Rabu, Mei 20, 2009

Nyawa

Muhammad 'Ala Muhammad Husni Mubarak adalah seorang bocah yang begitu beruntung. Bayangkan saja, bocah cucu Husni Mubarak ini dapat membuat suasana di Mesir ini menjadi berduka cita. Muhammad memang telah meninggal karena penyakit komplikasi yang ia derita, namun yang membuat hati ini terheran-heran, ia mendapat perlakuan yang sangat-sangat istimewa. Bisa anda bayangkan, seorang bocah cucu president yang mendapat perlakuan yang begitu wah, mulai dari pejabat-pejabat teras pemerintahan sampai parlemenpun mengucapkan belasungkawa secara resmi, sampai-sampai tv-tv lokal mesir menunda siarannya hanya untuk menunjukkan mereka turut berduka cita atas kematian sang bocah.

Pada acara bait baitak tadi malam, dihadirkanlah mufti Mesir Syekh Ali Jum'ah, tujuannya hanya satu yaitu membahas bagaimana perasaan orang tua Muhammad ketika ditinggal sang anak. Acara ini dipandu oleh tiga presenter kawakan, Tamir Amin, Mahmud Sa'ad dan Khoiry Romadhon, pada kesempatan itu Syekh mengatakan bahwa ketika badan sudah ditinggal ruh, maka badan sudah tidak berharga lagi, karena ia akan hancur. Diakhir acara mereka meminta pada syekh untuk mendo'akan Muhammad 'Ala.

Hal diatas begitu ironi dengan keadaan timur tengah yang tak kunjung membaik, mulai dari konflik Palestina-Israel, Darfur di Sudan, krisis keamanan di Lebanon dan Iraq, serta keadaan masyarakat Mesir sendiri yang sedang bergejolak akibat dampak dari krisis global beberapa bulan yang lalu. Setiap harinya, berita tentang kekerasan, bom bunuh diri dan kematian selalu menghiasi berita utama di kawasan ini, sehingga nyawa sepertinya tidak terlalu berharga.

Tangisan ibu-ibu yang kehilangan anak sudah terbiasa terdengar. Bahkan, tangisan-tangisan itu seakan tidak lagi bermakna, karena di hari selanjutnya tangisan-tangisan itu akan terdengar kembali dari ibu-ibu yang lain pula. Nyawa tetaplah nyawa, tidak ada perbedaan antara nyawa satu dengan nyawa yang lainnya. Nyawa seorang anak gelandangan yang mati terkena siraman air panas oknum satpol pp sama kedudukannya dengan nyawa Muhammad 'Ala, cucu Husni Mubarak.

Namun, apa yang membedakan perlakuan orang-orang terhadap dua nyawa tersebut ? Tentunya jawabannya akan sangat mudah. Nyawa pertawa adalah nyawa seorang anak dari orang tua yang melarat, ia hidup bersama orang tua yang miskin di sebuah rumah yang tidak pantas disebut rumah. Adapun nyawa kedua adalah nyawa seorang cucu presiden, sang penguasa negara. Tentunya orang akan berbeda dalam menyikapi dua nyawa tersebut. Untuk nyawa pertawa, orang-orang mungkin akan acuh-tak acuh karena tidak ada kaitannya langsung dengan kepentingan setiap orang, karena dia hanya nyawa miskin yang mungkin tempat kuburannyapun akan susah ditemukan. Namun nyawa kedua adalah nyawa kepentingan, ia adalah cucu seorang presiden yang diktator, tentunya setiap orang harus bermanis-manis muka dan berpura-pura berbelasungkawa agar ia bisa dianggap peduli dengan keluarga presiden sehingga posisi yang sudah ia raih aman.

Namun nyawa tetaplah nyawa, ia satu, siapapun yang memilikinya. Maka, tak heran jika salah satu dari tujuan dari syariat adalah penjagaan terhadap jiwa. Karena jiwa manusia adalah titipan, maka tidak ada yang bisa mengambilnya kembali kecuali Yang memilikinya, dalam hal ini tentunya Allah swt. Maka, dalam bentuk apapun, mengambil nyawa secara ilegal adalah suatu hal yang tidak boleh. Pun begitu, karena sumber dari nyawa adalah satu, maka tentunya kedudukan antara nyawa satu dan lainnya sama.

Tidak ada komentar: