Rabu, Oktober 28, 2009

Berfikir !!!

Sebenarnya beberapa hari ini saya sudah berencana untuk membuat beberapa tulisan, namun entah kenapa jari ini serasa malas untuk mengetik. Mungkin udara Kairo yang mulai mendingin ini membuat otak saya sedikit-demi sedikit membeku. Padahal, banyak kejadian yang pantas untuk diabadikan dalam tulisan.

Salah satunya adalah fikiran-fikiran saya ketika mengendarai mini bus 69 dari Qatamea ke Kampung Sepuluh sana. Perjalanan yang lumayan agak lama kadang membuat saya kembali melakukan aktivitas tafakur. Sekitar 30 menit waktu yang saya tempuh untuk sampai ke pemukiman kebanyakan mahasiswa indonesia di mesir itu. Jika saya kalkulasikan pulang pergi dengan menunggunya, saya bisa menghabiskan 1,5 sampai 2 jam habis begitu saja.

Bisa dibayangkan, jika setiap hari saya bolak-balik, pastinya banyak waktu yang terbuang sia-sia. Oh tidak, saya lupa bahwa setiap kali menaiki mini bus tersebut saya berfikir, dan berfikir saya rasa bukan pekerjaan yang sia-sia. Namun apa gunanya hanya 'berfikir'? Bukankah seseorang itu berfikir untuk mengubah perilaku ? Dari keburukan menuju kebaikan. Berfikir itu memang sangat dianjurkan, namun jika berfikir tentang hal-hal yang tidak berguna apakah itu bukan sebuah kesia-siaan yang dipolesi dengan laber 'berfikir'? Sebagai contoh berfikir tentang kenapa pengemudi bis 69 yang saya tumpangi ini suka mengebut ?

Mungkin bagi sebagian orang berfikir tentang hal tersebut dianggap hal yang sia-sia, namun tidak bagi sebagian yang lain. Karena boleh jadi sang pengemudi tersebut kebelet mau pipis, atau yang paling logis karena dia memang suka ugal-ugalan atau kejar setoran !!!

Yang jelas, ditengah perdebatan tersebut, tentunya orang yang berfikir itu lebih mulia dari pada orang-orang tidur karena kecapean, atau orang-orang yang menyetel mp3nya dengan keras sehingga mengganggu penumpang lain yang menginginkan 'berfikir ketika menaiki bus mini tersebut' atau 'ketenangan' dalam kebisingan bunyi klakson yang kerap kali dibunyikan pengemudi bis mini 69 ini.

Tentunya proses 'berfikir' tersebut harus benar-benar dilakukan dalam keadaan yang 'sangat sadar', karena jika terlalu larut, maka bisa menyebabkan fikiran tidak jalan sehingga 'Mahattah' tujuan akan terlewat sehingga perlu 'JJM (jalan-jalan malam)' untuk sampai ke rumah tercinta ... :)

Jumat, Oktober 16, 2009

Ke Helwan

Akhirnya keinginanku untuk pergi ke Helwan terwujud juga hari ini. Sebenarnya ketika akhir ramadhan tahun ini sudah ada rencana untuk pergi ke rumah Ayyub, salah seorang anak madura satu-satunya yang berdiam di Helwan.

Dalam banyangan saya, helwan itu adalah daerah yang lumayan elit. Tapi ternyata, ketika saya turun dari metro, seakan baru sampai ke negera tetangga mesir. Dengan keadaan yang begitu sepi dan terpinggirkan, Helwan ternyata sangat berbeda dengan Kairo.

Dalam perjalanan, dengan tidak sengaja saya bertemu dengan Noval, dia juga hendak menuju tujuan yang sama. Noval, dengan gaya Japanese-nya sudah 3 kali mengunjungi Ayyub. Dia akhirnya menjadi guide saya.

Menuju ke rumah Ayyub sangat susah, tidak ada angkutan umum seperti tramco atau bus umum yang berlalu lalang seperti di kairo. Jalan satu-satunya adalah dengan memakai jasa taxi. Anehnya, walaupun bentuk dan warna taxi disini sama dengan yang di kairo, ada perbedaan yang sangat mencolok, yaitu keramahan pengemudinya juga harganya yang seragam.

Jika di Kairo, untuk menempuh perjalan dari terminal metro ke rumah Ayyub itu minimal harus merogoh kocek LE.5 belum lagi ditambah tukang taxinya yang pura-pura marah dan akhirnya minta tambahan ongkos. Di Helwan ini, jarak yang sebegitu lumayan jauh hanya dengan LE.2 plus tukang taxi yang 'mutahadhdhir' (berperadaban).

Rumah Ayyub yang sudah terkenal dengan sebutan 'bet Malizi' (rumah orang malaysia) itu berada di sebuah apartemen milik seorang pak cik yang menikah dengan orang mesir. Apartemen yang begitu sederhana. Namun setelah saya telusuri, ternyata rumah yang ditempati Ayyub itu adalah mantan rumah Habiburrahman sang novelis fenomenal itu.

Rumah (flat) ini juga sangat sederhana. Dengan gaya khas mahasiswa yang berantakan, rumah ini memiliki 4 kamar, 3 sudah terisi dan satu masih kosong. Ayyub sendiri menempati kamar buatan. Kamar Ayyub itu sebenarnya ruang tamu yang kemudian dibagi dua menjadi kamar yang agak luas. Ayyub tinggal seorang diri di kamar itu.

Seperti layaknya mahasiswa, di kamar Ayyub itu terdapat sebuah komputer dikelilingi oleh tumpukan buku yang sepertinya habis dilahap Ayyub. Buku-bukunyapun beragam, dari yang berbahasa arab, inggis dan indonesia. Ayyub memang seorang yang misterius, dari segi penampilan, dia seakan seperti preman dengan celana levis yang sobek di lututnya. Namun jangan salah, Ayyub ternyata adalah seorang keturunan kiyai yang memiliki pondok yang begitu besar di Madura.

Malam itu, kita seperti biasa bercerita sambil lalu menikmati malam jum'at dengan main game pe es sepuasanya dan teh hangat buatan Ayyub. Memang kemampuan Ayyub dan Noval begitu memukau malam itu sampai saya stress karena kalah dalam setiap pertandingan.

Akhirnya malam berganti pagi. Dari rumah Ayyub ini, samar-samar saya bisa melihat Pyramid Giza yang terkenal itu. Walaupun tidak terlalu jelas, namun setidaknya saya bisa merasakan bagaimana Habiburrahman mendapat ide-idenya dengan melihat pyramid itu dari balkon rumahnya yang sedikit berdebu.

Hari Jum'at memang begitu tenang. Orang-orang mesir tentunya masih tertidur lelap karena tadi malam mereka pasti begadang. Helwan, Jum'at siang hari kita bersama-sama menuju masjid yang begitu jauh. Di samping masjid itu berdiri sebuah gereja koptik dengan megahnya. Saya lalu teringat Maria, seorang perempuan penganut kristen koptik di novel Ayat-ayat cinta. Mungkin saja Habiburrahman terinspirasi dari gereja di samping rumahnya tersebut.

Akhirnya, siang itu saya harus pulang meninggalkan Helwan. Kebetulan Ayyub juga mau menonton pertandingan bola di stadiun Kairo yang pas di samping rumah saya yang dulu :( ... akhirnya saya dan Ayyub pergi menuju Ramsis dengan metro.

Dalam perjalanan, saya dan Ayyub berdiskusi tentang waktu. Ayyub ternyata sangat dalam pengetahuan fisikanya. Dia menyebut-nyebut teori relativitas waktunya Einstein. Saya sangat tertarik dengan penjelasannya tersebut. Katanya 'Menurut teory Einstein, suatu saat nanti manusia bisa menyebrangi waktu'. Dalam fikiran saya menjawabnya ... 'ya kalau bisa'. :D

Akhirnya kita berpisah di Ramsis. Ayyub menghilang begitu saja. Dia memang begitu misterius ...

Jumat, Oktober 09, 2009

Kunci Hati

Aku akan mencarimu
Hingga ke titik dasar lautan
Walaupun jiwa akan terbuang
Dibunuh kematian

Setitik harapan di hatimu
Itu sudah cukup buatku
Aku akan buktikan
Setiap kata yang terucap

Walaupun titik itu sudah melebur menjadi lautan
Aku tidak akan berputus asa
Karena aku yakin, titik2 itu akan bercahaya
Menuntunku menuju kesana

Kemudian titik2 itu akan menjelma menjadi sebuh kunci
Kunci hati yang sudah tertutup
Aku akan membukanya
Dengan senyuman dan peluk kehangatan

Aku harap engkau percaya
Karena tak akan ada yang percaya
Kemustahilan ini akan terbukti
Menjadi sebuah kenyataan yang pasti

Qatameya, 09 Oktober 2009 5.50 AM

Kamis, Oktober 08, 2009

Orang-orang yang kalah

Biarkan aku menulis. Dengan tinta darah yang selalu menetes perih. Biarkan aku menangis. Dengan tangis darah tanpa henti. Kenapa aku selalu kalah ? Kalah dengan keadaan, kalah dengan nasib, kalah dengan waktu ...

Padahal aku tahu bahwa manusia itu punya batas keberadaan. Manusia itu tidak kekal. Suatu ketika ia akan mati dan meninggalkan dunia ini. Aku heran, apa yang aku pikirkan dengan kehidupan ini. Apakah aku hanya bermimpi saja ? Ataukah aku benar-benar hidup ? Entahlah, aku tak bisa menjawab.

Kenapa aku begitu terpuruk ? Kenapa aku sekarang hanya menjadi sampah ? Apa terjadi ? Bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Sungguh aku berharap, semua yang terjadi adalah mimpi buruk saja, yang pada waktunya nanti aku akan terjaga dan menemukan bahwa kenyataan adalah sebuah keindahan yang aku idamkan.

Dari segala sisi aku dikepung keterpurukan. Seakan tidak mau memberiku nafas, aku sekarang sudah sekarat. Dengan keadaan yang begitu memprihatinkan. Apakah ini tanda kemurkaan ? Ataukah sebuah tanda kelemahan dan kekalahan ?

Manusia-manusia yang kalah selalu memintaku untuk meratapi kehidupan ini. Ratapan tanpa henti sehingga buat hati ini mati. Entahlah, sampai kapan aku begini. Mungkin setelah aku hilang nanti, aku baru sadar bahwa hidup itu begitu bernilai jika hanya diisi dengan kekalahan.

Minggu, Oktober 04, 2009

Pecinta Buta

Kenapa cinta itu tidak pernah habis untuk digali? Karena cinta adalah perasaan yang pasti akan dirasakan oleh semua orang. Dari dulu sampai nanti cinta akan tetap ada. Cinta ada selama manusia masih berada di dunia ini.

Cinta adalah sebuah keindahan yang terwujud dari bangunan taj mahal yang sebegitu megah dan artistiknya. Bahkan cinta adalah kewujudan itu sendiri. Dari dulu sampai sekarang bahkan nanti, tidak akan pernah ada orang yang mampu mendefinisikan cinta. Karena cinta ada di hati. Hati menyimpan berbagai macam perasaan yang tidak mungkin dapat terwakili oleh bahasa manapun di dunia ini.

Orang-orang yang jatuh cinta biasanya bisa membuat bahasa-bahasa aneh untuk mengungkapkan perasaannya. Bahasa-bahasa indah penuh makna nan dalam. Walaupun kadang terkesan dipaksakan dan dibuat-buat. Namun cinta lebih agung dari semua itu.

