Jumat, April 30, 2010

Anak Laut

Tak ada yang benar-benar mengerti keinginanku kecuali ibuku. Aku heran, setiap kali aku menghidupkan radio, sang ibu pasti paham apa kemauanku. Tentunya waktu itu aku sangat kanak sekali. Jadi sang ibu yang memakaikan pakaian seragam kepadaku, juga sehabis itu menyuapiku sarapan pagi. Sang ibu begitu sabar, ia tahu kalau aku begitu suka mendengar siaran radio sebelum berangkat sekolah.

Acara yang paling aku sukai adalah serial tutur tinular. Sampai-sampai aku kadang melambat-lambatkan diri agar bisa menyelesaikan satu episode. Akupun rela untuk berjalan dengan 'sedikit lari' menuju sekolahku, sekitar 300 meter jaraknya dari rumahku.

Pada waktu itu radio sangat populer di desaku. Hampir disetiap rumah terdapat radio. Paling sering aku melihat tetanggaku mempergunakan radio itu untuk mendengarkan lagu-lagu dangdut yang sedang ngetop dimasa itu seperti anggur merah, lagu-lagunya Rhoma Irama dan lain sebagainya. Dangdut memang lagu pilihan orang-orang di desaku. Aku juga heran kenapa mereka lebih suka dangdut daripada musik yang lain.

Untunglah di rumahku sang ibu lebih suka mendengarkan sholawatan. Tapi kalau menjelang sore hari, aku harus rela mendengar lantunan lagu-lagu dangdut yang diputar oleh tetanggaku dengan volume yang sangat keras. Aku juga heran, mereka memutar lagu-lagu itu di tape recorder lalu mereka sambungkan ke loud speaker sehinga semua tetangga mendengar apa yang mereka putar.

Yah, mungkin karena di desa hal itu sangat lumrah terjadi. Tapi setelah saya perhatikan, ternyata tidak hanya ketka sore hari saja, namun juga ketika ada pernikahan, bahkan ketika sore hari di kapal yang sedang berlabuh di sekitar pantai.

Rumahku memang dekat dengan pantai. Ketika sore hari aku biasanya pergi ke pantai, karena ketika sore hari air laut sedang surut. Banyak orang-orang yang bermain bola, anak-anak kecil bermain bahkan bab :D ... Singkatnya, waktu itu pantai ibarat ruangan serbaguna yang bisa dipergunakan apa saja.

Tentunya aku hanya menikmati pantai saja. Kadang aku main bola, kadang pula aku mencari kulit kerang. Biasanya aku pergunakan untuk diadu. Anak-anak kecil biasanya berkumpul dan mengadu kulit kerang mana yang lebih kuat. Dengan bergantian, masing-masing pemilik kerang akan memukulkan kulit kerangnya kepada kulit kerang lawan yang dibiarkan tergeletak di bawah, setelah itu bergantian sampai nanti ada kulit kerang pemenang. Teman-teman biasanya akan mencari kulit kerang yang besar dan tebal agar bisa memenangkan pertandingan aku kuat kulit kerang tersebut.

Kadang pula aku memberanikan diri untuk berenang di tempat-tempat yang dangkal. Hal ini aku lakukan dengan sembunyi-sembunyi karena ibuku pasti marah kalau tahu aku berenang di laut. Pantai laut desaku memang beda dari pantai-pantai yang lain. Disamping tanahnya yang bagus, disitu juga banyak perahu-perahu yang berlabuh. Kadang dip agi hari, air laut akan surut lumayan jauh. Kita akan bisa melihat terumbu karang berwarna-warni. Bahkan ada beberapa orang yang mencari gurita disela-sela terumbu karang tersebut.

Di malam hari, tepatnya ketika air sudah pasang dan ombak berdeburan aku sering memandang laut. Yang terlihat hanya lampu-lampu nelayan di tengah laut sana. Aku kadang berfikir, apakah ada daratan lain di seberang sana. Aku hanya bisa bermimpi saja, karena aku pernah mabuk laut ketika mengendarai kapal laut.

Anehnya, setelah aku besar dan tahu google earth, aku heran. Ternyata daerahku itu bergaris lurus dengan suatu daerah yang hanya bisa aku lihat melalui google earth. Aku heran. Ini kebetulan ataukah sebuah pertanda? Entahlah ...

