Sabtu, Agustus 29, 2009

Tuhanku

Tuhanku telunjuk jariku sudah tidak kuat lagi kuangkatkan tuk sekedar menunjuk keagunganmu...Tuhanku dahi inipun sudah lama tidak bergesekan dengan munajat keesaanMu...Tuhanku apakah aku masih hambaMu ?

Senin, Agustus 17, 2009

Aku Cinta Negeriku

Aku tidak pernah menyesal menjadi bagianmu. Aku hanya bersedih jika melihat dirimu bermuram durja. Sungguh aku sangat mencintaimu, walaupun dirimu penuh dengan luka. Walaupun kini dirimu jauh dariku, namun ketahuilah rindu ini terus membara.

Aku tahu dirimu adalah mutiara di tengah samudera yang bersinar dikala siang dan semakin terang di waktu malam. Aku tahu, banyak mata yang ingin merengkuhmu, menguasaimu dan menjadikamu alat untuk memperkaya diri. Namun ketahuilah, aku tidak akan tinggal diam karena aku adalah tanahmu, aku adalah udaramu, aku adalah airmu, aku adalah apimu.

Kamu adalah permainanku bersama ilalang, kamu adalah tangisanku ketika malam datang. Hujanmu membasahi kerongkonganku, Kemaraumu membuatku paham arti sebuah nikmat. Kamu adalah kehidupan, impian bahkan kematian.

Meski manusia-manusiamu seperti binatang saling terkam bodoh, kamu tetap bersabar, walaupun sesekali kamu marah atau mungkin kamu sebenarnya tidak marah, kamu hanya ingin berkata-kata, menyapa kami yang tidak pernah sama sekali berterima kasih kepadamu.

Kamu mungkin ingin mengatakan 'wahai para khalifah Allah, jagalah diriku ini, bumi yang allah titipkan padamu. Jagalah hitamku, jagalah biruku, jagalah hijauku, jagalah beningku, aku juga makhluk sepertimu, aku merasa sakit seperti engkau sakit, aku juga merasa bahagia seperti kebahagiaanmu, maka ingatlah selalu bahwa aku adalah hidup matimu.

Namun manusia adalah makhluk yang paling bodoh, bagaimana tidak, ia tahu tapi tidak tahu, ia faham tapi tidak faham, ia pintar tapi bodoh karena ia berfikir tapi hakikatnya terlelap. Ia hancurkan apa yang seharusnya ia bangun, ia bunuh apa yang seharusnya ia jaga, ia cemarkan apa yang seharusnya ia bersihkan.

Sehingga dirimu kini sebegitu menakutkan. Dimana-mana yang ku dengar hanya kerusakan. Hutanmu, lautmu, udaramu, bahkan untuk hidup di dirimupun sudah tidak aman. Dimana-mana pembunuhan, pemerkosaan, ketidakadilan, penculikan, kekerasan, pencurian, bahkan pembohongan secara besar-besaran sudah tidak aneh lagi. Jiwa sudah tidak ada lagi harganya, kehormatan sudah langka bahkan agama sudah mulai ditinggalkan. Sudah pantas dirimu kiri kepanasan, selalu ingin muntah atau paling kecil mengguncang-guncangkan diri.

Walaupun begitu, aku tetap bagianmu yang akan mencintaimu selalu, suatu saat nanti, aku akan membuatmu tersenyum, karena kamu waktu itu adalah bumi yang paling menarik untuk dikunjungi, langitmu cerah, hutanmu indah, tanahmu subur dan airmu jernih ...

