Selasa, Maret 30, 2010

Makan dan Minum

Suguhan Mie telur plus Coffemix tampaknya masih belum bisa membuat jiwa ini tenang. Sepertinya masih ada yang kurang disamping sebuah 'kenikmatan' dari makanan dan minuman yang sudah disantap. Oh iya, bicara tentang makan dan minum saya teringat dengan do'a sebelum dan sesudah makan.

Terjemahan dari do'a sebelum makan kira-kira begini : Ya Allah Ya Tuhan Kami Berilah kami barokah atas apa yang telah Engkau rezekikan kepada kami dan lindungilah kami dari siksaan neraka. do'a setelah makan : Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami termasuk golongan orang muslim.

Kalau diperhatikan dan diresapi makna kedua do'a tersebut, sungguh akan membuat hati tergetar. Bayangkan saja, sebelum kita memakan makanan yang sudah berada di depan mata kita, kita dianjurkan untuk meminta barokah dan perlindungan dari siksaan api neraka. Kenapa harus barokah ? bukan yang lain ? barokah bisa diartikan dengan bertambah dan berkembang seperti dalam firman Allah di surat Al-'Araf ayat 96 : Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.

Bertambah disini bukan hanya kuantitatif tapi juga kualitatif. Boleh jadi secara kuantitas, tidak ada penambahan tapi secara kualitas dan kemanfaatnya sangat banyak yang merasakan. Ada pula yang mengartikan barakah sebagai kebersinambungan. Bagaimana nikmat yang dirasakan terus berkelanjutan walaupun secara kualitatif dan kuantitatif cenderung tak ada perubahan. Namun, keberlanjutannya mengisyaratkan bahwa nikmat itu begitu berkah dan bermanfaat.

Lalu apa hubungannya dengan meminta perlindungan dari siksaan api neraka ? Dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 7 Allah berfirman : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

Sekecil apapun nikmat yang kita dapatkan, hendaklah disyukuri, bisa dengan mengucapkan Alhamdulillah dan hal lainnya yang menunjukkan rasa syukur kita terhadap segala pemberian. Kenapa ? Karena kufur (mengingkari nikmat) azabnya sangat pedih. Maka dari itu kenapa dalam do'a sebelum makan tersebut kita dianjurkan untuk membaca do'a yang di dalamnya terdapat perkataan : dan lindungilah kami dari siksaan neraka.

Karena bagaimanapun, kita diberi makan untuk menunjang kita untuk berbuat baik. Maka, sebelum memakan makanan tersebut, kita berdo'a agar setiap darah dan daging yang tercipta dari proses makan tersebut, semuanya mendukung kita untuk selalu berbuat kebaikan dan meninggalkan semua kejelekan yang menyebabkan kita nantinya disiksa di neraka.

Oleh karena itu kenapa dalam setiap selesai makan atau minum kita dianjurkan untuk membaca : Segala puji bagi Allah. Karena hakikatnya, tidak ada sesuatupun di dunia ini yang layak dipuji selain Allah. Pertama karena Ialah yang memberi kita makan dan minum. Dalam surat Hud ayat 6 disebutkan : Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.

Plus nikmat yang paling besar yaitu Ia telah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang muslim. Sebuah nikmat yang tiada taranya ketika kita diberi kesempatan untuk mengenal Allah. Dalam Surat Arrahman ayat 1-3 disebutkan : Arrahman, Yang telah mengajarkan Al-Quran, yang telah Menciptakan manusia.

Allah menyebutkan pengajaran Al-Quran terlebih dahulu daripada penciptaan manusia. Kenapa ? Karena disitu Allah menyebutkan tujuan terlebih dahulu. Apa tujuan diciptakannya manusia ? Yaitu belajar Al-Quran dan mengenal Tuhannya. Maka tujuan itu disebutkan pertama walaupun dalam kenyataannya ia ada setelah manusia diciptakan.

Maka segala pujilah bagi Allah yang telah memberikan kita makan dan minum agar dapat melaksanakan tugas kita sebagai seorang muslim dengan baik. Maka makan dan minumlah sampai engkau merasa cukup dengan makanan dan minuman itu untuk beribadah dan beramal shaleh.

Rabu, Maret 24, 2010

Pantang Mundur

Lama sudah jari-jari ini terasa kelu untuk menuliskan kata-kata. Seakan disetiap jemari terdapat beberapa gembok yang menguncinya. Tak tahu kenapa kali ini gembok-gembok itu sepertinya terlepas dengan sendirinya. Dengan sangat lincah jemari ini menari-nari bak penari kecak dengan jeda demi jeda gerakannya yang mendayu-dayu seperti sepoi angin di malam hari.

Sungguh tak ku sangka, sampai detik ini nafsu tetap membelengguku dengan kuatnya. Padahal sudah ku katakan kepada hati yang selalu berkata 'kenapa', besok kita akhiri kekuasaan nafsu, jika tidak bisa dengan jalan damai, maka kudeta berdarahpun harus dijadikan pilihan.