Bersambung

Minggu, April 25, 2010

Dunia Dalam Berita

Sekolah Madrasah bagiku sangat tidak menarik. Aku lebih senang untuk menonton acara anak-anak semisal film kartun berseri seperti Kapten Tsubasa, Satria Baja Hitam dan lainnya yang memang jam tanyangnya pas banget dengan jam sekolah madrasah. Jadinya kadang aku bolos.

Waktu itu memang jarang ada orang yang punya televisi. Menonton di rumah atau di rumah nenek sudah tidak mungkin. Akhirnya aku biasanya menonton tv di rumah tetangga yang televisinya waktu itu sangat besar 21 inci. Dasar orang desa, tau kalau ada acara yang paling digemari anak-anak yaitu satria baja hitam ditayangkan dan jarang orang yang punya televisi, anak-anak yang hendak menonton harus bayar dulu, waktu itu ongkos bayarnya hanya 50 rupiah.

Terpaksa aku mencari cara untuk mendapatkan uang 50 rupiah itu. Akhirnya dengan rayuan maut aku akhirnya dapat meminta uang kepada nenekku. Namun sialnya, ketika aku kembali ke rumah tetanggaku tadi, acaranya sudah selesai. Mungkin aku kelamaan merayu si nenek :D

Akhirnya dengan perasaan kecewa aku harus menunggu minggu depan untuk bisa menonton Satria Baja Hitam itu. Biasanya setelah itu, aku menyempatkan diri untuk ikut pelajaran terakhir di madrasah. Ya, sebagai formalitas saja, biar nanti kalau ditanya bapak atau ibu aku bisa menjawab kalau aku sore itu sudah belajar di madrasah.

Memang waktu itu aku adalah seorang anak yang selalu ingin bermain. Aku juga heran, kenapa waktu itu aku sangat bandel jika disuruh belajar. Bapakku selalu marah, ketika melihat aku memegang buku tapi posisi dudukku di depan televisi. Jadi aku pura-pura baca buku, padahal mataku menuju ke televisi. Akhirnya sang bapak sepertinya menyerah dan membiarkan aku menonton acara-acara kegemaranku.

Meski usiaku terbilang cukup kecil waktu itu, namun aku senang sekali menonton dunia dalam berita. Aku masih ingat ketika Unisoviet runtuh dan presidennya yang sekarang aku sudah lupa namanya berpidato. Aku juga masih ingat siaran-siaran perang teluk 2 ketika Amerika menghajar Irak. juga ketika orang-orang Bosnia dibantai habis-habisan oleh tentara Serbia.

Semua itu masih terekam jelas dalam ingatanku sampai sekarang. Mungkin aku adalah salah satu orang yang mulai mengerti terhadap kejadian-kejadian yang dulu pernah aku tonton itu. Contohnya saja penempatan jam tayang anak-anak di waktu-waktu yang kurang tepat yaitu pada waktu sekolah madrasah.

Dulu aku tak pernah mempertanyakan kenapa ? Yang aku rasakan adalah bahwa aku merasa lebih tertarik untuk menonton dari pada sekolah madrasah, karena dari pagi sampai siang aku sudah sekolah di SD. Aku juga tidak pernah mempertanyakan kenapa pelajaran agama di sd -ku itu hanya sekali dalam satu minggu. Aku juga tidak pernah mempertanyakan kenapa guru-guru ngajiku mendirikan sekolah yang 'sangat lain' dari sekolah sd ? Baik itu dari segi 'apa yang dipelajari' sampai tempat dan waktu yang sangat berbeda. Aku tidak paham itu semua. Karena waktu itu aku hanya anak-anak yang selalu ingin bermain dan bersenang-senang.

Aku juga tidak pernah berfikir di daerahku akan ada bentrokan berdarah, tepatnya tragedi berdarah Nipah Sampang. Aku hanya mendengar-dengar cerita kalau orang-orang yang ditembak tni itu tidak mengeluarkan darah, tapi air. Hal itu sampai sekarang masih aku ingat.

Aku hanya seorang anak sd yang suka mendengarkan cerita-cerita aneh. Pernah suatu ketika teman-temanku bercerita tentang bi-ibih. Bi-ibih adalah hantu yang bertugas untuk menyekap anak-anak yang keluyuran pada waktu maghrib. Temanku pernah bercerita kalau dia pernah disekap oleh bi-ibih itu. Aku dan teman-teman yang lain percaya saja cerita dia, karena dari raut mukanya ia seperti seorang yang serius.

