Senin, Juli 20, 2009

Jalan Buntu

Ku lihat jalan itu semakin kelam. Duru-duri bertaburan entah berapa jumlahnya. Kelokannya pun semakin lama semakin tak beraturan seperti puzzle tak ada ujungnya. Jalan itu semakin lama semakin buram. Samar-samar ku dengar teriakan panggilan. Kesinilah ! Kesinilah ! Kesinilah ! Namun sayangnya, suara itu terlampau jauh, sejauh mata memandang fatamorgama.

Ku perhatikan lagi jalan itu sudah penuh dengan jejak kaki dimana-mana. Anehnya, jejak-jejak itu tidak seperti biasanya, darah-darah berceceran membentuk sebuah tanda pentunjuk, lurus, ke kanan dan ke kiri. Seakan sudah faham dengan apa yang dimaksudkan tanda-tanda tersebut, aku pun mengikutinya.

Di setiap langkah, ku rasakan duri-duri itu menusuk-nusuk kakiku yang tanpa alas, darah pun mengalir membasahi ceceran-ceceran darah yang sudang mengering. Satu persatu tanda-tanda itu aku ikuti dengan taatnya, walaupun ku rasakan kepalaku sudah mulai pusing karena kehabisan darah. Aku butuh darah segar untuk meneruskan perjalanan ini.

Ku lihat disekelilingku, banyak bangkai-bangkai yang sudah membusuk bahkan sebagian ada yang sudah menjadi kerangka mengerikan. Ku coba melihat-lihat siapa tahu diantara orang-orang yang malang itu ada beberapa bekal yang mereka sisakan untuk pejalan kaki tersesat seperti diriku ini. Sayangnya, tak ku temukan bekal sisa tersebut. Mungkin saja mereka seperti diriku ini, sebelum kematiannya mencari-cari darah segar untuk meneruskan perjalanan.

Kakiku sudah tidak bisa lagi digerakkan kaku dan badanku sudah pucat pasi karena banyak kehilangan darah. Aku diambang kematian. Aku sangat percaya dengan keajaiban. Tak henti-hentinya hatiku menjerit kepada Tuhan yang selama ini aku sembah, aku agungkan dan aku anggap sebagai penolong. Aku benar-benar membutuhkanmu sekarang Tuhan !!! Hati terus menjerit karena untuk menggerakkan rahangpun aku sudah tidak sanggup.

Tiba-tiba aku mendengar suara. Ya, suara orang yang tadi memanggil-manggil namaku. Syukurlah fikirku, aku selamat. Semakin lama-suara itu semakin dekat. Namun herannya dia hanya terkekeh-kekeh melihat keadaanku yang sudah sangat lemah. Tiba-tiba dia mendekatkan mulutnya ke arah leherku dan dengan perlahan dia mulai menghisap darahku. Semenit, dua menit sampai aku sudah tidak memiliki darah lagi ... Namun herannya aku tidak mati ... Aku masih hidup ... dalam buram kulihat dia pergi dengan tertawa-tawa dan berkata "Aku tidak pernah menyuruhmu mengikuti panggilanku, sekarang rasakanlah penderitaan yang selama ini engkau lupakan".

Sekarang, aku hanya seonggok badan yang menanti kematian. Namun aku masih percaya dengan keajaiban. Tuhan pasti akan mengampuni orang-orang yang bertaubat ...


1 komentar:

AgusR mengatakan...

Ini jalan kemana bung azhar...! Kok ada kekurangan darah, terus ada suara2 dan terakhir kok menunggu ajal kematian. Ku kira jalan ke sinai kemarin :D