau tempatku mengaji itu akan sangat penuh dengan anak-anak. Setelah aku perhatikan, ternyata mereka tak hanya mengaji saja, mereka juga bermain sambil berteriak-teriak sehingga kadang guru ngajiku memukul atau mencubit mereka agar mereka kembali tenang.

Dahulu, ketika desaku belum masuk listrik, kira-kira di akhir tahun 80-an surau tempatku mengaji memakai lampu 'teplek', bahan bakarnya dari minyak gas yang dulu masih sangat murah sekali, lampu bulat itu terdiri dari corong kaca, sumbu, besi dan kaca untuk tempat menyimpan minyak gas. Lampu itu sepertinya sekarang sudah tidak banyak digunakan karena listrik sudah lama masuk desa.

Yang paling aku ingat adalah corong dari lampu teplek itu. Sebabnya adalah karena aku suka sekali menonton pertunjukan kuda lumping. Untuk tahu kalau ada pertunjukan kuda lumping tidaklah susah, karena pasti pertunjukan itu akan ketahuan dengan alunan musik gendang dan gong yang mendengung-dengung. Akupun biasanya langsung berlari mencari sumber bunyi itu. Tak susah untuk menemukan sumber bunyi itu karena orang-orang juga menonton pertunjukan itu.

Biasanya para pemain kuda lumpung itu sudah berada di tengah lapangan. Di belakang mereka beberapa anggota tim yang memukul-mukul gendang dan gong serta alat musik lainnya untuk mengiringi permainan kuda lumping itu. Aku sangat senang dengan pertunjukan itu, biasanya aku sangat khusuk dan bisa bermenit-menit untuk berdiri menonton pertunjukan itu. Biasanya ada beberapa orang sekitar tiga sampai empat orang yang dengan kostum yang menarik (biasanya memakai baju hitam dengan daleman putih merah)mulai menari-nari. Ada satu orang yang memegang pecut menghempas-hempaskan pecutnya kepada orang-orang yang menunggangi kuda-kudaan tersebut. Bunyinya sangat keras, cettar ... cettar ... dan orang-orang itu seakan-akan menjadi orang lain. Mereka kemudian bisa melakukan hal-hal yang tidak mungkin aku lakukan. Salah satunya adalah atraksi memakan beling dan setelah saya telusuri ternyata beling itu adalah corong dari lampu teplek yang biasanya menjadi penerang ketika aku mengaji di surau.

Aku sangat ingat ketika orang itu memasukkan kaca ke mulutnya. Bunyinya begitu jelas di telinga, kresss ... kress .. kres ... seperti memakan kerupuk saja. Ia seakan sudah terbiasa memakan kaca yang tajam itu. Akhirnya setelah pertunjukan selesai, beberapa orang berkeliling sambil menadahkan topinya untuk meminta 'sumbangan' kepada para penonton. Aku langsung kabur saja, karena aku waktu itu masih sangat kanak plus tidak punya uang :D

Setelah itu aku biasanya langsung menuju ke rumah nenek untuk menonton televisi. Rumah nenek adalah tempat yang aman untuk bersembunyi agar aku tidak disuruh untuk sekolah madrasah yang biasanya di mulai dari jam setengah tiga siang sampai jam empat sore. Bersambung ...

4 komentar:

syifa'ul qolbi mengatakan...

Hmm... Nakalnya.....
^_^

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

ha ha ha ha ...karena g' bayar dan g' mau disuruh sekolah madrasah ya ? :D

syifa'ul qolbi mengatakan...

Hmm...tp,sepertinya tarian kuda lumping udah jarang,,,biar gak di klaim negara lain,silakan anda berdayakan :D

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

Ya ini sudah diberdayakan ... tapi yang g' ada unsur2 sihirnya :D jadi yang murni kesenian rakyat ...