Ia bercerita kalau dia diberi susu oleh bi-ibih itu. Akhirnya setelah minum susu itu, ia sadar kalau ia sedang berada di atas ranting pohon jambu air. Mungkin kebiasaanku mendengarkan radio sebelum berangkat sekolah yang membuat aku senang untuk mendengarkan cerita. Bersambung ...

Rabu, April 21, 2010

Lampu Teplek

Surau tempatku mengaji tidak begitu besar, namun cukup untuk menampung 25 sampai 30-an anak. Di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, ada beberapa anak yang masih menyempatkan diri untuk mengaji. Aku heran, semangat mereka untuk mengaji begitu kuat.

Setelah pulang sekolah, kira-kira jam setengah satu sampai jam satu, mereka kembali datang ke surau itu. Dengan pakaian yang masih memakai seragam sekolah, mereka terlihat begitu antusias untuk dapat menamatkan buku iqro' yang sudah terlihat lusuh dan sebagian telah sobek. Puncaknya ketika sehabis maghrib, surau tempatku mengaji itu akan sangat penuh dengan anak-anak. Setelah aku perhatikan, ternyata mereka tak hanya mengaji saja, mereka juga bermain sambil berteriak-teriak sehingga kadang guru ngajiku memukul atau mencubit mereka agar mereka kembali tenang.

Dahulu, ketika desaku belum masuk listrik, kira-kira di akhir tahun 80-an surau tempatku mengaji memakai lampu 'teplek', bahan bakarnya dari minyak gas yang dulu masih sangat murah sekali, lampu bulat itu terdiri dari corong kaca, sumbu, besi dan kaca untuk tempat menyimpan minyak gas. Lampu itu sepertinya sekarang sudah tidak banyak digunakan karena listrik sudah lama masuk desa.

Yang paling aku ingat adalah corong dari lampu teplek itu. Sebabnya adalah karena aku suka sekali menonton pertunjukan kuda lumping. Untuk tahu kalau ada pertunjukan kuda lumping tidaklah susah, karena pasti pertunjukan itu akan ketahuan dengan alunan musik gendang dan gong yang mendengung-dengung. Akupun biasanya langsung berlari mencari sumber bunyi itu. Tak susah untuk menemukan sumber bunyi itu karena orang-orang juga menonton pertunjukan itu.

Biasanya para pemain kuda lumpung itu sudah berada di tengah lapangan. Di belakang mereka beberapa anggota tim yang memukul-mukul gendang dan gong serta alat musik lainnya untuk mengiringi permainan kuda lumping itu. Aku sangat senang dengan pertunjukan itu, biasanya aku sangat khusuk dan bisa bermenit-menit untuk berdiri menonton pertunjukan itu. Biasanya ada beberapa orang sekitar tiga sampai empat orang yang dengan kostum yang menarik (biasanya memakai baju hitam dengan daleman putih merah)mulai menari-nari. Ada satu orang yang memegang pecut menghempas-hempaskan pecutnya kepada orang-orang yang menunggangi kuda-kudaan tersebut. Bunyinya sangat keras, cettar ... cettar ... dan orang-orang itu seakan-akan menjadi orang lain. Mereka kemudian bisa melakukan hal-hal yang tidak mungkin aku lakukan. Salah satunya adalah atraksi memakan beling dan setelah saya telusuri ternyata beling itu adalah corong dari lampu teplek yang biasanya menjadi penerang ketika aku mengaji di surau.

Aku sangat ingat ketika orang itu memasukkan kaca ke mulutnya. Bunyinya begitu jelas di telinga, kresss ... kress .. kres ... seperti memakan kerupuk saja. Ia seakan sudah terbiasa memakan kaca yang tajam itu. Akhirnya setelah pertunjukan selesai, beberapa orang berkeliling sambil menadahkan topinya untuk meminta 'sumbangan' kepada para penonton. Aku langsung kabur saja, karena aku waktu itu masih sangat kanak plus tidak punya uang :D

Setelah itu aku biasanya langsung menuju ke rumah nenek untuk menonton televisi. Rumah nenek adalah tempat yang aman untuk bersembunyi agar aku tidak disuruh untuk sekolah madrasah yang biasanya di mulai dari jam setengah tiga siang sampai jam empat sore. Bersambung ...

Minggu, April 18, 2010

Sang Petualang

Dulu, ketika aku masih kecil, banyak hal yang ingin aku ketahui. Setiap kali aku berjalan menaiki mobil bersama bapakku, aku selalu bertanya : Pak, nama tempat ini apa ? Tentunya bapakku yang dulu katanya seorang petualang memberitahukan nama tempat-tempat yang ku tanyakan tersebut.

Aku juga heran, kenapa dulu aku selalu ingin tahu. Meskipun pada akhirnya aku tidak bisa mengingat semua apa yang telah bapakku beritahukan itu, namun setidaknya sampai sekarang aku masih bisa mengingat tempat-tempat yang dulu pernah aku tanyakan jika aku kembali melaluinya.

Menjadi anak kecil memang susah, tak semua apa yang aku inginkan dimengerti oleh bapak atau ibuku. Ekspresi yang tepat tentunya dengan menangis. Jika ingin sesuatu yang sulit diminta, aku cukup menangis. Namun tak selamanya tangisanku itu menjadi jurus ampuh untuk mendapatkan semua keinginanku. Kalau sedang untung, aku bisa mendapat apa yang aku inginkan, namun kalau sedang sial, sampai suaraku habispun barang yang aku inginkan tak kesampaian.

Namun jika diingat-ingat lagi, teringin rasanya kembali melalui masa kanak-kanak yang penuh dengan petualangan itu. Aku ingat, dulu aku pernah punya sebuah sepeda yang begitu kuat. Aku sudah lupa merk sepeda tersebut, tapi yang paling aku ingat sampai sekarang adalah bahwa sepeda itu telah mengajariku menjadi seorang petualang. Ketika itu aku masih duduk di sekolah SD, aku sangat senang bersepeda menjelajahi desaku.

Walaupun awalnya aku sangat susah untuk bisa menaiki sepeda. Berapa kali aku terjatuh sehingga kakiku penuh dengan luka-luka yang tidak bisa hilang sampai sekarang. Namun, karena waktu itu aku sangat bertekad untuk bisa menaiki sepeda bagaimanapun resikonya, akhirnya walaupun dengan perjuangan dan tetesan darah yang tidak sedikit, aku bisa menunggangi sepeda itu. Tapi kalau aku ingat-ingat lagi, ternyata motivasiku untuk bisa sepeda bukan hanya itu, tapi yang paling dominan adalah karena waktu itu sepupu-sepupuku sudah dengan senang dan riang gembira menaiki sepeda mereka masing-masing. Waktu itu aku hanya berfikir bahwa ternyata menaiki sepeda itu sangat mengenakkan dan menyenangkan.

Untuk anak seumuranku, sepedaku itu termasuk sangat tinggi dan berat. Namun aku sangat senang dengan sepedaku itu, karena jika ada yang macam-macam, aku tidak takut untuk menabrakkan sepedaku itu. Pernah suatu ketika aku menabrak sepeda temanku yang lebih kecil dan ringan karena hal yang sangat sepele. Waktu itu aku hanya berfikir bahwa sepedaku adalah sepeda paling kuat sedunia :D

Desaku sangat ramai dan tidak begitu luas. Sebagai petualang cilik, aku sudah sering mengelilingi desaku itu bersama adik dan sepupuku serta teman-temanku. Kadang kita bersepeda kadang pula dengan berjalan kaki sehabis sekolah untuk mencari buah-buahan yang sedang ranum-ranumnya.

Biasanya kita mencari buah asam yang sudah masak. Kita tidak mengambil langsung dari atas pohonnya, namun kita memilih buah asam yang sudah jatuh, karena biasanya buah asam yang jatuh itu sudah masak dan siap untuk dimakan. Namun kadang kita coba mencari buah asam di atas pohonnya langsung jika buah yang sudah jatuh itu busuk atau tidak layak makan.

Atau mencari burung dengan ketapel, walaupun sampai sekarang aku belum pernah merasakan nikmatnya mendapatkan burung tangkapan sendiri. Mungkin karena waktu itu aku sering mendengar isu yang dihembuskan orang-orang yang tidak bertanggung jawab kalau banyak anak kecil yang kehilangan matanya karena kena ketapel. Dulu aku percaya-percaya saja, karena memang ada beberapa tetanggaku yang matanya cacat. Anggapanku salah satu mereka itu kena ketapel, namun lama kelamaan setelah aku besar, aku tahu kalau itu adalah cacat sejak lahir. Akhirnya kita hanya main ketapel-ketapelan saja. Sasarannya daun-daun pohon pisang.

Atau ketika musim jangkrik, aku bersama adik dan temanku berjalan menulusuri pedalaman desa untuk membeli jangkrik yang kuat. Harga jangkrik itu bermacam-macam, tergantung warna dan gerakannya. Semakin pirang (blonde) dan gesit maka harganya semakin mahal. Aku masih ingat jangkrik-jangkrik itu aku letakkan di kotak korek api yang sudah habis isinya. Agar jangkrik-jangkrik itu menjadi 'pemberani' aku berikan makanan spesial yaitu nasi plus cabe rawit. Kata teman-temanku, semakin banyak makan cabe maka si jangkrik akan semakin kuat dan ganas.

Setelah itu, dengan senangnya kita mengadu jangkrik-jangkrik itu. Sebelumnya, kita siapkan lapangan tempat aduannya. Ada beberapa temanku mempunyai tempat aduan jangkrik yang terbuat dari susunan kayu dan dibuat persegi empat, ada pula yang hanya tempat seadanya, yang penting dua ekor jangkrik itu bisa bertemu dan bertarung. Agar jangkrik itu berbunyi dan mengeluarkan taringnya, kita memakai bulu jagung yang diikat dengan sapu lidi yang sudah dipotong. Kita memilin-milin sapu lidi itu sampai kedua jangkrik bertemu. Sungguh asik melihat kedua jangkrik itu saling beradu sampai salah satu dari mereka berdua kalah. Biasanya cedera yang dialami jangkrik itu tidak begitu parah, biasanya ia tidak mau menunjukkan taringnya lagi karena giginya ngilu, namun ada juga yang sampai kehilangan satu kakinya sehingga harus bertahan dengan satu kaki saja.

Kita hanya tertawa-tawa saja melihat pertarungan itu. Kita masih kanak-kanak yang tidak tahu apa-apa tentang dosa. Yang ada difikiran kita waktu itu adalah kesenangan. Padahal waktu itu kita sudah mangaji di sebuah surau. Guru ngajiku sudah sering memberitahukan jika kalian suka mengadu binatang maka kelak di neraka, binatang-binatang yang kalian adu itu akan mengadu kalian. BERSAMBUNG

Rabu, April 14, 2010

Maksimalkan Nikmat

Sesuatu itu akan menjadi mahal ketika ia dibutuhkan. Udara contohnya, ketika seseorang sudah kehabisan nafas dan membutuhkan nafas buatan dengan segera, maka disini udara menjadi teramat sangat mahal. Padahal, setiap hari kita selalu menghirup udara dengan bebas, gratis dan puas.

Ternyata kalau kita fikirkan lagi, nikmat yang tak terasa itu lebih besar dari pada nikmat yang kita rasakan. Banyak orang berfikir bahwa memiliki harta yang banyak adalah sebuah nikmat yang begitu dahsyat, namun kalau difikir lagi, kekayaan tanpa kesehatan sama saja. Boleh jadi dia adalah seorang milyader dengan segunung harta melimpah, namun ia menderita penyakit yang mengharuskan ia tidak bisa menyicipi makanan nikmat yang biasanya ia rasakan. Maka ia akan merasakan bahwa kesehatan yang selama ini ia anggap sebagai sesuatu yang ia rasakan secara terus menerus, menjadi sebuah hal yang sangat mahal.

Memang sesuatu itu akan terasa nilainya jika ia sudah hilang dari pemiliknya. Karena dengan tanpa sadar, kita ternyata akan menganggap bahwa sesuatu itu adalah hak paten kita yang tidak mungkin bisa hilang dari kita. Namun, ketika realita berbicara lain dan kita mendapatkan bahwa apa yang kita anggap sebagai 'milik' kita itu hilang tak kembali, maka kita akan sadar bahwa sesuatu itu ternyata adalah nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada kita.

Maka tak heran jika dalam ajaranNya, Allah menyuruh kita untuk selalu mengucapkan kata alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Hal ini sejatinya agar kita selalu ingat, bahwa segala sesuatu yang kita nikmati, baik itu nafas, darah, tubuh dan keberadaan kita di dunia ini adalah karunia terbesar yang Allah berikan. Karena selalu mengingat akan pemberian membuat kita selalu berada dalam alam 'sadar' bahwa kita harus selalu berterima kasih kepada Sang pemberi.

Nah, hal inilah yang nantinya akan menggiring kita untuk selalu berusaha untuk melaksakan semua hak dan kewajiban yang telah digariskan oleh Sang Maha Pemberi tersebut. Maka tak heran, jika orang-orang yang selalu mengatakan puji syukur tersebut adalah orang-orang yang akan selalu berusaha untuk memaksimalkan pemberian, karena ia tahu bahwa semua karunia itu memiliki tanggung jawab yang harus ia pertanggung jawabkan kelak di hadapan Sang Maha Pemberi.

