Kamis, September 10, 2009

Keseimbangan

Jalan hidup manusia memang berbeda-beda. Kita tidak bisa terus menerus takjub dengan apa yang dicapai orang lain, karena bagaimanapun kita takjub, keadaan tidak akan pernah berubah. Lihatlah diri kita sendiri, di kaca atau di cermin kusut, siapa tahu kita akan menemukan sesuatu yang akan membuat kita tersenyum, sesuatu yang ada di wajah kita sendiri, bukan di wajah orang lain.

Jalan hidup manusia memang tak pernah lepas dari duri. Karena, jika manusia terus menerus berjalan di jalanan yang mulus, ia tidak akan pernah tahu rasa sakit dan akhirnya ia akan menjadi manusia-manusia bebal yang tidak mau mengerti apa itu penderitaan. Maka tidak heran, jika kebanyakan orang yang kaya setelah miskin itu akan lebih suka memberi dan menolong dari pada orang yang sejak ia menghirup udara dunia ini sudah hidup di antara tumpukan emas dan perak.

Perjalanan hidup manusia itu adalah kumpulan dari pengalaman hidup dia, dimana ia merasakan suka, duka, tangis dan tawa. Semuanya itu adalah pengalaman pribadi yang hanya dia saja yang bisa merasakannya. Semakin lama seseorang itu hidup di dunia ini, maka semakin banyak pula pengalaman yang ia lalui. Orang-orang tua selalu menyebutnya dengan 'sudah banyak makan asam-garam kehidupan' yang artinya dia sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi kehidupan ini, bagaimana ia bersikap ketika suka, duka, tangis ataupun tawa.

Maka, untuk apa iri ? melihat orang lain sukses, atau mencapai sebuah pencapaian yang sangat bagus dari fase kehidupan dia ... iri hanya akan menambah hitam busuk di hati yang sudah busuk ini. Manusia-manusia sukses yang kita lihat itu sebenarnya sama dengan kita, hanya saja dia lebih beruntung saja, atau dia memiliki kemauan di atas kemauan kita. Potensi yang sama namun cara penyikapan yang berbeda. Allah itu Maha adil, karena keadilan-Nya itu Allah tidak menciptakan segala sesuatu itu SAMA, Allah hanya menjadikan segala sesuatu itu SEIMBANG (wa wadho'al mizan).

Seimbang itu tidak harus sama, karena manusia memiliki porsi yang berbeda, seperti contoh antara lelaki dan wanita. Allah sangatlah adil karena telah memberikan kebutuhan kedua jenis ini secara SEIMBANG bukan secara SAMA. Karena kadang jika kebutuhan itu disamakan tanpa melihat faktor keseimbangan, maka akan terjadi sebuah ketimpangan yang akan mengakibatkan kerusakan bagi kemanusiaan secara umum.

Maka jangan heran jika kita melihat di dunia ini ada kaya ada miskin, ada sukses ada gagal, ada sehat ada sakit dan lain sebagainya. Karena semua itu adalah sebuah bentuk Keseimbangan yang pada akhirnya nanti adalah untuk kemaslahatan manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Jadi buat apa kita memikirkan pencapaian orang lain, toh itu adalah pencapaian dia, bukan pencapaian pribadi saya ?

Yusuf Abbas, 10 September 2009

Tidak ada komentar: