Sabtu, September 05, 2009

Kabut di Mataku

Kenapa kau selalu menutupi mataku? Seakan aku tidak perlu lagi tahu apa yang sedang menimpamu. Kau sudah berbeda, jauh berbeda dari kau yang dahulu aku kenal. Semoga ini hanya perasaanku saja. Aku tidak berharap apa yang aku tebak itu suatu realita yang tidak bisa kau pungkiri.

Aku sudah putus asa untuk tahu apa warna kabut disebalik raut mukamu itu. Padahal aku hanya ingin tahu, putihkah ? atau kabut itu semakin gelap kelam? Aku sangat heran, dengan perlahan kau berusaha menyembunyikan kabut-kabut itu. Aku tahu kau menyimpan kabut, namun aku hanya pura-pura tidak tahu. Aku ingin kau merasa bahwa aku ini memang seorang yang sangat mudah untuk percaya.

Kamu harus tahu, bahwa sebentar lagi mentari akan terbit dan kabut-kabut yang kau sembunyikan itu akan hilang dengan sendirinya, tanpa aku minta atau paksa. Namun aku masih mengharap, sebelum mentari terbit kau sudah memberi tahu aku apa warna kabut itu, hijaukah ? Namun sepertinya kau akan tetap menyembunyikan kabut-kabut itu hingga ujung fajar...

Memang aku akui, kau berhak untuk menyimpan sendiri kabut-kabut itu. Namun, perlulah kau ketahui bahwa aku yakin kabut-kabut tersebut pasti berkaitan dengan aku. Karena dulu dan kini aku adalah bagian dari dirimu. Namun entah sekarang, apa kabut-kabut tersebut sudah membuatmu lupa dengan keberadaan diriku ? Aku juga tidak pasti karena misteri warna kabut semakin buram saja.

Yusuf Abbas, 05 September 2009

Tidak ada komentar: