Senin, Agustus 17, 2009

Aku Cinta Negeriku

Aku tidak pernah menyesal menjadi bagianmu. Aku hanya bersedih jika melihat dirimu bermuram durja. Sungguh aku sangat mencintaimu, walaupun dirimu penuh dengan luka. Walaupun kini dirimu jauh dariku, namun ketahuilah rindu ini terus membara.

Aku tahu dirimu adalah mutiara di tengah samudera yang bersinar dikala siang dan semakin terang di waktu malam. Aku tahu, banyak mata yang ingin merengkuhmu, menguasaimu dan menjadikamu alat untuk memperkaya diri. Namun ketahuilah, aku tidak akan tinggal diam karena aku adalah tanahmu, aku adalah udaramu, aku adalah airmu, aku adalah apimu.

Kamu adalah permainanku bersama ilalang, kamu adalah tangisanku ketika malam datang. Hujanmu membasahi kerongkonganku, Kemaraumu membuatku paham arti sebuah nikmat. Kamu adalah kehidupan, impian bahkan kematian.

Meski manusia-manusiamu seperti binatang saling terkam bodoh, kamu tetap bersabar, walaupun sesekali kamu marah atau mungkin kamu sebenarnya tidak marah, kamu hanya ingin berkata-kata, menyapa kami yang tidak pernah sama sekali berterima kasih kepadamu.

Kamu mungkin ingin mengatakan 'wahai para khalifah Allah, jagalah diriku ini, bumi yang allah titipkan padamu. Jagalah hitamku, jagalah biruku, jagalah hijauku, jagalah beningku, aku juga makhluk sepertimu, aku merasa sakit seperti engkau sakit, aku juga merasa bahagia seperti kebahagiaanmu, maka ingatlah selalu bahwa aku adalah hidup matimu.

Namun manusia adalah makhluk yang paling bodoh, bagaimana tidak, ia tahu tapi tidak tahu, ia faham tapi tidak faham, ia pintar tapi bodoh karena ia berfikir tapi hakikatnya terlelap. Ia hancurkan apa yang seharusnya ia bangun, ia bunuh apa yang seharusnya ia jaga, ia cemarkan apa yang seharusnya ia bersihkan.

Sehingga dirimu kini sebegitu menakutkan. Dimana-mana yang ku dengar hanya kerusakan. Hutanmu, lautmu, udaramu, bahkan untuk hidup di dirimupun sudah tidak aman. Dimana-mana pembunuhan, pemerkosaan, ketidakadilan, penculikan, kekerasan, pencurian, bahkan pembohongan secara besar-besaran sudah tidak aneh lagi. Jiwa sudah tidak ada lagi harganya, kehormatan sudah langka bahkan agama sudah mulai ditinggalkan. Sudah pantas dirimu kiri kepanasan, selalu ingin muntah atau paling kecil mengguncang-guncangkan diri.

Walaupun begitu, aku tetap bagianmu yang akan mencintaimu selalu, suatu saat nanti, aku akan membuatmu tersenyum, karena kamu waktu itu adalah bumi yang paling menarik untuk dikunjungi, langitmu cerah, hutanmu indah, tanahmu subur dan airmu jernih ...

2 komentar:

Imay mengatakan...

sangat menyentuh!!! sebuah analisa dan curahan hati yang begitu mendalam. siapun pasti tersentuh...terutama warga Indonesia yang masih terbelenggu dalam ambiguitas dan mirisitas nasib negerinya :). pastas jadi budayawan !!!

ups...salam ukhuwah...

UmmuL SyabinaR mengatakan...

bagus puisinya....