Herannya, nafsu tak kungjung tersentuh. Semua serangan seakan tak berpengaruh. Ia tetap saja kuat dengan kuku-kukunya yang tajam mencengkramku yang semakin hari semakin tidak berdaya. Padahal, detik demi detik, waktu demi waktu aku persiapkan pasukan yang paling elit untuk menghadapinya. Namun sepertinya itu hanya akan menjadi kesia-sian tak berarti. Nothing change ... Sama saja, tak ada perkembangan apa-apa, stagnan dan berjalanan di tempat.

What's wrong then ? Apa yang salah ? Apa karena memang nafsu sudah mencapai form paling sempurna sehingga tidak tersentuh ? Atau mungkin nafsu akumulatif yang membuatnya kokoh bak gunung dengan pasaknya ? Atau jangan-jangan aku yang sudah semakin lemah ? Sebenarnya nafsu sama saja dengan dulu tapi bedanya aku telah lemah sehingga tidak bisa menghadapi kekuatan nafsu yang stabil ?

Oh my god, help me pls ... Untuk mengklasifikasikan saja aku sudah tidak mampu apalagi untuk menghadapi ? Sepertinya sudah tidak mungkin dan atau mustahil aku bisa berdiri tegak dan dengan senyum kemenangan bisa berkata 'cepatlah berlalu wahai hembusan nafsu' ! Ah, namun apa bijak jika aku terus membiarkan ? Apa tidak salah jika aku menyerah sekarang ? Padahal nyawa masih dikandung badan dan setiap tetesan darah selalu membuncahkan kata 'lawan...lawan'...

Ah, sepertinya rencana menyerah dengan tanpa syarat karus aku batalkan. Langit masih terang dengan awannya, matahari masih bersinar dengan teriknya dan nafas masih mendesah-desah dengan semangat perjuangan. Apa tidak malu jika aku katakan 'sudahlah, aku kalah' padahal aku adalah seorang manusia yang masih HIDUP ?

Kalau begitu, aku harus MELAWAN !!! Dengan apa saja. Bambu runcing juga boleh. Atau apa saja yang bisa untuk melobangi gunung. Satu demi satu, sedikit demi sedikit. Tak perlu terburu-buru, karena tak ada kemenangan sempurna jika dilakukan dengan tergesa-gesa. Pelan tapi mantap. Mungkin itu yang bisa ku perbuat sekarang.

Rabu, Maret 17, 2010

Pantun Malam

Malam ini tak biasanya
Sepi dingin ditambah gelap
Herannya hati terus gelisah
Padahal hening biasa merayap

Matapun tak lelap lelap
Sungguh bingung aku dibuat
Ku cari-cari tak dapat-dapat
Apa sebab bingung merapat

Duhai, engkau disana
Dengar jeritan hati merana
Sampai kapan aku disiksa
Rindu ini mendekap lara

Tak kuasa terus menyimpan
Bara api di dalam dada
Sungguh aku menginginkan
Pujaan hati di depan mata

Qatamea, 17 MAret 2010

Rabu, Maret 10, 2010

Isti'adah

Membaca isti'adah atau 'Audzubillahi minasy-Syaithanirrajim' (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk) biasa dibaca sebelum seseorang hendak membaca Al-Quran. Kenapa harus sebelum ? Karena Syaitan selalu berupaya untuk menjatuhkan manusia ke dalam kubangan dosa dan maksiat.

Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa syaitan akan mendatangi manusia dari empat arah yaitu depan, belakang, kanan dan kiri. Padahal kalau kita hitung jumlah arah adalah enam yaitu ditambah atas dan bawah. Nah, lalu kenapa syaitan tidak bisa mendatangi manusia dari dua arah tersebut ? Jawabannya adalah karena arah bawah adalah arah dimana manusia meletakkan kepalanya untuk bersujud dan berserah diri kepada Allah, sedangkan arah atas adalah arah dimana do'a-do'a manusia naik kepada Allah, juga dari atas pula rahmat Allah turun kepada hamba-hambanya.

Maka tidak heran jika syaitan tidak memiliki kekuatan untuk membisiki orang-orang yang diberikan kekuatan untuk selalu ikhlas dalam kehidupannya. Di dalam Al-quran disebutkan dengan kata Mukhlash yang mana sebuah tingkatan yang lebih tinggi dari kata mukhlis (seorang yang ikhlash), karena mukhlish adalah berasal dari usaha manusia untuk selalu ikhlash dalam hidupnya sedangkan mukhlash adalah berasal dari Allah bagi hamba-hambanya yang mukhlish.

Lalu kepada siapakah kita berlindung ? Kita berlindung kepada Allah. Ya, Allah yang menciptakan manusia, jin dan sekalian alam. Karena syaitan sebagai makhluk tidak memiliki kemampuan untuk mencelakakan manusia kecuali dengan izin dari Allah. Maka, kepada Allah lah manusia harus meminta perlindungan dari godaan syaitan yang terkutuk agar syaitan tidak deberikan kekuatan untuk menggoda manusia.