Jumat, Oktober 16, 2009

Ke Helwan

Akhirnya keinginanku untuk pergi ke Helwan terwujud juga hari ini. Sebenarnya ketika akhir ramadhan tahun ini sudah ada rencana untuk pergi ke rumah Ayyub, salah seorang anak madura satu-satunya yang berdiam di Helwan.

Dalam banyangan saya, helwan itu adalah daerah yang lumayan elit. Tapi ternyata, ketika saya turun dari metro, seakan baru sampai ke negera tetangga mesir. Dengan keadaan yang begitu sepi dan terpinggirkan, Helwan ternyata sangat berbeda dengan Kairo.

Dalam perjalanan, dengan tidak sengaja saya bertemu dengan Noval, dia juga hendak menuju tujuan yang sama. Noval, dengan gaya Japanese-nya sudah 3 kali mengunjungi Ayyub. Dia akhirnya menjadi guide saya.

Menuju ke rumah Ayyub sangat susah, tidak ada angkutan umum seperti tramco atau bus umum yang berlalu lalang seperti di kairo. Jalan satu-satunya adalah dengan memakai jasa taxi. Anehnya, walaupun bentuk dan warna taxi disini sama dengan yang di kairo, ada perbedaan yang sangat mencolok, yaitu keramahan pengemudinya juga harganya yang seragam.

Jika di Kairo, untuk menempuh perjalan dari terminal metro ke rumah Ayyub itu minimal harus merogoh kocek LE.5 belum lagi ditambah tukang taxinya yang pura-pura marah dan akhirnya minta tambahan ongkos. Di Helwan ini, jarak yang sebegitu lumayan jauh hanya dengan LE.2 plus tukang taxi yang 'mutahadhdhir' (berperadaban).

Rumah Ayyub yang sudah terkenal dengan sebutan 'bet Malizi' (rumah orang malaysia) itu berada di sebuah apartemen milik seorang pak cik yang menikah dengan orang mesir. Apartemen yang begitu sederhana. Namun setelah saya telusuri, ternyata rumah yang ditempati Ayyub itu adalah mantan rumah Habiburrahman sang novelis fenomenal itu.

Rumah (flat) ini juga sangat sederhana. Dengan gaya khas mahasiswa yang berantakan, rumah ini memiliki 4 kamar, 3 sudah terisi dan satu masih kosong. Ayyub sendiri menempati kamar buatan. Kamar Ayyub itu sebenarnya ruang tamu yang kemudian dibagi dua menjadi kamar yang agak luas. Ayyub tinggal seorang diri di kamar itu.

Seperti layaknya mahasiswa, di kamar Ayyub itu terdapat sebuah komputer dikelilingi oleh tumpukan buku yang sepertinya habis dilahap Ayyub. Buku-bukunyapun beragam, dari yang berbahasa arab, inggis dan indonesia. Ayyub memang seorang yang misterius, dari segi penampilan, dia seakan seperti preman dengan celana levis yang sobek di lututnya. Namun jangan salah, Ayyub ternyata adalah seorang keturunan kiyai yang memiliki pondok yang begitu besar di Madura.

Malam itu, kita seperti biasa bercerita sambil lalu menikmati malam jum'at dengan main game pe es sepuasanya dan teh hangat buatan Ayyub. Memang kemampuan Ayyub dan Noval begitu memukau malam itu sampai saya stress karena kalah dalam setiap pertandingan.

Akhirnya malam berganti pagi. Dari rumah Ayyub ini, samar-samar saya bisa melihat Pyramid Giza yang terkenal itu. Walaupun tidak terlalu jelas, namun setidaknya saya bisa merasakan bagaimana Habiburrahman mendapat ide-idenya dengan melihat pyramid itu dari balkon rumahnya yang sedikit berdebu.

Hari Jum'at memang begitu tenang. Orang-orang mesir tentunya masih tertidur lelap karena tadi malam mereka pasti begadang. Helwan, Jum'at siang hari kita bersama-sama menuju masjid yang begitu jauh. Di samping masjid itu berdiri sebuah gereja koptik dengan megahnya. Saya lalu teringat Maria, seorang perempuan penganut kristen koptik di novel Ayat-ayat cinta. Mungkin saja Habiburrahman terinspirasi dari gereja di samping rumahnya tersebut.

Akhirnya, siang itu saya harus pulang meninggalkan Helwan. Kebetulan Ayyub juga mau menonton pertandingan bola di stadiun Kairo yang pas di samping rumah saya yang dulu :( ... akhirnya saya dan Ayyub pergi menuju Ramsis dengan metro.

Dalam perjalanan, saya dan Ayyub berdiskusi tentang waktu. Ayyub ternyata sangat dalam pengetahuan fisikanya. Dia menyebut-nyebut teori relativitas waktunya Einstein. Saya sangat tertarik dengan penjelasannya tersebut. Katanya 'Menurut teory Einstein, suatu saat nanti manusia bisa menyebrangi waktu'. Dalam fikiran saya menjawabnya ... 'ya kalau bisa'. :D

Akhirnya kita berpisah di Ramsis. Ayyub menghilang begitu saja. Dia memang begitu misterius ...

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Anda ada-ada saja ustak!
Oh iya..Ada yang belum diceritakan om..
Tentang bagaimana air cabe bisa berhasil mengusir lalat..hag hag hag..

Azhar Amrullah Hafizh mengatakan...

oh iya ya ... kelupaan :D juga mie anda yang gegek itu :D ha ha ha ha