Rabu, April 14, 2010

Maksimalkan Nikmat

Sesuatu itu akan menjadi mahal ketika ia dibutuhkan. Udara contohnya, ketika seseorang sudah kehabisan nafas dan membutuhkan nafas buatan dengan segera, maka disini udara menjadi teramat sangat mahal. Padahal, setiap hari kita selalu menghirup udara dengan bebas, gratis dan puas.

Ternyata kalau kita fikirkan lagi, nikmat yang tak terasa itu lebih besar dari pada nikmat yang kita rasakan. Banyak orang berfikir bahwa memiliki harta yang banyak adalah sebuah nikmat yang begitu dahsyat, namun kalau difikir lagi, kekayaan tanpa kesehatan sama saja. Boleh jadi dia adalah seorang milyader dengan segunung harta melimpah, namun ia menderita penyakit yang mengharuskan ia tidak bisa menyicipi makanan nikmat yang biasanya ia rasakan. Maka ia akan merasakan bahwa kesehatan yang selama ini ia anggap sebagai sesuatu yang ia rasakan secara terus menerus, menjadi sebuah hal yang sangat mahal.

Memang sesuatu itu akan terasa nilainya jika ia sudah hilang dari pemiliknya. Karena dengan tanpa sadar, kita ternyata akan menganggap bahwa sesuatu itu adalah hak paten kita yang tidak mungkin bisa hilang dari kita. Namun, ketika realita berbicara lain dan kita mendapatkan bahwa apa yang kita anggap sebagai 'milik' kita itu hilang tak kembali, maka kita akan sadar bahwa sesuatu itu ternyata adalah nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada kita.

Maka tak heran jika dalam ajaranNya, Allah menyuruh kita untuk selalu mengucapkan kata alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Hal ini sejatinya agar kita selalu ingat, bahwa segala sesuatu yang kita nikmati, baik itu nafas, darah, tubuh dan keberadaan kita di dunia ini adalah karunia terbesar yang Allah berikan. Karena selalu mengingat akan pemberian membuat kita selalu berada dalam alam 'sadar' bahwa kita harus selalu berterima kasih kepada Sang pemberi.

Nah, hal inilah yang nantinya akan menggiring kita untuk selalu berusaha untuk melaksakan semua hak dan kewajiban yang telah digariskan oleh Sang Maha Pemberi tersebut. Maka tak heran, jika orang-orang yang selalu mengatakan puji syukur tersebut adalah orang-orang yang akan selalu berusaha untuk memaksimalkan pemberian, karena ia tahu bahwa semua karunia itu memiliki tanggung jawab yang harus ia pertanggung jawabkan kelak di hadapan Sang Maha Pemberi.

Contohnya saja nikmat waktu kosong, betapa Rasulullah mengingatkan kita bahwa salah satu nikmat yang paling diacuhkan manusia adalah waktu kosong. Tiba-tiba saja waktu yang seharusnya diisi dengan hal-hal yang positif dan membangun, hilang begitu saja. Tanpa terasa 24 jam yang begitu panjang itu hanya diisi dengan senda gurau atau permainan belaka yang tidak ada kaitannya dengan penambahan bekal nanti di akhirat.

Alangkah menyesalnya ketika waktu kosong yang sebenarnya cukup untuk mempersiapkan hal-hal yang perlu untuk disiapkan seperti persiapan ujian, membaca dan mencari rezeki, hilang begitu saja. Sebulan, dua bulan tanpa ada perkembangan berarti. Tak ada buku yang dipegang ataupun dibaca. Bahkan buku-buku yang sudah dibeli dengan susah payah sudah berlumuran debu yang semakin menebal.

Ini adalah awal dari penyesalan. Ketika ketidak acuhan dan pengabaian terhadap nikmat yang begitu besar ini sudah disadari, maka yang bisa dilakukan hanya menyesal dan selalu menanyakan kenapa ? kenapa ? Anehnya lagi jika kita sudah tahu bahwa akhir dari pengacuhan tersebut adalah sebuah penyesalan namun tubuh ini seakan tidak mau untuk bergerak dan mengikuti nurani yang selalu berkata : Ayolah, bangun dan gerakkan badanmu, selama masa yang tersisa masih ada, usahalah semaksimal mungkin.

1 komentar:

Belgis mengatakan...

ehmmm.......... tulisannya bagus,,,,, indah dibacanya, sepertinya anda berbakat jadi penulis yang handal :D, semoga impiannya terkabulll... amien,,,
tulisan ini jadi buat kita instropeksi diri aja,,, selama ini waktu ini taleh berlalu untuk apa aja ya.... ^_^