Jumat, Juni 19, 2009

Awan Hitam

Apa yang kamu fikirkan ? Entahlah, langit seakan terus menerus mendung, tapi herannya hujan tak turun-turun. Setiap waktu kuperhatikan, menengadahkan kepalaku yang mulai beruban hanya untuk memastikan apakah engkau sudah turun rerintikan atau angin membawamu kabur ke tempat tak bertuan?

Entahlah, kamu tetap bergelayut di atas kepalaku, menggumpal seperti kapas-kapas tertupahi tinta hitam berarakan. Sesekali bunyi guntur bersautan, seakan kamu sudah tak kuat lagi menahan air-air kehidupan meluncur ke akar remputan. Terus menerus ku perhatikan kau seperti gadis perawan yang bingung, menerima pinangan pria gagah berkumis ataukah jatuh ke pelukan orang lemah yang kau cintai ?

Angin tampaknya mulai mengencang, ku tutup jendela rapat-rapat, namun aku masih bisa melihatmu di balik jendela. Walaupun samar-samar, kulihat engkau mulai melambaikan tanganmu, jalanmu perlahan-lahan. Ku lihat disetiap langkahmu engkau seakan melakukan sebuah perlawanan, keinginanmu dan arah angin kencang saling tarik menarik ibarat sebuah besi diatara dua kutub magnet yang berbeda.

Tiba-tiba dari arah yang tak ku ketahui datangnya, engkau tersenyum seraya membisikkan beberapa kalimat di telingaku "Sebentar ya, aku pasti kembali". Lambat laun bayanganmu-pun hilang entah kemana. Kini, setiap hari aku selalu menengadahkan kepalaku, mencarimu di antara awan-awan putih berarakan. Ketika kepalaku sudah merasa pegal dan capai, akupun merunduk, siapa tahu banyanganmu kembali datang.

Namun sayang, sepertinya engkau tidak akan pernah datang, walaupun aku yakin kamu pasti datang memenuhi janji yang telah engkau ucapkan. Waktu pun terus berlalu, dan aku terbaring disini lemah, mataku telah rabun dan sendi-sendi ku tak mengizinkanku untuk menengadah ataupun merunduk. Aku sekarang adalah seonggok tubuh yang sedang menanti izrail pencabut nyawa. Mulutku selalu berkomat-kamit, membaca bacaan-bacaan yang bisa memasukkanku ke syurga. Ya, siapa tahu disana aku akan bertemu dengan awan hitam itu ...

Di luar sana, ku lihat disebalik jendela kusam air merintik-rintik. Perlahan ku pejamkan mataku. Tiba-tiba dari arah yang tidak ku ketahui datangnya, ia datang sambil ternyum, senyum yang sama ketika pertama kali aku bertemu dengannya, ia kemudian membisikkan sesuatu "Aku datang, sekaranglah saatnya". Ku lihat ia mengulurkan kedua belah tangannya, putih seperti cahaya.

Malam ini, angin sepertinya meraung-raung marah. Ku lihat kaca-kaca rumahku berserakan di sana sini. Awan hitam memegang tanganku mesra, dengan sedikit berbisik iya berkata "Syurga adalah tempat paling indah bagi pecinta".

Selasa, Juni 16, 2009

Irfa' Ra'sak Fa Innaka min Qabilah El-Mashriyin

Irfa' Ra'sak Fa Innaka min Qabilah El-Mashriyin (Tegakkan kepalamu karena kamu adalah Orang Mesir), ya begitulah dengan bangganya dua presenter acara Bet Baitak Tamir Amien dan Khairi Ramadhan mengucapkan kata-kata tersebut berkali-kali setelah Timnas Mesir berhasil membuat Tim Samba Brazil kelabakan dalam pertandingan Piala Konfederasi beberapa menit yang lalu.

Meski akhirnya Timnas Mesir kalah di menit-menit terakhir setelah Ahmad Muhammadi melakukan pelanggaran di kotak penalti dan dieksekusi oleh Ricardo Kaka dengan sempurna, namun masyarakat Mesir sangatlah berbangga telah mempertontonkan permainan yang sangat apik walaupun melawan sebuah tim raksasa, Samba Brazil.

Sebagai pemegang rekor sebagai timnas yang paling banyak menjuarai Piala Africa sebanyak 6 kali dan terakhir dua kali berturut-turut, 2006 dan 2008, Mesir merupakan sebuah tim yang sangat kuat di Benua hitam ini. Namun, orang Mesir tahu diri dan tidak mengharap banyak ketika di pertandingan perdana Piala Konfederasi ini ia bertemu dengan juara Amerika Latin, Samba Brazil.

Sebelum pertandingan, banyak komentator yang berharap Mesir bisa mengimbangi permainan tim Samba yang terkenal itu. Di babak awal pertandingan, terbukti ketakutan para komentator itu terbukti dengan tertinggalnya Mesir 3-1. Namun setelah pertandingan babak kedua dimulai, Timnas Mesir benar-benar membuat mulut orang-orang yang menonton pertandingan tersebut tercengan. Dengan permainan yang dimotori oleh Muhammad Abou Trekah, Timnas Mesir berhasi men-samba-i Tim Samba sehingga bisa menyamakan kedudukan 3-3 dalam waktu satu menit. Sampai menit ke 90 Mesir mampu mempertahankan score tersebut sampai akhirnya Kaka menyumbangkan satu gol lagi untuk kemenangan Samba Brazil yang mengakhiri pertandingan dengan score 3-4.

Permasalahannya bukan terletak pada menang atau kalahnya timnas Mesir, namun lebih dari itu, Timnas Mesir yang berkomposisi 75% pemainnya dari liga lokal membuat rakyat Mesir tidak malu lagi untuk menepuk dadanya dan berkata Irfa' Ra'sak Fa Innaka min Qabilah El-Mashriyin (Tegakkan kepalamu karena kamu adalah Orang Mesir).

Mesir adalah negeri indah dengan penduduk yang sangat cinta terhadap negaranya. Mereka tidak pernah malu mengatakan Ana Mashry wa Abuya Mashry (Saya orang Mesir dan Bapakku juga orang Mesir), walaupun keadaan negara yang masih terpuruk, namun nasionalisme orang Mesir patut untuk kita teladani.

Mereka lebih bangga ketika ditanya apakah Anda Ahlawy atau Zamalkawy (Pendukung Al-Ahli atau Zamalik ? ) bahkan mereka akan menjawab lebih dari pertanyaan terbut. Mereka akan bercerita bagaimana Al-Ahli pernah mengalahkan Real Madrid, Lazio dan beberapa tim besar Eropa lainnya, walaupun mereka akan tertawa-tawa malu jika kita menimpali dengan kekalahan telak Al-Ahli pada Bacelona :) maka tidak heran 80 % penduduk Mesir adalah pendukung Barcelona karena El-Barca pernah membantai Al-Ahli, klub yang paling mereka banggakan.

Orang Mesir sangat senang sekali bermain bola. Mereka juga senang melihat Timnas mereka bermain. Setiap kali Timnas Mesir memenangi pertandingan, maka jalan-jalan akan ramai dengan bunyi knalpot mobil barsahut-sahutan ... namun sayangnya, bunyi-bunyi knalpot itu tidak terdengar malam ini. Namun orang Mesir bisa berbangga karena mereka memiliki sebuah Timnas yang mampu membuat semua orang mesir tersenyum dan berkata Irfa' Ra'sak Fa Innaka min Qabilah El-Mashriyin (Tegakkan kepalamu karena kamu adalah Orang Mesir).