Minggu, Mei 24, 2009

Sabar dan Syukur

Kenapa bapak dan ibu kita akan menangis jika kita meninggal dunia ? Hal apakah yang menyebabkan mereka, keluarga kita itu bersedih ? Bukankah mereka sudah tahu bahwa nyawa adalah titipan ? Atau mereka sudah lupa bahwa setiap manusia itu pastilah akan mati, siapapun dia dan kapan-dimana pun ia berada?

Ya, kematian memang identik dengan air mata, dan air mata itu identik dengan kesedihan, jadi kematian itu identik dengan kesedihan. Setiap kali kita mendengar orang meninggal, pastilah rumah orang tersebut tidak akan luput dari suara tangisan, bahkan ratapan. Segala perasaan yang mengungkapkan kesedihan akan diwakili dengan kata-kata yang sangat sedih seperti 'kasihan dirimu nak', atau 'siapa yang akan menemanimu nanti' dan kata-kata sejenisnya. Kematian memang akan memisahkan antara orang tua dan anak, suami dan istri dan hubungan-hubungan dekat lainnya. Tentunya, orang yang ditinggal akan merasakan kehilangan bahkan kesepian.

Kehilangan orang yang kita cintai adalah suatu hal yang begitu menyakitkan. Orang yang selama ini hidup dengan kita, tertawa dan menangis bersama tiba-tiba saja ia menjadi seonggok mayat dengan tubuh kaku membiru. Ia tidak bisa lagi bercanda tawa dan membagi rasa dengan kita. Ia akan hilang selamanya. Dimasukkan ke liang lahat kemudian hilang ditelan tanah. Kini yang tersisa hanyalah memori-memori ketika bersama dengannya, berkumpul sambil sesekali tertawa dan menangis.

Kadang, ketika kita membuka foto-foto album dirinya, kita akan tersenyum, teringat ketika dalam foto itu ia begitu bahagianya bersama kita. Dikesempatan lainnya, kita akan menangis melihat foto ketika ia begitu mederita di ruang ICU rumah sakit. Semua sebegitu membekas di hati ini selamanya, walaupun ia kini telah hilang entah kemana. Bagi orang yang sudah tidak bisa lagi memikirkan untuk mengabadikan moment-moment penting dalam hidupnya, cukuplah dengan mengingat-ngingat kembali dan saling bercerita tentang sosoknya yang telah tiada.

Rasa kehilangan inipun lambat laun menjadi kesepian yang sangat. Walaupun pastinya ada saudara-saudaranya yang bisa membuat kita kembali tersenyum, namun ia bukanlah mereka. Ia adalah sosok berbeda dengan kebiasaan dan sifat yang berbeda pula. Boleh jadi saudara-saudaranya tertawa, namun ia ternyata menangis. Ia adalah seorang yang begitu spesial, walaupun semua saudara-saudaranya juga spesial.

Rasa sepi ini sangatlah menyiksa diri. Karena dulu, ketika ia dilahirkan, semua orang begitu gembiranya. Semua orang bertepuk tangan ketika melihatnya mulai berjalan dan sesekali mencubit pipinya yang sehat. Ia begitu menghibur hati dikala hati ini mulai bosan dengan hiruk pikuk dunia. Bahkan, ketika ada suatu pertengkaran antar suami dan istri, ialah yang menjadi penengah. Tangisannya akan membuyarkan semua emosi kedua belah pihak. Namun sayangnya, kini itu semua tinggal kenangan.

Tentunya, rasa kehilangan dan kesepian itu bukan karena mereka lupa dengan kodrat yang mengatakan bahwa manusia itu pasti mati. Mereka sangat sadar dengan ketentuan tersebut. Hanya, manusia tetaplah manusia, ia terbuat dari daging dan tulang, hatinya pun cuma seonggok daging yang begitu lemah. Kesedihan-kesedihan itulah yang membuatnya menjadi manusia. Karena manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan, makhluk yang bisa menangis juga tertawa bahkan menangis dalam tawa dan tertawa dalam tangisan.

Itulah manusia, siapapun ia dan dalam kapasitas apapun. Nah, dari sini kemudian Rasulullah S.A.W. memberikan arahannya. Beliau bersabda bahwa sangat mengherankan dengan urusan seorang mu'min itu, karena semua urusannya adalah kebaikan untuknya. Jika ia ditimpa kebaikan ia akan bersyukur, dan itu adalah suatu hal yang baik baginya, jika ia ditimpa kesusahan, ia akan bersabar, dan itu adalah hal yang baik buatnya.

Tabiat manusia adalah selalu bersedih dan meratap ketika ia kehilangan ataupun kesepian. Rasulullah S.A.W. sangat tahu persis hal tersebut, oleh karena itu beliau menyebut manusia dalam sabdanya tersebut dengan kata 'Mu'min'. Ya, karena makhluk yang bernama manusia ibarat sebuah kertas putih tanpa tulisan, apapun warna yang tertoreh, maka itulah ia.

Mu'min adalah sebuah identitas, oleh karena itu dalam Al-Quran kata mu'min ini selalu bersanding dengan kebaikan-kebaikan, lain hal-nya dengan manusia yang tanpa embel-embel (insan), manusia sebagai seorang makhluk yang berfikir adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan, ia suka sekali berdebat, pula jika ia mendapat kejelekan, maka sekonyong-koyong ia akan mendekatkan diri dengan Tuhan, namun ketika ia mendapatkan kebaikan, ia akan kikir dan akan lupa dengan Sang Maha Pemberi.

Maka disini Rasulullah S.A.W. menyebut manusia dengan kata mu'min, karena iman itu ibarat baju yang menutupi seluruh kekurangannya sebagai manusia 'saja'. Dengan identitas iman ini tentunya manusia akan berjalan tidak dengan mata tertutup, karena ia sudah berjalan pada jalan lurus yang penuh lampu dan rambu-rambu lalu lintas. Ia pastinya tahu, jika ada larangan ataupun perintah di depannya atau jika lampu menunjukkan warna merah atau hijau. Dan yang lebih pasti, ia akan lebih cepat sampai tujuan karena jalan yang ia lalu lurus tanpa halangan sedikitpun.

Namun sayangnya, perjalanan tersebut tidak semudah membalikan telapak tangan, karena manusia memiliki musuh yang tentunya akan berusaha untuk menggelincirkan manusia pada sebuah lobang yang telah ia persiapkan, ataupun berusaha untuk menyesatkan manusia dari jalan lurus tadi (iman). Juga karena kehidupan ini begitu kompleks nya sehingga pasti ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Maka kebaikan dan keburukan menjadi sebuah keniscayaan bagi manusia. Kadang ia tersenyum, namun satu detik yang akan datang ia menangis. Disini kemudian Rasulullah S.A.W begitu kagum dengan sikap seorang mu'min. Tidak seperti manusia 'saja' yang inkonsisten dengan perbuatannya, seorang manusia mu'min akan selalu berbuat yang terbaik bagi dirinya. Jika ia mendapatkan kesusahan, ia akan bersabar dan jika ia mendapat kebaikan, ia akan bersyukur dan dua-duanya adalah kebaikan baginya.

Bersabar ketika mendapatkan musibah sangat mudah dikatakan, namun susah untuk dilakukan. Dalam sebuah pepatah dikatakan bahwa sabar itu dapat membantu setiap pekerjaan. Yah, sabar itu dapat membantu orang yang kehilangan dan kesepian. Lalu, apa itu sabar ? Banyak ulama yang mendefinisikan sabar, salah satunya adalah Dzu-Nun Al-Mashry, seorang sufi besar beliau mendefinisikan sabar dengan 'Menjauhi perkara yang dilarang dan tenang ketika ada cobaan serta menampakkan kekayaan walaupun sebenarnya miskin harta. Ibnu 'Athoillah menambahkan 'menghadapi cobaan dengan adab yang baik', 'lebur dalam cobaan tanpa ada keluhan'.

Semua itu tentunya harus pada sikap pertama kita ketika menghadapi cobaan tersebut. Dalam sebuah sabdanya Rasulullah S.A.W bersabda bahwa sabar itu ketika awal datangnya cobaan. Bahkan, Imam ali menganalogikan hubungan sabar antar dan iman seperti kepada dan tubuh, hal ini tentunya mengisyaratkan bahwa sabar adalah keimanan itu sendiri, karena iman tanpa sabar ibarat seonggok mayat tanpa kepala.