Contohnya saja nikmat waktu kosong, betapa Rasulullah mengingatkan kita bahwa salah satu nikmat yang paling diacuhkan manusia adalah waktu kosong. Tiba-tiba saja waktu yang seharusnya diisi dengan hal-hal yang positif dan membangun, hilang begitu saja. Tanpa terasa 24 jam yang begitu panjang itu hanya diisi dengan senda gurau atau permainan belaka yang tidak ada kaitannya dengan penambahan bekal nanti di akhirat.

Alangkah menyesalnya ketika waktu kosong yang sebenarnya cukup untuk mempersiapkan hal-hal yang perlu untuk disiapkan seperti persiapan ujian, membaca dan mencari rezeki, hilang begitu saja. Sebulan, dua bulan tanpa ada perkembangan berarti. Tak ada buku yang dipegang ataupun dibaca. Bahkan buku-buku yang sudah dibeli dengan susah payah sudah berlumuran debu yang semakin menebal.

Ini adalah awal dari penyesalan. Ketika ketidak acuhan dan pengabaian terhadap nikmat yang begitu besar ini sudah disadari, maka yang bisa dilakukan hanya menyesal dan selalu menanyakan kenapa ? kenapa ? Anehnya lagi jika kita sudah tahu bahwa akhir dari pengacuhan tersebut adalah sebuah penyesalan namun tubuh ini seakan tidak mau untuk bergerak dan mengikuti nurani yang selalu berkata : Ayolah, bangun dan gerakkan badanmu, selama masa yang tersisa masih ada, usahalah semaksimal mungkin.

Senin, April 12, 2010

Ahmadun dan 65 Kuning

Ini ada tulisan kedua saya tentang kebejatan lelaki mesir kepada wanita. Beberapa bulan yang lalu saya juga pernah menulis tentang hal serupa. Namun, dalam tulisan kali ini saya akan membumbuinya dengan hal baru.

Tulisan ini terinspirasi sejak kemaren, tepatnya setelah pulang kuliah saya mencoba menaiki bis umum. Setelah beberapa puluh menit saya menunggu, datanglah bis 65 kuning. Siang itu memang sangat panas, kata teman-teman hari ini ada hujan debu. Apalagi ditambah dengan keadaan di bis yang sesak berdesakan sehingga dunia ini seperti neraka saja.

Di dalam bis itu saya melihat dua orang wanita Indonesia. Dengan pakaian yang menurut saya sudah sopan dan layak. Seorang sedang duduk dan yang satunya berdiri. Tidak ada yang aneh dari mereka berdua, biasa-biasa saja. Namun, yang membuat perasaan ingin tahu saya muncul, adalah ulah dari beberapa oknum pemuda Mesir yang mengerubuti satu cewek yang berdiri tersebut. Saya akhirnya mencoba untuk mendekati posisi cewek tersebut dengan masuk melalui sela-sela orang-orang yang berdiri sesak.

Setelah dekat, ternyata saya tahu, apa yang sebenarnya melatar belakangi dua pemuda mesir itu untuk mengerubungi sang cewek yang seperti merasa 'tidak nyaman' dengan apa yang mereka lakukan. Yah, sudah menjadi rahasia umum jika tingkat 'kebejatan' lelaki mesir kepada perempuan (siapapun perempuan itu, tua ataupun muda) sangatlah tinggi. Mereka sudah tidak peduli lagi keadaan dan kondisi wanita korbannya.

Memang kalau difikir dengan jernih, wajar saja jika tingkat kebejatan tersebut sangat tinggi disini. Coba anda banyangkan, rata-rata cara berpakaian cewek mesir itu sudah sangat keterlaluan. Dengan bentuk tubuh yang mau muntah, kebanyakan mereka memakai pakaian yang ketat, walaupun tidak sedikit yang masih konsis dengan pakaian islami yang menutup seluruh tubuh mereka.

Pantas ketika salah seorang pelaku bejat tersebut diwawancarai, mereka malah menyalahkan para wanitanya yang berpakaian tidak sopan bahkan cenderung menantang. Anehnya, cewek indonesia di dalam bis tersebut sama sekali tidak berpakaian ketat. Dengan postur tubuh yang kecil, bisa dikatakan daya tarik mereka sangatlah jauh dibandingkan dengan wanita mesir yang berbadan 'mau muntah' itu.

Hal ini mengingatkan saya kepada kejadian beberapa tahun lalu di down town kairo, tepatnya pada malam hari raya iedul fitri. Kejadian yang sangat terkenal dengan 'at-taharrush al-jinsy fi wasath el-balad' (pelecehan sexual di down town) ini bahkan sempat populer di youtube. Menurut keterangan saksi mata yang saya baca di beberapa blogger mesir dan dapat disaksikan di youtube, ternyata kebejatan tersebut dilakukan oleh banyak sekali lelaki. Korbannya tak hanya wanita muda yang cantik dan berbaju menantang, namun yang paling menyedihkan adalah wanita-wanita yang menutup seluruh auratnya pun menjadi korban.

Sejak saat itu isu pelecehan sexual begitu populer di mesir. Di koran-koran seperti al-ahram banyak sekali artikel yang memuat tentang hal itu. Puncaknya ketika salah seorang wanita terpelajar dilecehkan oleh seorang pemuda sehingga pemuda itu dipenjara selama 3 tahun.

Namun walaupun kejadian demi kejadian terjadi, tampaknya fenomena kebejatan dan pelecehan ini tidak akan menemukan titik akhir di negeri penuh kesemerawutan ini. Tentunya undang-undang yang begitu lemah mengenai fenomena ini bukan satu-satunya alasan kenapa kejadian demi kejadian terus menerus bergulir seperti bola api jatuh dari langit. Seperti contoh seorang mesir bernama Ahmadun. Ia pernah dipenjara karena tertangkap basah berusaha melakukan hal yang tidak senonoh kepada beberapa mahasiswi Indonesia. Setelah ia keluar penjara dan menikmati kebebasan, ia kembali lagi mengguncang dunia mahasiswa indonesia di Mesir dengan ulahnya yang lagi-lagi 'melecehkan' harkat dan martabat wanita.

Tidak ada efek jera yang Ahmadun rasakan setelah ia dipenjara. Malah mungkin ia melakukan aksinya tersebut disamping melampiaskan nafsu juga dalam rangka balas dendam kepada wanita Indonesia yang menyebabkan dia dipenjarakan. Hal ini membuat saya bertanya-tanya, lantas apa yang harus kita lakukan ? Penjara ternyata bukan lagi solusi yang tepat untuk menyehatkan kondisi jiwa yang sudah 'sakit' tersebut. Malah sebaliknya, penjara malah akan membuat 'penyakit' yang lain yaitu rasa sakit hati dan keinginan untuk membalas dendam.

Saya lalu ingat sebuah firman Allah dalam Al-Quran : Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertakwa. Yah, penyakit jiwa tidak dapat disembuhkan dengan obat raga, ia harus disembuhkan dengan obat jiwa yang mampu membuat ia sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah semua pekerjaan yang tercela. Ia tidak dapat lagi menggunakan nalarnya, karena nalar yang ia miliki sudah kalah dengan nafsu yang menguasai jiwanya.

Ia butuh sebuah sugesti dari luar dirinya yang dapat membuatnya tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah keburukan yang tidak pantas dilakukan oleh manusia yang berakal. Ia juga harus tahu bahwa takwa itu adalah meninggalkan apa yang dilarang dan mengerjakan semua perintah. Ia harus diberi obat agama.

Yah, tidak dapat disangkal lagi kalau agama adalah obat yang paling murajab untuk mengobati 'sakit jiwa'-nya si Ahmadun. Agama yang mengajarkan bahwa ketakwaan adalah pembeda dari setiap individu. Semakin ia bertawa maka ia semakin mulia. Semakin si Ahmadun tahu kalau melecehkan wanita sangatlah dilarang oleh agama, maka ia akan semakin mulia karena tentunya ia akan selalu menghormati wanita dan memperlakukan mereka seperti 'ibu' atau 'saudari'nya sendiri.

Namun sayang, orang seperti Ahmadun tampaknya sudah buta dan tuli mata hatinya. Ia tidak mau menerima cahaya agama. Ia seakan larut dengan gejolak nafsunya yang membara. Enak memang dirasa, namun Ahmadun lupa jika maut selalu mengintainya. Kelak nanti ketika si Ahmadun meninggal, ia akan tahu bahwa apa yang ia perbuat sangatlah tercela dan tidak terpuji. Akhirnya, semoga saja si Ahmadun dan 'Ahmadun-Ahmadun' yang lain secepatnya sadar sebelum mereka dijemput oleh izrail pencabut nyawa.