Minggu, Agustus 16, 2009

Buta dan Tuli

Aku sudah tuli, padahal pendengaranku sangatlah baik
Tak perlu ku datangi dokter, tapi aku benar-benar sudah tuli
Aku masih mendengar orang-orang yang menyapaku
Bahkan musik-musik yang dilantunkan keras-keras

Namun aku merasa, aku sudah tuli
Tuli aku ketika telingaku sudah tidak mendengar jerit di dadaku
Hatiku selalu berteriak-teriak tentang perubahan dan perjuangan
Sayangnya, aku sudah tuli

Apakah aku adalah orang-orang yang tidak mungkin kembali ?
Ataukah termasuk orang-orang yang tak berfikir ?
Entahlah, karena semakin hati ini berteriak
Aku semakin tuli

Ketulian ini bukan karena keterpaksaan
Ia adalah pilihan
Pilihan dari kekerasan hati
Yang setiap-hari semakin mengeras batu

Inikah yang dinamakan mendengar tapi tak mendengar
Melihat tapi tak melihat
Merasa tapi tak merasa
Berkata tapi tak terucap

Fa innaha la ta'mal abshoru walakin ta'mal qulubul lati fis shudur

Yusuf Abbas, 16 Agustus 2009 5.53 PM

Hakikat

Akupun melihatnya tersungkur-sungkur
Lalu dengan sisa tenagaku, aku mengangkatnya
Ia lalu melihatku sembari tertawa lebar
Ia kemudian bercerita

Aku ini adalah seorang pengelana
Aku tinggalkan sanak saudaraku, tanah dan negriku
Aku aku hanya ingin mencari sebuah arti dari kata 'hakikat'
Aku kemudian tersesat di sebuah gunung berhutan-hutan

Kemudian engkau datang menolongku
Ketika nyawaku sudah hampir sampai ke kerongkonganku
Kau penyelamatku, kau pahlawanku
Kalaupun ada umur panjang, aku akan kembali padamu dengan membawa hakikat

Ya, kutunggu dirimu datang kembali
Sehari, dua hari sampai bertahun2 ia tidak pernah datang kembali
Batinku dalam hati, ia akan datang esok
Karena, ia adalah aku dahulu

Aku adalah seorang pengembara tersesat
Hutan ini telah mengurungku berpuluh2 tahun lamanya
Setiap kali aku mencari jalan keluar
Namun yang kutemukan adalah, aku kembali lagi di tempat berpijakku ini

Setelah ia sampai ke tempatku ini
Ia hanya berkata
Sekarang aku tahu apa itu hakikat
Perjalanan tanpa istirahat itu tidak bijak


Yusuf Abbas, 16 Agustus 2009 1:41 AM

Sabtu, Agustus 15, 2009

Tasbih

Bersemedi aku dengan untaian asma-Mu
Ya Rahman, Ya Rahim Irhamna wal Muslimin
Wahai Maha Pengasih dan Penyayang, Sayangilah kami dan Umat Islam

Terus menerus ku gerakkan tasbih-tasbih cinta
Meminta, memohon sebuah kasih sayang
Tolong, tolonglah kami ini

Hanya Engkaulah Sang Maha Asih
Hanya Engkaulah Sang Maha Welas
Hanya Engkaulah Sang Maha Cinta

Terus menerus tasbih cinta kugerakkan
Hingga akhirnya tasbih-tasbih itu putus beruraian
Sembilan puluh sembilan jumlahnya

Ku pilih satu demi satu butir-butir tasbihku
Hingga ketika aku sampai pada butir yang ke sembilan puluh delapan
Aku terkejut, satu butir telah hilang

Kucari di lantai penuh amis darah
Namun semakin lama ku mencari
Bau-bau busuk semakin menyeruak

Tiba-tiba kulihat satu cahaya di sebuah tubuh yang berurai-urai
Satu butir tasbihku berada disana
Di dekat mayat seorang pemuda

Aku terkejut dan kembali mengambil satu butir tasbihku
Namun heran memang, tasbihku kini tidak sama
Karena satu butir itu tiba-tiba bertuliskan satu kata Ya Lathif ...

Jumat, Agustus 14, 2009

Wal yatalatthaf ...

Lembaran demi lembaran ku telusuri
Namun tak ku temukan apa yang ku cari
Satu, dua, tiga baris sampai berbaris-baris

Seingatku, dahulu aku pernah menemukannya
Di tengah-tengah, pas ditengah
Wal yatalatthaf ... Berlemah lembutlah

Berlemah lembutlah wahai jiwa-jiwa gersang nan kasar
Fikiranmu darah berletup letup
Tak seperti itu ajaran Allah

Wal yatalatthaf ... Berlemah lembutlah
Gurumu adalah wa innaka la'ala khuluqin 'adzim
Akhlak mulia meski musuh mencerca meludahi

Apalagi kepada saudara-saudara seiman seislam-mu
Wal yatalatthaf ... Berlemah lembutlah
Darah saudaramu haram bagimu

Wal yatalatthaf ... Berlemah lembutlah
Karena engkau bukanlah seorang mukmin
Jika engkau belum mencintai saudaramu seperti dirimu sendiri

Yusuf Abbas, 14 Agustus 2009 1:18 PM

Haribaanku

Rebahkanlah kepalamu di pangkuan haribaanku
Ingatlah, ketika masa kecilmu dahulu
Aku sudah tercabik-cabik selalu

Yusuf Abbas 14 Agustus 2009

Senin, Agustus 10, 2009

An-Nafsu Al-Ammarah Bis-Su~'

Hawa nafsu itu tidak pernah lelah
Ia terus menerus membisik-bisik
Mendekatlah...lakukan ini, lakukan itu
Tinggalkan ini, tinggalkan itu

Ia seperti Tuhan yang memerintah dan melarang
Padahal ia hanya makhluk lemah
Kata Tuhan padanya, datanglah pada-Ku
Baik itu dengan penuh ketaatan atau pemaksaan

Hawa nafsu itu sangat taat sekali pada perintah Tuhan
Ia terus menerus membisik-bisik
Tanpa lelah dan bosan
Ia bahkan terlihat seperti bayi

Sapihlah hawa nafsumu
Karena ia adalah bayi
Terus menerus meminta air susu
jika ia tidak disapih ibu

Kata Syekh Ali Jum'ah padaku
Janganlah engkau mengikuti Freud
Karena ia menyuruh untuk mengikuti nafsu
Padahal nafsu jika dituruti akan menjadi-jadi
Bukan ketenangan yang didapati
Namun api makin menyala berkobar

Ikutilah Kata Penulis Burdah
Hawa nafsu itu bisikannya harus dilanggar
Ia menyuruh ke kanan, kamu ke kiri
Ia mengatakan 'iya' kamu harus mengatakan 'tidak'
Ia melarangmu maju, kamu harus mundur
Ia memberimu harapan, kamu harus membuang angan-angan itu

Hawa nafsu itu ada tujuh
Cukup disini ku sebutkan satu
Inilah yang dinamakan Nafsu yang selalu membisikkan kejahatan
Ulama menyebutnya An-Nafsu Al-Ammarah Bis-Su~'.


Yusuf Abbas, 10 Agustus 2009

Wahai Subuh

Aku rindu padamu wahai Subuh
Sudah lama tak ku nikmati ketenangan munajatmu
Aku Selalu terlelap dengan mimpi
Padahal aku tahu engkau itu rezeki

Subuh, oh Subuh
Selalu ku teriakkan namamu
Agar mata ini terbuka
Aku sangat rindu padamu

Disini tak ada kokok ayam
Embunpun jarang jarang
Berat memang
Namun jiwa ini terasa gersang

Aku tak tahu siapa lagi yang merindukanmu
Tapi, aku benar-benar ingin selalu bersamamu
Aku tidak mau meninggalkanmu barang sejenak
Karena detik demi detikmu adalah rahmat

Subuh, oh Subuh
Dekaplah aku dengan dinginmu
Buatlah hati ini kembali hangat
Seperti semi datang menyapa

Senin, Agustus 03, 2009

Berburu 'Amal Kamilahnya Syekh Muhammad Abduh

Berburu 'amal kamilahnya syekh Muhammad Abduh terbitan Maktabah Usrah begitu susahnya. Konon bukan karena buku-buku itu cepat habis dibeli pelanggan, namun dari info yang saya dapatkan dari seorang pemilik toko buku di Azbakiyah Attabah Kairo, ada kongkalikong antara petugas di Hai'ah Ammah lil Kitab sebagai pihak penyelenggara buku-buku bersubsidi pemerintah dengan beberapa penjual buku-buku bekas.