Dari sini kemudian kesabaran itu menjadi suatu kebaikan bagi manusia, karena ia adalah sebuah parameter Allah untuk menguji kesungguhan iman seseorang. Karena sangatlah mudah mulut ini berkata, saya telah beriman, namun kenyataannya ia sangatlah jauh dari itu, oleh karena itu Allah memberikan cobaan untuk mengukur kadar keimanan mereka. Maka, orang yang bersabar adalah orang yang lulus test keimanan tersebut, dan itu adalah suatu kebaikan bagi dirinya.

Bersyukur ketika mendapatkan kebaikan merupakan suatu hal yang lebih berat dari bersabar atas kesusahan. Karena boleh jadi orang miskin, tidak punya apa-apa mampu untuk bersabar dengan kemiskinannya. Namun, begitu susahnya seorang yang kaya raya untuk bersyukur atas kekayaannya. Imam Qusyairy dalam Risalah Qusyairy-nya mendefinisikan Syukur dengan memuji orang yang berbuat kebaikan dengan menyebutkan kebaikannya. Syukur itu ada tiga macam : Pertama, syukur dengan lisan yaitu dengan pengakuan terhadap nikmat-nikmat. Kedua, syukur dengan raga yaitu dengan menepati janji dan juga melayani. Ketiga, syukur dengan hati yaitu selalu menjaga diri dari hal-hal yang haram.

Bersyukur ketika menerima kebaikan adalah sebuah kebaikan bagi seorang mu'min. Karena syukur adalah cara untuk menambah nikmat yang telah diperolah. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa bahwa jika kita bersyukur, niscaya Allah akan menambah (nikmatnya), namun jika kita kufur (nikmat) maka adzab Allah sangatlah keras.


Rabu, Mei 20, 2009

Nyawa

Muhammad 'Ala Muhammad Husni Mubarak adalah seorang bocah yang begitu beruntung. Bayangkan saja, bocah cucu Husni Mubarak ini dapat membuat suasana di Mesir ini menjadi berduka cita. Muhammad memang telah meninggal karena penyakit komplikasi yang ia derita, namun yang membuat hati ini terheran-heran, ia mendapat perlakuan yang sangat-sangat istimewa. Bisa anda bayangkan, seorang bocah cucu president yang mendapat perlakuan yang begitu wah, mulai dari pejabat-pejabat teras pemerintahan sampai parlemenpun mengucapkan belasungkawa secara resmi, sampai-sampai tv-tv lokal mesir menunda siarannya hanya untuk menunjukkan mereka turut berduka cita atas kematian sang bocah.

Pada acara bait baitak tadi malam, dihadirkanlah mufti Mesir Syekh Ali Jum'ah, tujuannya hanya satu yaitu membahas bagaimana perasaan orang tua Muhammad ketika ditinggal sang anak. Acara ini dipandu oleh tiga presenter kawakan, Tamir Amin, Mahmud Sa'ad dan Khoiry Romadhon, pada kesempatan itu Syekh mengatakan bahwa ketika badan sudah ditinggal ruh, maka badan sudah tidak berharga lagi, karena ia akan hancur. Diakhir acara mereka meminta pada syekh untuk mendo'akan Muhammad 'Ala.

Hal diatas begitu ironi dengan keadaan timur tengah yang tak kunjung membaik, mulai dari konflik Palestina-Israel, Darfur di Sudan, krisis keamanan di Lebanon dan Iraq, serta keadaan masyarakat Mesir sendiri yang sedang bergejolak akibat dampak dari krisis global beberapa bulan yang lalu. Setiap harinya, berita tentang kekerasan, bom bunuh diri dan kematian selalu menghiasi berita utama di kawasan ini, sehingga nyawa sepertinya tidak terlalu berharga.

Tangisan ibu-ibu yang kehilangan anak sudah terbiasa terdengar. Bahkan, tangisan-tangisan itu seakan tidak lagi bermakna, karena di hari selanjutnya tangisan-tangisan itu akan terdengar kembali dari ibu-ibu yang lain pula. Nyawa tetaplah nyawa, tidak ada perbedaan antara nyawa satu dengan nyawa yang lainnya. Nyawa seorang anak gelandangan yang mati terkena siraman air panas oknum satpol pp sama kedudukannya dengan nyawa Muhammad 'Ala, cucu Husni Mubarak.

Namun, apa yang membedakan perlakuan orang-orang terhadap dua nyawa tersebut ? Tentunya jawabannya akan sangat mudah. Nyawa pertawa adalah nyawa seorang anak dari orang tua yang melarat, ia hidup bersama orang tua yang miskin di sebuah rumah yang tidak pantas disebut rumah. Adapun nyawa kedua adalah nyawa seorang cucu presiden, sang penguasa negara. Tentunya orang akan berbeda dalam menyikapi dua nyawa tersebut. Untuk nyawa pertawa, orang-orang mungkin akan acuh-tak acuh karena tidak ada kaitannya langsung dengan kepentingan setiap orang, karena dia hanya nyawa miskin yang mungkin tempat kuburannyapun akan susah ditemukan. Namun nyawa kedua adalah nyawa kepentingan, ia adalah cucu seorang presiden yang diktator, tentunya setiap orang harus bermanis-manis muka dan berpura-pura berbelasungkawa agar ia bisa dianggap peduli dengan keluarga presiden sehingga posisi yang sudah ia raih aman.

Namun nyawa tetaplah nyawa, ia satu, siapapun yang memilikinya. Maka, tak heran jika salah satu dari tujuan dari syariat adalah penjagaan terhadap jiwa. Karena jiwa manusia adalah titipan, maka tidak ada yang bisa mengambilnya kembali kecuali Yang memilikinya, dalam hal ini tentunya Allah swt. Maka, dalam bentuk apapun, mengambil nyawa secara ilegal adalah suatu hal yang tidak boleh. Pun begitu, karena sumber dari nyawa adalah satu, maka tentunya kedudukan antara nyawa satu dan lainnya sama.

Senin, Mei 18, 2009

Menulis

Sudah hampir sebulan aku tidak menulis, rasanya memang ada suatu yang hilang. Menulis ternyata adalah satu cara paling mujarab untuk memvisualisasikan perasaan yang berada dalam jiwa. Meskipun tentunya bahasa tidaklah sanggup untuk dapat mengutarakan perasaan dengan sangat tepat. Bahasa yang kita pakai hanyalah sebuah simbol yang tentunya memiliki banyak dimensi kekurangan. Contohnya saja jika kita ingin mengungkapkan 'rasa marah' mungkin kita hanya bisa meluapkannya dengan kata-kata seperti 'aku marah' atau 'aku tidak suka dengan apa yang kamu lakukan' yang semuanya itu hanya bisa dirasakan kebenarannya jika sang pembaca hadir waktu tulisan itu dibuat.

Adapun jika pembaca hanya melihat sebuah tulisan 'aku marah' atau 'pergilah !!!' mungkin akan ada tafsiran-tafsiran lain dari pembaca tentang arti tulisan-tulisan tersebut yang akan sangat jauh dari apa yang dimaksud sang pengarang. Bisa jadi sang pembaca memahami kalimat 'aku marah' sebagai sebagai sebuah lelucon orang yang hendak membuat temannya ketakutan karena ia marah, dan tentunya masih banyak lagi tafsiran-tafsiran lain yang tentunya bergantung kepada bagaimana sang pembaca memahami teks yang ia baca.

Tentunya perlu ada kesepakatan tentang apakah yang menjadi patokan, apa yang dimaksud oleh pengarang, ataukah pemahaman sang pembaca ? Kita bisa mengurai benang kusut pertanyaan tadi, pertama tentang tujuan teks itu sendiri. Misalkan seseorang ingin mengatakan kepada temannya, besok malam kamu bisa datang ke pesta selamatan di rumah si A dengan maksud mengundang, maka tentunya kata-kata tersebut harus dipahami oleh sang pendengar bahwa ia diundang menghadiri pesta selamatan besok malam di rumah si A. Kesalahpahaman sang pendengar terhadap arti dari undangan diatas akan menyebabkan ia ragu-ragu, apakah dia diundang ataukah tidak, hal ini jika dia memahami bahwa kata 'bisa' itu berarti bisa iya atau bisa tidak.

Nah, hal ini kemudian yang menjadi problem, yaitu apakah kesalahpahaman sang pendengar tadi adalah tanggung jawab sang penyampai teks ataukah akibat dari kesalahan sang pendengar, misalkan karena ketika undangan itu diucapkan, sang pendengar sedang mendengarkan radionya dengan suara yang keras sehingga ia kurang bisa mencerna apa yang diinginkan sang pembicara tadi.

Hemat penulis, tujuan utama dari sebuah kata itu terucap adalah untuk mewakili perasaan dari sang pembicara, maka kedudukan apa yang dimaksud sang pembicara adalah absolut adanya, karena tentunya sang pembicara lebih tahu apa yang hendak ia sampaikan daripada orang yang mendengarnya. Maka, kesalahpahaman pendengar merupakan murni kesalah tangkapan dan seharusnya ia diluruskan menuju apa yang dimaksud oleh sang pembicara, karena ketika sebuah teks itu keluar dari raga sang pembicara, ia tidak lalu menjadi bebas dan bisa diartikan apa saja menurut orang yang mendengarnya. Karena jika demikian halnya, maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan karena setiap orang akan memiliki persepsi yang berbeda terhadap teks yang dibebaskan tersebut. Maka, jalan yang paling aman untuk mengurangi perbedaan dan perselisihan tersebut adalah dengan mengembalikan tujuan dari teks tersbut kepada apa yang diinginkan sang pengarang teks.

Namun yang menjadi musykil adalah, ketika sang pengarang teks sudah mati sehingga tidak ada lagi yang tahu secara pas, apa yang diinginkan sang pengarang sebenarnya. Hal ini tentunya merupakan musykil yang sangat berat untuk dijawab dengan beberapa paragraf saja, namun disini saya hendak mencoba menjawabnya dengan logika dan paradigma saya. Sejatinya memang ketika teks itu sudah ditinggal mati sang pengarang, maka teks akan susah dicari arti dari apa yang kehendaki oleh sang pengarang, namun jangan lupa bahwa teks itu pastinya ada karena ada suatu kondisi tertentu yang menciptakannya, sebagai contoh kalimat 'aku marah' tentunya kalimat itu tidak akan ada begitu saja, pastinya ada sebuah kondisi yang memaksa seseorang untuk mengatakan 'aku marah', nah kondisi inilah yang sering kita dengar dengan kata konteks.

Maka konteks disini mengambil peran untuk mengembalikan teks yang bebas tersebut menjadi teks yang terkondisikan. Teks yang terkondisikan adalah teks yang sesuai dengan konteks teks yang hendak dipahami. Memahami konteks dari sebuah teks bebas bisa kita dapatkan dari orang-orang yang terlibat ketika teks itu dikeluarkan. Nah, kejujuran disini kemudian mengambil peran, apakah orang yang bersama sang pengarang itu jujur dalam memberikan berita tentang konteks ataukah tidak. Jika memang orang tersebut terbukti sebagai seorang yang jujur, tentunya kabar yang ia beritakan tentang konteks teks tersebut bisa diterima, namun jika ia terbukti bukan orang yang jujur, maka berita yang ia sampaikan tidak bisa diterima.

Lalu bagaimana jika teks tersebut benar-benar tidak ada orang yang tahu, karena tiba-tiba saja ia ada. Hal ini sangatlah sulit untuk dijawab, namun yang paling jelas adalah dengan mengembalikannya kepada kaedah-kaedah kebahasaan yang dipergunakan pada waktu teks itu muncul. Disini dibutuhkan beberapa ilmu-ilmu pembantu seperti arkeologi dan lain sebagainya untuk menentukan umur teks yang hendak dicari maknanya tersebut.

Menulis memang suatu hal yang menyenangkan, namun alangkah lebih senangnya jika tulisan tersebut dipahami dengan sebaik-baiknya, menurut apa yang hendak penulis sampaikan :)