Kamis, September 24, 2009

Menjadi Spesial

Aktualisasi diri adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan setiap individu manusia. Karena manusia adalah makhluk yang terus mencari jati dirinya, maka perlu ada semacam penampakan 'diri'. Aku, kamu dan mereka adalah manusia-manusia yang hanya dikenal sepintas oleh orang lain. Maka jangan heran jika ada orang yang akan mengatakan bahwa keberadaanmu seperti ketiadaanmu.

Manusia perlu menampakkan keberadaannya di dunia ini untuk diakui oleh orang lain. Maka jalan yang paling tepat minimal menurut penulis adalah dengan menjadi spesial. Ya, manusia sangatlah banyak, maka harus ada sesuatu yang spesial dari setiap individu untuk membedakannya dari individu yang lain.

Tentunya banyak cara untuk menjadi spesial, salah satunya adalah dengan 'berbeda' dengan orang lain. Ada sebuah teori yang menyatakan bahwa jika Anda berbeda maka anda akan dapat diketahui. Seperti jika kita memelihara domba-domba berwarna putih, maka jika ada salah satu domba yang berwarna hitam diantara warna putih tersebut, maka dengan cepatnya kita akan memperhatikan domba yang berbeda tersebut.

Namun jalan ini sangatlah riskan dan banyak tantangan. Tentunya dengan menjadi berbeda dengan kebanyakan orang akan mengundang pro dan kontra. Orang-orang yang paham dan mengerti bahwa dunia ini penuh dengan perbedaan-perbedaan akan menerima 'keanehan' tersebut dengan fikiran terbuka. Namun berbeda dengan orang-orang yang dalam hidupnya hanya mengenal satu warna saja, maka bisa jadi kekerasan fikiran, lisan atau bahkan fisik akan menjadi balasan dari 'keanehan' tersebut.

Tentunya untuk menjadi spesial tidak hanya melalui jalan diatas. Banyak jalan menuju Roma. Jika Anda sempat menonton film kung fu panda dan mendalami pesan yang hendak disampaikan oleh film tersebut maka minimal Anda akan berkesimpulan seperti apa yang saya simpulkan yaitu bahwa untuk menjadi spesial itu sangatlah gampang, karena menjadi spesial adalah menjadi diri sendiri. Menjadi spesial bukan karena orang menganggap kita spesial, namun menjadi spesial karena kita menganggap kita adalah individu yang spesial.

Semua yang ada di diri masing-masing manusia adalah spesial. Tangan yang saya miliki bukanlah tangan yang Anda miliki, begitu juga organ tubuh lainnya. Menjadi spesial dengan menjadi diri sendiri adalah dengan cara mengoptimalkan potensi diri sendiri. Tangan saya yang hanya berjumlah dua ini tentunya memiliki kekhususan yang tidak dimiliki tangan yang orang lain punya.

Tangan yang saya miliki adalah tangan seorang penulis yang setiap harinya harus menulis beberapa paragraf, maka dengan tangan itu saya sudah menjadi spesial dari orang yang tangannya setiap hari menjadi tukang bangunan misalnya. Saya menjadi spesial karena dengan tangan yang saya miliki ini saya mampu memproduksi sesuatu yang tentunya berbeda dengan apa yang diproduksi oleh tangan orang lain.

Maka tentunya dengan menjadi spesial orang lain tidak akan meremehkan kita dan menganggap kita 'tidak ada' atau 'mudah ditiadakan', karena kita adalah individu-individu spesial yang sudah mampu untuk mengaktualisasikan diri sehingga selalu berjalan selangkah lebih maju dari kebanyakan orang...

Cinta 5 Musim

Musim Gugur : Angin begitu keras di luar sana, namun tak sekeras tangisku di kamar itu. Aku menangis mendengar ceritamu waktu itu, kamu yang sedang lemah, kamu yang tidak berdaya... Benih-benih cintapun mulai bersemi, di musim gugur itu cintaku bersemi. Dedaunan yang jatuh mengotori halaman rumahku seakan menjadi tunas-tunas baru di hati kehidupanku.

Musim Dingin : Udara yang dingin ini tak seperti apa yang ku rasakan di hati ini. Cinta memang membawa bara, ia akan menghangatkan hati ini. Rasa senang, duka, cemburu dan harapan, semuanya membuat hati menjadi panas ... bergejolak dengan ucapan kasih sayang, cinta dan do'a.