Hanya orang-orang pecinta saja yang bisa menikmati keindahan dan kedalaman bahasa-bahasa tersebut. Walaupun kadang secara tekstual bahasa-bahasa tersebut akan dianggap keluar dari 'cara berbahasa yang baik'. Namun secara substansial, bahasa-bahasa tersebut adalah buah dari perasaan yang tidak bisa dikendalikan lagi.

Selain agung, cinta itu juga suci. Cinta bukan penurutan terhadap hawa nafsu. Cinta dan hawa nafsu ibarat dua kutub magnet yang berbeda. Di satu sisi cinta mengajak kepada keindahan dan kebaikan, disisi yang lain hawa nafsu selalu mengajak kepada kebejatan dan keburukan...

Pecinta Buta

Oh, apakah aku pantas menjadi pecinta
Seperti Romeo dan Juliet yang terkenal itu
Atau seperti cerita--cerita masak kanak-kanak dulu
Cerita aladin dan putri raja

Atau cerita Julius Caesar dan Cleopatra
Atau Laila Majnun?
Entahlah... Mungkin itu semua hanya cerita saja
Di zaman sekarang ini sepertinya tidak akan ada cinta seperti itu lagi

Mati satu tumbuh seribu
Itulah yang orang2 dengungkan selalu
Semudah itukah cinta pupus
Apakah cinta itu rapuh ?

Oh, tidak ... cinta bukan seperti itu
Cinta itu kesetiaan
Sampai matipun tetap akan dipasakan di dada
Cinta itu bukan udara yang setiap detik bisa kamu keluar masukkan ke tubuhmu

Sekali cinta menyapa hatimu, ia tidak akan mau untuk keluar
Karena, cinta hanya masuk ke rumahnya yang tepat
Tidak ada rumah kedua buat cinta
Selamanya ia akan berada dirumah itu


Masakin Ostman, 04 Oktober 2009 3.04 PM

Kecil

Seharusnya, hal-hal yang begitu kecil itu tidak membuat hubungan kita menjadi rusak. Ternyata kerikil itu tidak bisa diremehkan begitu saja. Kerikil itu sangat berbahaya jika kita tidak berhati-hati.

Betapa banyak orang yang lihai untuk menghindari bebatuan yang sangat besar, namun sangat sedikit orang yang sigap untuk tidak terantuk dengan kerikil-kerikil mini di jalanan. Kecil itu bukan berarti tidak berarti, kadang kecil itu yang bisa membuat perjalanan kita tidak nyaman.

Kalau mau jujur, ternyata hal-hal yang kecillah yang banyak membunuh manusia. Virus, bakteri dan kuman itu sangat kecil, namun mereka bisa membuat manusia menderita hingga meninggal dunia. Kecil sangat berarti karena sperma dan sel telur itu begitu kecilnya sehingga ia menjadi manusia yang sempurna.

Dalam hidup ini, kita tidak bisa meremehkan hal-hal yang kecil, karena pasir-pasir itu sangatlah kecil, namun akhirnya ia menjadi gunungan pasir yang sangat besar. Kecil juga berarti sebuah nikmat, karena apa jadinya jadi buah rambutan itu sebesar labu.

Namun bukan berarti kecil itu harus memisahkan kita. Karena masalah yang kecil itu bisa kita selesaikan dengan mudah. Cukup dengan kesabaran sebentar, insya allah masalah itu akan terselesaikan. Sayangnya, kadang kita terlalu mendramatisir sesuatu yang kecil sehingga ia menjadi besar dan dan tak terpecahkan.

Sabtu, Oktober 03, 2009

Surat Buatmu 1

Ya Allah, kenapa aku merasa tersiksa ... Kenapa dia mengatakan 'tinggalkanlah aku' sementara dia tahu bahwa cintaku padanya lebih banyak dari pada gunungan pasir? Apa salahku ya Allah ? Kenapa dia tidak merasa bahwa apa yang ia lakukan benar-benar membunuhku perlahan-lahan.

Aku begitu heran. Ia mengatakan 'aku masih sayang' tapi setelah itu ia katakan 'lupakan aku'. Sungguh aku benar-benar tidak bisa menerima hal semacam ini. Aku ini manusia biasa. Aku tidak setegar karang dan sekuat gunung. Hati-ku hanya seonggok darah dan daging.

Aku benar-benar tidak rela dan tidak ridho. Aku hanya ingin tahu, kenapa ? Apa salahku ? Apa karena kesalahanku yang ia bilang 'ya aku maafkan kesalahmu asal aku disayang' ... dan aku benar-benar menyayangi dirinya.

Lalu pada hari berikutnya ia lagi-lagi akan mengatakan 'cukuplah... lupakan aku... pergilah' Ya Allah ... Aku benar2 tersiksa ... Aku tidak tahan lagi ... Kenapa perasaanku dipermainkan seperti ini ... Padahal aku sangat sayang padanya ... Aku tidak ingin menyakitinya ... Tapi, kenapa dia seperti itu ? tiba2 berubah dalam waktu yang sebegitu dekat ...

Mungkin setelah membaca tulisan ini ia akan berkata ' sudahlah, cukup, jangan lagi merasa terbebani dengan diriku, biarlah ini yang terakhir' ... Padahal aku tidak merasa terbebani ... Aku begitu tulus mendengarkan cerita-ceritanya ... sekali lagi AKU TIDAK MERASA TERBEBANI ... aku hanya bingung ... kenapa seakan-akan kamu mengatakan ia dan tidak dalam satu waktu ...

Seakan-akan kamu hendak menguji kesabaranku. Dan ternyata kesabaran itu ada batasnya. Dan inilah batas dari kesabaranku. Aku benar-benar marah dengan dengan sangkaan-sangkaanmu. Atau memang kamu sengaja ...

Kamu memang menginginkan pergi dari diriku ini. Kamu merasa terbebani berhubungan dengan orang yang begitu jauh dan tidak jelas keberadaannya ini. Kamu ingin terbebas ... Kamu ingin tidak terbebani dengan komitmen-komitmen yang tidak jelas itu ... Semoga sangkaan-sangkaanku tersebut salah ... Dan aku berharap kamu tidak menganggap tulisan ini sebagai 'kemarahan' atau 'kebencian' ... TIDAK ... sekali lagi tulisan ini bukan karena aku sudah tidak cinta lagi dan kemudian hendak menjelek-jelekkan dirimu ... Sekali-kali tidak ...

Aku hanya ingin bertanya ... Aku butuh jawaban bukan sangkaan ... Apakah salah orang bertanya ? Apakah orang yang bertanya itu sudah 'tidak cinta' atau 'sudah benci' ... Bukan seperti itu ... Orang yang bertanya itu ingin tahu APA YANG SEBENARNYA ... Dan saya bertanya karena ingin bertanya ... bukan karena yang lain ... Aku benar-benar tulus bertanya ... Aku tidak bermaksud 'menjatuhkan' atau 'hilang kepercayaan' terhadap dirimu ... aku hanya ingin 'jawaban' dan sekali lagi bukan 'sangkaan' ... Semoga kamu bisa mengerti apa yang aku maksudkan.

Qatameyah, 03 Oktober 2009.

Korban Keadaan

Aku benar-benar terpojok. Menoleh ke kanan, kulihat jemari halus sedang menunjuk wajahku dengan dengan hinanya. Menoleh ke kiri, kulihat tangisan yang sepertinya tidak pernah akan berakhir, penderitaan sepanjang waktu.

Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku bingung. Mungkin tidak pernah akan ada orang yang mengerti. Biarlah aku yang menanggung semua. Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang aku kerjakan. Karena aku hanya ingin sebuah kebaikan untuk semua.

Ternyata anganku untuk menjadi pahlawan kandas begitu saja. Mungkin karena aku tidak ikhlas karena Allah semata. Mungkin Allah hendak menegorku, bahwa niatmu tidaklah setulus ucapanmu. Aku benar-benar terpukul dengan apa yang terjadi. Biarlah semuanya terjadi. Aku akan menanggungnya sendiri.

Disini aku hanya bisa termenung sambil lalu memandang langit yang begitu indah dengan bitang-bintang. Akankah cukup sebuah kata maaf ? Ataukah aku harus pergi begitu saja dengan menutup telinga dan memejamkan mata ? Namun aku bukan seorang pengecut yang akan lari dari kesalahan.

Aku akan menghadapi semua tudingan dan kesalahpahaman ini. Biarlah, aku tidak peduli lagi. Biarlah, terserah apa yang difikirkan setiap orang. Aku akan tetap berdiri disini. Karena aku yakin, bahwa apa aku lakukan adalah sebuah kebenaran. Biarkanlah aku disini, tinggalkanlah, bencilah atau bahkan lupakanlah. Aku memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Aku sungguh benci dengan masalah. Aku hanya mengharap keluar dari masalah secepat kilat. Namun aku heran, kenapa semakin cepat aku mencoba meninggalkan masalah, semakin besar pula masalah itu? Aku heran dengan masalah-masalah yang semakin besar dan kompleks. Mungkin karena inikah manusia di dunia ini selalu berperang satu sama lain ?

Karena sangkaan-sangkaan yang ditanggapi dengan sangkaan-sangkaan yang lain. Akhirnya bukan kebenaran dan penerimaan yang ada, bahkan saling tuding dan kebencian dan rasa tersinggung dan ketidakpuasan yang menggelora. Entahlah, aku benar-benar terpukul dengan apa yang terjadi.

Memang tidak mudah untuk menyatukan otak dan fikiran yang berbeda. Setiap manusia memiliki perasaan, kecerdasan dan daya tangkap yang berbeda. Manusia akan memandang apa yang ia dengar, apa yang ia lihat, apa yang ia rasakan dengan ekspresi yang berbeda. Sekali lagi karena pemahaman yang berbeda. Sudut pandang dan paradigma setiap orang yang akhirnya membuat dia berbeda dengan orang lain.

Herannya, perbedaan-perbedaan ini kadang yang menjadi penyulut konflik. Padahal, sudut pandang2 tersebut bisa dikomunikasikan. Dan itu yang sedang aku lakukan. Tapi ternyata aku gagal. Ya, gagal dalam mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan persepsi dan sudut pandang tersebut.

Aku ternyata bukan hanya gagal, tapi sudah menjadi korban keadaan. Aku merasa menjadi korban dari kegagalan tadi. Walaupun aku sadar bahwa itu adalah konsekuensi dari keberanianku tersebut. Aku benar-benar melakukan sebuah perjudian tingkat tinggi. Jika sukses, maka orang-orang yang berkonflik tersebut akan kembali berdamai. Mereka akan saling menghormati lagi. Tidak ada kecurigaan diantara mereka. Dan itu akan membuat aku bahagia. Ya, aku bahagia jika mereka tersenyum dan saling berbaik sangka diatara mereka berdua. Aku tidak ingin yang lebih dari itu.

Namun, jika aku gagal maka, aku harus bersiap-siap menjadi orang yang paling hina di dunia ini. Dan kini aku telah gagal dan menjadi orang yang paling hina di dunia ini. Aku dianggap sebagai seorang munafik. Ya, walaupun tidak terkata, namun terasa. Aku akan dianggap sebagai pembohong, yang mengatakan A kepada satu orang dan mengatakan B pada orang lain.

Namun biarlah, aku tidak mau berapologi. Biar aku yang menanggung semua. Biarlah aku menjadi bintang yang tidak pernah diingat orang ketika cahaya bulan menyinari bumi dengan angkuhnya. Biarlah aku menjadi orang-orang yang dilupakan ...