"Demi Allah saya tidak pergi membeli buku ini ke Hai'ah Ammah" tutur Muhammad Ma'tuk tegas, setelah beberapa kali saya menawar salah satu buku 'amal kamilahnya Abduh dengan harga le. 10, Ma'tuk menjualnya dengan harga le. 15. Saya bolak-balik buku itu, di sampul belakang harga buku yang seharusnya tertera sudah hilang entah kemana. "Klo kamu membeli buku ini di toko sebelah, minimal mereka akan menjualnya le.25", seakan dia sudah tahu kalau saya sedang memperhatikan harga buku yang hilang di sampul belakang buku itu ia kemudian melanjutkan ceritanya.

"Saya mendapat buku ini dengan harga le.12, klo saya menjualnya le.10 saya akan rugi dunk" nadanya datar, saya hanya tersenyum mendengar kata-katanya tersebut. Kebetulan tadi saya dari Hai'ah Ammah di bilangan Qornisy Tahrir sebelum ke toko Ma'tuk ini, disana buku 'amal kamilahnya Abduh sudah habis, namun alhamdulillah saya sempat membeli beberapa buku tersebut husen, hanya tinggal satu buku lagi yang belum terbeli.

Ma'tuk melihat saya yang memegang kantong plastik dengan lebel Hai'ah 'Ammah mulai membela diri. "Sebenarnya saya membeli buku itu pada salah satu petugas Hai'ah Ammah, Mereka mengatakan sudah habis pada pembeli padahal buku-buku itu masih tersimpan di gudangnya" Ma'tuk mengambil buku Aduh yang saya pegang, dia kemudian menunjuk foto Suzan Mubarak, penggagas program pemerintah 'Membaca untuk semua', Ma'tuk lalu berseloroh "Memang dia (Suzan) mengadakan program ini agar buku-buku tersebut dapat dijangkau oleh orang-orang yang uangnya tidak begitu tebal, juga para pelajar dan mahasiswa, namun bawahan-bawahan dia itu yang tidak bertanggung jawab dengan menjual kembali buku-buku berubsidi tersebut" Ma'tuk terlihat bersemangat.

"Sebenarnya berbuat seperti itu (menjual buku-buku bersubsidi pada penjual buku bekas adalah tindakan harom (tidak boleh), namun saya mendapat buku ini dari salah satu teman saya yang kebetulan menjadi petugas hai'ah ammah". Dia menarik nafas panjang, "saya hanya mencari makan"...Ma'tuk diam beberapa saat, ia lalu meneruskan ceritanya "Saya ingin yang baik-baik saja, apalagi saya sudah sakit, saya ingin mati dengan tenang" Terlihat mata Ma'tuk menerawang. "Semoga Allah menyembuhkanmu (Rabbuna Yasyfik)" timpalku... "Amien ya Rabb, semoga doa kamu terkabul" jawab Ma'tuk.

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk membeli buku itu, saya tahu bahwa buku-buku itu sekarang sudah tidak ada di toko manapun kecuali di azbakiyah. Muhammad Ma'tuk seorang pedagang yang jujur dengan realita, dia tidak pernah malu untuk mengakatan bahwa ia tidak pernah membeli buku-buku subsidi untuk kemudian dijual dengan harga yang lebih mahal. Ma'tuk juga seorang yang sadar, ia sadar kalau buku-buku itu diprioritaskan untuk orang-orang berkantong tipis, namun apatah daya seorang Ma'tuk, dia hanya seorang pedagang buku bekas yang hanya mencari makan untuk hidupnya ... Rabbuna Yasyfika Ya Muhammad Ma'tuk.

Yusuf Abbas, 03 Agustus 2009