Musim Semi : Ada yang berbeda dari dirimu. Kau selalu menghilang atau menghindar... aku sudah merasakan kekhawatiran yang begitu dalam, apakah kau akan datang ? ataukah kau akan menghilang begitu saja? aku tidak tahu, namun akhirnya kau datang dengan senyuman ... Musim semi, kekhawatiran itu datang ...

Musim Panas : Aku selalu bersabar menunggumu, aku bahkan tetap percaya dengan dirimu. Walaupun banyak hal yang aku sudah ketahui tentang dirimu hingga dada ini kadang terasa sesak ... namun yang perlu kamu ketahui ... aku tetap percaya kepadamu ...

Musim Gugur : Awal musim gugur ini udara terasa dingin. Mungkin alam tahu bahwa hati ini sudah membeku. Mudah kau katakan padaku, aku telah melupakanmu maka biarlah semua yang berlalu menjadi kenangan kelabu, kamu begitu mudahnya mengatakan itu ... sangat amat mudah seperti dedaunan yang dengan mudah terjatuh tak berdaya dari ranting-rantingnya... aku menjadi heran, apakah pernah aku di hatimu ? atau aku hanya pilihan buatmu ? pilihan terakhir ketika kamu sudah terpaksa memilih, pilihan yang akhirnya harus kamu buang setelah kamu menemukan pilihan terbaikmu? entahlah, aku tak tahu dan tak mau tahu ... tapi, satu hal yang perlu kamu ketahui bahwa, disebalik pertanyaan-pertanyaan di benakku tersebut, aku masih percaya kepadamu, dan selalu meletakkan harapan bagi kedatanganmu yang telah engkau anggap sebagai mimpi dan khayalan itu ... dulu, sekarang ataupun esok nanti ... aku tetap akan mencintaimu.

Yusuf Abbas, Awal Musim Gugur Kelabu, 24/09/2009

Sabtu, September 12, 2009

Gerak

Suatu hal yang sangat menakjubkan telah terjadi, tepatnya 2 tahun lalu seorang teman saya ketika itu masih memiliki status yang sama dengan keadaan yang hampir sama dengan apa yang saya alami, namun sekarang, sungguh dia telah melangkah dengan berlari... dia menjadi orang sukses dalam tempo 2 tahun saja. Pertanyaannya adalah, Apa yang bisa membuat seseorang itu bekerja dengan giat ?

Fikiran saya selalu terfikir, dalam segi potensi, saya rasa tidak jauh berbeda antara saya dan dia, namun apa yang terjadi pada dirinya sehingga dia begitu cepat melangkah? Apakah tekanan-tekanan itu akan bisa membuat orang semakin bersemangat dalam mengarungi kehidupannya ? Ataukah karena dia hanya beruntung saja ? Atau mungkin dia sudah ditakdirkan demikian ? Saya tidak tahu apa pertanyaan yang paling tepat, namun yang jelas yang paling saya yakini adalah bahwa dia sudah melakukan sebuah gerakan.

Yah, dia sudah bergerak dan mencoba untuk merubah dirinya sendiri. Ia tidak pernah diam, ia terus berjalan dengan dinamika kehidupan, atau dalam bahasa lain ia telah berjalan di atas jalan yang telah Allah gariskan dengan sunnah-sunnahnya. Ia tahu bahwa jika ia haus maka perbuatan yang harus ia lakukan akan dengan menggerakkan kedua kakinya untuk mencari air minum dan kemudian menggerakkan tanggannya untuk mengambil air tersebut kemudian dia minum.

Ia seakan-akan tahu jika langit itu mustahil menurunkan hujan emas. Kehidupan itu bukan sebuah mimpi indah, ia adalah perjuangan dan yang paling penting ia adalah gerakan-gerakan dalam hidup ini. Berjalan berdasarkan sunnatullah inilah yang saya rasa menjadi jawaban tepat dari sebuah pertanyaan majhul yang tidak pernah saya ketahui hakikatnya tentang, kenapa orang itu bisa lebih dari saya ?

