Senin, Agustus 03, 2009

Berburu 'Amal Kamilahnya Syekh Muhammad Abduh

Berburu 'amal kamilahnya syekh Muhammad Abduh terbitan Maktabah Usrah begitu susahnya. Konon bukan karena buku-buku itu cepat habis dibeli pelanggan, namun dari info yang saya dapatkan dari seorang pemilik toko buku di Azbakiyah Attabah Kairo, ada kongkalikong antara petugas di Hai'ah Ammah lil Kitab sebagai pihak penyelenggara buku-buku bersubsidi pemerintah dengan beberapa penjual buku-buku bekas.

"Demi Allah saya tidak pergi membeli buku ini ke Hai'ah Ammah" tutur Muhammad Ma'tuk tegas, setelah beberapa kali saya menawar salah satu buku 'amal kamilahnya Abduh dengan harga le. 10, Ma'tuk menjualnya dengan harga le. 15. Saya bolak-balik buku itu, di sampul belakang harga buku yang seharusnya tertera sudah hilang entah kemana. "Klo kamu membeli buku ini di toko sebelah, minimal mereka akan menjualnya le.25", seakan dia sudah tahu kalau saya sedang memperhatikan harga buku yang hilang di sampul belakang buku itu ia kemudian melanjutkan ceritanya.

"Saya mendapat buku ini dengan harga le.12, klo saya menjualnya le.10 saya akan rugi dunk" nadanya datar, saya hanya tersenyum mendengar kata-katanya tersebut. Kebetulan tadi saya dari Hai'ah Ammah di bilangan Qornisy Tahrir sebelum ke toko Ma'tuk ini, disana buku 'amal kamilahnya Abduh sudah habis, namun alhamdulillah saya sempat membeli beberapa buku tersebut husen, hanya tinggal satu buku lagi yang belum terbeli.

Ma'tuk melihat saya yang memegang kantong plastik dengan lebel Hai'ah 'Ammah mulai membela diri. "Sebenarnya saya membeli buku itu pada salah satu petugas Hai'ah Ammah, Mereka mengatakan sudah habis pada pembeli padahal buku-buku itu masih tersimpan di gudangnya" Ma'tuk mengambil buku Aduh yang saya pegang, dia kemudian menunjuk foto Suzan Mubarak, penggagas program pemerintah 'Membaca untuk semua', Ma'tuk lalu berseloroh "Memang dia (Suzan) mengadakan program ini agar buku-buku tersebut dapat dijangkau oleh orang-orang yang uangnya tidak begitu tebal, juga para pelajar dan mahasiswa, namun bawahan-bawahan dia itu yang tidak bertanggung jawab dengan menjual kembali buku-buku berubsidi tersebut" Ma'tuk terlihat bersemangat.

"Sebenarnya berbuat seperti itu (menjual buku-buku bersubsidi pada penjual buku bekas adalah tindakan harom (tidak boleh), namun saya mendapat buku ini dari salah satu teman saya yang kebetulan menjadi petugas hai'ah ammah". Dia menarik nafas panjang, "saya hanya mencari makan"...Ma'tuk diam beberapa saat, ia lalu meneruskan ceritanya "Saya ingin yang baik-baik saja, apalagi saya sudah sakit, saya ingin mati dengan tenang" Terlihat mata Ma'tuk menerawang. "Semoga Allah menyembuhkanmu (Rabbuna Yasyfik)" timpalku... "Amien ya Rabb, semoga doa kamu terkabul" jawab Ma'tuk.

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk membeli buku itu, saya tahu bahwa buku-buku itu sekarang sudah tidak ada di toko manapun kecuali di azbakiyah. Muhammad Ma'tuk seorang pedagang yang jujur dengan realita, dia tidak pernah malu untuk mengakatan bahwa ia tidak pernah membeli buku-buku subsidi untuk kemudian dijual dengan harga yang lebih mahal. Ma'tuk juga seorang yang sadar, ia sadar kalau buku-buku itu diprioritaskan untuk orang-orang berkantong tipis, namun apatah daya seorang Ma'tuk, dia hanya seorang pedagang buku bekas yang hanya mencari makan untuk hidupnya ... Rabbuna Yasyfika Ya Muhammad Ma'tuk.

Yusuf Abbas, 03 Agustus 2009

Tidak ada komentar: