Rabu, Maret 24, 2010

Pantang Mundur

Lama sudah jari-jari ini terasa kelu untuk menuliskan kata-kata. Seakan disetiap jemari terdapat beberapa gembok yang menguncinya. Tak tahu kenapa kali ini gembok-gembok itu sepertinya terlepas dengan sendirinya. Dengan sangat lincah jemari ini menari-nari bak penari kecak dengan jeda demi jeda gerakannya yang mendayu-dayu seperti sepoi angin di malam hari.

Sungguh tak ku sangka, sampai detik ini nafsu tetap membelengguku dengan kuatnya. Padahal sudah ku katakan kepada hati yang selalu berkata 'kenapa', besok kita akhiri kekuasaan nafsu, jika tidak bisa dengan jalan damai, maka kudeta berdarahpun harus dijadikan pilihan.

Herannya, nafsu tak kungjung tersentuh. Semua serangan seakan tak berpengaruh. Ia tetap saja kuat dengan kuku-kukunya yang tajam mencengkramku yang semakin hari semakin tidak berdaya. Padahal, detik demi detik, waktu demi waktu aku persiapkan pasukan yang paling elit untuk menghadapinya. Namun sepertinya itu hanya akan menjadi kesia-sian tak berarti. Nothing change ... Sama saja, tak ada perkembangan apa-apa, stagnan dan berjalanan di tempat.

What's wrong then ? Apa yang salah ? Apa karena memang nafsu sudah mencapai form paling sempurna sehingga tidak tersentuh ? Atau mungkin nafsu akumulatif yang membuatnya kokoh bak gunung dengan pasaknya ? Atau jangan-jangan aku yang sudah semakin lemah ? Sebenarnya nafsu sama saja dengan dulu tapi bedanya aku telah lemah sehingga tidak bisa menghadapi kekuatan nafsu yang stabil ?

Oh my god, help me pls ... Untuk mengklasifikasikan saja aku sudah tidak mampu apalagi untuk menghadapi ? Sepertinya sudah tidak mungkin dan atau mustahil aku bisa berdiri tegak dan dengan senyum kemenangan bisa berkata 'cepatlah berlalu wahai hembusan nafsu' ! Ah, namun apa bijak jika aku terus membiarkan ? Apa tidak salah jika aku menyerah sekarang ? Padahal nyawa masih dikandung badan dan setiap tetesan darah selalu membuncahkan kata 'lawan...lawan'...

Ah, sepertinya rencana menyerah dengan tanpa syarat karus aku batalkan. Langit masih terang dengan awannya, matahari masih bersinar dengan teriknya dan nafas masih mendesah-desah dengan semangat perjuangan. Apa tidak malu jika aku katakan 'sudahlah, aku kalah' padahal aku adalah seorang manusia yang masih HIDUP ?

Kalau begitu, aku harus MELAWAN !!! Dengan apa saja. Bambu runcing juga boleh. Atau apa saja yang bisa untuk melobangi gunung. Satu demi satu, sedikit demi sedikit. Tak perlu terburu-buru, karena tak ada kemenangan sempurna jika dilakukan dengan tergesa-gesa. Pelan tapi mantap. Mungkin itu yang bisa ku perbuat sekarang.

3 komentar:

agr mengatakan...

nafsu yg mana nih? nafsu birahi atau nafsu main game :))

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

An-Nafsu Al-Ammarah bis-Su' ... Nasfu yang selalu mengajak kepada kejelekan :D

Anonim mengatakan...

Namanya manusia biasa godaan dan nafsu dimana-mana, apalagi nafsu yang selalu mengajak kejelekan..pasti setan-setan mengajak kita untuk berbuat jelek.apalagi setannya cantik pasti sulit benget menghidarinya.
Intropeksi diri itu yang harus kita lakukan...dan kembalikan hati kita menjadi putih, kalupun hati itu menjadi hitam lagi sebutlah nama tuhanMu dan berbuatlalah hal-hal yang baik, karna Allah maha pembolak balik hati.
Kalaupun nafsu itu tidak kunjung pergi jangan menyerah itu yang harus kamu katakan pada hatimu dan berusahalah, Allah maha penolong insyaAllah diberi kemudahan apalagi hambanya yang ingin menjadi lebih baik.
Oiya nafsu itu adalah masalah, masalah yang harus diselesaikan. Orang yang hidup dengan masalah itu lebih baik dari pada yang hidupnya tidak ada masalah. Buat apa hidup kalau tidak ada masalah dan penyelesaiannya,,??ya mati aje...kan sama ja hidup di alam kubur dan dunia,sama2 tenang.