Coba kita fikirkan, apa kesamaan dan perbedaan dari orang yang lari di tempat dan orang yang lari dengan menyusuri jalan ? Yang paling jelas adalah, kesamaannya mereka berdua sama-sama merasakan kelelahan karena berlari, namun yang membedakan adalah bahwa yang pertama masih di tempat awal dia memulai, sedang yang kedua sudah melewati tempat awal dia memulai...

Yusuf Abbas, 12 September 2009

Kamis, September 10, 2009

Keseimbangan

Jalan hidup manusia memang berbeda-beda. Kita tidak bisa terus menerus takjub dengan apa yang dicapai orang lain, karena bagaimanapun kita takjub, keadaan tidak akan pernah berubah. Lihatlah diri kita sendiri, di kaca atau di cermin kusut, siapa tahu kita akan menemukan sesuatu yang akan membuat kita tersenyum, sesuatu yang ada di wajah kita sendiri, bukan di wajah orang lain.

Jalan hidup manusia memang tak pernah lepas dari duri. Karena, jika manusia terus menerus berjalan di jalanan yang mulus, ia tidak akan pernah tahu rasa sakit dan akhirnya ia akan menjadi manusia-manusia bebal yang tidak mau mengerti apa itu penderitaan. Maka tidak heran, jika kebanyakan orang yang kaya setelah miskin itu akan lebih suka memberi dan menolong dari pada orang yang sejak ia menghirup udara dunia ini sudah hidup di antara tumpukan emas dan perak.

Perjalanan hidup manusia itu adalah kumpulan dari pengalaman hidup dia, dimana ia merasakan suka, duka, tangis dan tawa. Semuanya itu adalah pengalaman pribadi yang hanya dia saja yang bisa merasakannya. Semakin lama seseorang itu hidup di dunia ini, maka semakin banyak pula pengalaman yang ia lalui. Orang-orang tua selalu menyebutnya dengan 'sudah banyak makan asam-garam kehidupan' yang artinya dia sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi kehidupan ini, bagaimana ia bersikap ketika suka, duka, tangis ataupun tawa.

Maka, untuk apa iri ? melihat orang lain sukses, atau mencapai sebuah pencapaian yang sangat bagus dari fase kehidupan dia ... iri hanya akan menambah hitam busuk di hati yang sudah busuk ini. Manusia-manusia sukses yang kita lihat itu sebenarnya sama dengan kita, hanya saja dia lebih beruntung saja, atau dia memiliki kemauan di atas kemauan kita. Potensi yang sama namun cara penyikapan yang berbeda. Allah itu Maha adil, karena keadilan-Nya itu Allah tidak menciptakan segala sesuatu itu SAMA, Allah hanya menjadikan segala sesuatu itu SEIMBANG (wa wadho'al mizan).

Seimbang itu tidak harus sama, karena manusia memiliki porsi yang berbeda, seperti contoh antara lelaki dan wanita. Allah sangatlah adil karena telah memberikan kebutuhan kedua jenis ini secara SEIMBANG bukan secara SAMA. Karena kadang jika kebutuhan itu disamakan tanpa melihat faktor keseimbangan, maka akan terjadi sebuah ketimpangan yang akan mengakibatkan kerusakan bagi kemanusiaan secara umum.

Maka jangan heran jika kita melihat di dunia ini ada kaya ada miskin, ada sukses ada gagal, ada sehat ada sakit dan lain sebagainya. Karena semua itu adalah sebuah bentuk Keseimbangan yang pada akhirnya nanti adalah untuk kemaslahatan manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Jadi buat apa kita memikirkan pencapaian orang lain, toh itu adalah pencapaian dia, bukan pencapaian pribadi saya ?

Yusuf Abbas, 10 September 2009

Selasa, September 08, 2009

Juara

Siapa yang tidak ingin menjadi juara ? semua orang menginginkan ia menjadi pemuncak, melewati orang-orang yang berjalan bersamanya untuk menjadi yang paling depan, menjadi pemimpin dan orang yang dilihat.

Juara adalah pemenang, karena untuk mencapai label juara, ia harus mengalahkan musuh-musuhnya. Menjadi juara adalah harapan semua orang, karena dengan menjadi juara ia akan tahu kualitas dirinya dan perbedaan yang membedakan dia dan orang lain. Selain itu juara adalah impian setiap orang karena ia adalah sebuah prestasi yang sangat indah untuk dikenang nanti dimasa depan.

Juara adalah kebanggaan, maka tak heran jika sang juara tidak akan lepas dari senyuman. Juara dan senyuman ibarat makanan dan garam, kedua-duanya akan hadir dalam waktu yang bersamaan. Kepuasan dan rasa senang akan membuat sang juara merasa terharu, maka tak jarang pula, juara adalah tetesan air mata haru.

Menjadi juara tentunya tidak mudah. Mulai dari awal sang juara akan mempersiapkan diri dia, membenahi kekurangan dan mengoptimalkan kelebihan, karena tentunya harga dari sebuah label juara sangatlah mahal, bahkan bisa saja membutuhkan tenaga dan air mata ekstra.

Dalam hal ini ada betulnya sebuah pemikiran yang mengatakan bahwa manusia itu selalu menginginkan kesempurnaan. Maka, mungkin saja ia menjadi juara dalam satu hal, namun di hatinya terbesit hembusan-hembusan untuk menjadi juara di bidang yang lain. Juara adalah keinginan-keinginan dalam hati manusia. Ia ada sejak manusia itu masih menjadi butir-butir sperma yang saling beradu menjadi juara untuk sampai pada sel telur. Akhirnya, hanya satu saja juara pemenang perlombaan tersebut, yang nantinya akan menjadi sesosok makhluk yang bernama manusia.

Setiap manusia memang ditakdirkan untuk menjadi juara, maka tak heran jika dalam setiap ajaran-ajaran baik itu berupa agama dan filsafat, manusia dituntut untuk menjadi pemenang, baik itu di dunia ini ataupun kelak di akhirat sana. Oleh karena itu manusia selalu diajak untuk menjadi manusia-manusia yang kuat, manusia-manusia yang mampu untuk survive di dalam kehidupan ini. Tentunya dengan moral dan pekerti yang baik.

Menjadi juara saja tidak cukup jika itu tidak dibarengi dengan moral dan pekerti yang baik. Karena, manusia itu selalu salah dan lupa, maka bisa saja ketika ia menjadi pemenang, ia akan berbuat sekehendak hati dia, ia tidak akan mendengarkan lagi orang-orang yang lebih bawah dari dirinya karena ia merasa teratas, ia adalah super power, selain dirinya seharusnya mengikuti apa yang ia kata kerjakan.

Yusuf Abbas, 07 September 2009

Sabtu, September 05, 2009

Kabut di Mataku

Kenapa kau selalu menutupi mataku? Seakan aku tidak perlu lagi tahu apa yang sedang menimpamu. Kau sudah berbeda, jauh berbeda dari kau yang dahulu aku kenal. Semoga ini hanya perasaanku saja. Aku tidak berharap apa yang aku tebak itu suatu realita yang tidak bisa kau pungkiri.

Aku sudah putus asa untuk tahu apa warna kabut disebalik raut mukamu itu. Padahal aku hanya ingin tahu, putihkah ? atau kabut itu semakin gelap kelam? Aku sangat heran, dengan perlahan kau berusaha menyembunyikan kabut-kabut itu. Aku tahu kau menyimpan kabut, namun aku hanya pura-pura tidak tahu. Aku ingin kau merasa bahwa aku ini memang seorang yang sangat mudah untuk percaya.

Kamu harus tahu, bahwa sebentar lagi mentari akan terbit dan kabut-kabut yang kau sembunyikan itu akan hilang dengan sendirinya, tanpa aku minta atau paksa. Namun aku masih mengharap, sebelum mentari terbit kau sudah memberi tahu aku apa warna kabut itu, hijaukah ? Namun sepertinya kau akan tetap menyembunyikan kabut-kabut itu hingga ujung fajar...

Memang aku akui, kau berhak untuk menyimpan sendiri kabut-kabut itu. Namun, perlulah kau ketahui bahwa aku yakin kabut-kabut tersebut pasti berkaitan dengan aku. Karena dulu dan kini aku adalah bagian dari dirimu. Namun entah sekarang, apa kabut-kabut tersebut sudah membuatmu lupa dengan keberadaan diriku ? Aku juga tidak pasti karena misteri warna kabut semakin buram saja.

Yusuf Abbas, 05 September 2009

Jumat, September 04, 2009

Songsong

Mundur bukan berarti kalah
Maju bukan berarti menang
Kalah itu menyerah
Menang itu kemauan keras

Kebanggaan adalah kesabaran
Kehinaan adalah ketergesaan
Setiap langkah itu tanggung jawab
Pertimbangan sangat diperlukan

Ilmu itu sangat luas
Ia ada dimana-mana
Janganlah engkau berputus asa
Selagi jiwa masih bernyawa

Kesalahan itu wajar
Jangan terlalu larut dengannya
Karena hari esok masih ada fajar
Untuk menyongsong masa depan

Rabu, September 02, 2009

ilir ilir dan artinya

Ilir-ilir, ilir-ilir
tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar

Bait di atas di atas secara harafiah menggambarkan hamparan tanaman
padi di sawah yang menghijau, dihiasi oleh tiupan angin yang
menggoyangkannya dengan lembut. Tingkat ke-muda-an itu dipersamakan
pula dengan pengantin baru. Jadi ini adalah penggambaran usia muda
yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk berkarya.

Bocah angon, bocah angon
penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dodot-iro

Anak gembala,
panjatlah [ambillah] buah belimbing itu [dari pohonnya].
Panjatlah meskipun licin,
karena buah itu berguna untuk membersihkan pakaianmu.

Buah belimbing yang seringkali bergigir lima itu melambangkan lima
rukun Islam; dan sari-pati buah itu berguna untuk membersihkan
perilaku dan sikap mental kita. Ini harus kita upayakan betapapun
licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi.

Anak gembala dapat diartikan sebagai anak remaja yang masih polos
dan masih dalam tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi
inilah yang sering muncul seketika bila orang Jawa menyebut 'bocah
angon'.

Namun pengertiannya dapat pula ditingkatkan menjadi
pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin
formal dalam berbagai tingkatan.

Dodot-iro, dodot-iro
kumitir bedah ing pinggir
dondomono, jlumatono
kanggo sebo mengko sore

Pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya.
Jahitlah dan rapikan agar pantas dikenakan untuk "menghadap" nanti
sore.

"Sebo" adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan 'sowan'
atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan.

Makna pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita.
Menghadap bermakna menghadap Allah.
Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang
kematian kita.

Mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane

Manfaatkan terang cahaya yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan
tiba. Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu
sampai waktunya menjadi sempit bagi kita.

untuk videonya bisa di buka di : http://www.youtube.com/watch?v=diTgOm1VAf8&feature=related

Selasa, September 01, 2009

Mujawwad

Malam ini, tidak seperti malam-malam sebelumnya, aku ditemani oleh qori' fenomenal Indonesia Mu'ammar dan bacaan mujawwad beliau tentang beberapa ayat-ayat Al-Quran. Sangat indah mendengarkan lantunan demi lantunan ayat-ayat Al-Quran dibawakan dengan suara yang lembut serta lagu-lagu yang membuat bulu roma tergetar mendengarnya. Tentang ayat-ayat kaun, penciptaan manusia, tentang penciptaan langit dan bumi...

Sungguh, Al-Quran itu benar-benar merupakan penawar hati yang paling ampuh. Coba Anda dengarkan dengan seksama bacaan mujawwad Mu'ammar tersebut, ayat demi ayat, bagaimana dia mengangkat nada suara, bagaimana dia mengecilkan nada... Subhanallah... Anda akan merasakan seperti dibawa ke alam yang lain, alam keagungan yang membuat air mata Anda tidak akan mampu anda tahan untuk mengalir...

Orang yang berhati hidup, ketika ia mendengar bacaan Al-Quran bulu-bulu romanya akan merinding, seluruh kulitnya akan kaku dikarenakan ia sedang mendengar sebuah ayat-ayat alam yang terangkum dalam sebuah kitab suci yang mana gunungpun tidak mampu untuk sekedar menjadi tempatnya, kemudian setelah itu kulitnya perlahan akan melemas karena merasakan sebuah ketenangan luar biasa, bagaimana tidak, hatinya yang hanya terbuat dari daging dan darah mampu untuk menampung ayat-ayat alam sedangkan gunung untuk menampugnya saja tidak mampu! sesudah itu ia akan masuk dalam alam dzikrullah dimana ia akan merasakan berada di hadapan sebuah dzat yang sangat-sangat agung, kemudian disinilah ia akan merasakan kehinaan yang tiada tara karena kenyataannya ia adalah sesuatu yang tidak ada, yang ada hanya Allah...