Selasa, April 06, 2010

Syamun-Nasim

Syammun-Nasim tahun ini akhirnya saya putuskan untuk dinikmati di dalam rumah saja. Padahal udara di luar sana cukup segar untuk berjalan-jalan bersama keluarga besar qotomea. Namun sayangnya, rencana untuk merayakan Syamun-nasim di qonatir terpaksa harus dibatalkan. Pertama karena satu anggota keluarga yaitu saudara Fawaid berhalangan karena dia ada tugas piket jaga di mat'am Malaysia.

Padahal tadi malam kita sudah berencana untuk menghabiskan liburan syamun-nasim ini dengan berfoto ria sambil menikmati apa yang orang-orang Mesir Nikmati. Namun disamping berhalangannya si Fawaid, tadi malam Kadar memberikan sebuah buku tipis, buku yang ditulis oleh seorang fakih masa kini yang beberapa bulan lalu meninggal, buku itu adalah beberapa fatwa syekh 'Athiyah Saqar tentang beberapa permasalahan, termasuk di dalamnya adalah fatwa tentang perayaan Syamun-Nasim.

Di dalam buku tersebut, syekh 'Atiyah menyertakan dengan ringkas sejarah dari Syamun-Nasim itu, baik di masa Fir'aun, Yahudi dan Masehi. Dimana pada masa fi'aun ia adalah sebuah adat kemudian ditambah dengan ritual keagamaan pada masa yahudi dan masehi.

Akhirnya sang syekh menyatakan di akhir tulisannya bahwa beliau menasihati kita untuk tidak ikut serta dalam perayaan tersebut karena merupakan salah satu ritual keagamaan dari agama yang lain. Sebelum membaca buku itu, saya juga sempat browsing di youtube dan menemukan sebuah video milik Syekh Abu Ishaq Al-Huwainy, seorang muhaddist asal Mesir yang merupakan syekh jamaah salafi 'Ansharush -Sunnah' di Mesir. Dalam video yang berdurasi tidak lebih dari 5 menit itu, beliau dengan keras melarang bahkan menyatakan bahwa orang-orang yang menjual ikan asin, telur dan makanan-makanan untuk syamun-nasim adalah orang yang berdosa.

Hal ini mengingatkan saya kepada kejadian yang terjadi di Indonesia yaitu apakah boleh mengucapkan selamat natal ? Nah, sepertinya hal ini menjadi sangat rumit ketika ada yang mengatakan bahwa agama islam itu intoleran dan tidak menghargai perbedaan. Syekh 'Athiyah dalam bukunya tersebut menegaskan bahwa tidak ada mujamalah dalam masalah prinsip agama. Mungkin prinsip yang dipakai oleh syekh 'Athiyah adalah firman Allah dalam Al-Quran : Untukmu agamamu dan untukku agamaku.

Apalagi kalau ritual yang dilaksanakan sangat bertolakbelakang dengan akidah kepercayaan dalam agama islam. Menurut syekh Atiyah, perayaan Syamun-Nasim sudah tercampuri dengan ritual keagamaan yang dilaksanakan kaum masehi yaitu hari paskah, kebangkitan yesus. Padahal, dalam Al-Quran disebutkan bahwa Yesus tidaklah dibunuh ataupun disalib, tapi beliau diangkat oleh Allah.

Jadi, hemat penulis masalahnya bukan dalam tataran toleran-intoleran, tapi lebih kepada masalah agamamu agamaku, agamaku agamaku. Jika kamu ingin melaksanakan ritual keagamaanmu maka laksanakanlah, aku tidak akan menghalang-halangi apalagi ikut campur bahkan menyertai.

Menjadi toleran bukan berarti ikut-ikutan dan taklid saja kepada orang lain walaupun keyakinannya bertolak belakang dengan apa yang ia lakukan. Menjadi toleran sejatinya adalah menerima dan menghormati pilihan orang lain.

Memang tidaklah salah ketika seseorang ingin berkumpul bersama keluarganya dengan memakan ikan asin, telor berwarna dan sayur mayur untuk memperingati datangnya musim semi. Namun, ketika sejarah menyatakan bahwa tradisi itu sudah terserap menjadi riual dari agama tertentu, maka sebaiknyalah orang-orang yang tidak berkeyakinan yang sama dengan agama tersebut untuk tidak merayakannya.