Senin, Mei 18, 2009

Menulis

Sudah hampir sebulan aku tidak menulis, rasanya memang ada suatu yang hilang. Menulis ternyata adalah satu cara paling mujarab untuk memvisualisasikan perasaan yang berada dalam jiwa. Meskipun tentunya bahasa tidaklah sanggup untuk dapat mengutarakan perasaan dengan sangat tepat. Bahasa yang kita pakai hanyalah sebuah simbol yang tentunya memiliki banyak dimensi kekurangan. Contohnya saja jika kita ingin mengungkapkan 'rasa marah' mungkin kita hanya bisa meluapkannya dengan kata-kata seperti 'aku marah' atau 'aku tidak suka dengan apa yang kamu lakukan' yang semuanya itu hanya bisa dirasakan kebenarannya jika sang pembaca hadir waktu tulisan itu dibuat.

Adapun jika pembaca hanya melihat sebuah tulisan 'aku marah' atau 'pergilah !!!' mungkin akan ada tafsiran-tafsiran lain dari pembaca tentang arti tulisan-tulisan tersebut yang akan sangat jauh dari apa yang dimaksud sang pengarang. Bisa jadi sang pembaca memahami kalimat 'aku marah' sebagai sebagai sebuah lelucon orang yang hendak membuat temannya ketakutan karena ia marah, dan tentunya masih banyak lagi tafsiran-tafsiran lain yang tentunya bergantung kepada bagaimana sang pembaca memahami teks yang ia baca.

Tentunya perlu ada kesepakatan tentang apakah yang menjadi patokan, apa yang dimaksud oleh pengarang, ataukah pemahaman sang pembaca ? Kita bisa mengurai benang kusut pertanyaan tadi, pertama tentang tujuan teks itu sendiri. Misalkan seseorang ingin mengatakan kepada temannya, besok malam kamu bisa datang ke pesta selamatan di rumah si A dengan maksud mengundang, maka tentunya kata-kata tersebut harus dipahami oleh sang pendengar bahwa ia diundang menghadiri pesta selamatan besok malam di rumah si A. Kesalahpahaman sang pendengar terhadap arti dari undangan diatas akan menyebabkan ia ragu-ragu, apakah dia diundang ataukah tidak, hal ini jika dia memahami bahwa kata 'bisa' itu berarti bisa iya atau bisa tidak.

Nah, hal ini kemudian yang menjadi problem, yaitu apakah kesalahpahaman sang pendengar tadi adalah tanggung jawab sang penyampai teks ataukah akibat dari kesalahan sang pendengar, misalkan karena ketika undangan itu diucapkan, sang pendengar sedang mendengarkan radionya dengan suara yang keras sehingga ia kurang bisa mencerna apa yang diinginkan sang pembicara tadi.

Hemat penulis, tujuan utama dari sebuah kata itu terucap adalah untuk mewakili perasaan dari sang pembicara, maka kedudukan apa yang dimaksud sang pembicara adalah absolut adanya, karena tentunya sang pembicara lebih tahu apa yang hendak ia sampaikan daripada orang yang mendengarnya. Maka, kesalahpahaman pendengar merupakan murni kesalah tangkapan dan seharusnya ia diluruskan menuju apa yang dimaksud oleh sang pembicara, karena ketika sebuah teks itu keluar dari raga sang pembicara, ia tidak lalu menjadi bebas dan bisa diartikan apa saja menurut orang yang mendengarnya. Karena jika demikian halnya, maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan karena setiap orang akan memiliki persepsi yang berbeda terhadap teks yang dibebaskan tersebut. Maka, jalan yang paling aman untuk mengurangi perbedaan dan perselisihan tersebut adalah dengan mengembalikan tujuan dari teks tersbut kepada apa yang diinginkan sang pengarang teks.

Namun yang menjadi musykil adalah, ketika sang pengarang teks sudah mati sehingga tidak ada lagi yang tahu secara pas, apa yang diinginkan sang pengarang sebenarnya. Hal ini tentunya merupakan musykil yang sangat berat untuk dijawab dengan beberapa paragraf saja, namun disini saya hendak mencoba menjawabnya dengan logika dan paradigma saya. Sejatinya memang ketika teks itu sudah ditinggal mati sang pengarang, maka teks akan susah dicari arti dari apa yang kehendaki oleh sang pengarang, namun jangan lupa bahwa teks itu pastinya ada karena ada suatu kondisi tertentu yang menciptakannya, sebagai contoh kalimat 'aku marah' tentunya kalimat itu tidak akan ada begitu saja, pastinya ada sebuah kondisi yang memaksa seseorang untuk mengatakan 'aku marah', nah kondisi inilah yang sering kita dengar dengan kata konteks.

Maka konteks disini mengambil peran untuk mengembalikan teks yang bebas tersebut menjadi teks yang terkondisikan. Teks yang terkondisikan adalah teks yang sesuai dengan konteks teks yang hendak dipahami. Memahami konteks dari sebuah teks bebas bisa kita dapatkan dari orang-orang yang terlibat ketika teks itu dikeluarkan. Nah, kejujuran disini kemudian mengambil peran, apakah orang yang bersama sang pengarang itu jujur dalam memberikan berita tentang konteks ataukah tidak. Jika memang orang tersebut terbukti sebagai seorang yang jujur, tentunya kabar yang ia beritakan tentang konteks teks tersebut bisa diterima, namun jika ia terbukti bukan orang yang jujur, maka berita yang ia sampaikan tidak bisa diterima.

Lalu bagaimana jika teks tersebut benar-benar tidak ada orang yang tahu, karena tiba-tiba saja ia ada. Hal ini sangatlah sulit untuk dijawab, namun yang paling jelas adalah dengan mengembalikannya kepada kaedah-kaedah kebahasaan yang dipergunakan pada waktu teks itu muncul. Disini dibutuhkan beberapa ilmu-ilmu pembantu seperti arkeologi dan lain sebagainya untuk menentukan umur teks yang hendak dicari maknanya tersebut.

Menulis memang suatu hal yang menyenangkan, namun alangkah lebih senangnya jika tulisan tersebut dipahami dengan sebaik-baiknya, menurut apa yang hendak penulis sampaikan :)




1 komentar:

AgusR mengatakan...

Jangan2 singtan huruf A itu agus romli hahahaha, entar tak undang deh nyembeleh onta hahaha. Ajak adik anda masyukur abdillah