Minggu, Februari 28, 2010

Keputusan Salah

Jalan hidup, selalu itu yang menjadi alasan bagi orang-orang yang gagal. Bukankah semua kegagalan itu berasal dari diri kita sendiri ? Mungkin beberapa orang akan mengatakan bahwa kegagalannya bukan karena murni darinya, namun hanya sebuah kesalahan kecil dalam mengambil sebuah keputusan.

Yah, keputusan ... be gentle man, berani berbuat berani bertanggung jawab. Itulah mungkin kenapa seorang dewasa itu diartikan dengan orang yang mampu dan bisa membuat keputusan. Walaupun keputusannya tidak tepat, ia harus responsible dan tidak terlarut dengan ketergelinciran.

Memang kalau diperhatikan, kehidupan ini adalah kumpulan dari keputusan-keputusan. Mulai dari apa yang 'harus' dilakukan atau 'bagaimana' hal itu akan dilakukan, sampai hal-hal yang dilematis seperti apakah saya akan hidup atau mati.

Yang salah bukan keputusannya, tapi sikap kita dalam menghadapi keputusan itu. Lagi-lagi yang salah kembali kepada diri pribadi. Yah, apa boleh buat, pada akhirnya yang harus disalahkan adalah 'AKU'.

Maka aku sekarang harus berbuat apa ? Apakah kesalahan dalam mengambil keputusan akan dilanjutkan dengan kesalahan pengambilan yang lain ? Bukankah orang yang sedang kalut akan keruh suasana hatinya yang akhirnya ia akan kembali lagi mengambil keputusan yang salah ?

Ah, kata siapa ? Jangan terlalu mendramatisir masalah. Fikirkan lagi dengan jernih, apa keputusanmu yang akan datang. Karena saya lihat kamu terlalu 'terburu-buru' dan 'panikan'.

Tetap calm down dong jika mau tepat dalam mengambil keputusan. Karena apapun yang menjadi 'hasil' itulah 'ijtihad'mu. Tak tercela kan seorang yang berijtihad ? Apalagi nasi sudah menjadi bubur. Nonsen jika terus-menerus cengeng dalam keterpurukan. Bukankah kamu sudah menjadi lelaki yang 'dewasa' ?

Senin, Februari 01, 2010

Selebrasi Bola

Selebrasi atau perayaan kemenangan dalam sebuah pertandingan biasanya memang akan terlihat begitu unik. Dalam sepakbola, para pemain berupaya untuk melakukan aksi selebrasi seunik mungkin. Bisa dengan bahasa tubuh seperti mengepalkan telapak tangannya sembari berteriak, atau berlari mendekati tribun penonton sembari mengacungkan dadanya, atau dengan tarian-tarian khasnya bahkan dengan sujud, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt.

Disini penulis lebih memfokuskan tulisan ini kepada selebrasi model 'sujud syukur' yang biasanya dilakukan pemain bola mesir. Maka tak heran jika para komentator bola Al-Jazeera menjuluki mesir sebagai 'tim para orang-orang sujud', karena dalam setiap gol yang didapatkannya, para pemain mesir selalu melakukan selebrasi 'bersujud'.

Memang tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Mesir itu kebanyakan taat beragama. Bahkan dalam urusan bolapun mereka tidak pernah lepas dari kata-kata, taufik dan inayah Allah. Dalam komentarnya setelah kemenangan Mesir atas Ghana dalam final piala Afica 2010 di Anggola tadi malam, Hasan Syahatah sebagai pelatih Mesir tidak pernah lepas mengatakan kata-kata 'alhamdulillah' dan 'taufik dan inayah Allah', seakan memang kemenangan mereka tersebut bukanlah karena taktik dan kualitas pemain saja yang menentukan, namun lebih dari itu, ada 'kehendak Allah' disana, ada semacam petunjuk yang Allah berikan sehingga tim Mesir dapat menggondol piala africa tersebut sampai tiga kali berturut-turut.

Memang secara kualitas, walaupun 90% pemain Mesir adalah jebolan liga lokal, namun kemampuan mereka hampir sama disetiap lininya. Mungkin itu yang menjadikan Mesir sebuah tim yang sulit untuk ditaklukkan. Bahkan mampu menorehkan rekor tim yang tidak pernah terkalahkan selama tiga kali piala africa sejak 2006, 2008 dan 2010 dengan 17 kemenangan dan 3 gelar juara. Sungguh sebuah prestasi yang sulit untuk dipecahkan, padahal kalau mau melihat lawan-lawan mesir dalam turnamen ini yang rata-rata adalah jebolan liga-liga bergengsi di eropa, seperti contohnya Ivory Coast, Kamerun dan Nigeria dengan segudang pemain bertalenta yang merumput di eropa.

Mungkin disinilah rahasia kenapa mereka dalam setiap golnya melakukan selebrasi 'bersujud' karena mungkin mereka menganggap, kalau mau hitung-hitungan materi pemain, maka tentunya tim-tim seperti Ivory Coast, Kamerun dan Nigerialah yang layak untuk menang. Namun, karena ada kehendak Allah disana plus taktik dari pelatih yang mendapatkan 'Inayah dan pentunjuk Allah' maka mereka mendapatkan kemenangan tersebut.

Jadi kemenangan dan gol yang tercipta bukan semata-mata karena kerjasama tim dan taktik pelatih, namun lebih dari itu, ada tangan Tuhan yang bermain juga ada 'kesesuaian' antara kehendak Tuhan dan apa yang diinginkan oleh pelatih. Maka tidak heran kalau Hasan Syahatah lebih memilih pemain-pemain yang tidak neko-neko, pemain-pemain yang taat dalam beragama. Karena, ternyata para pemain yang taat beragama tersebut akan lebih konsisten dengan apa-apa yang diinstrusikan pelatih.

Kehendak Tuhan

Ini kehendak Tuhan, pikirku dalam hati
Ya, begitulah ...
Terbitlah terang setelah gelap memelukku dalam kelamnya

Ada kalanya rerimbunan menghalangi cahaya
Namun pada akhirnya ia akan menyapa
Tanpa diminta ataupun dipaksa

Ia datang seperti kicauan burung di pagi hari
Begitu polos dan jujur
Tak ada yang disembunyikan dalam kebimbangan

Seperti air dari hulu ke hilir
Matahari dari timur ke barat
Dan anggur yang jatuh ke bawah

Tanpa polesan dan ketakutan
Tanpa sungkan dan gelisah
Ia datang sembari tersenyum

Menghangatkan tubuh yang sedang menggigil
Maka tak salah jika aku selalu memeluk erat dirinya
Karena ia adalah penolong

Penolongku dari gelapnya penipuan
Manisnya kata dan harapan
Juga dusta yang dipolesi madu kematian

Ini kehendak Tuhan, pekikku dalam hati
Ya, terimalah ...
Terbitlah terang setelah gelap membekapku dalam hitamnya

nb : this poem sponsored by 'penolong' ... :D